MasukDi gang kecil menuju kampus, Olivia melangkah cepat bersama temannya. Rambutnya ikut berayun sementara tubuh bagian atasnya yang penuh bergerak lentur mengikuti ritme langkahnya, menonjolkan lekuk yang jauh lebih matang dari usianya.
Saat ia berhenti, napasnya sedikit memburu, dada naik turun perlahan. Dan ketika Olivia berdiri hanya beberapa langkah dari keributan itu; tubuh condong ke depan, bibir merahnya terbuka tipis seolah memastikan Alex baik-baik saja, seketika waktu seakan ikut menahan napas. “Alex… cukup.” Suara lembutnya itu mampu menunjukkan kilat kesungguhan yang membuat Alex terdiam sebentar. Bukan takut, melainkan suara yang… peduli? "Olivia..." gumam Alex bahkan terpukau dengan kecantikan surgawi di depannya. Olivia hanya mengangguk pelan, tapi dia segera menatap kearah Abel dan temannya dengan raut wajah penuh kekesalan. "Abel... Sudah kukatakan, tidak baik jika kau selalu menindas Alex... Segera minta maaf padanya, atau ayahmu ingin dipecat dari perusahaan milik ayahku?" Mendengar ancaman itu. Abel menyatukan kedua rahangnya secara kuat. Yang pasti dia segera menatap tajam kearah Alex tanpa rasa takut. "Kau beruntung, lagi dan lagi nona muda Olivia datang untuk membantumu... Tapi, lain kali keberuntunganmu ini pasti takan terjadi lagi!" Abel mengangkat tangannya, membuat dua temannya segera mengikutinya untuk pergi dari tempat itu. Hingga setelah mereka bertiga benar benar pergi. "O-Olivia kau cepat sekali larinya?!" Gadis dengan pakaian sutra tipis, membuat lekuk tubuh terlihat jelas telah tiba. Nafasnya terengah-engah, tapi ketika melihat sosok Alex yang terus memperhatikan lekuk tubuhnya. Zonia segera menutupinya dengan kedua tangannya. "Keberanian dari mana kau berani melihat tubuhku sejauh itu?! Alex buang tatapan menjijikanmu itu?!" "Sepertinya dilahirkan dan hidup di dunia baru ini juga bukan hal yang buruk... Pakaian yang feminim, bahkan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang begitu sempurna... Ini..." suara lirihnya terhenti. Karena dengan jelas, Zonia bisa mendengarnya. Kini kedua matanya melotot sembari memberikan kepalan tangannya. "Kau kira... Aku tidak dapat mendengar gumaman cabulmu..." Saat akan menampar, Olivia segera menahan tangannya. "Dia tidak memperhatikan tubuhmu, jangan salah paham Zonia... Sekarang bantu aku untuk belikan beberapa obat luka luar untuknya." "Olivia kamu..." Tidak bisa membantah, Zonia segera mengikuti perintah dari Olivia. Hingga, sepasang mata keduanya mulai bertemu. Dan wajah Olivia seketika memerah, namundia bisa mengendalikan dirinya sendiri. "Sudah kukatakan beberapa kali. Jika bertemu dengan Abel sebaiknya hindari mereka... Jika saja aku terlambat tadi, mungkin..." ungkapannya tercekat, dia terkejut ketika Alex tiba-tiba mengangkat dagunya agar sepasang mata mereka kembali bertemu. "Bahkan tanpa kamu datang, akulah yang akan menghajarnya... Olivia, Terima kasih." Alex meninggalkan senyum tipisnya. Lalu meninggalkan Olivia yang membuat gadis itu merasa, pemuda tak berguna yang selalu ia lindungi, kini sudah berubah! "Dari mana keberaniannya datang? Sorot mata tajam dan dingin itu. Bahkan keberaniannya untuk menyentuhku…" Olivia berkata sembari melihat punggung Alex yang telah menjauh. * Ditengah perjalanan kembali ke rumah sederhana yang ditinggalkan oleh ingatan tubuh aslinya, Alex melihat situasi pinggiran kota Draken dengan seksama. Perbedaan aktivitas, bahkan kendaraan yang digunakan para manusia mampu membuatnya terlihat seperti pemuda miskin, yang baru saja turun dari gunung. Melihat kendaraan modern yang berlalu lalang. "WOI LAMPU HIJAU UNTUK BERKENDARA! BERHENTI JIKA TIDAK!" Salah satu pria berteriak memperingati Alex. Hingga... TIIIIIIIIN! Suara klakson mobil begitu keras membuat pandangan Alex teralihkan! Wajahnya terbelalak, tapi mobil yang melintas tak bisa langsung menurunkan kecepatannya. Hal itu harus membuat tubuh Alex terlempar, hingga menabrak pembatas jalan. Bruuuaaaaaagh! "Kecelakaan?! Ada kecelakaan?!" "Sial pemuda itu ditabrak dengan kecepatan tinggi! Pasti tubuhnya hancur! A-aku tidak ingin melihatnya ah!" "Cepat telpon ambulance!" Mobil penabrak berhenti ditengah jalan, tapi Alex di balik reruntuhan pembatas jalan tengah memaki atas kebodohannya yang tidak melihat situasi sebelum melangkah lebih jauh. "Ke–kecepatan tadi, cukup untuk menghancurkan tubuh lemah ini.. Untung saja, aku sigap menyelimuti tubuh dengan sedikit energi Qi yang ada di dunia ini... Tapi sekarang masalahnya, bagaimana aku bisa keluar dari reruntuhan pembatas jalan ini?" Hanya bisa pasrah tubuhnya terhimpit oleh reruntuhan bangunan pembatas jalan. Lima belas menit menunggu, akhirnya ambulance datang. Dan di waktu yang sama, semua orang mulai bergotong royong menyingkirkan beton pembatas jalan yang menindih tubuh Alex. "Ma-masih hidup?!" Semua tubuh bergetar, melihat sosok Alex yang tengah tersipu malu akan kesalahannya barusan. "Be--beneran masih hidup, bahkan senyum ini seakan benturan yang menghancurkan pembatas jalan tak mempengaruhi apapun pada tubuhnya?" Bahkan dokter yang baru turun segera membantu Alex bangkit untuk berdiri. Setelah melihat pemuda itu berdiri secara tegak! Dokter itu hanya bisa mengedipkan mata, tapi mulutnya tak bisa berbicara sama sekali. "Terima kasih telah membantuku... Dan maaf, maaf telah membuat kegaduhan?!" Semua mulut terbuka lebar membentuk huruf O!WUUUUSH!Belasan penjaga langsung bergerak bersamaan. Aura mereka meledak, menekan udara di sekitar gerbang tambang. Pedang dan tombak energi muncul dalam sekejap.Clara mulai menghela napas ringan.“Benar-benar bodoh.”Namun Alex bahkan tidak bergerak. Ia hanya berdiri di tempat. Tatapannya terlihat tenang dan dingin.Penjaga terdepan berteriak.“MATI!”Pedang energi meluncur lurus ke arah leher Alex.Namun...Hanya satu langkah kecil. Tubuh Alex telah bergeser setengah jengkal. Yang membuat pedang itu hanya melewati udara kosong.Mata penjaga itu membelalak.“Bagaimana bisa..."Belum selesai. Karena Alex sudah berada di depannya. Gerakannya begitu cepat hingga seolah menghilang.Yang disambut dengan salah satu tangan Alex terangkat. Tidak ada teknik. Tidak ada aura berlebihan. Hanya satu tamparan.PAK!Tubuh penjaga itu terlempar seperti peluru meriam. Ia menabrak menara penjagaan. Batu dan kayu hancur. Debu beterbangan.Semua orang membeku sesaat. Yang membuat Clara hanya tersenyum
Kepala keluarga Wang masih berlutut. Tubuhnya gemetar, namun kali ini bukan hanya karena takut. Ada kemarahan dan penyesalan bercampur di wajah tuanya. Ruangan itu kembali terasa sunyi. Kabut di luar jendela semakin tebal, membuat cahaya senja berubah redup. Beberapa saat kemudian, Alex akhirnya berbicara. “Kau jelas tahu konsekuensinya.” Nada suaranya datar. Kepala keluarga Wang mengangguk perlahan. “Jika masalah ini sampai ke telinga istana… keluarga Wang akan hancur.” Clara menatap Alex. “Bukan hanya hancur. Mereka bisa dianggap berkhianat pada kekaisaran. Dan tujuh generasi klan Wang akan di bunuh tanpa sisa.” Kepala keluarga Wang menggertakkan gigi. “Saya… siap menerima hukuman dari anda. Asal tuan AX bisa melindungi keluarga Wang.” Alex tersenyum tipis. "Kau memang sudah siap..." Ia berhenti sejenak. “Tapi keluargamu belum tentu.” Tubuh pria tua itu menegang. Akan tetapi Alex masih bersandar santai. “Kaisar Negeri Heliox tidak akan memaafkan pengkhianatan yang mel
