LOGIN“Jangan terus siksa Madam seperti ini, Lex. Please, Lex! Lakukan, Lex, oooh…!” Itu adalah contoh salah racauan dari seorang wanita sosialita, ketika menghendaki agar Alex berbuat lebih jauh terhadap dirinya.
View More“Maaf, Dik, belum ada lowongan. Coba Adik datang lagi sekitar sebulan lagi, ya?” jawab pimpinan Satpam di sebuah perusahaan di wilayah Tangsel kepada seorang pemuda yang membawa stopmap yang berisi bahan lamaran.
“Tolong saya, Pak,” ucap pemuda yang berwajah kebule-bulean itu dengan raut wajah sangat berharap, atau lebih tepatnya, memelas. “Saya ini memiliki ketrampilan seni bela diri yang mumpuni dan pernah memenangkan sebuah kejuaraan. Bapak boleh menguji sa ….”
“Maaf, Dik, bukan masalah apa pun, tapi memang lowongan belum buka. Silakan Adik datang kembali bulan depan, jika belum mendapatkan pekerjaan.”
Pemuda itu manggut-manggut cepat namun kecil. “Baik, Pak. Mari …”
“Ya, mari ….”
Wajah pemuda itu yang sebenarnya sangat tampan itu tampak kian layu. Ia membalikkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan area itu. Posturnya yang sejatinya tinggi kekar seolah kehilangan rangkanya. Ia seolah putus asa.
“Kok ada ya, Bang, bule yang melamar jadi satpam?” tanya salah seorang anggota Satpam kepada pimpinannya.
“Iya. Bisa jadi dia WNI hasil naturalisasi,” jawab pimpinan satpam dengan suara datar dan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
“Bisa jadi dia pernah bekerja di suatu perusahaan besar, tapi karena negeri ini sedang dilanda krisis moneter dan banyak perusahaan kolaps pasca reformasi dan referendum, jadi dia terkena PHK,” ucap anggota Satpam lain mencoba menerka-nerka.
“Tapi bule tadi seperti pernah saya kenal wajahnya, tapi di mana, gitu?” Salah seorang anggota Satpam lagi sembari mengetuk-ngetuk pelan dagunya dengan menggunakan jari telunjuk kanannya.
“Paling yang kamu lihat itu turis-turis bule, Bray. Kan wajah mereka mirip-mirip,” seloroh temannya, yang disambut tawa oleh hampir semua petugas satpam dalam pos itu.
“Iya juga sih. Tapi serius, wajah pemuda tadi seperti aku kenal. Tapi di mana, ya?”
Pemuda yang berwajah kebule-bulean yang sedang dibahas saat itu sedang melangkah dengan langkah seolah ragu, mengikuti alur trotoar kota. Wajahnya seperti mati gairah. Entah sudah beberapa perusahaan yang dia datangi, tetapi semua memberi jawaban yang sama: belum ada lowongan!
Setelah melangkah, entah berapa lamanya, Pemuda itu tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ekspresinya seperti orang yang sedang kebingungan, atau sedang memikirkan tentang posisi atau keberadaannya saat itu. Ia berdiri di trotoar pada salah satu sisi perempatan jalan. Ia memang sedang menumpang di rumah kontrakan temannya yang berada di wilayah Kalideres Jakarta Barat.
Ia mengangguk pelan. Sepertinya ia baru menyadari, ternyata saat itu ia sedang berada di batas antara wilayah Tangerang dan Jakarta. Daerah di bagian barat itu masih banyak persawahannya yang menghijau. Tapi di kawasan persawahan itu pun sudah berdiri banyak sekali komplek perumahan dan juga pabrik-pabrik. Keadaan itu semakin membuatnya kebingungan, karena ia belum pernah datang di wilayah itu. Kondisi di wilayah itu cukup sepi. Bagaimana mungkin ia akan menemukan proyek pembangunan maupun perusahaan di daerah pinggiran seperti itu?
Sementara terik matahari musim kemarau terasa hendak mendidihkan otaknya. Hanya saja saat itu ia masih memiliki harapan untuk hidup. Pertama, perutnya masih dalam kondisi kenyang, dan sisa uang pemberian seseorang yang baik masih ada dalam saku depan celananya. Celana warna hitam dari bahan polyster.
Di sekitarnya berdiri ada sebatang bohon sonokeling besar dan rimbun. Pemuda itu masih bingung dan belum memutuskan untuk menyeberang ke arah mana.
Sembari menunggu terik agak sedikit reda, pemuda berwajah bule namun berambut hitam itu pun bermaksud untuk berteduh dulu di bawah pohon itu.
Sambil menyandarkan tubuh pada batang pohon dan menikmati hembusan udara siang menjelang sore, otaknya terus memikirkan langkah selanjutnya. Ia masih berharap masih ada perusahaan maupun proyek bangunan yang mau menerimanya. Karena itu, ia tidak memperhatikan secara khusus kendaraan yang lalu lalang di depannya.
Akan tetapi, tiba-tiba pandangan saya teralihkan kepada sebuah mobil Mercedes-Benz biru metalic tiba-tiba berhenti setelah melewati tikungan jalan yang menuju arah selatan sana.
