เข้าสู่ระบบWhen Park Seraphine realizes that she had transmigrated to be a character in the novel, she was shocked. On top of that, she was the Female Lead whose life she despised. Even though the Female Lead wasn't her favorite character, that wasn't where the problem lied! It was the fact that all the men around her was sadists— her three brothers, the crown prince, her knight, and the mage! Although the Female Lead bore with them, Park Seraphine wasn't willing to do the same. She was ready to fight against those sadists for her rights no matter what it took! As for having a happy ending with the Crown Prince at the end, she discarded that thought from the beginning. What she wanted was that Crown Prince was to be at her mercy!
ดูเพิ่มเติมAyla Reynard memandang cermin dengan tatapan kosong. Rambut coklat gelapnya tergerai dengan sempurna, dibingkai dengan rapi oleh gaun hitam elegan yang dipilih Leon untuk makan malam mereka. Malam ini terasa istimewa, meski ia tak tahu bahwa itu akan menjadi malam yang mengubah segalanya.
Senyum Ayla terlukis di wajahnya, namun matanya menyembunyikan kegelisahan yang semakin membesar. Setiap detik yang berlalu seperti sebuah persiapan untuk sesuatu yang tak bisa ia hindari, sebuah keputusan yang tak terelakkan. Di luar jendela kamar tidurnya, suasana malam Velmont City terasa begitu damai, gemerlapnya lampu-lampu kota menciptakan kesan sempurna tentang dunia yang mereka huni. Sebuah dunia yang Ayla kenal terlalu baik—dunia penuh harapan, keinginan, dan impian.
Namun, hidupnya tak pernah sesempurna seperti yang terlihat di permukaan.
“Segera datang, sayang. Aku akan menjemputmu,” suara Leon dari telepon memecah keheningan. Ayla mengangguk meski tahu Leon tidak bisa melihatnya. Telepon dimatikan, dan untuk sesaat, Ayla merasakan ketenangan yang terlepas begitu saja.
Ayla mengambil napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. Ia tahu malam ini akan berbeda, tapi dia tak bisa membayangkan betapa buruknya kenyataan yang akan dihadapinya.
Di luar, deru mobil Leon semakin mendekat. Ayla memandangi dirinya sekali lagi di cermin. Ia melihat seorang wanita yang seharusnya bahagia. Seharusnya.
Di ruang makan yang megah, Ayla duduk berhadapan dengan Leon, pria yang telah mengisi sebagian besar hidupnya selama dua tahun terakhir. Leon, dengan rambut hitam terurai rapi dan mata biru tajam, memandangnya dengan senyuman yang seakan-akan menggambarkan dunia yang hanya milik mereka berdua. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada malam itu. Sesuatu yang terasa seperti ancaman.
"Ayla," kata Leon pelan, memulai pembicaraan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. "Aku rasa kita perlu bicara serius."
Ayla menundukkan kepala, tidak tahu apa yang sedang mengintai dalam kata-kata itu. Rasa takut perlahan menyusup dalam dadanya. Meskipun mereka berdua telah bersama, meskipun Leon adalah lelaki yang tampaknya sempurna, Ayla selalu merasakan adanya jurang yang tidak pernah bisa ia jembatani. Jurang yang menghalangi mereka untuk benar-benar satu.
"Ada apa, Leon?" tanya Ayla, suaranya nyaris tak terdengar.
Leon menatapnya, seakan mencoba menilai reaksi Ayla. “Ayla, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita,” ucapnya perlahan. Kalimat itu datang dengan begitu tenang, namun menampar Ayla seperti pukulan keras.
Ayla merasa seperti dunia di sekitarnya berhenti berputar. Bibirnya kering, dan dadanya terasa sesak. “Apa maksudmu?”
Leon mengalihkan pandangannya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Kamu tahu aku sangat mencintaimu, Ayla. Tapi kenyataannya, kita tak bisa bersama.”
Ayla merasa ada sesuatu yang menusuk jantungnya. “Kenapa?” tanya Ayla, mencoba menahan air mata yang mulai mengancam.