Alex hanya melirik Clara sekilas. Ekspresinya tetap datar. Namun tekanan di ruangan itu tidak berkurang sedikit pun.“Cukup.”Satu kata. Suasana langsung membeku. Alex menatap kembali wajah kepala keluarga Wang.“Aku tidak datang untuk berbasa-basi.”Nada suaranya dingin. Tegas. Tanpa emosi.“Kita langsung ke inti.”Kepala keluarga Wang menelan ludah. Tubuhnya semakin tegang.“Baik… Tuan.”Alex bersandar sedikit di sofa.“Kau mengelola sendiri tambang keluarga Wang?”Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun kepala keluarga Wang langsung gemetar.“Saya…”Tatapan Alex berubah tajam.“Jawab.”“Tidak.”Ruangan menjadi sunyi. Clara menyipitkan mata. Lori tetap diam di samping.Namun Alex telah melanjutkan.“Kenapa?”Pria itu menunduk.“Saya sudah tua. Tenaga dan waktu saya terbatas. Pengelolaan harian tambang diserahkan pada putra kedua saya.”“Namanya?”“Wang Zemin.”Lori mengangkat salah satu alis.“Kau percaya sepenuhnya padanya?”Kepala keluarga Wang terlihat sedikit ragu.“Saya… sela
Permen kecil itu masih berada di tangan Alex ketika ia melangkah keluar dari pesawat. Udara pegunungan langsung menyambut. Dingin, bersih, dan membawa aroma energi spiritual yang jauh lebih padat dibanding wilayah lain.Bandara Provinsi Naga Barat tidak terlalu ramai. Para penumpang masih menatap mereka dengan rasa hormat, namun Alex tidak memperdulikannya. Ia berjalan seperti orang biasa.Clara melirik permen di tangannya.“Kau benar-benar akan memakannya?”Alex tidak memakannya melainkan, memasukkannya ke dalam saku.“Untuk kenang-kenangan.”Lori tersenyum tipis. Bahkan membuat Candra hampir tertawa, namun ia segera menahan diri.*Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari area bandara.Tidak ada penyambutan. Tidak ada orang keluarga Wang. Kedatangan mereka memang dirahasiakan.Candra segera mengurus penyewaan kendaraan pribadi. Mobil sederhana berwarna abu-abu, tidak mencolok akhirnya datang tak lama mereka menunggu.“Kendaraan ini cukup untuk menghindari perhatian,” lapornya.Al
Teriakan itu menggema di kabin. Beberapa penumpang hampir histeris. Pramugari bahkan berpegangan pada kursi agar tidak jatuh.Namun Alex tetap duduk. Memperlihatkan wajah tenang seperti biasanya. Seolah benda yang sedang berdenyut di dalam kurungan energi emas itu hanyalah mainan anak kecil.Bom waktu itu juga terus berdetak.5…Clara menatapnya tajam. “Alex apa kau yakin…” Ia tahu. Jika Alex membiarkan ini, pasti ada alasan."Ledakannya tak seberapa dari serangan tinju dari ranah Penyatuan tubuh dengan Qi tingkat menengah yang sebenarnya... Kau tenang saja..."4…Candra sudah berdiri di sisi lorong, menghalangi pandangan sebagian penumpang agar tidak semakin panik.Lori justru tersenyum tipis. Dia menduga, tuan mudanya ini seperti tengah mempermainkan semua rasa takut para penumpang pesawat. Sama seperti ekspresi Alex saat sedang mempermainkan lawannya.Pembajak yang lumpuh itu menatap bom dengan wajah pucat, namun masih mencoba tertawa.“Kalian… semua akan mati! DAN KITA AKAN MATI B
Perintah itu terdengar ringan. Namun bagi Lori dan Candra, itu adalah perintah mutlak.Udara di kabin seketika terasa membeku. Lori tidak menjawab. Ia hanya menarik napas pertama.Wuuuush!Aura dingin yang selama ini tersembunyi tiba-tiba memancar. Tidak liar. Tidak meledak. Namun tekanan itu membuat jantung para pembajak berdegup tak terkendali.Pria yang ditahan Lori langsung menyadari bahaya.“KAU ADALAH KULT...”WUUUUSH! KRAAACK!Belum selesai kata itu keluar, lehernya sudah dipelintir. Retakan tulang terdengar jelas. Tubuhnya jatuh tanpa suara.Tarikan napas pertama selesai.WUUUUUSH!Dua pembajak yang menodongkan senjata dari arah kokpit refleks menekan pelatuk.BAK! BAK! BAK!Namun…Sosok Lori telah berkelebat cepat nyaris terlihat menghilang. Hal itu hanya membuat peluru menembus kursi kosong.Satu detik kemudian...WIIISH!Ia muncul di depan mereka. Terlalu dekat. Terlalu cepat. Yang membuat sepasang mata kedua pembajak itu membesar.“Mustahil aku tidak bisa mengikuti kecepat







