Share

Hamil?

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2026-01-08 11:01:22

Pagi itu, dunia seolah berputar bagi Sri. Sejak membuka mata, rasa mual yang hebat terus mengaduk perutnya, dan kepalanya terasa seberat batu. Namun, ia tidak punya pilihan. Bi Minah sedang pulang ke kampung untuk urusan keluarga selama beberapa hari, meninggalkan seluruh tanggung jawab dapur dan pelayanan di pundaknya.

Sri berjalan tertatih, memegang dinding koridor pelayan untuk menjaga keseimbangannya. Ia tahu tubuhnya sedang memberi sinyal, namun ada bagian dari dirinya yang justru ingin ledakan ini terjadi di depan semua orang. Ia memaksakan diri memasak, mencuci, dan menyiapkan meja makan malam dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis.

Malam itu, suasana di ruang makan sangat formal. Nyonya Lydia duduk di kepala meja, sementara Andra dan Sarah duduk berhadapan. Mereka makan dalam keheningan yang tegang, sisa dari pertengkaran hebat masalah kalung yang hilang.

Sri muncul dari dapur dengan nampan berisi mangkuk sup hangat. Langkahnya gontai, wajahnya sepucat kertas. Saat ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Bagaimana Jika Kita Menikah Nanti?

    Malam itu, paviliun belakang terasa jauh lebih sesak. Atas perintah Nyonya Lydia, Arka diwajibkan untuk tetap tinggal di rumah itu sementara waktu demi membuktikan keseriusannya bertanggung jawab pada Sri. Lydia ingin melihat sejauh mana pasangan ini berinteraksi. Arka duduk di ujung ranjang kayu milik Sri dengan tubuh kaku. Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur yang remang, menciptakan suasana yang sangat intim namun canggung. Arka, yang hanyalah seorang pemuda jujur dari desa, merasa sangat tertekan. Ia hanya bisa menunduk, menatapi ujung sepatunya yang kusam, tidak berani menatap Sri yang sejak tadi duduk tak jauh darinya sambil terus memperhatikan gerak-geriknya. "Maaf, kau jadi harus ikut terseret ke dalam masalah pelik ini. Aku jadi merasa benar-benar bersalah padamu, Arka," ucap Sri dengan nada yang sangat lembut, seolah ia adalah wanita paling malang yang butuh perlindungan. Arka perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Sri yang tampak begitu cantik di bawah caha

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kambing Hitam

    Malam merayap sunyi di rumah besar itu, namun di paviliun belakang, udara terasa begitu berat. Andra menyelinap masuk ke kamar Sri dengan napas yang memburu. Tanpa suara, ia langsung menghampiri ranjang dan mendekap tubuh Sri dari belakang. Pelukannya terasa posesif, seolah ia sedang mendekap harta karun yang nyaris hilang. "Sri... kau membuatku hampir mati berdiri tadi," bisik Andra di ceruk leher Sri. Suaranya bergetar antara rasa takut dan gairah yang masih tersisa. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Jika kau tidak menyebutkan nama, Mama Lydia benar-benar akan menyeretmu keluar besok pagi." Sri berbalik perlahan dalam pelukan Andra, menatap wajah pria itu dengan mata yang tampak sayu namun penuh perhitungan. "Tuan tidak perlu terburu-buru menikahi saya. Saya tahu posisi saya. Saya hanya ingin Tuan melindungi saya... biarkan saya tetap di sini, di dekat Tuan. Jangan biarkan Nyonya Lydia mengusir saya dan calon anak kita." Mendengar kata "anak kita", jantung Andra seolah mele

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Siapa Ayahnya?

    Suasana di kamar pelayan yang sempit itu berubah menjadi ruang sidang yang menyesakkan. Sri sudah duduk bersandar di ranjangnya, wajahnya masih pucat, namun matanya menatap lantai dengan penuh sandiwara. Di depannya, Nyonya Lydia berdiri tegak seperti algojo, sementara Sarah tampak terguncang di samping Andra yang mematung dengan rahang yang mengeras. "Katakan padaku, Sri," suara Nyonya Lydia memecah keheningan dengan nada yang tajam seperti sembilu. "Siapa laki-laki yang sudah berbuat bejat denganmu di rumah ini? Siapa ayah dari janin itu?" Sri meremas ujung selimutnya, tubuhnya sedikit berguncang seolah ia sedang terisak ketakutan. "Saya... saya minta maaf, Nyonya Besar. Saya benar-benar minta maaf karena telah mengotori rumah ini dan membuat Nyonya Sarah malu. Saya pantas dihukum..." "Aku tidak butuh permintaan maafmu!" bentak Lydia, membuat Sarah berjengit. "Aku butuh nama! Apa kau pikir aku akan membiarkan seorang pelayan hamil tanpa kejelasan di bawah atap keluargaku? Ini mem

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Hamil?

    Pagi itu, dunia seolah berputar bagi Sri. Sejak membuka mata, rasa mual yang hebat terus mengaduk perutnya, dan kepalanya terasa seberat batu. Namun, ia tidak punya pilihan. Bi Minah sedang pulang ke kampung untuk urusan keluarga selama beberapa hari, meninggalkan seluruh tanggung jawab dapur dan pelayanan di pundaknya. Sri berjalan tertatih, memegang dinding koridor pelayan untuk menjaga keseimbangannya. Ia tahu tubuhnya sedang memberi sinyal, namun ada bagian dari dirinya yang justru ingin ledakan ini terjadi di depan semua orang. Ia memaksakan diri memasak, mencuci, dan menyiapkan meja makan malam dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis. Malam itu, suasana di ruang makan sangat formal. Nyonya Lydia duduk di kepala meja, sementara Andra dan Sarah duduk berhadapan. Mereka makan dalam keheningan yang tegang, sisa dari pertengkaran hebat masalah kalung yang hilang. Sri muncul dari dapur dengan nampan berisi mangkuk sup hangat. Langkahnya gontai, wajahnya sepucat kertas. Saat ia

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Terdesak

    Pagi itu, suasana di ruang makan terasa begitu mencekam. Sarah duduk dengan wajah pucat, matanya sembab karena pertengkaran hebat semalam tentang kalung berliannya. Di hadapannya, Nyonya Lydia duduk dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari biasanya, seolah-olah ia bisa melihat menembus dinding rumah itu. "Sarah," buka Lydia dengan suara yang sangat tenang namun penuh tekanan. "Semalam, aku mendengar suara-suara menjijikkan dari halaman belakang. Persis di bawah pohon besar itu. Suara orang berbuat tak senonoh." Sarah tersentak, sendoknya berdenting keras menabrak piring. "Ma, apa maksud Mama? Mungkin itu hanya suara kucing atau... atau orang iseng yang mencari tempat." "Jangan bodoh, Sarah! Aku tahu bedanya suara binatang dan suara manusia yang sedang kehilangan urat malu!" bentak Lydia. "Aku mencurigai suamimu, Andra. Dan pelayan muda itu, Sri. Aku yakin mereka ada di sana semalam." Sarah terdiam sejenak, dadanya terasa sesak. "Tidak mungkin, Ma. Memang kami bertengkar hebat, ta

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Candu

    Malam semakin larut, namun udara di bawah pohon rindang itu seolah terbakar. Andra tidak lagi menahan diri. Frustrasi akibat masalah perusahaan dan pertengkaran dengan Sarah ia tumpahkan seluruhnya dalam setiap gerakan tubuhnya terhadap Sri. Ia mengangkat tubuh Sri, menyandarkannya pada batang pohon yang kasar, dan membiarkan hasratnya memegang kendali penuh. Andra terus membisikkan kata-kata manis yang beracun di telinga Sri, "Kau milikku, Sri... hanya kau yang mengerti aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita." Sri tidak mampu lagi menjawab dengan kata-kata. Kepalanya mendongak ke arah rimbunnya dedaunan, matanya terpejam rapat saat ia merasakan hentakkan Andra yang begitu intens dan memabukkan. Desahan kencang lolos begitu saja dari bibirnya, menggema di kesunyian halaman belakang. Setiap sentuhan Andra terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatnya. Di balik kabut gairah itu, Sri menyadari sesuatu yang mengerikan, ia mulai candu. Berapa kali pun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status