Kota Giri Amerta. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Raka berdiri di tepi pelabuhan yang sedang dibangun. Di hadapannya, ratusan pekerja sudah mulai mengangkat balok kayu, menyusun batu, dan menarik tali tambang untuk mengangkat barang. Namun dari semua itu, satu hal yang kini menjadi beban pikirannya: campuran pengikat bangunan.“Telur sudah menipis, Tuan Raka,” ujar Gana, salah satu pengawas bangunan, sambil menyerahkan catatan persediaan.Raka menerima kertas itu, menelusuri angka-angka yang tercatat dengan kening mengerut. “Kita butuh seribu lebih untuk minggu depan saja,” gumamnya. “Padahal ayam-ayam peternakan baru bisa bertelur dua hari sekali.”“Warga juga mulai mengeluh. Telur-telur habis diborong untuk bahan bangunan. Dapur rumah tangga jadi kosong.”Raka memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam. “Kalau begini terus, kita bisa menyelesaikan satu pelabuhan… tapi membuat rakyat kelaparan.”Ia menoleh ke arah Gana. “Kumpulkan para pengrajin, ilmuwan, d
Angin laut dari Teluk Penyu berhembus lembut di pagi hari. Cahaya matahari menyelinap di antara tiang-tiang layar yang berdiri gagah di pelabuhan. Dermaga batu telah rampung seluruhnya, dan hari itu menjadi hari yang istimewa bagi rakyat Kali Bening.Lima kapal besar bersandar bersamaan di pelabuhan yang megah itu. Bendera dagang dari negeri jauh berkibar berdampingan dengan bendera merah-putih milik Desa Kali Bening dan Desa Anggur. Para buruh sibuk menurunkan karung-karung rempah, tong minyak ikan, dan peti kayu berisi barang logam dari negeri selatan.Di atas menara suar, Kapten Wira memandang ke arah laut dengan bangga.“Kalau dulu kita hanya bisa lihat perahu kecil hilir-mudik,” katanya sambil tersenyum pada anak buahnya, “kini kita jadi tempat bersandarnya kapal-kapal dari empat penjuru angin.”Sementara itu di Balai Utama Desa, suasana sangat berbeda—hangat dan penuh kegembiraan. Rakyat dari berbagai dusun berkumpul. Anak-anak berlari di halaman, para ibu tersenyum dan membawa
Syahbandar Goro, pemimpin pelabuhan Teluk Penyu, tiba di istana dengan pakaian basah embun dan langkah cepat.Ia dibawa langsung ke hadapan Raka, yang pagi itu tengah berdiri di beranda atas istana, memandang ke arah selatan sambil menggenggam peta tua peninggalan ayahandanya.“Hamba laporkan, Duli,” Goro menunduk hormat, napasnya terengah. “Pelabuhan Teluk Penyu kini berdiri dengan dua dermaga batu baru, menara suar telah menyala setiap malam, dan... arus kapal dagang semakin padat.”Raka menoleh pelan, lalu menatap mata Goro dengan tajam.“Berapa kapal bersandar kemarin?”“Empat belas, Tuan. Tujuh dari tanah seberang, tiga dari wilayah barat, sisanya dari desa-desa dalam negeri.”Raka terdiam. Jemarinya mengetuk peta di tangannya, tepat di titik kecil bertuliskan Kali Bening.“Bagus kita akan segera mewujudkan sebuah kota baru di, kali bening.”Sementara itu di Balairung Kadipaten Kemusuk, para adipati berkumpul dalam suasana tak nyaman. Peta dan surat kabar dagang berserakan di ata
Desa Anggur telah resmi bergabung dengan Kali Bening.Kabar itu meledak seperti petir siang bolong di ruang pertemuan istana Surya Manggala. Para pejabat saling pandang. Sebagian mengernyit, sebagian lain mengepalkan tangan.Raja Mahesa Warman duduk diam, wajahnya tegang namun tak menunjukkan emosi. Di sekelilingnya, suara sumbang mulai bermunculan.“Raka terlalu jauh melangkah, Baginda,” ujar Adipati Wira, pejabat tua dari Kadipaten Kemusuk. “Kini ia menguasai pantai utara dan selatan. Jika tak segera dibatasi, ia bisa... berdiri di atas kepala kita semua.”Raja menggeleng pelan.“Ia bekerja, sementara kalian sibuk membatasi. Kali Bening dan Anggur hanya menambal celah yang kalian tinggalkan.”Patih Maheswara menimpali, hati-hati, “Namun api iri mulai menyala, Duli. Jika desa lain ikut-ikutan, maka istana bisa kehilangan kendali.”“Tidak mengapa mahapatih, jika semua desa berlaku demikian maka, kemajuan kerajaan surya manggala semakin terkenal di mata para saudagar dan Kerajaan tetan
Teluk Penyu dipenuhi suara peluit dan teriakan mandor. Suasana jalanan yang sudah keras dilapisi dengan semen batu kapur membuat suasana semakin asri di tambah dupa kayu malam yang menyegarkan.Di atas gerobak, batu bata merah, kayu jati, dan genting merah tersusun rapi. Aroma tanah basah dan getah kayu berpadu dengan garam laut dan peluh para pekerja. Namun semua itu hilang karena harum dari dupa kayu malam yang selalu menyala di seluruh wilayah desa kali bening dan desa anggur.Di kejauhan, menara suar pertama telah berdiri kokoh di atas tebing karang. Api di puncaknya belum dinyalakan, namun bentuknya saja sudah cukup menjadi penanda Kali Bening kini bukan lagi desa biasa.Di bawah menara, Raka berdiri bersama Kepala Tukang Andra dan Kepala penjaga Vano.“Benteng akan kita bangun memanjang ke arah timur, mengikuti garis pantai,” ujar Raka sambil menunjuk pada denah di atas papan kayu besar.Andra mengangguk mantap. “Genteng merah sudah datang dua gerobak pagi tadi, dan logam untuk
