LOGIN"Rating televisimu terus turun. Sudahlah, tutup saja." Demi menyelamatkan stasiun televisi warisan keluarganya, Ellena rela mempertaruhkan segalanya. Namun, di balik perhatian dan kasih sayang sang suami, tersembunyi rencana yang perlahan menghancurkan mimpinya.
View MoreMahesa membawa Ellena ke sebuah restoran eksklusif yang cukup jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.Begitu mereka duduk, berbagai hidangan menggugah selera lekas memenuhi meja. Aroma rempah yang hangat bercampur wangi masakan yang baru matang sukses membuat mata Ellena berbinar seketika.Berbeda dari trimester awal kehamilannya—saat membaui aroma makanan saja sudah cukup membuat perutnya mual—kali ini selera makannya benar-benar kembali.Bahkan Ellena makan dengan begitu lahap."Pelan-pelan, Sayang," tegur Mahesa sembari terkekeh halus. "Nggak ada yang mau merebut makananmu."Ellena cuma tertawa kecil sebelum kembali menyuap makanan ke mulutnya. "Mas, ini enak banget.""Seenak itu?"Ellena mengangguk antusias. "Salah satu yang paling enak yang pernah aku makan."Mahesa tertawa pelan. Ia tak terlalu memedulikan rasa makanan di piringnya sendiri. Pandangannya justru tersita sepenuhnya pada Ellena yang begitu menikmati tiap suapan.Melihat istrinya kembali berselera makan seperti ini menghad
Mahesa yang masih mengunci genggaman tangannya pada Ellena tiba-tiba mengalihkan pandangan.Tatapannya terlempar pada Malhera yang masih berdiri tak jauh di area lobi.Seolah baru teringat ada seseorang yang menyaksikan seluruh drama tadi, Mahesa perlahan memutar tubuh menghadap wanita itu."Oh, iya." Suara Mahesa terdengar tenang. Ia lalu menoleh lembut pada sang istri. "Sayang, kenalkan. Ini Malhera."Ellena mengekor arah pandangan suaminya.Dan tepat saat itulah, matanya benar-benar menangkap sosok wanita di hadapan mereka.Langkah napas Ellena seakan tercekat di dada.Malhera memang cantik. Bukan sekadar cantik berwajah menawan, melainkan memiliki aura intimidatif yang membuat siapa pun mustahil mengabaikannya. Tubuhnya tinggi dan proporsional dengan lekuk tegas yang dibalut setelan elegan. Penampilannya tampak begitu terkurasi rapi, seolah baru saja melangkah keluar dari sampul majalah bisnis mode.Tanpa bisa ditahan, Ellena membandingkan dirinya sendiri.Perutnya yang kian membu
"Sebagai seorang direktur, seharusnya Anda tahu bagaimana menjaga etika."Dito menatap Ellena tanpa sedikit pun mengendurkan ekspresinya."Tapi sayangnya, hari ini saya tidak melihat itu dari Anda."Ellena merapatkan rahangnya. "Saya datang ke sini untuk menemui suami saya." Tatapannya mengeras. "Jadi tolong jaga ucapan Anda."Dito mengembuskan napas pendek. "Justru karena ini lingkungan profesional, Anda seharusnya bisa membedakannya. Ini kantor ALTV, bukan rumah pribadi Anda. Anda datang tanpa janji, tanpa undangan..."Kalimat itu membuat Ellena terdiam. Tenggorokannya mendadak terasa kaku.Ia memang murni datang hanya untuk memberi kejutan kecil kepada Mahesa. Tak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya bahwa niat baik itu justru berujung dipermalukan di tengah lobi.Jemarinya mengepal rapat di sisi tubuh. Matanya memerah menahan panas—bukan cuma karena kesal, tapi juga rasa malu yang mendadak menyeruak memenuhi dadanya.Hingga sebuah suara memotong dingin dari belakang."Bersik
Wajah Ellena masih cemberut ketika ia kembali mendekati ranjang.Namun langkahnya mendadak terhenti.Sesuatu di atas meja rias menarik perhatiannya. Sebuah kotak hitam elegan tergeletak rapi di sana.Ellena mengernyit. Ia mengambilnya, lalu perlahan membuka tutup kotak tersebut.Matanya seketika membelalak.Di dalamnya terbaring sebuah kalung cantik berpendar lembut. Tanpa kartu ucapan, tanpa sepucuk surat, bahkan tanpa selipan pesan singkat dari Mahesa.Namun Ellena tak butuh semua itu untuk menebak siapa pengirimnya."Mas..." Senyum perlahan merekah di bibirnya. "Kamu ini... Swet banget"Ia mengambil kalung itu, membelitkannya dengan hati-hati di leher, lalu menyentuh liontinnya pelan."Masih sempat-sempatnya cari hadiah buat aku..." gumamnya lirih.Namun senyum itu perlahan surut."Sementara aku... jangankan kado, menyiapkan apa-apa pun belum."Rasa bersalah mendadak menyelinap di dadanya. Ellena menunduk, menatapi liontin yang kini menggantung manis di dadanya.Ia terdiam beberapa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore