Home / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 84. Sebuah Harapan.

Share

Bab 84. Sebuah Harapan.

Author: eslesta
last update publish date: 2025-12-26 07:22:55

Ruby tak menunggu lama. Begitu mobilnya kembali melaju stabil, ia segera meraih ponsel dan langsung menekan nama Olivia. Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya terangkat.

“Halo, Tante Ruby?” suara Olivia terdengar bercampur riuh, samar oleh bunyi sendok dan percakapan orang-orang di sekitarnya.

“Via,” Ruby membuka suara dengan hati-hati, “aku tadi sepertinya melihat pria yang sangat mirip dengan ayah kamu.”

Sendok di tangan Olivia berhenti di udara. Kuah soto ayam yang masih mengepul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 138. Satu Ketegasan.

    Gyan terdiam beberapa saat. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam punggung tangan Mariska, perlahan mengendur, matanya jatuh lurus ke wajah Mariska yang duduk di depannya.“Hubungan kita spesial, Ris,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tertelan denting sendok dan riuh rendah pengunjung di sekitar. “Tapi… kamu yakin mau sama laki-laki kayak aku?”Mariska mengernyit kecil. “Maksudnya?”Gyan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. “Aku hidup biasa aja, nggak punya apa-apa buat dibanggain. Aku takut suatu saat kamu sadar kalau kamu salah pilih.”“Kita udah sedekat ini tapi kamu masih nanya begitu?” Nada kesal Mariska muncul tanpa bisa disembunyikan.“Bukan karena aku ragu sama perasaan kamu,” sahut Gyan cepat, matanya penuh gelisah. “Aku cuma takut kamu nantinya kecewa. Aku nggak bisa janjiin hidup mewah—”“Kamu cinta sama aku?” suara Mariska tiba-tiba menyela, lembut tapi penuh harap.Gyan terdiam, pandangannya melembut, jemariny

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 137. Tentang Mariska.

    Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara di salah satu kafe bergaya industrial itu ketika Olivia mendorong paper bag ke arah Mariska.Mariska yang sejak tadi menikmati cappuccino-nya mengangkat alis. “Apa itu?”“Oleh-oleh,” jawab Olivia ringan, dagunya sedikit terangkat. “Dari pantai kemarin.”Gerakan tangan Mariska terhenti sesaat di udara. Ia menyipitkan mata, lalu senyum tipis mulai mengembang. “Ooh… yang liburan sama Mas Adrian itu?” Ia menyesap lagi kopinya, sengaja pelan, memberi jeda untuk menggoda. “Pantesan dari tadi mukanya bersinar banget.”Olivia terkekeh, “Ya iyalah. Mas Adrian balik romantis lagi.” Ia menyandarkan punggung, matanya berbinar seperti menyimpan potongan-potongan kenangan yang belum habis diputar ulang. “Empat hari di sana tuh… kayak cuma lewat sebentar. Lo nanti juga bakal ngerti, kalau udah nikah.“Ah… menikah…” gumam Mariska. Tatapannya justru melayang ke luar jendela, mengikuti garis hujan yang mulai membentuk jalur-jalur tipis di kaca.Olivia mengernyit, b

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   136. Desah di antara Deburan Ombak. (21++)

    "Tentu saja aku akan puaskan kamu, Sayang..." bisik Adrian sambil tersenyum lebar setelah mendengar permintaan istrinya barusan.Pria itu melumat bibir Olivia lagi. Kali ini lebih dalam dan lebih liar. Ciuman mereka masih menyatu saat dia menggiring tubuh Olivia pelan menuju tempat tidur. Suara debur ombak di luar berpadu dengan hembusan napas dan cecapan bibir mereka yang terus bertaut.Adrian memperdalam ciumannya, jari-jarinya meremas lembut tengkuk Olivia."Eumh... mas. Pelan aja, nikmati momennya," bisik Olivia antara lumatan bibirnya.Adrian tersenyum tipis, perlahan melepas handuk yang membelit tubuh istrinya. Kini, Olivia polos tanpa sehelai benangpun.Dia menekan pundak Olivia dengan lembut, memintanya duduk di tepian kasur. Dengan gerakan tenang, Adrian mengangkat kausnya dan melepaskannya."Mas, lampunya. Matikan," bisik Olivia.Adrian mengangguk pelan, berjalan ke saklar dan memadamkan lampu.Cahaya rembulan menerobos jendela, melukis siluet tubuh mereka dengan lembut. Kem

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   135. Liburan Tipis.

    "Jadi, Bima sudah ketangkap, Mas?" suara Olivia yang beradu dengan angin yang menyusup lewat celah jendela mobil membuat Adrian sempat melirik sekilas, lalu mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya."Udah, Sayang.""Syukurlah..." kata Olivia sambil menghembuskan napas panjang, matanya menatap jalanan yang meliuk di depan mereka, diapit pepohonan dan bayang-bayang sore yang mulai jatuh."Iya," lanjut Adrian dengan suara lebih ringan. "Teman kontrakannya jujur waktu diperiksa polisi. Dari situ langsung dilacak. Dari CCTV di terminal juga keliatan waktu mau naik bus. Pas ditangkap, dia sempat coba kabur, tapi polisi di sana sigap."Tangannya mencari tangan Olivia, menggenggamnya hangat di atas konsol tengah. Jemari mereka saling mengunci, seolah memastikan semuanya benar-benar sudah berlalu."Semoga setelah ini nggak ada masalah lagi di Solaire, Mas," gumam Olivia, matanya mengikuti garis jalan yang tak ia kenal."Amiin," jawab Adrian, lalu mengecup punggung tangan itu pelan, lama.Ol

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 134. Bima Oh Bima.

    Bima menarik hoodie-nya lebih dalam, hingga bayangan kain itu menutupi sebagian wajahnya. Kacamata berbingkai kotak bertengger rapi, menyamarkan wajah dan sorot matanya yang gelisah. Dari balik masker, napasnya terasa berat.Di luar jendela, terminal masih riuh. Orang-orang berlalu lalang, suara pedagang bercampur dengan deru mesin kendaraan. Tapi kursi sopir di depan ternyata kosong."Kapan berangkat ini bus?" gumamnya, rahangnya mengeras."Haduuh, eta supirna kamana?" celetuk seorang pria di belakang, logat Sundanya kental."Molor kali!" sahut yang lain, disusul tawa tipis yang terasa mengganggu.Bima mengetuk-ngetuk jari di pahanya. Debaran jantungnya semakin terasa di telinga. Pelariannya kali ini harus berhasil."Mas mau ke mana?"Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan muda duduk di sampingnya dengan senyum yang manis, lesung pipinya dalam."Oh… saya mau ke Sidoarjo, Mbak," jawabnya singkat, buru-buru merapikan maskernya agar wajahnya tidak dikenali."Loh, sama! Daerah m

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 133. Sebuah Konsekuensi.

    Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika suara mesin mobil berhenti di bawah carport terdengar pelan. Cukup membuat Olivia langsung menoleh.Ia bangkit dari sofa tanpa berpikir panjang, langkahnya cepat menuju pintu ruang tamu dan membukanya.Begitu terbuka, Adrian berdiri di sana. Kemejanya kusut, wajahnya sangat lelah. Ada sesuatu yang berat menggantung di matanya.“Mas… Gimana kondisi Firly?” suara Olivia melembut.Adrian tidak langsung menjawab. Ia masuk, menutup pintu pelan di belakangnya, lalu mengembuskan napas panjang. “Masih kritis,” ucapnya akhirnya, suaranya serak. “Ternyata… dia hamil.”Olivia terdiam.“Usia kandungannya…” Adrian menelan ludah, matanya sempat terpejam. “Sama seperti kamu.”Olivia masih terdiam.“Tadi dokter bilang…” lanjutnya pelan, seolah setiap kata terasa berat untuk keluar, “bayinya nggak bertahan. Dan kemungkinan ibunya juga kecil.”Olivia menutup mulutnya dengan tangan.“Ya Tuhan…” bisiknya, suaranya nyaris hilang. “Separah itu, Mas?”Jawab

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 115. Rasa Cemas di Antara Kebahagiaan.

    Pagi itu, Mariska melangkah cepat melewati teras rumah Olivia. Ia mendorong pintu rumah itu dengan terburu-buru. “Via!” Olivia yang berdiri di lorong pemisah ruang tamu dan ruang keluarga menoleh. Belum sempat berkata apa-apa, tubuhnya sudah diterjang pelukan hangat. “Selamat! Bumil!” Mariska be

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 111. Semua Pasti Akan Baik-baik Saja.

    Adrian melirik ke arah dapur. Pintu akses sudah tertutup rapat. Para pegawai bergerak cepat dengan langkah terkoordinasi, suara instruksi saling bersahutan pendek, menandakan SOP berjalan sesuai prosedur.Di bagian depan, Renata sudah lebih dulu sigap. Ia mencondongkan tubuh ke meja terdekat dari l

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 109. Harapan Yang Pupus.

    “Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 108. Apakah Suatu Pertanda?

    Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status