ログインTuut tuut tut...“Kamu telepon siapa, Na?” tanya Sofi seraya meletakkan teh hangat di atas meja makan. Sedangkan Rayna sedang duduk di salah satu kursi dan sibuk menelepon seseorang. “Kelihatannya penting ya, Na?” tanya sofi lagi.Eskpresi wajah Rayna nampak kesal. Alisnya berkernyit sedikit. “Reno, Sof. Aku mau batalin janji bertemu dengannya.” Rayna keceplosan. Seketika wajahnya memerah, takut Sofi berpikir macam-macam dan akhirnya dia tahu rencananya.Sofi menatap Rayna dengan penuh tanda tanya yang sangat jelas tersirat di wajah polosnya. “Untuk apa?” tanya Sofi penasaran. Tumben sekali Rayna mau berurusan dengan laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya itu.Rayna mematung, bingung, apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Sofi. Tidak mungkin jujur pada sahabatnya itu sekarang, belum waktunya. “Tadinya aku mau menemui Reno untuk negosiasi supaya dia mau melepasmu, Sof. Jujur, aku benar-benar gak tega kalau kamu masih di perusahaannya. Kamu bisa kerja di tempatku, k
Rayna memutuskan untuk pergi menemui Reno di Cafe Hills, guna membahas masalah Sofi yang makin depresi. Setelah memastikan Sofi istirahat di kamarnya, Rayna berjalan pelan mengambil kunci mobilnya yang dia simpan di laci nakas dalam kamarnya. Ragu namun ia tetap harus melakukan itu demi Sofi. “Sofi sudah menyelamatkanku, peduli padaku, jadi...”Tok tok tok!Rayna tersentak kaget mendengar pintu rumahnya diketuk dengan cukup keras dari luar. Siapa? Batinnya.Ceklek!Wajah tampan blasteran Alex terpampang di depan pintu dengan ekspresi wajah yang serius. Rayna mengerutkan keningnya, tidak menyangka kalau laki-laki yang notabennya kakak Clara itu berani mendatangi rumahnya.“Halo, Nona Rayna,” ucap Alex yang berusaha ramah pada Rayna si empunya rumah.“Kamu?”Alex tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melebarkan senyumnya. “Kaget, ya? Kamu mau ke mana kok bawa kunci mobil? Perlu ku antar?” Ia memberondongi Rayna dengan beberapa pertanyaan menyebalkan.“Plis, Alex. Ini bukan waktunya
Rayna menyiapkan sarapan sepiring nasi goreng dan telur dadar di atasnya, satu piring untuknya dan satu piring lagi untuk Sofi. Setelah meletakkan piring mereka, Rayna melihat ke arah Sofi yang terduduk dengan tatapan kosong.Mungkinkah Sofi masih memikirkan tentang kembalinya Ryan? Tanya Rayna dalam hati.“Sof,” panggil Rayna lembut sembari meletakkan tubuhnya, duduk berhadapan dengan Sofi yang masih termenung. “Sof!” panggil Rayna kedua kalinya dengan memegang tangan Sofi yang sontak membuat gadis berwajah oriental itu tersentak kaget.Sofi mendadak kaget, mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap Rayna yang memandang iba padanya.“Masih memikirkan Ryan?” tanya Rayna pelan. Dia tidak ingin membuat sahabatnya sedih dengan pertanyaan konyolnya.Sofi mengangguk pelan. “Kau tahu, Na? Kejadian itu terekam dengan sangat baik di ingatanku.”Rayna menghela nafas berat, menatap sendu sahabatnya yang harus bertemu lagi dengan orang yang sudah merenggut kesuciannya. “Kamu pasti kuat, Sof.”Sof
Sofi meneguk kopi latte miliknya yang sudah tinggal separuh cangkir. Ia menarik nafas dalam sembari menyusun kalimat-kalimat dalam otaknya. “Aku sudah memiliki seorang pengganti diriku saat resign nanti. Surat pengunduran diri juga sudah ku berikan pada Pak Reno. Namun dia menolaknya. Kau tahu, Rayna? Dia mengatakan kalau aku tidak harus keluar dari perusahannya. Yang akan terjadi adalah....” Sofi tidak melanjutkan kalimatnya.Rayna mengerutkan keningnya. Penasaran. “Apa?” tanyanya pada Sofi yang masih memperhatikan kopi latte-nya.Sofi tersenyum kecil. Membiarkan rasa penasaran menguasai sahabatnya itu. “Ayolah, Sof. Ini bukan lelucon,” timpal Rayna yang tidak sabar mendengar cerita dari Sofi.“Aku memang tidak diizinkan untuk meninggalkan Reygold Corp. Hal itu diperkuat oleh Clara yang mengangkat jabatanku menjadi sekretarisnya.”Rayna terbelalak, sesuatu terasa tengah menghalangi jalannya udara masuk ke rongga hidung hingga membuatnya sedikit kesuli
Reno dan Clara telah tiba di sebuah restoran elite di kawasan Jakarta Timur. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam restoran yang bernuansa Eropa modern itu. Clara dengan sengaja bergelanyut mesra pada Reno yang berjalan santai saat kaki mereka menginjak lantai restoran berwarna hitam.“Apa, sih?” Reno berusaha menepis tangan Clara yang masih menggandeng tangannya, bahkan dengan sangat erat seakan Reno adalah tawanan yang tidak boleh kabur.Clara bersikeras menggandeng tangan Reno agar mereka terlihat mesra.“Tidak ada yang menyuruhmu melakukan ini. Lepaskan!” bisik Reno makin risih dengan sikap Clara. “Jangan berlebihan!”Clara berusaha untuk berpura-pura tidak mendengar kata-kata Reno. Ia tetap menggandeng tangan Reno kemudian mengajaknya mendekati bangku yang sudah ditempati oleh dua orang. Rupanya dua orang itu adalah Alex dan Rayna yang sudah lebih dulu berada di restoran itu. “Halo,” ucap Clara yang sukses membuat Rayna dan Alex menoleh ke arahnya. Kedua mata Rayna terbelalak m
Jika Alex menikahi Rayna, artinya Rayna akan menjadi kakak iparnya. Clara bergidik membayangkan hal itu benar-benar terjadi.“Tidak mungkin, kan?” Clara khawatir jika Rayna kelak tetap merebut Reno darinya meskipun telah menikah dengan Alex.“Kenapa tidak mungkin? Bukannya malah bagus jika Rayna menjadi kakak iparmu?”Masalahnya bukan siapa yang akan menjadi suami Rayna, melainkan kebencian Clara terhadap Rayna sudah mendarah daging sehingga sulit untuk dihilangkan. Ia tidak sanggup jika harus melihat Rayna di dalam rumahnya setiap hari.“Aku tidak ingin melihatnya di rumah ini,” sahut Clara dengan nada tegas.Alex mengerutkan keningnya. “Sejak kapan aku harus menurutimu? Kamu hanya adikku, bukan ibuku, kan?”Clara melirik Alex dengan lirikan elang yang siap menerkan mangsanya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan? Membuat drama baru?”Alex tidak menjawab pertanyaan Clara. &lsquo
Hari ini tepat satu bulan Rayna bekerja di perusahaan Reygold Corp. Atas bantuan dari kerja kerasnya, sang wakil presdir berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya dan mendapatkan beberapa proyek besar yang jarang didapatkan. Dapat dikatakan bahwa keberadaan Rayna membawa keberuntungan besar bagi peru
Jam lima sore lebih beberapa menit, Rayna masih belum mendapatkan angkutan umum yang biasa mengantarnya pulang. Gelap semakin menguasai hari. Kantor semakin sepi karena banyak karyawan yang sudah dalam perjalanan menuju rumah masing-masing. Selama masa penantian angkot itu, tiba-tiba sebu
Malam ini gerimis masih membasahi sebagian wilayah Jakarta. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan mendadak, yang rela keluar rumah dan diguyur gerimis. Bukan masalah gerimis yang akan membasahi pakaian ataupun kendaraan namun angin pada malam itu berhembus dengan agak ganas. Mungkin di daer
Keesokan harinya.Rayna sudah siap berangkat ke kantor di hari perdananya. Ia menunggu Sofi di pertigaan rumahnya sudah hampir 10 menit. Tapi sang sahabat tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berkali-kali Rayna menghubunginya menggunakan ponsel. Tapi tetap tak ada jawaban.Wakt







