Masuk"So you want to marry someone else?" Rein menyeringai tajam, senyum miringnya mewakili betapa mimpi Ane untuk melepaskan diri darinya adalah mustahil, "over my dead body!" bisiknya tegas, manipulatif dan begitu menuntut. Ane tercekat, bibirnya bergetar hebat. Bahkan, setelah melalui kematian yang mengerikan, ia tidak berakhir di neraka. Dirinya terbangun dalam lintas dimensi yang berbeda, tapi tetap harus bertemu dengan lelaki yang paling tidak diinginkannya ada di dunia keduanya. Melintas batas ruang dan waktu, Ariane Catharina Sabine, sang Noni keturunan bangsawan Belanda yang hidup penuh tuntutan di jaman kolonial, mati diracun dan terbangun di masa kini, 4 abad setelahnya. Sialnya, Ane harus menghadapi orang yang sama, mantan suami kejam dan tanpa belas kasihan dari perjodohan pernikahan kolotnya, sang Meneer yang penuh kegilaan, Reinier Adriaan De Wit. Rein secara tak terduga, muncul di hidup baru Ane, dengan plot twist mencengangkan yang tidak pernah Ane sangka. "Setelah kehidupan kedua aku bahkan tidak bisa lepas dari si jahanam Rein? Aku harus melepaskan diri darinya, harus!" Usai terbangun tiba-tiba di masa depan, mendapat kesempatan kedua yang tak dimiliki siapapun di dunia ini, Ane bertekad untuk melepaskan diri. Ia harus mengejar cinta lamanya yang sejati. Siapa yang tahu, semakin keras Ane berusaha lari, semakin kuat pula Rein mengejarnya. Semakin Ane berusaha untuk menepis bayangan mengerikan masa lalu yang ia alami, semakin tampak kenyataan pahit yang dulu tak pernah ia sadari.
Lihat lebih banyak"Masih berani memikirkannya?" Reinier menarik kuat rambut panjang Ariane, ia menyeringai. "Ucapkan namanya sekali lagi dan hidupmu akan berakhir di neraka!" ancamnya serius.
Ariane Catharina Sabine, menikah secara paksa dengan Reinier Adriaan De Wit sebagai bentuk kontrak kebangsawanan dalam keluarga besarnya. Terlahir mulia dari campuran keturunan bangsawan Belanda yang menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia, pernikahannya dengan Rein dijalankan tanpa meminta persetujuannya. Rein, lelaki tampan keturunan bangsawan Belanda yang menjabat posisi gubernur wilayah sementara selama masa monopoli dagang VOC. Rein begitu patriarki dan semena-mena, mengambil Ane sebagai istrinya dengan niat untuk menjadi pelampiasan kekejamannnya. Tidak hanya Rein, keluarga besar De Wit pun sama, memperlakukan Ane sebagai tawanan kontrak nikah yang tidak berharga. "Apa perlu kubunuh si bangsat Aldric itu untuk membuatmu mengerti?" gumam Rein lagi, ia tarik dagu Ane agar menatapnya. "Diam-diam keluar kediaman hanya untuk bertemu dengan jelata itu? Berhentilah bermimpi atau hidupmu akan berakhir di tiang gantungan," sengalnya marah, melepas jambakannya di rambut Ane lalu menendangnya sembarangan. "Aku pergi ke pasar pribumi membeli garam, Tuan Rein," sebut Ane gemetaran. "Hah!" Rein tertawa menyeringai, "kebohongan sialan macam apa yang sedang kamu perdengarkan di depanku! Menurutmu, aku akan percaya? Membeli garam?" matanya memerah marah. "Yanto!" panggilnya pada orang kepercayaannya. "Bawa Mevrouw ke ruang bawah tanah, kurung dia selama dua hari!" perintahnya setengah berteriak. Lelaki berbadan kekar dengan kulit khas terbakar matahari tampak berlari tergesa mendekat. Ane panik, ia merangkak menjauh, berusaha meraih kaki Rein agar melindunginya. "Jangan Tuan, aku tidak berbohong!" kata Ane memelas, air mata sudah mengaliri wajahnya, membuat luka bekas tamparan Rein di sudut bibirnya terasa perih. "Kumohon, jangan kurung aku di ruang bawah tanah lagi, tolong," rengeknya tak berdaya. Semenjak menikah dengan Rein, Ane memang dilepas oleh keluarganya. Statusnya yang adalah putri keturunan bangsawan Belanda tak membuat posisinya di rumah besar De Wit menjadi nyonya yang berkuasa. Disiksa setiap hari, dibiarkan menjadi samsak pelampiasan kemarahan Rein yang meledak-ledak tapi masih membutuhkan jasa keluarga Ane sebagai penegas kebangsawanannya. "Seret dia, Yanto!" hardik Rein tak peduli dengan rengekan Ane yang menyayat. Menangis pilu, Ane berusaha melawan tenaga Yanto. Namun, tangan mungilnya yang sudah terluka bekas diseduh air panas kopi milik Rein tadi pagi tak bisa membuatnya lepas dari cengkeraman Yanto. "Yanto, tolong, jangan kurung aku di sini!" mohon Ane begitu Yanto menghempas tubuh mungilnya ke tembok lembab ruang bawah tanah. Tak ada tanggapan dari Yanto, ia beranjak pergi meninggalkan sunyi pada Ane sendiri, berteman gelap yang tak pernah disambangi cahaya. Ane merintih, teringat wajah Aldric, lelaki tercintanya yang pergi karena salah paham yang tak sempat ia jelaskan. Pernikahan Ane dan Rein semakin mempertegas jarak antara Ane dengan Aldric yang sudah terpisah kesalahpahaman tanpa ujung. Menjadi gadis keturunan bangsawan Belanda yang tinggal di tanah Indonesia, dipaksa menikah dengan tanpa persetujuannya, kehilangan kekasih hati yang begitu dicinta, dan disiksa raga oleh kekejaman keluarga De Wit. "Aldric ...," rintih Ane dalam kegelapan sekitarnya. "Apa ini adalah akhir yang kita mau?" tambahnya terisak. "Dia tidak akan mendengarmu," bisik sebuah suara tiba-tiba, mengejutkan Ane. Dalam kegelapan, sebuah jemari menarik kuat lengan Ane, menghempasnya sangat kasar. Lalu, jemari yang lain memegangi, membuat Ane bahkan tak bisa bergerak untuk berontak. "Siapa? Siapa?" teriak Ane ketakutan, "lepaskan!" ucapnya sekuat tenaga. "Tenang, tidurlah yang nyenyak, selamat malam, Putri Ariane," bisik sebuah suara berat, tapi jelas bukan suara Rein. Dan sebotol cairan dijejalkan ke mulut Ane, pahit yang getir itu meledak di dalam mulut kecil sang Noni. Tak bisa menahan, sebagian besar cairan tertelan. Reaksinya cepat, Ane bak tercekik, terasa panas membakar seluruh bagian dirinya. Ane menegang, tubuhnya kehilangan kemampuan untuk bernafas, air mata mengalir membanjiri wajah ayu Ane yang penuh luka itu. Ia lantas ambruk, menyerah pada dunia, bagi Ane, inilah akhir dari penderitaannya. Dan seiring sisa nafasnya, segenap penglihatannya menggelap, suara bising yang memekakkan telinganya perlahan berganti sunyi. "Akhirnya, aku berakhir di neraka," lirih Ane sebelum habis sisa nyawanya. ### Haiii! Cerita baru nih, simak terus lanjutannya yaaa!!"Kondisinya udah stabil, saya nggak bisa nungguin, ada telepon dari rumah sakit," pesan Rein saat Tante Ery tiba di apartemen. "Dia sekarang tidur?" Tante Ery melongok ke dalam kamar. "Tidur," jawab Rein. Ia lalu masuk ke dalam kamar lagi, dikecupnya kening Ane sekejap, di depan mata Tante Ery. "Kalau ada apa-apa, kasih kabar ke saya ya, ke saya dulu, jangan ke Aldric," ujarnya serius. "Oke, noted Pak Rein," kata Tante Ery sedikit bingung, tapi senyumnya terkembang, senang karena Rein perhatian lagi pada Ane. "Maaf Pak, mungkin kalau ada Aldric di rumah sakit, sebaiknya jangan kasih tau juga kondisi Ane yang begini, mereka sedang perang dingin," pesannya. "Saya nggak mungkin kasih kesempatan ke saingan saya, Bu Ery," tandas Rein songong, ia lantas beranjak pergi setelah menoleh Ane yang tampak pulas, sekali lagi. Sepeninggal Rein, Ane terbangun. Beruntung, Tante Ery datang membawakan sop ayam yang masih hangat, jadi, saat Ane mengeluh lapar, ia sudah tidak perlu lagi mencarikan A
