"Wahai Healer, katakan permintaanmu, aku Verdandy akan memberikan takdir saat ini yang kau inginkan," ucap Wanita itu kemudian berubah jadi cantik jelita dengan rambut peraknya yang tergerai panjang itu. Dia salah satu dari ketiga dewi Norn.
Kedua mata ruby Aricia membelalak sempurna. "Apa kau membual?" celetuk Aricia.
Wanita itu tertawa mendengar Aricia. "Haha, Healer ... kau lucu sekali," kekeh Wanita itu.
Sebuah panel muncul di hadapan Aricia. Seperti kata Wanita itu jika dia seorang Dewi masa kini, Verdandy. Kekuatannya sihir waktu dan regenerasi. Seperti kekuatan Dewa pada umumnya, dia benar-benar dewa, batin Aricia.
"Jadi apakah kau sudah menentukan apa yang kau inginkan dariku? katakanlah keinginanmu, harta, takhta atau kekuasaan," tanya Dewi Verdandy pada Aricia.
Aricia tidak membutuhkan senjata dan kekuatan mandraguna. Ia hanya ingin pengetahuan mengenai dunia ini dan juga hidupnya. "Begini Wahai Dewi, aku seorang manusia yang tiba-tiba saja bangun di dunia ini ... aku tak membutuhkan kekuasaan, kekuatan dan harta tapi aku hanya ingin pengetahuan mengenai dunia ini," ucap Aricia.
"Menarik," sahut Dewi Verdandy. "Jadi kau manusia dari inkarnasi waktu yang lain, sayangnya aku tidak tahu siapa yang membuatmu bereinkarnasi di dunia ini," ucap Dewi Verdandy.
Aricia mengangguk. Ya wajar saja sih, batin Aricia.
"Tapi aku akan memberimu keinginan yang kau inginkan, wahai Healer." Wanita itu berucap sembari menjentikkan jemarinya kemudian sebuah sebuah buku pun muncul. "Setelah mengucapkan pertanyaan, sebuah jawaban akan tertulis disetiap lembar buku ini," ucap Wanita itu seraya menyerahkannya pada Aricia.
Aricia meraih buku itu dari Dewi Verdandy, Sebuah buku bersampul dari kulit yang mengkilap. Aricia menyentuh permukaannya kemudian membuka buku itu. "Buku apa ini?" tanya Aricia.
"Buku yang kau inginkan, hanya pemiliknya yang bisa melihat isi tulisan itu dan buku itu yang bisa menjawab pertanyaanmu," jawab Dewi Verdandy.
Aricia menatap buku itu kemudian seperti biasa panel muncul di hadapannya menampilkan informasi dari buku itu sebagai item langkah. Buku Apokrifa, Tulisan yang Tidak jelas. Aricia tersenyum sendu kemudian memeluk buku itu dengan erat. Kini secerca harapan kembali muncul usai merasa putus asa.
"Terima kasih, wahai Dewi," ucap Aricia.
Dewi Verdany mendekati Aricia kemudian menyentuh pipinya dengan perlahan. "Aku dengan senang hati mendengar keluh kesahmu, wahai Healer, jaga selalu hatimu yang senantiasa bercahaya dengan terang ini kelak hanya kau yang sanggup berdiri menghadapi Sang Iblis," ucap Dewi Verdandy kemudian perlahan-lahan lenyap menjadi percikan cahaya yang samar.
"Di sini, kau ternyata," ucap Davis. Pemuda itu baru tiba dengan napas tersenggal-senggal, tampaknya dia kelelahan karena berlari-lari mencari keberadaan Aricia. "Kau menghilang tanpa jejak, sehingga Duke jadi murka," ucap Davis memberitahu Aricia.
Kedua mata Aricia membelalak. "Apa? kenapa Duke harus murka?" tanya Aricia terkejut.
"Itu karena dia takut Healer kesayangannya melarikan diri," jawab Davis ketus. "Ayo, cepatlah kembali jika tak mau isi Mansion jadi abu," ucap Davis.
