Masuk"Enakkan mana, sama cairan milik suamimu?" tanya Erfan dengan nada main-main.
"Em, enakkan mana yah..." Sinta berpura-pura berpikir. "Kayaknya... enak punya tuan muda!" ucapnya dengan nada manja. "Serius? gak bohong nih? kalau lebih dari enak milik suami ~ jujur saja!" goda Erfan. "Ih, aku serius! lebih enak punya tuan muda," rengek Sinta dengan manja. "Kalau benar begitu... gimana kalau setiap aku sampai puncak ~ aku akan menumpahkannya di dalam mulutmDewi datang membawa segelas teh, lalu menyajikannya di hadapan Tante Yurike."Nyonya, maaf yah... hanya ada teh di sini!" ucap Dewi dengan canggung."Gak apa-apa. Makasih yah cantik," balas Tante Yurike dengan hangat."Aduh, aku lupa!" Erfan menatap para wanita."Sayang, kenalin! ini Tante Yurike, dia yang akan menghandle pembangunan proyek wisata. Tante Yurike ini, teman ibuku!" Erfan memperkenalkan Tante Yurike kepada para wanita.Satu persatu wanita itu memperkenalkan diri mereka dengan sopan."Kalian semua sangat cantik!" puji Tante Yurike kepada empat wanita itu. "Aku gak bawa hadiah pertemuan, maaf yah!" ucap Tante Yurike dengan nada meminta maaf."Gak apa-apa tante," balas keempatnya sampir bersamaan.Tante Yurike menatap Erfan."Apa cuma mereka wanitamu?" tanya Tante Yurike sambil menatap Erfan dengan tatapan curiga."Masih banyak! yang lainnya ada di vila," balas Erfan dengan nada nakal.
Setelah rasa terkejut itu hilang, Pak RW baru sadar, jika Sinta pulang membawa banyak barang."Nak, barang-barang ini?" tanya Pak RW dengan ragu.Sinta sedikit tersentak, lalu buru-buru menjawab."Oh ini. Ini di kasih tuan muda!" balas Sinta dengan jujur."Di kasih tuan muda? kok... tuan muda baik banget sama kamu?" tanya Pak RW. Rasa curiga di hatinya kembali datang.Jantung Sinta berdebar keras, karena gugup. Namun, dia berusaha menyembunyikan kegugupannya itu."Aku jaga gak tahu! tadi kan tuan muda ke Mal beli hadiah pertemuan buat Tuan Gubernur, eh... dia malah belanjakan aku juga," balas Sinta santai.Rasa curiga Pak RW belum sepenuhnya hilang, walaupun dia sudah mendengar jawaban Sinta."Kamu... gak ada hubungan apapun kan sama tuan muda?" tanya Pak RW dengan serius."Enggak kok!" balas Sinta buru-buru. "Mana mungkin aku punya hubungan dengannya. Aku udah punya suami."Pak RW menghela nafas, t
Sinta berjongkok, menggenggam batang besar itu, lalu memosisikannya di lubang apemnya. Setelah di rasa pas, dia menurunkan tubuhnya sampai batang itu tertanam sepenuhnya. "Ahhh... mentok, tuan!" desah Sinta dengan penuh kenikmatan. Wanita itu tak membuang waktu, dia langsung bergoyang lincah di atas tubuh Erfan. Rasa nikmat bisa langsung Erfan rasakan dari hasil goyangan wanita itu. "Shh... ahh, goyanganmu sangat nikmat, sayang," puji Erfan. Matanya menatap wanita itu dengan tatapan puas. Mendapatkan pujian itu, Sinta semakin bersemangat. Dia mengeluarkan semua jurus goyangan mautnya untuk memasuki Erfan merasa nikmat di bawah goyangannya. Tangan Sinta melingkar di leher Erfan, lalu dia mengambil inisiatif melumat bibir Erfan. Mendapatkan serangan itu, Erfan tentu langsung menanggapinya. Belum sampai dua menit, Sinta merasakan puncak yang tadi tidak sempat tercapai, kini mendekat datang kembali. "Tuan, tuan muda.... aku mau!" ucap Sinta dengan suara serak. Tubuhnya mulai memb
"Enakkan mana, sama cairan milik suamimu?" tanya Erfan dengan nada main-main. "Em, enakkan mana yah..." Sinta berpura-pura berpikir. "Kayaknya... enak punya tuan muda!" ucapnya dengan nada manja. "Serius? gak bohong nih? kalau lebih dari enak milik suami ~ jujur saja!" goda Erfan. "Ih, aku serius! lebih enak punya tuan muda," rengek Sinta dengan manja. "Kalau benar begitu... gimana kalau setiap aku sampai puncak ~ aku akan menumpahkannya di dalam mulutmu," goda Erfan. "Silakan saja, kalau tuan muda mau seperti itu. Aku siap menelan semuanya," balas Sinta dengan nada genit, tampaknya dia tidak keberatan. Erfan merebahkan wanita itu sambil membuka lebar-lebar kakinya. "Mau mulai nih?" tanya Sinta dengan nada main-main. "iya dong, nunggu apa lagi? batangku udah gak sabar mau masuk ke vaginamu," balas Erfan dengan tegas. Dia berlutut di antara kaki Sinta, lalu memosisikan batangnya di lubang apem wanita it
Erfan memutuskan pergi ke hotel milik rekan bisnisnya, Tuan Bizi, yang pernah dia kunjungi bersama Anne. Sesampainya di sana, Erfan memesan kamar hotel terbaik. Namun saat hendak membayar, resepsionis hotel menolaknya karena telah diperintahkan oleh Tuan Bizi bahwa jika Erfan datang menginap di hotel tersebut, dia tidak perlu membayar. Erfan tidak memaksa untuk membayar. dia mengucapkan terima kasih, lalu pergi bersama Sinta menuju kamar yang telah dipesannya. Sesampainya di kamar, Sinta tampak sangat kagum melihat kemewahan kamar tersebut. "Tuan muda, kamar ini sangat mewah," ucap Sinta sambil terus memandangi interior kamar tersebut. "Ini belum terbilang mewah, kalau kamu mau melihat yang lebih mewah, kamu bisa datang ke Ibukota. Kamar hotel mewah di sana jauh lebih baik dari pada ini," ucap Erfan dengan santai. Sinta menatap Erfan, lalu melingkarkan tangannya di leher Erfan. "Mewah atau tidaknya, aku gak peduli! yang penting aku d
Tuan Gubernur kembali teringat sesuatu. "Eh iya. Mumpung kamu di sini, kita bahas sekalian saja masalah pembangunan Bandara," ucap Tuan Gubernur sambil menatap Erfan. "Jadi gimana? apa pembangunan itu jadi di lakukan?" tanya Erfan dengan serius. Karena sudah lama tidak ada kabar tentang rencana ini. "Tentu saja jadi! dana pembangunan dari pemerintah akan cair paling lama pertengahan bulan ini!" "Kalau gitu bagus! soalnya bisnis yang akan ku bangun pasti sangat butuh bandara. Kalau di kota ini ada bandara, bisa memudahkan para pengujung dari Kota lain dan juga turis asing," ucap Erfan dengan antusias. "Bener sekali! kalau bisa... nanti ~ kereta yang menuju ke daerah tempat wisata memiliki stasiun di dekat bandara," ucap Tuan Gubernur menyarankan.Erfan mengangguk setuju."Jadi, total yang harus aku investasikan pembangunan bandara itu, berapa?" tanya Erfan."Sekitar 9,5 triliun! soalnya ada beberapa pebisnis di







