MasukBerawal dari kesalahpahaman terhadap pria asing yang disangka sebagai pegawai klub, Lyra nekat 'menyewa' pria itu untuk membuat sahabatnya 'terhibur'. Tak ada yang tahu jika pria itu ternyata adalah Arka Vanguard, kepala Keluarga Vanguard, penguasa di wilayah timur. Hingga akhirnya, semua itu membuat Lyra terus terjebak dalam obsesi Arka yang ternyata justru tertarik pada Lyra sejak awal.
Lihat lebih banyak“T-tunggu! Kau... kau pegawai di sini? Aku butuh bantuanmu! Akan kubayar berapa pun yang kau mau, asal kau mau ikut denganku!”
Kalimat gila itu begitu saja meluncur dari mulutku. Tanganku bergerak refleks, mencengkeram kuat tangan pria asing yang aku temui secara tidak sengaja di lorong klub malam The Eclipse.
“Maaf?” tanya pria asing yang baru saja melintas.
Langkah tegap pria itu langsung terhenti. Sepasang alis tebalnya bertaut, dan membeku selama beberapa detik. Dia menatap kedua tanganku yang memeganginya tanpa ada aba-aba. Terlihat ekspresinya yang terkejut sekaligus bingung.
Tatapan matanya yang tajam seolah sedang menilai cengkeraman jemariku di lengannya. Namun, keterkejutan itu menguap secepat kilat, berganti dengan seringai tipis yang berbahaya. Kilat geli seketika melintas di sepasang mata hitamnya, mengunci tatapanku yang gemetar. Sialnya, tidak ada orang lain yang ada di sepanjang koridor klub ini selain dia.
Entah siapa dia, tapi yang pasti aku butuh seseorang untuk membantuku. Aku menahan napas, bersiap jika pria ini akan menolakku atau berteriak memanggil keamanan karena kelakuanku yang tidak sopan. Dia tidak menjawab, hanya memiringkan kepalanya. Sorot matanya yang tajam perlahan turun, lalu sengaja menunduk tipis, memangkas jarak antara kami.
“Aku ini sangat mahal. Apakah kau yakin bisa membayarku, Gadis Kecil?” tanya pria itu dengan sedikit kesombongan.
Aku mundur selangkah. Menatapnya tak percaya. Nada bicaranya yang terlampau tenang justru sedikit menyentil harga diriku. Dia seakan tidak sedang menawarkan profesionalitas sebagai pegawai klub, melainkan sedang meremehkan kapasitas finansialku.
Bukan hanya itu, panggilan ‘Gadis Kecil’ ini juga jelas sebuah hinaan bagi tubuhku yang hanya 1,5 meter, sedangkan pria asing itu sekitar hampir 1,9 meter. Dengan kemeja hitam formal yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya, dan siluet otot dada yang sengaja ditampilkan. Belum dengan sepasang mata hitamnya tajam, ditambah sebutir tahi lalat di sudut mata kanan yang membuat ketampanannya terasa berbahaya. Membuatku makin seperti anak kecil yang tersesat di hadapannya.
“Aku punya uang. Dan aku akan memberi berapa pun yang kau minta!” titahku.
“Seratus juta,” jawabnya asal, disusul tawa rendah yang meremehkan. Tatapannya seolah mengunci pergerakanku, sengaja menyebut angka tak masuk akal hanya untuk melihatku mundur teratur.
Mataku membulat. Nominal itu memang bukan apa-apa bagiku, tapi tetap saja besar untuk sebuah pekerjaan singkat.
“Kau bilang kau punya uang, kan?”
“Ya.. Tapi sepertinya....” Aku menggantung kalimat, menilainya lagi dengan saksama.
“Jadi?” tanyanya dengan cepat padaku.
“Baiklah, tapi kau harus ikut aku sekarang!” tegasku padanya, lalu menarik tangannya yang kokoh itu untuk mengikutiku.
Namun, sesampainya kami di depan ruang VIP 07, tiba-tiba….
Brak!
Suara pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, dan Kak Shiena keluar dari sana dengan napas memburu. Wajahnya masih merah padam, tapi tampaknya dia sudah puas meluapkan amarahnya.
"Sialan, merusak mood-ku saja!" umpat Kak Shiena keras-keras,
“Ayo, Lyra! Kita pergi ke bawah!”
Tanpa menunggu respons dariku. Dia langsung menarikku, otomatis membuatku ikut menyeret pria asing itu.
Begitu kami sampai di Bar, Kak Shiena menghempaskan tubuhnya di sofa beludru. Dia mendongak, menatapku dengan kening berkerut. Seakan terkejut dengan adanya kehadiran pria ini.
“Kau membawa pria ini, Lyra? Siapa dia?” tanyanya dengan sedikit bingung.
Sudah kuduga dia akan bertanya seperti itu. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku juga ingin memberi pria asing itu pelajaran karena telah menyentil harga diriku.
Dilihat secara visual, pria asing ini memang sangat sempurna bak dewa Yunani dan tampaknya akan sanggup meredam amarah dan menyenangkan hati Kak Shiena yang sedang membara. Sebagai orang terdekatnya, aku harus membantu menenangkan hatinya. Walaupun sebenarnya Kak Shiena adalah teman kakak lelakiku, kami bertiga tumbuh bersama dan sudah seperti saudara kandung sendiri.
“Dia... dia pria penghibur kelas atas yang sengaja aku sewa khusus untukmu malam ini, Kak,” dustaku lancar tanpa berkedip.
Aku sengaja mendongak, menantang sepasang mata hitam pria asing itu dengan kilat menuntut yang dipaksakan,
“Ini hadiah dariku agar kau bisa bersenang-senang dan melupakan mantan brengsekmu itu!”
Pria di sampingku langsung menaikkan sebelah alisnya. Seringai tipis yang berbahaya kembali muncul di sudut bibirnya. Dia tidak membantah, tidak juga marah. Pria asing itu justru menatapku dengan kilat geli yang makin pekat.
“Dia lebih mirip predator daripada pria penghibur. Aura dominannya terlalu pekat, bukan seleraku,” ucap Kak Shiena padaku sambil menunjuk pria asing itu,
“Dia lebih seperti tipemu, Lyra. Aku cari yang lain saja. Itu di sana seksi, aku ke sana dulu, ya! Kau bersenang-senanglah dengan pria itu.”
Belum sempat aku memprotes, Kak Shiena sudah melenggang pergi dengan langkah anggun namun pasti, menyelinap cepat di antara kerumunan lantai dansa. Gadis itu benar-benar seperti belut, sulit sekali dijaga.
Aku menghempaskan tubuhku, mengembuskan napas panjang, dan memejamkan mata di sofa yang empuk. Kepalaku mendadak nyut-nyutan. Kejadian ini sungguh menguras energiku.
“Jadi... aku adalah tipemu?”
Pertanyaan itu sukses membuatku terlonjak kaget. Pria itu kini sudah duduk di sampingku tanpa permisi, mengurung ruang gerakku dengan auranya yang kuat.
Pandangan kami bertemu, sorot matanya yang hangat namun mengintimidasi seakan mengunci pandanganku,
“Karena aku sudah tidak membutuhkan lagi bantuanmu, dan kakakku juga tidak menyukaimu, kita anggap saja batal oke. Selamat tinggal,” ucapku cepat.
Belum sempat aku melarikan diri. Gerakan tangan kekarnya yang secepat kilat, menangkap pergelangan tangan kiriku. Kabur darinya ternyata mustahil.
“Mau ke mana? Kau belum membayarku,” ucapnya dengan tatapan menggoda.
“Apa kau serius, Tuan? Kau bahkan belum melakukan apa pun, dan kakakku tidak menyukaimu, aku tidak ingin mengeluarkan uang seratus juta hanya untuk seseorang yang tidak mengerjakan apa-apa,” jawabku dengan perasaan heran.
“Tapi kau sudah menarikku ke bawah, Gadis Kecil, kau harus bayar jasa itu. Bukankah kau bilang akan membayarku berapa pun?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Apa?” tanyaku tidak percaya dengan ucapannya.
Hanya menariknya saja aku harus mengeluarkan uang seratus juta.
Pria itu menarik napas dalam, aura dominannya kini benar-benar keluar, mengalahkan dentuman bas musik klub yang memekakkan telinga. Belum sempat otakku mencerna, dia menarik pergelangan tanganku dengan satu sentakan kuat. Tubuh kecilku langsung limbung dan jatuh tepat di atas pangkuannya.
“Kau sudah melakukan perjanjian denganku, kau tidak bisa membatalkannya,” ujarnya dengan suara berat yang menuntut, tepat di depan wajahku.
“Jika kau tidak mau membayarku, maka aku yang akan membayarmu,” ujarnya dengan seringai tipis yang berbahaya. Tampak jelas dia sedang menikmati kepanikanku yang kini terperangkap olehnya.
“Temani aku malam ini, dan aku akan membayarmu seratus juta. Bagaimana? Masih berani menantangku, Gadis Kecil?”