Di kejauhan, burung camar berputar-putar di langit, seolah menyambut para pelaut dan pedagang yang mulai berdatangan.Kini, Pelabuhan Teluk Penyu berdiri megah—dermaga dari batu pualam dan kayu jati yang ditambat kuat dengan rantai besi. Bendera Kali Bening berkibar di atas menara mercu suar. Panji dengan lambang singa kini bukan hanya simbol desa, tapi tanda pengaruh yang menjalar di jalur laut selatan.Di bibir pelabuhan, Raka berdiri bersama Nakhoda Rosi dan Kapten Darma, memandangi satu per satu kapal dagang yang mulai bersandar. Suara roda peti kemas berderak di antara para kuli yang sibuk bongkar muat.“Tiga kapal dari Luar Aruna, dua dari Pelabuhan Rembang, dan satu dari kerajaan Lamusi,” lapor Darma dengan tenang, tangannya memegang daftar manifest.Raka mengangguk pelan, suaranya lirih namun penuh kepastian.“Blokade dari Kadipaten Kemusuk hanya mempercepat keputusan yang sebenarnya sudah harus kita ambil sejak lama.”Nakhoda Rosi menimpali dengan senyum puas.“Dulu mereka pi
Mentari pagi menyinari Desa Kali Bening yang kini nyaris tak dikenali lagi dari bentuknya yang dulu. Di kejauhan, tembok pertahanan berlapis tiga berdiri angkuh, melingkupi seluruh desa seperti perisai raksasa. Setiap lapisan dibangun dengan batu andesit yang diperkuat bata merah, serta dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap.Di puncak-puncak menara penjaga, laras tiga meriam sedang mengintai cakrawala, seperti mata naga yang tak pernah tidur.“Kanda Raka... sejujurnya, kau tak lagi membangun sebuah desa,” ujar Aina sambil menyapu pandangan dari menara utama ke arah horizon. “Yang kau dirikan ini… benteng.”Raka menatap peta di hadapannya, lalu tersenyum tipis. Suaranya tenang namun penuh makna.“Jika damai ingin dipertahankan, maka tembok perdamaian harus lebih kokoh dari niat siapa pun untuk menyerang. Yang kubangun ini, bukan benteng untuk menyerang... tapi pelindung bagi ribuan jiwa.”“Dan jangan kuatir, semua ini akan baik-baik saja aku membangun ini untuk melindungi Kerajaan dar
Di puncak menara pengawas barat, para penjaga berdiri gagah dengan seragam kelabu, menatap cakrawala dengan sorot mata tajam. Hari ini, bukan hanya mata yang berjaga—tetapi juga laras besi panjang dengan moncong menghadap perbatasan.Meriam.Untuk pertama kalinya, sejak berdirinya Kali Bening, Raka memerintahkan pemasangan meriam di tiap menara penjagaan.“Apakah kau sungguh yakin, Kanda?” tanya Andini, yang tengah mengandung tua, sambil memandang ke arah menara dari serambi rumah. “Meriam itu bukan mainan. Itu bukan lagi isyarat damai…”Raka menarik napas panjang, berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggungnya.“Yang tidak ingin perang, harus siap untuk perang. Aku tak ingin rakyat Kali Bening jadi korban dari ambisi gila orang seperti Anom. Kita tak menyerang, tapi kita tak akan tinggal diam jika diinjak.”“Bukannya des akita tidak memiliki musuh dan pesaing kanda.” Timpal Aini“Iya tidak memiliki musuh namun banyak bandit berkedok pejabat yang ingin mengambil kekayaan ya
Parit itu kini tak lagi sekadar batas. Lebarnya sepuluh langkah orang dewasa, dalamnya melebihi tinggi dada. Parit yang dulu dibangun dengan penuh kecurigaan oleh Kades Anom, kini berubah jadi batas nyata antara dua cara hidup.Dari kejauhan, Desa Kali Bening terlihat seperti pulau mandiri, dikelilingi kemajuan, ketertiban, dan kesejahteraan. Anak-anak tertawa di taman desa, para pekerja sibuk di penggilingan padi dan gandum, pabrik-pabrik mengepul dengan riang dan para ibu menjemur hasil kerajinan dari industri kecil mereka.Sementara itu, di sisi lain parit, Desa Petir terlihat kaku dan kering. Mereka akhirnya membangun jembatan kayu sederhana sebagai satu-satunya jalan penghubung ke Kali Bening.“Aneh, mereka yang membuat parit... kini mereka pula yang bangun jembatan,” gumam Vano sambil berdiri di menara pengawas benteng pembatas desa, memandang jembatan itu dari kejauhan.Raka yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis.“Yang membatasi, akan terbatasi. Yang menutup, akan te