Ane tidak lagi bicara apapun setelah berpaling. Ia memilih untuk memejamkan matanya, alangkah baiknya jika ia tidak bersama siapapun di dunianya yang baru ini. Bukankah ia tidak boleh serakah? Hatinya menginginkan Rein, tapi memorinya menolak semua itu, kenangan di kehidupan lalu yang terlalu pahit untuk ditanggungnya. "Aldric tau kamu kepayahan begini?" tanya Rein mengubah topik, ia periksa lagi suhu tubuh Ane dengan meraba keningnya. Setelahnya, menggunakan tisu basah, ia bersihkan lantai yang masih menyisakan bekas muntahan Ane, sungguh pemandangan janggal yang baru pertama kali dilihat perempuan di depannya."Dia sibuk kerja, aku nggak mau ganggu dia pake hal sepele kayak gini," jawab Ane, ia terpana menatap betapa telaten dan tanpa risih, Rein membersihkan lantainya. Sebagai seorang tuan muda, sikap Rein benar-benar tidak biasa."Ini bukan sepele, detak jantung kamu lemah, masalah kesehatanmu harus lebih diperhatiin lagi.""Iya, nanti biar kuminta Tante Ery hubungin dokter.""Ak
Rein menghentikan langkahnya di depan pintu studio tari milik Ane yang masih satu gedung dengan unit apartemennya itu. Ada perasaan bersalah terhadap Ane karena berita yang tersebar, juga interaksi sedingin kutub antara mereka semalam. Saat Tante Ery mengadu bahwa Ane sengaja tidak datang lagi ke kantor dan sejak pagi mengunci diri di studio tari, Rein berubah cemas. Gema musik bollywood yang tengah menggaung seisi ruangan itu menjadi sedikit teredam setelah Rein masuk tanpa sepengetahuan Ane dan kembali menutupnya. Gerakan tarian sporty Ane sudah tidak terlihat lincah, perempuan ini sengaja membuat tubuhnya sendiri kepayahan. Rein sabar menunggu, mengamati bagaimana Ane memaksakan diri, tubuhnya meliuk seksi dalam balutan pakaian minim menggoda. Perempuan ini seperti tak menghiraukan situasi sekitarnya, ia berputar kencang, semakin kencang hingga hampir ambruk jika saja Rein tidak sigap menangkap dan memeluk tubuhnya. "Rein," desah Ane terkesiap, ia masih terengah, musik masih ber
Rumah sakit Queen Elizabeth setelah tiga hari pertengkaran dingin Ane dan Aldric, Ane datang ke rumah sakit. Hatinya sudah lebih tertata, ia ingin mengakhiri perang dinginnya itu setidaknya dengan berinisiatif mencari Aldric lebih dulu. "Kamu udah liat berita? Dokter Rein lagi viral, apalagi rumor kencannya sama Gisel mencuat ke permukaan," sebut Tante Ery menyambut Ane yang baru masuk ke ruangannya. "Serius nih aku disambut gosip begini, baru aja dateng?" desah Ane muak. "Sorry," Tante Ery nyengir. "Kamu udah beneran berakhir kan Ne sama dia?" "Dari awal juga kami nggak pernah memiliki permulaan," sambar Ane. "Aldric gimana? Ketemu dia?" tanyanya tak mau membahas Rein lebih banyak."Kayaknya baru selesai turun jaga. Dia kuliat jalan ke kantin, mau makan. Kamu nggak hubungin dia?" Ane menggeleng, "Aku WA dia juga nggak ada balasan. Entah saking sibuknya, atau emang baginya balas pesanku itu nggak penting," katanya. "Kayaknya kalian emang butuh ngobrol deh. Hubungan dewasa itu n
Tiba di apartemennya, Ane memandang seisi ruangan takjub. Dirinya yang baru memiliki selera terhadap seni merangkai bunga dan seni menari yang sangat baik. Terbukti dari beberapa pajangan di ruangannya yang mewakili semua kegemaran itu, sungguh, kehidupan baru yang sangat sempurna seharusnya, tentu
"Udah bangun?" satu wajah ayu dengan senyum indah menyambut pandangan Ane saat membuka mata. "Keracunan dan gampang pingsan, apa sih yang lagi kamu pikirin, Ane?" tanyanya bernada mengomel. "Aku masih hidup?" gumam Ane lirih, masih belum bisa menguasai dirinya 100 persen. "Kenapa aku tidak mati da
"Haaaft!" Ane membuka matanya lebar-lebar, terbangun dalam satu hentakan kuat dan tarikan yang sangat keras dan tidak nyaman. Nafasnya terasa sesak, tapi masih bisa ia usahakan, ia terengah bak seusai berlari sangat jauh dan kencang. Tubuhnya menggigil parah, dadanya terasa bak ditusuk oleh belati
"Masih berani memikirkannya?" Reinier menarik kuat rambut panjang Ariane, ia menyeringai. "Ucapkan namanya sekali lagi dan hidupmu akan berakhir di neraka!" ancamnya serius. Ariane Catharina Sabine, menikah secara paksa dengan Reinier Adriaan De Wit sebagai bentuk kontrak kebangsawanan dalam kelua












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan