Share

3. Olivia kembali membantu!

Author: Al_Fazza
last update Last Updated: 2025-12-06 16:23:26

"Pe-pemuda ini baik baik saja?!"

Riuh komentar terdengar, namun pengendara dari mobil mewah berlogo kuda jingkrak yang menabrak Alex segera keluar dari mobil. Dia berlari ke arah Alex dengan sedikit perasaan tak bersalah.

"Tunggu, siapa namamu? Aku tengah terburu buru... Meski kamu juga salah tidak melihat jalan... Tapi aku juga mengendarai kendaraan terlalu cepat. Di dalam kartu VIP royale ini terdapat $1000 sebagai kompensasiku."

Nona muda dari keluarga Wine—Wine Clara. Dia pebisnis muda yang menggeluti bisnis barang antik di kota Draken. Selain popularitasnya terkenal karena pandai dalam menilai barang antik. Gadis itu juga seorang pewaris keluarga konglomerat yang cukup disegani.

Sekilas terdiam menatap kartu putih yang diberikan. Alex sedikit mengerti, hidup di dunia baru pasti membutuhkan sesuatu untuk alat pembayaran. Layaknya di dunia kultivator yang butuh batu energi, atau koin emas itu kini segera menerimanya.

"Kebetulan sekali..."

"Jika terdapat masalah pada kesehatan tubuh setelah periksa ke rumah sakit terdekat... Kau bisa cari aku di jalan antik Wine Grace."

Menganggukan kepalanya, Alex yang merasa situasi semakin ramai segera menghindari kerumunan. Dengan menggunakan ingatan pemilik tubuh asli, dia berjalan ke arah pinggiran kota Draken. Di mana para keluarga kecil mendirikan rumah.

Setelah lima belas menit berjalan-jalanan komplek Permai Damai.

Beberapa pasang mata menatap langkah Alex dengan rasa kasihan. Entah apa yang terjadi, tapi Alex tahu sesuatu yang buruk sepertinya tengah menanti dirumah.

Hingga benar benar tiba didepan rumah sedikit kumuh. Tiga pria kekar, dengan jaket hitam menatap Alex dengan seringaian dingin pada lekuk sudut bibirnya.

"Alex... Akhirnya kau sudah kembali, sekarang... Bayarkan hutang ayahmu itu?! Atau rumah ini... Rumah ini akan menjadi alat pembayaran sah untuk kami!"

Memandang raut wajah para debt collector tanpa rasa gentar. Alex maju melangkah, dia mengingat seberapa banyak hutang ayah pemilik tubuh asli.

"Bayarkan hutang orang yang tak tahu dimana batang tubuhnya ada? Kau salah, rumah ini milik mendiang ibuku, dan tidak ada campur tangan dari harta ayahku... Jika mau hutang cepat dibayar, kalian cari saja ayahku... Rumah ini, tak ada hubungan dengannya?!"

Wajah ketiga debt colector semakin memburuk, mereka berjalan pelan.

"Bocah kecil yang tak tahu tata aturan hutang piutang! Tidak ada ayahmu, tapi ada kau! Kau adalah putranya, maka hutang akan dilimpahkan padamu!"

Sekilas menatap ke sekitar kondisi rumah, para warga mulai berkerumun melihat kegaduhan itu. Hal ini membuat perasaan risih Alex muncul.

"Berapa hutangnya?"

"$1.000.000 dengan bunga?!"

"Kalian gila?! Dengan jelas aku mengingat ayahku meninggalkan hutang hanya sebanyak $500.000 kenapa jadi satu juta?!"

Salah satu debt colector menarik kerah baju Alex.

"Sudah kukatakan itu dengan bunga! Jika tak mampu bayar, maka rumah bobrok ini akan menjadi milik kami hari ini..." suaranya dipenuhi penekananan.

Wajah Alex sedikit gusar, dia mencengkeram tangan yang menarik kerah pakaiannya. Lalu menyingkirkannya tanpa rasa takut.

"Bagaimana jika aku menolak untuk membayar?!"

"Seusai ungkapan bos kami, rumah ini akan tetap menjadi milik kami... Tapi sisa hutang masih ada $500.000! Dan karena kau selalu menunda pembayaran, maka kami akan memberimu sedikit hadiah?!"

Saat kepalan tinju dari debt collector akan mendarat, bahkan Alex akan membalas dengan sebuah tinju. Suara klakson mobil Bmw series terbaru menghentikan tindakan keduanya.

TIIIIIIIIIN!

Olivia dengan pakaian yang sama di kampus segera turun dari mobil. Keanggunannya tetap terlihat, meski wajahnya begitu panik.

'Lagi dan lagi Olivia... Dia beneran terlalu peduli pada tubuh ini?' ungkap dalam hati Alex kemudian melihat gadis itu turun membawa sekoper uang.

"Jangan sakiti Alex! Aku datang membawa uang senilai $500.000 tolong berikan nota pembayaran?!"

Wajah ketiga debt collector berubah menjadi liar. Melihat kemolekan tubuh gadis yang baru datang itu, benar benar membuat mereka lupa akan tugas dari penarikan hutang.

"Ca–cantik sekali?!"

"Bisa bisanya seorang sampah seperti Alex bisa memiliki gadis secantik, dan sekaya dia?!"

Mendengar komentar itu.

Wajah Olivia berubah, dia sedikit melangkah mundur. Tapi suaranya yang sedikit meninggi mengejutkan wajah bringas para debt colector.

"Kalian lihat apa?! Jika berani sentuh aku, mungkin lintah darat seperti kalian akan musnah di tangan ayahku?!"

Tiga debt colector tersadar, mereka langsung membuka koper. Namun setelah menghitungnya, kerutan wajah tak puas terlihat.

"Jumlah hutang $1.000.000 ini hanya $500.000... Kami bisa memberikan surat pelunasan, tapi bagaimana jika kamu layani kami bertiga malam ini?" salah satunya menjilati bibirnya.

Pijakan Olivia goyah, dia melangkah mundur dengan tubuh sedikit gemetar. Namun melihat itu, Alex yang sebenarnya tak butuh campur tangan Olivia mulai menarik kembali koper berisi uang itu kearahnya sendiri.

"Apa maksudmu hah?!" ungkap kesal salah satunya segera melangkah ke arah Alex.

"Awalnya aku memang berniat hutang pada Olivia ketika melihat dia datang... Tapi melihat kalian yang tak tahu diri ini, aku beneran sudah tak sabar memberi pelajaran!!"

"Aduh bocah kecil, tubuhmu yang kurus ini bagaimana caranya ingin menghajar kami?"

Alex bersiap meninju, tapi tangannya segera ditahan oleh Olivia. Dia segera memberikan peringatan.

"Sebentar lagi orang orang utusan ayahku pasti datang membantu... Jangan terlibat perkelahian, Alex percaya padaku."

"Hei gadis cantik, mungkin orang kaya menengah bisa membeli mobil BMW keluaran terbaru, tapi tidak dengan memiliki orang-orang utusan... Kau kira, kau adalah pewaris keluarga terpandang kota ini?" salah satunya menyeringai emosi.

"Hari sudah mulai gelap, bos kita tak mungkin meladeni mereka berdua... Bukankah baiknya..." sembari menatap kearah koper di tangan Alex.

Menahan emosinya, Alex yang tidak ingin melibatkan Olivia lebih jauh mulai mengembalikan koper dengan cara melemparnya.

"Baik sesuai nilai hutang... Kekurangan total $500.000, dalam waktu dua hari kau bisa datang lagi kemari untuk menerima pembayaran sisanya..."

"Dua hari! Dan di waktu itu, jika kau tak bisa membayarnya, gadis ini harus tidur dengan kami ya?!"

Mendengar itu, tangan Alex seketika mengepal erat, memunculkan urat-urat di telapak tangannya yang kurus!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Risdiyan To
kaya kehidupan asli ada rentenir juga bjir
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   123. Pasukan kekaisaran datang.

    WUUUUSH!Belasan penjaga langsung bergerak bersamaan. Aura mereka meledak, menekan udara di sekitar gerbang tambang. Pedang dan tombak energi muncul dalam sekejap.Clara mulai menghela napas ringan.“Benar-benar bodoh.”Namun Alex bahkan tidak bergerak. Ia hanya berdiri di tempat. Tatapannya terlihat tenang dan dingin.Penjaga terdepan berteriak.“MATI!”Pedang energi meluncur lurus ke arah leher Alex.Namun...Hanya satu langkah kecil. Tubuh Alex telah bergeser setengah jengkal. Yang membuat pedang itu hanya melewati udara kosong.Mata penjaga itu membelalak.“Bagaimana bisa..."Belum selesai. Karena Alex sudah berada di depannya. Gerakannya begitu cepat hingga seolah menghilang.Yang disambut dengan salah satu tangan Alex terangkat. Tidak ada teknik. Tidak ada aura berlebihan. Hanya satu tamparan.PAK!Tubuh penjaga itu terlempar seperti peluru meriam. Ia menabrak menara penjagaan. Batu dan kayu hancur. Debu beterbangan.Semua orang membeku sesaat. Yang membuat Clara hanya tersenyum

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   122.

    Kepala keluarga Wang masih berlutut. Tubuhnya gemetar, namun kali ini bukan hanya karena takut. Ada kemarahan dan penyesalan bercampur di wajah tuanya. Ruangan itu kembali terasa sunyi. Kabut di luar jendela semakin tebal, membuat cahaya senja berubah redup. Beberapa saat kemudian, Alex akhirnya berbicara. “Kau jelas tahu konsekuensinya.” Nada suaranya datar. Kepala keluarga Wang mengangguk perlahan. “Jika masalah ini sampai ke telinga istana… keluarga Wang akan hancur.” Clara menatap Alex. “Bukan hanya hancur. Mereka bisa dianggap berkhianat pada kekaisaran. Dan tujuh generasi klan Wang akan di bunuh tanpa sisa.” Kepala keluarga Wang menggertakkan gigi. “Saya… siap menerima hukuman dari anda. Asal tuan AX bisa melindungi keluarga Wang.” Alex tersenyum tipis. "Kau memang sudah siap..." Ia berhenti sejenak. “Tapi keluargamu belum tentu.” Tubuh pria tua itu menegang. Akan tetapi Alex masih bersandar santai. “Kaisar Negeri Heliox tidak akan memaafkan pengkhianatan yang mel

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   121. Masalah keluarga Wang1.

    Alex hanya melirik Clara sekilas. Ekspresinya tetap datar. Namun tekanan di ruangan itu tidak berkurang sedikit pun.“Cukup.”Satu kata. Suasana langsung membeku. Alex menatap kembali wajah kepala keluarga Wang.“Aku tidak datang untuk berbasa-basi.”Nada suaranya dingin. Tegas. Tanpa emosi.“Kita langsung ke inti.”Kepala keluarga Wang menelan ludah. Tubuhnya semakin tegang.“Baik… Tuan.”Alex bersandar sedikit di sofa.“Kau mengelola sendiri tambang keluarga Wang?”Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun kepala keluarga Wang langsung gemetar.“Saya…”Tatapan Alex berubah tajam.“Jawab.”“Tidak.”Ruangan menjadi sunyi. Clara menyipitkan mata. Lori tetap diam di samping.Namun Alex telah melanjutkan.“Kenapa?”Pria itu menunduk.“Saya sudah tua. Tenaga dan waktu saya terbatas. Pengelolaan harian tambang diserahkan pada putra kedua saya.”“Namanya?”“Wang Zemin.”Lori mengangkat salah satu alis.“Kau percaya sepenuhnya padanya?”Kepala keluarga Wang terlihat sedikit ragu.“Saya… sela

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   120.

    Permen kecil itu masih berada di tangan Alex ketika ia melangkah keluar dari pesawat. Udara pegunungan langsung menyambut. Dingin, bersih, dan membawa aroma energi spiritual yang jauh lebih padat dibanding wilayah lain.Bandara Provinsi Naga Barat tidak terlalu ramai. Para penumpang masih menatap mereka dengan rasa hormat, namun Alex tidak memperdulikannya. Ia berjalan seperti orang biasa.Clara melirik permen di tangannya.“Kau benar-benar akan memakannya?”Alex tidak memakannya melainkan, memasukkannya ke dalam saku.“Untuk kenang-kenangan.”Lori tersenyum tipis. Bahkan membuat Candra hampir tertawa, namun ia segera menahan diri.*Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari area bandara.Tidak ada penyambutan. Tidak ada orang keluarga Wang. Kedatangan mereka memang dirahasiakan.Candra segera mengurus penyewaan kendaraan pribadi. Mobil sederhana berwarna abu-abu, tidak mencolok akhirnya datang tak lama mereka menunggu.“Kendaraan ini cukup untuk menghindari perhatian,” lapornya.Al

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   119. Tiba di Provinsi Naga Barat.

    Teriakan itu menggema di kabin. Beberapa penumpang hampir histeris. Pramugari bahkan berpegangan pada kursi agar tidak jatuh.Namun Alex tetap duduk. Memperlihatkan wajah tenang seperti biasanya. Seolah benda yang sedang berdenyut di dalam kurungan energi emas itu hanyalah mainan anak kecil.Bom waktu itu juga terus berdetak.5…Clara menatapnya tajam. “Alex apa kau yakin…” Ia tahu. Jika Alex membiarkan ini, pasti ada alasan."Ledakannya tak seberapa dari serangan tinju dari ranah Penyatuan tubuh dengan Qi tingkat menengah yang sebenarnya... Kau tenang saja..."4…Candra sudah berdiri di sisi lorong, menghalangi pandangan sebagian penumpang agar tidak semakin panik.Lori justru tersenyum tipis. Dia menduga, tuan mudanya ini seperti tengah mempermainkan semua rasa takut para penumpang pesawat. Sama seperti ekspresi Alex saat sedang mempermainkan lawannya.Pembajak yang lumpuh itu menatap bom dengan wajah pucat, namun masih mencoba tertawa.“Kalian… semua akan mati! DAN KITA AKAN MATI B

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   118. Pembajakan pesawat 2.

    Perintah itu terdengar ringan. Namun bagi Lori dan Candra, itu adalah perintah mutlak.Udara di kabin seketika terasa membeku. Lori tidak menjawab. Ia hanya menarik napas pertama.Wuuuush!Aura dingin yang selama ini tersembunyi tiba-tiba memancar. Tidak liar. Tidak meledak. Namun tekanan itu membuat jantung para pembajak berdegup tak terkendali.Pria yang ditahan Lori langsung menyadari bahaya.“KAU ADALAH KULT...”WUUUUSH! KRAAACK!Belum selesai kata itu keluar, lehernya sudah dipelintir. Retakan tulang terdengar jelas. Tubuhnya jatuh tanpa suara.Tarikan napas pertama selesai.WUUUUUSH!Dua pembajak yang menodongkan senjata dari arah kokpit refleks menekan pelatuk.BAK! BAK! BAK!Namun…Sosok Lori telah berkelebat cepat nyaris terlihat menghilang. Hal itu hanya membuat peluru menembus kursi kosong.Satu detik kemudian...WIIISH!Ia muncul di depan mereka. Terlalu dekat. Terlalu cepat. Yang membuat sepasang mata kedua pembajak itu membesar.“Mustahil aku tidak bisa mengikuti kecepat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status