Share

2. Bencana tak terduga!

Penulis: Al_Fazza
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 16:54:25

Di gang kecil menuju kampus, Olivia melangkah cepat bersama temannya. Rambutnya ikut berayun sementara tubuh bagian atasnya yang penuh bergerak lentur mengikuti ritme langkahnya, menonjolkan lekuk yang jauh lebih matang dari usianya.

Saat ia berhenti, napasnya sedikit memburu, dada naik turun perlahan. Dan ketika Olivia berdiri hanya beberapa langkah dari keributan itu; tubuh condong ke depan, bibir merahnya terbuka tipis seolah memastikan Alex baik-baik saja, seketika waktu seakan ikut menahan napas.

“Alex… cukup.”

Suara lembutnya itu mampu menunjukkan kilat kesungguhan yang membuat Alex terdiam sebentar. Bukan takut, melainkan suara yang… peduli?

"Olivia..." gumam Alex bahkan terpukau dengan kecantikan surgawi di depannya.

Olivia hanya mengangguk pelan, tapi dia segera menatap kearah Abel dan temannya dengan raut wajah penuh kekesalan.

"Abel... Sudah kukatakan, tidak baik jika kau selalu menindas Alex... Segera minta maaf padanya, atau ayahmu ingin dipecat dari perusahaan milik ayahku?"

Mendengar ancaman itu. Abel menyatukan kedua rahangnya secara kuat. Yang pasti dia segera menatap tajam kearah Alex tanpa rasa takut.

"Kau beruntung, lagi dan lagi nona muda Olivia datang untuk membantumu... Tapi, lain kali keberuntunganmu ini pasti takan terjadi lagi!"

Abel mengangkat tangannya, membuat dua temannya segera mengikutinya untuk pergi dari tempat itu. Hingga setelah mereka bertiga benar benar pergi.

"O-Olivia kau cepat sekali larinya?!"

Gadis dengan pakaian sutra tipis, membuat lekuk tubuh terlihat jelas telah tiba. Nafasnya terengah-engah, tapi ketika melihat sosok Alex yang terus memperhatikan lekuk tubuhnya. Zonia segera menutupinya dengan kedua tangannya.

"Keberanian dari mana kau berani melihat tubuhku sejauh itu?! Alex buang tatapan menjijikanmu itu?!"

"Sepertinya dilahirkan dan hidup di dunia baru ini juga bukan hal yang buruk... Pakaian yang feminim, bahkan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang begitu sempurna... Ini..." suara lirihnya terhenti.

Karena dengan jelas, Zonia bisa mendengarnya. Kini kedua matanya melotot sembari memberikan kepalan tangannya.

"Kau kira... Aku tidak dapat mendengar gumaman cabulmu..."

Saat akan menampar, Olivia segera menahan tangannya.

"Dia tidak memperhatikan tubuhmu, jangan salah paham Zonia... Sekarang bantu aku untuk belikan beberapa obat luka luar untuknya."

"Olivia kamu..."

Tidak bisa membantah, Zonia segera mengikuti perintah dari Olivia. Hingga, sepasang mata keduanya mulai bertemu.

Dan wajah Olivia seketika memerah, namundia bisa mengendalikan dirinya sendiri.

"Sudah kukatakan beberapa kali. Jika bertemu dengan Abel sebaiknya hindari mereka... Jika saja aku terlambat tadi, mungkin..." ungkapannya tercekat, dia terkejut ketika Alex tiba-tiba mengangkat dagunya agar sepasang mata mereka kembali bertemu.

"Bahkan tanpa kamu datang, akulah yang akan menghajarnya... Olivia, Terima kasih."

Alex meninggalkan senyum tipisnya. Lalu meninggalkan Olivia yang membuat gadis itu merasa, pemuda tak berguna yang selalu ia lindungi, kini sudah berubah!

"Dari mana keberaniannya datang? Sorot mata tajam dan dingin itu. Bahkan keberaniannya untuk menyentuhku…" Olivia berkata sembari melihat punggung Alex yang telah menjauh.

*

Ditengah perjalanan kembali ke rumah sederhana yang ditinggalkan oleh ingatan tubuh aslinya, Alex melihat situasi pinggiran kota Draken dengan seksama.

Perbedaan aktivitas, bahkan kendaraan yang digunakan para manusia mampu membuatnya terlihat seperti pemuda miskin, yang baru saja turun dari gunung. Melihat kendaraan modern yang berlalu lalang.

"WOI LAMPU HIJAU UNTUK BERKENDARA! BERHENTI JIKA TIDAK!" Salah satu pria berteriak memperingati Alex.

Hingga...

TIIIIIIIIN!

Suara klakson mobil begitu keras membuat pandangan Alex teralihkan! Wajahnya terbelalak, tapi mobil yang melintas tak bisa langsung menurunkan kecepatannya. Hal itu harus membuat tubuh Alex terlempar, hingga menabrak pembatas jalan.

Bruuuaaaaaagh!

"Kecelakaan?! Ada kecelakaan?!"

"Sial pemuda itu ditabrak dengan kecepatan tinggi! Pasti tubuhnya hancur! A-aku tidak ingin melihatnya ah!"

"Cepat telpon ambulance!"

Mobil penabrak berhenti ditengah jalan, tapi Alex di balik reruntuhan pembatas jalan tengah memaki atas kebodohannya yang tidak melihat situasi sebelum melangkah lebih jauh.

"Ke–kecepatan tadi, cukup untuk menghancurkan tubuh lemah ini.. Untung saja, aku sigap menyelimuti tubuh dengan sedikit energi Qi yang ada di dunia ini... Tapi sekarang masalahnya, bagaimana aku bisa keluar dari reruntuhan pembatas jalan ini?"