Leon menggigit bibir bawahnya dan akhirnya berkata dengan suara yang lebih berat, “Kamu berasal dari keluarga yang... berbeda, Ayla. Aku tidak bisa terus seperti ini. Keluargaku sudah memberikan tekanan yang besar. Mereka... mereka tidak menganggapmu sebanding denganku.”
Ayla tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Segala sesuatunya berputar begitu cepat dalam pikirannya, tidak ada yang bisa ia katakan untuk membenarkan dirinya. Ia merasa begitu kecil, begitu tidak berarti. Ada sesuatu yang pecah dalam dirinya saat itu, suara hatinya berteriak, “Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku begitu saja hanya karena siapa aku.” Namun, kata-kata itu tak pernah keluar. Ia hanya menatap Leon dengan mata yang dipenuhi rasa sakit.
Leon melanjutkan, “Aku harap kamu bisa mengerti. Ini bukan berarti aku tidak mencintaimu. Tapi aku harus mengikuti apa yang keluarga inginkan. Aku sudah berusaha, Ayla.”
Ayla terdiam. Kenyataan ini menyakitkan lebih dari apapun yang bisa ia bayangkan. Leon, pria yang begitu ia cintai, ternyata bukanlah siapa-siapa dalam pandangan dunia yang lebih besar. Sementara ia hanya bisa mengandalkan hati yang penuh harapan, Leon berada di dunia yang lebih tinggi, dunia yang membuatnya merasa tak pantas.
Tapi, di tengah kepedihan itu, muncul sebuah perasaan lain yang mulai tumbuh dalam dirinya—rasa marah yang menggeram di dasar hatinya. Ia tahu ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya permulaan.
Setelah Leon pergi, Ayla duduk terdiam di ruang makan yang kini terasa begitu sepi. Ia meraih gelas anggur yang ada di meja, tetapi tangannya terasa gemetar. Semua kenangan bersama Leon—semua impian yang mereka bangun—hancur seketika.
Namun, yang lebih mengejutkan dari segalanya adalah perasaan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Bukan kesedihan, tetapi amarah yang membara. Dia merasa dihina, dijatuhkan hanya karena status sosial yang bukan pilihannya.
Tak lama setelah Leon meninggalkan rumahnya, Ayla berdiri, berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan. Di sana, terdapat sebuah laptop dan berkas-berkas yang ia siapkan untuk pertemuan besar yang tak kunjung datang. Semua ini terasa sia-sia. Namun, di tengah perasaan hancur itu, Ayla mendapatkan sebuah pencerahan—dia tidak akan berdiam diri. Dia akan membalas dendam.
Pikiran itu datang begitu saja. Leon tak tahu betapa Ayla akan menghancurkannya. Semua yang telah dia anggap enteng akan dihancurkan dengan cara yang lebih kuat dari apa yang Leon bayangkan. Ayla akan mengubah nasibnya sendiri.
Dia akan menunjukkan pada Leon, pada keluarganya, bahwa dia bukanlah wanita yang bisa dianggap remeh begitu saja. Ada dunia lain yang bisa dia masuki, dunia yang tidak pernah Leon atau keluarganya pahami. Dunia yang lebih gelap, lebih keras. Dunia yang akan membuatnya kuat.
Dalam pikiran Ayla, nama Dimitri Velasquez muncul. CEO dari Velasquez Corporation, penguasa dunia bisnis dan dunia gelap yang tak kenal ampun. Nama yang selalu terdengar dalam bisikan-bisikan bisnis besar. Ayla tahu itu. Dimitri adalah orang yang bisa memberinya kekuatan.
“Ini baru awal,” gumam Ayla pada dirinya sendiri, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Meskipun hatinya masih terasa sakit, rasa dendamnya telah menyala.
Ayla menatap layar laptopnya. Setiap klik, setiap informasi yang ia gali mengenai Dimitri dan dunia bisnisnya semakin menguatkan tekadnya. Dia tidak hanya akan menghancurkan Leon, dia akan menjadi wanita yang lebih dari sekadar korban. Ia akan menjadi penguasa dunia ini, dengan cara yang paling brutal sekalipun.
"Aku akan membuatmu menyesal," ucap Ayla pelan, tanpa ada yang mendengar.
