MasukRayna tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia akan merencanakan pernikahannya sendiri dengan cara seperti ini. Tanpa gaun pengantin yang dipilih bersama keluarga, tanpa pembicaraan panjang dengan orang-orang terdekat, bahkan tanpa memberi tahu pria yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Semuanya berlangsung dalam diam, seolah-olah ia sedang mempersiapkan sebuah rahasia besar yang harus tetap terkunci rapat sampai waktunya tiba. Dan pria yang akan berdiri di sampingnya sebagai suami adalah Alex. Pria yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Pria yang selalu berada di dekatnya ketika ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Pria yang selama ini menyimpan perasaan lebih dalam daripada yang pernah Rayna sadari. Namun, Rayna tidak pernah benar-benar membayangkan dirinya menikah dengan Alex. Setidaknya, bukan dengan alasan seperti ini.
Bab: Pernikahan, Saham, dan Sebuah KesepakatanMalam semakin larut, tetapi Rayna dan Sofia masih betah duduk berdampingan di sofa ruang keluarga. Televisi yang sejak tadi menyala hanya menjadi suara latar. Keduanya justru sibuk membicarakan sesuatu yang sejak sore memenuhi pikiran Rayna: pernikahan yang sebentar lagi mungkin akan mengubah seluruh kehidupannya.Sofia duduk bersila sambil memeluk bantal berbentuk beruang. Rambut panjangnya yang tadi diikat asal kini tergerai berantakan di bahu. Sementara itu, Rayna bersandar pada sofa dengan secangkir teh hangat di tangannya.Sesekali, perempuan itu mengusap perutnya yang masih rata.Ada kehidupan kecil di sana.Kehidupan yang tidak pernah direncanakannya, tetapi kini menjadi tanggung jawab terbesarnya."Jadi, kamu benar-benar akan menikah dengan Alex?" tanya Sofia untuk kesekian kalinya.Rayna menoleh dengan ekspresi lelah."Sofi, kamu sudah menanyakan itu berkal
Sofia merasakan dadanya menghangat sekaligus nyeri.Dia ingin memeluk Rayna, tetapi dia juga ingin sahabatnya itu memahami bahwa dirinya tidak harus menanggung semua persoalan tersebut sendirian. Sofia akhirnya bangkit dari kursinya, lalu berjalan memutari meja, menarik kursi di sebelah Rayna dan duduk di sana, kemudian merangkul bahu sahabatnya.Rayna langsung menyandarkan kepala ke bahu Sofia.Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.Sofia membiarkan Rayna menangis tanpa mendesaknya untuk segera berhenti. Dia tahu bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Seseorang hanya membutuhkan tempat untuk meletakkan segala kelelahan yang selama ini dipendamnya.Setelah tangis Rayna mulai mereda, Sofia mengusap punggungnya perlahan."Aku mengerti kenapa kamu berpikir seperti itu," katanya lembut. "Aku juga tahu kamu tidak ingin menyakiti siapa pun."Rayna mengangguk kecil."Tapi ada satu hal yang ingi
Matahari mulai condong ke arah barat ketika mobil Rayna memasuki halaman rumahnya. Deretan pepohonan yang berjajar rapi di sepanjang jalan masuk biasanya menjadi pemandangan yang menenangkan baginya. Namun, sore itu, Rayna sama sekali tidak tertarik menikmati keindahan halaman rumahnya sendiri. Pikirannya terlalu penuh. Bahkan setelah mematikan mesin mobil, perempuan itu masih duduk diam di balik kemudi. Kedua tangannya bertumpu di atas setir, sedangkan pandangannya lurus ke depan, menatap pintu utama rumah yang tertutup rapat. Bayangan percakapannya dengan Alex di Hill Cafe terus berputar di kepalanya. 'Aku bersedia menikah denganmu, Rayna.' Kalimat itu terdengar begitu sederhana ketika Alex mengucapkannya. Tidak ada tuntutan, tidak ada pertanyaan yang menyudutkan, apalagi penolakan yang membuatnya harus mencari jalan keluar lain. Alex menerima permintaannya. Pria itu bahkan bersedia menerima anak yang dikandungnya, meskipun mengetahui bahwa Reno adalah ayah biologis bayi ters