Dari dalam mobil keluar seorang bapak-bapak berpakaian stelan jas dan dasi. Penampilan seorang eksekutif. Jika dia bukan seorang pengusaha, ya seorang pejabatlah. Usianya ditaksir sekitar lima puluhan tahun. Keadaan di sekitar itu sepi, karena berada di kawasan yang cukup jauh dengan kompleks perumahan di selatan, utara, dan di timur sana.
Pria paruh baya itu tampak berusaha membuka kap kendaraannya. Begitu kap kendaraan dibuka, asap yang cukup tebal langsung menyeruak keluar. Raut wajah laki-laki itu nampak kebingungan. Bisa ia pastikan jika beliau buta dalam hal mesin kendaraan. Si pemuda melihat bapak-bapak itu berusaha untuk meminta bantuan kepada pengendara yang melintas di depannya dengan isyarat tangan kanannya. Tapi tidak satu pun yang berhenti. Para pengendara itu hanya menoleh sekilas dengan tetap melajukan kendaraan mereka. Mungkin mereka menyangka laki-laki itu hendak menyeberang saja.
Sikap hidup nafsi-nafsi sepertinya masih terasa kental di tempat itu, batin sang pemuda. Ia menggeleng-geleng pelan.
Pemuda itu merasa berempati kepada bapak-bapak itu. Ia pun bangkit berdiri dan hendak melangkah menyeberang jalan. Nampaknya, ia memiliki pemahaman yang baik tentang mesin.
Akan tetapi, belum lagi ia menyeberang, ia melihat dua buah sepeda motor yang masing-masing berboncengan, melaju dari arah selatan. Kedua sepede motor itu langsung berhenti dan memarkirkan kendaraan mereka di dekat mobil Mercy itu. Keempat pria itu saling berkomunikasi, sebelum melangkah mendatangi si bapak-bapak.
Melihat itu, si pemuda pun merasa agak sedikit lega. Ia mengira keempatnya akan membantu problem yang sedang dihadapi oleh pri paruh baya itu. Keempat pria itu terlibat pembicaraan dengan si bapak-bapak. Wajah si bapak-bapak pun tampak tersenyum senang penuh keramahan. Si pemuda terus memandangi ke arah itu.
Namun, di luar dugaan si pemuda, tiba-tiba salah seorang dari keempat pria itu mencengkeram kerah baju berikut dasi si bapak-bapak dengan sangat kuat, sampai wajah si bapak-baak tak mampu mengeluarkan suaranya dengan jelas dan lancar.
Si pemuda sangat kaget dan langsung berpikiran, bahwa ternyata mereka sekelompok berandalan, bahkan mungkin penjambret yang kebetulan melihat mangsa empuknya. Ia pun menegakkan kepalanya. Ia merasa seperti kebingungan juga.
Saat salah satu terus mencengkeram kerah baju si bapak-bapak, ketiga temannya beraksi, berusaha membuka pintu depan mobil mewah itu. Tapi tidak bisa. Dengan penuh emosi dan beringas ketiganya memukul dan menggempur kaca depan mobil mewah itu. Untungnya kaca mobil seri terbaru itu tak mempan untuk dihancurkan dengan pukulan tangan seperti itu. Sepertinya kunci mobil dalam genggaman pemiliknya.
Melihat kesulitan itu, pria yang menceram kerah baju si pemilik mobil terlihat naik pitam dan membentak, “Mana kunci mobilnya, serahkan! Cepaaat!”
Si pemilik mobil menggeleng-geleng sembari berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman si perampok.
“Orang tua bodoh kurang ajar!” bentak si pria dengan geram. Lalu secara tidak berperikemanusiaan, pria itu langsung melancarkan beberapa pukulan keras pada bagian perut dan wajah si bapak-bapak.
Mendapat serangan pukulan seperti itu, si bapak-bapak itu seolah tak berdaya. Ia sama sekali tak mampu memberikan perlawanan. Mungkin juga karena takut dikeroyok oleh keempat pria itu lalu berbuat nekat.
Dan herannya lagi, para pengendara yang lewat dan menyaksikan peristiwa penzaliman seperti itu, sama sekali tidak ada yang berani berhenti untuk melakukan pertolongan terhadap si bapak-bapak. Malah mereka semakin mempercepat laju kendaraannya sembari sekali-sekali menoleh.
Naluri dan sisi kemanusiaan si pemuda bangkit. Dan tanpa memperhatikan kendaraan yang akan lewat, ia pun langsung mengambil langkah seribu untuk menuju KTP. Ia tidak peduli saat itu jalan raya yang ia seberangi sedang tidak sepi.
Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di ruang tunggu salon. Ia ingin sebuah kejutan. Dan dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan itu. Saat Alex muncul dari balik ruangan salon yang dibatasi dengan kain korden, Madam Lena nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Dengan penampilan baru, rambut dipotong cepak ala pria-pria dari Asia Timur tampak sangat serasi dan makin maskulin dengan tampilan Alex saat itu. Alex benar-benar telah menjelma sebagai seorang pria yang benar-benar tampan dan berwibawa. Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya. Ternyata kaca mata hitam itu diberikan oleh pihak salon untuk menambah elegansi penampilan sang customer tampan mereka, dan harganya digabungkan dengan biaya tata rambutny
“Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol. Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya. “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.” “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?” “Benar sekali, Madam.” “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu. Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.” “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan
Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin. “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.” “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.” “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua
Selanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!” Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.