Hanya bisa pasrah tubuhnya terhimpit oleh reruntuhan bangunan pembatas jalan. Lima belas menit menunggu, akhirnya ambulance datang. Dan di waktu yang sama, semua orang mulai bergotong royong menyingkirkan beton pembatas jalan yang menindih tubuh Alex.

"Ma-masih hidup?!"

Semua tubuh bergetar, melihat sosok Alex yang tengah tersipu malu akan kesalahannya barusan.

"Be--beneran masih hidup, bahkan senyum ini seakan benturan yang menghancurkan pembatas jalan tak mempengaruhi apapun pada tubuhnya?"

Bahkan dokter yang baru turun segera membantu Alex bangkit untuk berdiri. Setelah melihat pemuda itu berdiri secara tegak! Dokter itu hanya bisa mengedipkan mata, tapi mulutnya tak bisa berbicara sama sekali.

"Terima kasih telah membantuku... Dan maaf, maaf telah membuat kegaduhan?!"

Semua mulut terbuka lebar membentuk huruf O!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   19. Pelelangan 5.

    Han Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   18. Pelelangan4.

    Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   17. Pelelangan 3.

    Suasana aula yang semula riuh, mendadak meredup sesaat. Beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah ruang VIP nomor tiga. Tidak sedikit yang menelan ludah. Karena ungkapan itu memang provokasi yang jelas!Namun bagi Han Yi itu adalah tamparan telak di hadapan seluruh keluarga berpengaruh di kota Draken Wajahnya menegang, urat uratnya terlihat hingga berwarna merah padam!Ketika matanya menyipit tajam ke arah tirai VIP nomor tiga. Untuk pertama kalinya sejak awal pelelangan, ekspresinya benar-benar telah kehilangan kendali.“Apa katamu?” suara Han Yi rendah, namun mengandung tekanan dingin.Beberapa tetua keluarga Han langsung saling pandang.“Tu-tuan muda, tetap tenang, dia hanya ingin memprovokasi kita...” salah satu dari mereka berbisik, namun Han Yi mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.Di sisi lain, bisik-bisik mulai berubah nada.“Berani sekali.”“Apakah keluarga Wine ingin memicu konflik terbuka?”Alex bersandar santai di kursinya secara santai. Di balik topeng emas, sudut b

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   16. Pelelangan 2.

    Riuh aula pelelangan belum mereda ketika angka sepuluh juta itu menggantung di udara. Beberapa orang bahkan berdiri setengah dari kursinya, seolah tidak percaya ada pihak yang berani berjudi sejauh itu hanya untuk sebuah batu giok yang bahkan belum dibelah.Pihak lelang menelan ludah. Tangannya yang memegang palu sedikit bergetar, namun wajahnya tetap profesional.“Vip nomor tiga… menawar sepuluh juta,” ulangnya lantang. “Apakah ada yang ingin menaikkan?”Sorot mata hampir semua orang otomatis tertuju ke ruang VIP nomor satu. Siapa lagi jika bukan Han Yi.Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tapi kali ini tidak lagi santai. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Sepuluh juta…"Bukan jumlah kecil, bahkan bagi keluarga Han. Terlebih lagi, ini baru batu giok pertama.“Orang di vip tiga itu…” gumam salah satu tetua keluarga Han dengan suara rendah. “Apakah keluarga Wine sudah kehilangan akal?”H

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   15. Pelelangan dimulai. Han Yi.

    Rendy menggeram marah. Suaranya menggema di area kasir, membuat beberapa tamu menoleh dengan ekspresi tidak senang.Rendy ingin mengejar, namun dua pria bertubuh besar berjas hitam sudah berdiri di hadapannya, menghadang dengan sikap profesional namun mengintimidasi. Senyum pelayan sebelumnya menghilang, digantikan wajah netral.“Tuan muda,” kata pelayan itu tenang, “silakan selesaikan pembayaran. Atau kami akan memanggil manajer keamanan.”Wajah Rendy memucat. Harga yang tertera di layar kasir membuat napasnya tercekat. Angka itu… bukan sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah, bahkan dengan statusnya sekarang.*Keesokan harinya.Gedung Pelelangan Langit Antik berdiri megah di pusat kota Draken. Bangunannya menjulang dengan arsitektur klasik-modern, pilar-pilar marmer putih berpadu ukiran emas yang memancarkan kemewahan dan kekuasaan. Di sinilah, kekayaan dan pengaruh diuji bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan angka dan keberanian.Mobil Clara berhenti di area VIP.Begitu me

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   14. Rendy yang arogan!

    Alex perlahan mengangkat pandangannya. Di hadapannya berdiri dua orang pria dan satu wanita, semuanya berpakaian mencolok, aroma parfum mahal bercampur anggur langsung menyergap. Wajah-wajah itu terlalu familiar diingatan tubuh asli.Yang berbicara barusan adalah Rendy mantan ketua geng populer di SMA mereka. Rambutnya kini disisir klimis, jam tangan emas berkilau di pergelangan tangan. Di sampingnya, Vera, gadis yang dulu selalu menertawakan sepatu Alex yang lusuh. Dua pria lainnya tersenyum sinis, jelas menikmati momen ini.“Benar-benar kau, ya?” Rendy tertawa kecil. “Aku hampir tak mengenalimu. Ternyata sampah sepertimu masih hidup?”Tawa mereka pecah."Hahahaha!"Clara yang duduk di seberang Alex langsung berhenti menggerakkan sendoknya. Ia menatap Alex sekilas, lalu menatap kelompok itu dengan senyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Alex menghela napas pelan. “Sudah lama, Rendy.”“Hah! Masih ingat namaku?” Rendy pura-pura terkejut. “Kupikir orang seper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status