Entah bagaimana, keberadaan Alex membuat situasi yang semula terasa begitu menakutkan menjadi sedikit lebih mudah dihadapi. Mereka kemudian mulai membicarakan berbagai hal yang harus dipersiapkan. Alex menyarankan agar mereka tidak terburu-buru menentukan tanggal sebelum memastikan semua persoalan penting telah dibicarakan. Mereka perlu membicarakan tempat tinggal, tanggung jawab masing-masing, urusan keluarga, serta bagaimana menghadapi pertanyaan orang-orang tentang pernikahan mereka. Rayna juga harus memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan ini kepada keluarganya. Satu hal yang tidak boleh mereka lakukan adalah membangun rumah tangga di atas kebohongan yang justru akan menyakiti mereka di kemudian hari. “Aku ingin semuanya dilakukan dengan benar,” ujar Rayna. Alex mengangguk. “Aku juga.” “Kalau keluargamu bertanya tentang alasan kita menikah, bagaimana?” “Kita akan menjelaskan bahwa kita memutuskan menikah setelah mempertimbangkan keadaan dan tanggung jawab kita. Kita tida
Rayna sedikit membelalakkan kedua matanya.“Kan ketemu kamu, Rayna.”Alex mengatakannya dengan begitu santai, seolah-olah kalimat itu bukan sesuatu yang bisa membuat jantung seorang perempuan berdegup sedikit lebih cepat. Pria itu bahkan tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.Rayna menghela napas panjang.“Alex, kamu itu sebenarnya mau ketemu aku atau mau ikut pemilihan pria paling rapi sedunia?”Alex tertawa kecil. “Kalau aku tahu kamu bakal memuji penampilanku seperti ini, dari kemarin-kemarin aku sudah berpakaian begini setiap kali ketemu kamu.”“Memuji apanya? Aku sedang menyindir!”“Buatku tetap pujian.”Rayna memutar bola matanya. Benar-benar tidak ada obat untuk pria di hadapannya itu. Sejak dahulu, Alex memang selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Namun, berbeda dari kebanyakan laki-laki yang pernah dikenalnya, Alex tidak pernah membuatnya merasa terancam.Alex
Seorang laki-laki yang tengah patah hati dan sekarang ia pun mengalami patah semangat untuk hidup. Reno, laki-laki yang baru saja mengenal cinta dalam arti sesungguhnya, harus menelan kenyataan pahit di mana sang pujaan hati harus menjauh darinya demi kebaikan banyak orang, termasuk dirinya. Reno
Suasana sedikit tegang saat Clara melihat Rayna datang bersama calon ayah mertuanya di kediaman Subrata. Ia sangat tidak menduga bahwa gadis itu juga berhasil menaklukkan hati ayahnya Reno. Clara menatap Rayna dengan tatapan tidak suka. Jelas saja, siapa yang akan menyukai wanita lain yang dekat
Acara makan malam yang diadakan oleh Rayna dan dua orang sahabatnya berjalan sangat menyenangkan. Meskipun sesekali Rayna teringat Reno yang terkahir kali nampak murung. Mungkin bosnya sedang ada masalah dengan Clara, pikirnya. Ia berusaha membuang pikiran tentang Reno jauh-jauh agar perasaan cin
Dengan kekesalan yang telah memenuhi ubun-ubun dan hatinya, Clara mendelik kesal. Kedua matanya hampir tak bisa dibedakan dengan mata kucing yang marah karena sesuatu saat seseorang bertanya padanya mengapa dia menampar karyawan Reno di depan umum. Ia merasa berhak melakukan hal itu karena status