Aricia mengangguk kemudian berjalan mengikuti Davis. Semula Aricia hanya mau menenangkan diri tapi ia malah bertemu Dewi Verdandy. Sebenarnya Aricia juga tidak betah di Mansion karena para pelayan yang dengki padanya dan Duke yang selalu mengajaknya menikah.
Aricia tba di Mansion saat hari menjelang senja. Ketika pintu Mansion terbuka, hanya ada keheningan dan hawa yang dingin. Tidak ada Pelayan yang berlalu lalang kecuali helaan napas Davis yang terdengar dikeheningan Mansion ini.
"Kenapa? di mana semua orang?" tanya Aricia heran.
"Tidak ada yang berani keluar saat Duke murka, dia akan sangat menyeramkan saat marah," jawab Davis menghantar Aricia ke depan sebuah ruangan. "Masuklah, Duke sudah menunggumu." Davis berucap sembari mendorong Aricia masuk ke dalam ruangan itu.
"Tunggu, Davis!" teriak Aricia namun terlambat karena Davis sudah menutup pintu itu lebih dulu.
Aricia membalikkan tubuhnya. Ia mendapati Duke sedang duduk di depan meja kerjanya. Pria itu tak memerdulikan Aricia melainkan sibuk membuka halaman dari gulungan dokumen yang ada di atas meja. "Anu ... Duke, aku hanya mencari angin," ucap Aricia.
Duke mengabaikan ucapan Aricia karena ia masih membaca gulungan dokumen. Aricia menghela napas menatap ulah Pria itu. Jadi dia sedang merajuk ya? merepotkan, batin Aricia mengeluh.
Aricia berjalan mendekati meja Duke Victor kemudian menatap Pria yang masih mengabaikannya itu. "Aku minta maaf karena aku hanya bingung pada kehidupanku sendiri, tidak bisakah Anda memaklumiku?" celetuk Aricia gantian bernada dingin.
Duke meletakkan pena bulu angsanya. Ia menanggah menatap Aricia. "Kau harus tahu betapa pentingnya dirimu untukku," sahut Duke sembari beranjak berdiri.
"Apa yang penting dariku untukmu?" Aricia bertanya balik.
Duke mendekati Aricia kemudian meraih pinggang rampingnya agar mendekat pada tubuh kekar dan besarnya itu. Tangan Duke yang besar mampu menggengam pinggang Aricia. "Aricia Anahita Gracewill, bukankah aku sudah jelas? aku ingin kau jadi istriku," ucap Duke.
"Jadi istrimu atau sekedar jadi Healer yang mengabdi seumur hidup padamu?" terka Aricia.
Duke tersenyum miring. "Instingmu cukup tajam tapi aku memang mau mempersuntingmu," jawab Duke.
"Oh, wahai Duke Victor Frederic Ashkings, katakan saja keinginan aslimu," ucap Aricia.
Duke justru tersenyum puas melihat tatapan Aricia yang menajam padanya. Aricia yang berada di depan dirinya saat ini membalas tatapannya tanpa rasa takut. Ia memang Healer berbakat dari era masa kini, yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia ini.
"Benar, jadilah Healerku, sembuhkan aku dan bantu aku untuk selalu membawa kemenangan untuk Helian," ucap Duke Victor kini tangan kirinya meraih dagu Aricia.
Aricia sebenarnya sejak awal mulai tahu motif asli Pria ini. Pernikahan bukan hal yang sulit untuk seorang Duke mendapatkan pengantinnya tapi memilih Aricia dari kerajaan jauh, bukan seorang bangsawan berpangkat dan juga sebenarnya sudah tewas membuatnya yakin jika Duke mengincar sesuatu darinya.
"Jadi Anda tak harus menikahiku," ucap Aricia karena pernikahan akan mengikatnya seumur hidup. Aricia tak akan lagi bebas. "Aku menawarimu pilihan lain selain menjadi istrimu Duke karena aku belum siap memiliki anak," tegas Aricia.
"Katakanlah," perintah Duke.
"Anda bisa mengupahku untuk jadi Healer selama Anda berperang," ucap Aricia.
Duke langsung terkekeh sendiri. Ia kalah menaklukkan Aricia yang gigih menolaknya. "Kau baru saja menolak Pria yang paling ingin dikencani oleh seluruh Kerajaan," ucap Duke.
Dasar narsis, batin Aricia ketus.
"Sungguh? bagaimana diriku saat itu?" tanya Victor dengan santai."Anda ... salah satu cara keabadian dari Iblis yang gagal didapatkan," jawab Aricia. "Aricia kau tahu, aku benci dongeng ...," ucap Pria itu segera Aricia sela."Dan aku mencintaimu, di versi apa pun itu!" jerit Aricia sembari memundurkan langkahnya. Kedua matanya membelalak karena menatap hal yang tak dapat ia percayai, ia baru saja mengungkapkan perasaannya karena rasa rindu menghantui dirinya. Aricia terisak sendiri. "Aku menderita karena harus berpisah darimu meskipun semua ini karena kebodohanku," ucap Aricia. Aricia berlutut sembari terus terisak. "Meski kau menipuku, memakai wujud dan rupanya, berbicara dengan suaranya, tapi ... aku ....," ucap Aricia tertahan. Ia menyeka air matanya sendiri. "Kau tetap licik, menggunakan penderitaanku untuk menjebakku Iblis!" bentak Aricia. Wajah Aricia menanggah, ia menatap sosok Victor Katsh Braun yang sedang menyeringai tipis padanya. Bagaimana Aricia baru bisa menyadariny
"Memangnya kenapa?" "Jika benar maka kau tak dapat luput dari hadapanku,""Ya, kenapa?""Demi membuktikan jika dongeng turun temurun itu benar maka jika Healer Gracewill bereinkarnasi maka keluarga Katsh Braun bertanggung jawab atas keselamatannya," "Tidak perlu,""Kalau begitu bagaimana jika kita menikah saja?""Apa katamu?!" kedua mata Aricia melotot sempurna. Sudahlah kembali pada hidup yang tak diinginkan tapi ia dijebak lagi untuk menikah dengan Victor lagi. Sejenak saat itu Aricia terdiam, dia pernah menolak Victor meski bertolak belakang dengan perasaannya. "Beri aku waktu untuk memikirkannya," ucap Aricia. Victor Katsh Braun mengangguk. Ia beranjak berdiri untuk pergi dari ruang perawatan ini. Pria itu sempat menatap Aricia sejenak. Samar-samar benaknya menampilkan kilas sosok wanita yang mirip dengan Aricia meski ia sendiri yakin belum pernah bertemu dengan Aricia. "Tuan Braun?" tanya Aricia menatap Pria yang melamun di hadapannya itu.Victor menggeleng. "Maaf, aku akan p
"Aku mengenalmu, jauh sebelum kau bertemu denganku," ucap Aricia. Perasaannya bergemuruh tentu saja, sosok lelaki yang membuatnya cinta setengah mati dan juga membuat Aricia rela mengorbankan dirinya. Aricia sendiri meragukan arti perasaannya pada Victor tapi saat kehidupan itu ditinggalkan kemudian kembali, justru Victor kembali hadir pada sosok Pria ini.Victor Katsh Braun hanya memandangi Aricia dengan heran. Dia tak kenal Aricia sebelum Erika yang mengenalkan Gadis yang hendak bekerja sebagai perawat neneknya itu. "Jangan menatapku begitu, kau seperti orang patah hati padahal aku baru pertama kali bertemu denganmu," ucap Victor dengan nada dingin meskipun suaranya berat. "Lantas kenapa?!" sahut Aricia menginggikan suaranya. "Kenapa? apakah kau mau uang untuk membalas budi jasamu?" sahut Victor tak mau mengalah. Aricia malah menatap geram Victor. Di dunia yang ia kenal, Victor Frederick Ashkings memanglah pria yang arogan. Seharusnya ia terbiasa tapi ini dunia asalnya. Bagaimana
[Sistem akan melakukan reset pada protagonis]"Eh? apa maksudnya? apakah aku selesai?" tanya Aricia yang bergumam dalam kehampaan itu. Aricia terdiam mendapati dirinya di ruang hampa. Aricia menatap keheningan semua ini. Ia seorang diri kemudian beranjak berdiri. "Aku di mana?" Aricia bergumam seorang diri. Aricia menatap cahaya-cahaya yang berkilau ke sekitarnya kemudian berkumpul membentuk sosok seorang wanita yang bercahaya. Aricia bahkan tak bisa melihat jelas rupa wajahnya. "Siapa kau?" tanya Aricia."Aku selama ini membimbingmu," jawab Wanita itu.Kedua mata Aricia membulat sempurna. "Kaukah Sistem?" Aricia menunjuk Wanita itu. Sang Wanita hanya mengangguk pelan. Sekujur tubuhnya hanyalah cahaya, sampai ia mendekati Aricia kemudian menyentuh pipi kanannya. "Kau memilih Ending yang menyakitkan dirimu sendiri, Aricia." Sang Wanita berucap sembari membelai wajah Aricia. "Kalau begitu, apakah semua orang yang mengenalku sudah melupakanku?" tanya Aricia bernada sendu. Ia memikirkan
"Kalian datang berdua?" Ratu Clara bertanya dengan nada angkuhnya. Ia duduk di singasana hitam, istana yang sudah suram dan banyak monster besar yang menjadi bawahannya. Sekejab mata, Plumeria yang putih sudah jadi gelap. Aricia berdiri di sebelah Victor, Duke yang seharusnya tak perlu bersikap sejauh ini. "Aku berniat mati sendiri, asal kau tahu." Aricia berceletuk sembari tersenyum kecil. "Katakan, bagaimana cara memulihkan semua kekacauan yang kau buat, bedebah!" bentak Aricia yang langsung merubah raut wajahnya.Ratu Clara tertawa terbahak-bahak. Ia menertawakan Aricia yang berani menantang mautnya sendiri. "Clara sudah tiada, aku baru saja melahap habis jiwanya seperti yang ia inginkan ... dia hanya mau kematianmu!" bentak Ratu Clara sembari menuruni singasananya. Aricia langsung waspada. "Victor, aku tak mau kau yang berkorban," tegas Aricia.Duke Victor tertegun mendengar ketangguhan Aricia. Seorang Wanita yang berdiri lebih dulu di depannya bagaikan ksatria yang tangguh. Sek
"Tabib Agung ... Helian memberi sinyal meminta bantuan!" "Victor!" teriak Aricia panik. Ia mengabaikan deretan para bangsawan yang menatap Aricia. Saat itu Aricia merasakan jika tangannya digenggam oleh Tabib Agung Gilovich. Aricia langsung menoleh mendapati wajah cemas dari Pria Tua itu. "Guru, anggaplah aku manusia dari antah berantah ... yang telah siap mati," ucap Aricia tersenyum lembut. Tabib Agung Gilovich menggeleng. "Belati itu masih bisa menyegelnya tapi kekasihmu jadi kunci keabadiannya," sahut Pria itu."Aku tahu, aku tahu." Aricia menurunkan tangan Sang Tabib. "Aku tak akan mengambil takhta, aku tidak tahu apakah aku masih hidup usai berhadapan dengan Ratu kalian ... sebaliknya, carilah garis keturunan yang aku yakin masih ada," perintah Aricia dengan suara mengalun lembutnya. Aricia keluar dari Markas Penyembuh. Ia menghela napas, terasa penat karena semuanya tak kunjung usai. Aricia berhenti di depan gerbang Plumeria. Ia merasakan angin senja berhembus pelan membelai