Layar laptop terus menyala, dan di balik itu, dunia baru terbuka lebar—sebuah dunia yang gelap dan berbahaya.
Both Jiyeon and Taeyang was on the cleaning duty for the class. As Jiyeon was arranging the table, she noticed that Taeyang was staring at her with a mildly amused smile on his face.That aggravated her, and she expressed, “What? What are you looking at?”Without saying anything, he made his way over to her. Then, extending his hand, he touched her face and stroked it before voicing out, “You don’t have to do anything to make me jealous.”Her eyes widened at his words, and she stepped back, feeling totally exposed under that gaze of his.She then stuttered, “W-What do you mean?”Clearing her throat, she spoke with more confidence: “What sort of nonsense are you uttering now? Me making you jealous? Why would I do something so absurd?”She scoffed.He chuckled and stated, “Is that so? I know you well, Seraphine. You can’t hide from me.”“What? How can y
“Hold on, hold on, he actually said that to you!?” Aera exclaimed in disbelief. “Whoa! He is seriously a player.”Sitting on her bed, Jiyeon took a sip from her strawberry milk and stared down. The events of the other day still heated up her cheeks. Taeyang simply looked too dashing.“How did he know I was there though?” Jiyeon questioned. “Could it be a coincidence?”“About that,” Aera voiced out, “I might have spilled out your location to him.”Jiyeon raised an eyebrow.“Well, he called me, asking where you are as your phone was shut off, and I told him you’re on a date. Then, he questioned me about the location, and he is too scary. I wasn’t able to hide it.”Jiyeon could see where Aera was coming from. After the confrontation she had with Taeyang the other day, he really had a fierce side to him. Maybe because she w
Just as she was about to hug Yejoon, Jiyeon felt herself being dragged back by a large force, and this caused her eyes to widen. She turned her head to look at the one behind it and was shocked to see Taeyang standing there.What was he doing here?His eyes fiercely stared at her, causing her to be shaken up, and it appeared that he was only slightly away from bursting off at her. This was the first time she had faced this side of hers, making her wonder on how she had possibly offended him.“Who are you? It’s too impolite to pull someone this way,” Yejoon voiced out.Jiyeon smiled at him and expressed, “It’s fine. I know him. You can leave now.”Yejoon seemed a little hesitant. Nonetheless, he nodded before leaving. Before she could wave her hand at him, her face was gripped by Taeyang, and he forced her to meet his eyes.“Who is he?” Taeyang questioned, and his tone held immense intensity&mda
Jiyeon totally erased from her mind about asking Taeyang about why he stayed with her that night. This was surely done out of friendship, and there was no need to make the matters awkward by probing into this topic. This is how Jiyeon managed to convince herself.But when Taeyang came for the tutoring session on the next day, Jiyeon felt pained upon seeing him, and it was hard for her to keep on behaving normally as if nothing had happened. Taeyang surely had noticed something due to how silent she had been. That’s why, she appreciated him not asking anything about it.As Jiyeon was going through the book in her hand, Taeyang’s phone rang, and a picture popped up on the screen. It was the image of the woman she had seen with him yesterday; she was called Jihye.“Excuse me for a second.”With that said, he stood up and received the call. Jiyeon observed his expressions. His eyes widened for a second— probably shocked by what h
Seraphine scoffed. The man really did find her easy, but he truly got a grip on all of her weak spots. There was no way she would be able to be mad when he behaved this way.“What type of man you’re? At first, you insult me, and then, you apologize. This is seriously an abusive
Both of them finished eating under the warm ambience provided by the fire, and occasionally flirting went on between the two of them. The atmosphere was filled with joy and laughter.Just when Seraphine thought that the night was going to end with this, it seemed that Kayden had more prepar
Although the timing was wrong, Seraphine felt her heart skip a beat and complained about how his lack of self-awareness when it came to his lethal outlooks.Caught in a daze, Seraphine was unable to look away from him while grumbling in her heart at the same time. This really was unfair. Af
After that, the two of them engaged in the activity of catching fish. Doing so with her bare hands was a novelty to Seraphine, but because she enjoyed such events where she could put out her energy, she took a great liking to it.However, soon the activity turned from catching fish to splas






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม