LOGINCiuman itu dan senyum manis Amanda pada Livia, masih membekas di benakku. Namun, aku harus menyingkirkan perasaan campur aduk itu sejenak. Ada hal yang jauh lebih mendesak daripada urusan ranjang.Aku menarik kursi, duduk di samping ranjang, dan menatap Amanda dengan serius."Sayang," panggilku pelan, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Livia. "Coba ingat baik-baik. Sebelum kamu merasa aneh dan pusing waktu itu... siapa orang terakhir yang kamu temui? Apa ada orang asing yang menawarimu minum?"Amanda mengerutkan kening, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. Dia tampak berpikir keras."Hmm... ada," jawabnya ragu. "Waktu itu aku ada pertemuan bisnis di lounge hotel. Ada investor asing yang mengaku perwakilan dari konsorsium luar negeri. Namanya... hmm… kalau nggak salah, dia minta dipanggil 'Mr. Duke'.""Ciri-cirinya?" kejar aku."Pria paruh baya. Sangat sopan, charming, pakai setelan jas mahal. Tapi ada satu yang bikin aku merinding, Rey," Amanda menatapku, matanya sedikit melebar
Mobil taktis hitam itu membelah jalanan sepi Lunaris dengan kecepatan setan. Jarum speedometer menunjuk angka yang nyaris menyentuh batas, seirama dengan detak jantungku yang berpacu melawan waktu.Aku tidak mempedulikan lampu merah. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik: Presidential Suite di lantai teratas The Royal Crown.Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berlari keluar dari lift pribadi, langsung menekan kode akses pintu kamar.Cklek.Pintu terbuka. Hawa dingin AC langsung menyambutku, kontras dengan hawa panas sisa kebakaran di klub malam Madam Rosa yang masih menempel di kulitku."Tuan Rey?"Livia bangkit dari sofa dengan wajah cemas. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kusut, sisa pergumulan kami tadi sore. Matanya merah karena kurang tidur."Bagaimana kondisinya?" tanyaku tanpa basa-basi sambil meletakkan kotak pendingin di meja."Amanda masih tidur, Tuan. Tapi..." Livia menggigit bibirnya, menunjuk ke arah ranjang. "Sejak sepuluh menit yang lalu, keningnya berkerin
“Jangan! Jangan biarkan mereka menyentuhku!"Tubuh Madam Rosa meronta-ronta di bawah cengkeraman anak buah Alfonso, seperti ikan yang menggelepar di daratan."Kodenya! Aku kasih kodenya!" teriaknya histeris saat salah satu anak buah Alfonso mulai menarik kakinya kasar. "19-08-45! Di balik lukisan abstrak itu! Cepat suruh mereka mundur!"Aku mengangkat tangan kanan, memberikan isyarat berhenti.Seketika, gerakan anak buah Alfonso terhenti. Namun, mereka tidak mundur. Mereka tetap mengelilingi sofa itu, menatap Rosa dengan tatapan lapar yang dibuat-buat, menjaga tekanan psikologis tetap tinggi.Aku menatap Alfonso dan mengangguk ke arah lukisan besar di dinding."Periksa," perintahku singkat.Alfonso bergerak cepat. Dia menurunkan lukisan itu dengan kasar, membiarkannya jatuh berdebam ke lantai. Di balik dinding itu, tertanam sebuah brankas baja digital. Alfonso menekan kombinasi angka yang diteriakkan Rosa tadi.Bip. Bip. Bip.Klik.Pintu brankas terbuka perlahan.Aku berjalan mendekat
Laras pistol Beretta itu masih menempel erat di dahi Madam Rosa, meninggalkan bekas merah melingkar di kulitnya yang keriput dan tertutup bedak tebal.Namun, di luar dugaan, wanita tua itu tidak gemetar."Kamu pikir masalahnya ada pada obatku, Rey?" tanyanya dengan suara serak yang penuh racun. "Kamu pikir B-25 yang membuat istrimu menjadi liar dan tak terkendali?""Tutup mulutmu," geramku, jariku semakin menekan pelatuk. "Berikan penawarnya, atau kutembak!"Rosa tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan menyakitkan telinga."Oh, betapa naifnya kamu, anak muda," desisnya. "Obatku hanya pembuka kunci. Dia hanya melepaskan rem yang ada di otak manusia. Kalau istrimu menjadi seliar itu... mendesah, meminta lebih, bahkan menginginkan pria lain... itu karena jauh di lubuk hatinya, dia memang menginginkannya."Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras daripada pukulan fisik manapun."Bohong!" teriakku."Nggak percaya?" Rosa mencondongkan wajahnya, menantang maut. "Lihat matanya saat dia lagi
Kalimatku menggantung di udara, dingin dan tajam, memotong kebisingan musik yang samar-samar terdengar dari lantai bawah.Madam Rosa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelas wine-nya perlahan, lalu menatapku dengan sorot mata yang menyelidik. Senyum mengejek di bibirnya perlahan berubah menjadi seringai licik.Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang terjebak di sudut."Kamu pikir aku bodoh, Rey?" kekehnya pelan, suara seraknya terdengar menjijikkan. "Atau kamu pikir aku wanita pikun yang tidak punya mata dan telinga di kota ini?"Aku diam, membiarkannya bicara.Rosa berdiri perlahan, memutari meja marmer itu sambil memainkan kipas bulu di tangannya."Awalnya, aku memang mengira kamu cuma pelayan hotel miskin yang beruntung menikahi putri Wijaya," ucapnya sambil berjalan mendekatiku. "Tapi setelah insiden di klinikku, dan caramu lolos dari anak buahku... aku mulai mencari tahu."Dia berhenti tepat di sampingku, memb
Aku melangkah keluar dari lobi The Royal Crown. Setiap langkahku meninggalkan jejak "Rey si Suami Penyayang" di belakang. Wajahku yang tadi penuh kehangatan saat mencium kening Amanda, kini berubah menjadi topeng batu yang dingin. Tatapanku lurus, tajam, dan memancarkan aura membunuh yang selama ini kusembunyikan di balik senyum ramah room service.Di depan lobi, sebuah sedan hitam matte sudah menunggu. Mesinnya menderu halus. Ini bukan mobil mewah Jonathan yang biasa kupakai. Ini adalah mobil taktis berlapis baja anti-peluru milik operasional Veleno.Pintu belakang terbuka. Guntur duduk di kursi pengemudi, wajahnya serius."Ke markas Alfonso," perintahku singkat saat aku menghempaskan tubuh di jok belakang."Siap, Tuan Muda," jawab Guntur tegas, langsung menginjak pedal gas. "Alfonso sudah mengumpulkan 'anak-anak'. Mereka siap bergerak."Mobil melaju membelah malam kota Lunaris. Kami meninggalkan kerlap-kerlip lampu kota, menuju kawasan bisnis di pinggiran yang lebih sepi.Kami berhe