“AAA!!”Aku berteriak sangat keras saat sesuatu tiba-tiba menepuk bahuku.“Sssttt… Lyra, ini aku,”Suara itu... sepertinya aku sangat kenal.Aku buru-buru berbalik ke belakang. Sosok gelap yang besar, tinggi, dan tegap seolah berdiri siap menerkamku saat itu juga.Takut setengah mati, aku langsung menempelkan kedua telapak tangan di depan dada sambil memejamkan mata rapat-rapat. “Hantu… tolong jangan makan aku…”“Hantu?”Klik!Seketika ruangan kamar yang tadinya gelap mendadak terang.Aku mendongak dan membuka mataku perlahan-lahan. “Arka.”“Memang kamu pikir siapa lagi?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat.“Bikin jantungku mau copot saja!” Aku memegangi dadaku dengan kedua tangan, ngos-ngosan. “Kenapa sih harus gelap-gelapan segala?”“Terserah aku. Ini kan kamarku,” jawabnya santai lalu berbalik memunggungi.Aku menghela napas pendek sebal, tapi sedetik kemudian mataku justru disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa. Tanpa sehelai baju pun di atas, dan hanya mengenakan sehelai
Kami menikmati suasana hangat ini bersama. Bzzzttt… Bzzzttt…Ponselku bergetar dalam saku gaunku. Aku membuka layar dan membaca pesan dari Elena soal permintaanku padanya, lalu kembali mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku. “Ada apa?” tanya Arka dengan wajah penasaran.“Tidak ada,” jawabku singkat. Tanpa sadar aku tersenyum tipis dan Arka masih memperhatikanku.“Kenapa?” tanyaku pura-pura bingung.Saat Arka hendak membuka mulutnya untuk menjawab. Ponselnya berdering, dengan segera dia merogoh saku jasnya dan mengusap layar pada benda pipih itu.“Halo,” sapa Arka membuka percakapan. Dia terdiam, lalu melirikku sebentar, lalu kembali mendengarkan panggilan itu. “Baik, aku mengerti. Kerja bagus Tony.” Lalu dia menutup panggilan itu.Tak lama kemudian, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel. Tidak lama kemudian ayah dan ibu menghampiri kami.“Ada apa?” tanya ayah dengan penasaran. “Iya. Ibu lihat kalian berdua berubah menjadi sangat serius,” timpa ibu.Aku meli
Kami kembali menikmati sarapan kami dengan tenang. Namun di sela-sela itu, aku merogoh saku di gaunku. Mencari nama Elena dan mengirim pesan singkat padanya.[Aku: Elena, arahkan tim media internal kita untuk bersiap. Dokumentasikan seluruh proses penangkapan dan penggiringan menteri-menteri itu begitu jaringan Arka bergerak. Tayangkan secara live di jaringan siaran nasional dalam hitungan menit.]Tak selang berapa lama, sebuah balasan dari Elena muncul.[Elena: Baik, Nona.]Aku tersenyum tipis. Ada rasa kepuasan tersendiri bagiku membayangkan muka-muka mereka terekspos publik. Mereka lebih memilih menyengsarakan rakyat Elysium, sekarang kita lihat bagaimana raut muka mereka saat dijatuhi vonis.Aku mematikan layar ponsel lalu memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku. Saat aku hendak menyeka mulutku dengan serbet, aku menangkap Arka sedang memandangiku.“Apa?” tanyaku spontan.“Tidak apa-apa,” jawab Arka seraya menggeleng pelan, lalu ikut menyeka mulutnya dengan serbet.Setela
Aku berjalan dengan hentakan kaki yang sengaja kubuat kuat agar Arka tahu aku sedang kesal saat menaiki anak tangga. Sisa-sisa rona hangat di pipiku akibat godaannya di mobil tadi belum sepenuhnya surut. Tanpa jeda lama, Arka berhasil menyusulku dengan langkah kaki lebarnya. Dengan senyum penuh goda Arka membungkukkan tubuhnya agar melihat ekspresi kesalku dengan jelas. “Kenapa marah?” Aku meliriknya tajam dan terus berjalan. “Oke-oke aku minta maaf,” ucap Arka kembali menegakkan tubuhnya. “Sebagai permintaan maafku…” Arka menggantung kalimatnya. Dengan sekali gerakan cepat dia menyusupkan satu lengannya di lutut dan satu lainnya di pinggangku. Dia mengangkat dan menggendongku. Aku terkejut dan refleks memegangi bahunya yang lebar itu. “Ih, apa-apaan sih? Kenapa main gendong?!” pekikku.Arka menatapku. “Kasih kompensasi karena buat kamu marah,” ucapnya lalu kembali berjalan menaiki tangga.Aku menyeringai kesal. “Kalau mau gendong bilang-bilang dulu. Main seenaknya aja,” timpalku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak