MasukShe never wanted a Luna. He never meant to walk into a werewolf ceremony. Alpha Zyandra Varyn was born to lead — ruthless, disciplined, and feared by every wolf in her pack. But when the full moon forces her to perform the ancient Luna ceremony, fate plays a cruel trick: her destined mate isn’t a warrior, or even a wolf. He’s human. Rhett Whyte only wanted to retrieve his lost drone. He didn’t believe in monsters, much less expect to stumble into one’s ritual. But when his eyes meet Zyandra’s, something ancient stirs — a mark he can’t explain, a connection he can’t escape. Now, the Alpha who never wanted a mate is bound to the one man who doesn’t even believe she’s real, and is also in love with another woman in his world. Zyandra calls it the Moon’s mistake. Rhett calls it insanity. But the bond doesn’t care what either of them want. And under the next full moon, fate will demand what it started.
Lihat lebih banyakI need sunshine to kiss me up every single morning, and it's you, Sinar Bhanuresmi.
— Prasetyo Sagara —
Hasrat pada pandangan pertama. Itulah hal pertama yang dirasakan oleh Pras, saat melihat Sinar datang ke kantor firma hukumnya.
“Siapa, perempuan yang ada di ruang Ashi sekarang, Lex?” Pras bertanya pada manajer partnernya di Firma Sagara, sembari terus melangkah menuju ruang kerjanya. Tiap ruangan yang ada di firmanya disekat oleh dinding kaca transparan, hal itu dilakukan agar tidak ada hal terselubung yang diperbuat antara para advokat dan klien mereka.
Lex menoleh sekilas dengan memicingkan mata. “Ibu Sinar Bhanuresmi, kemaren dia sempat menggugat cerai suaminya, tapi yang aku dengar, dia mau mencabut gugatannya dan rujuk.”
“Dia sudah menikah?”
“Don’t you ever think ‘bout it, Pras.”
Lex yang hapal dengan tabiat Pras, harus memperingatkan pria itu karena suami Sinar, bukanlah orang sembarangan. Lex sengaja tidak menyebutkan nama suami wanita itu, biarlah Pras, nantinya akan mengetahui sendiri.
Pras hanya menyematkan senyum tipis dan sejurus kemudian, keduanya berpisah, memasuki ruangan masing-masing.
Secara kepemilikan, Firma Sagara adalah milik Pras. Namun, karena Lex sudah bersama dirinya sejak awal pendirian kantor tersebut. Maka, Pras mengajak Lex untuk menjadi partner sekaligus sebagai capital contribution* bagi firmanya.
Sekitar satu jam kemudian, Pras memanggil Ashi agar segera ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu.
“Klienmu, Sinar Bhanuresmi, aku minta semua data lengkapnya. Dan aku yang akan menangani kasusnya.”
“Tapi, Pak—”
Pras mengangkat tangan kanannya untuk menyela Ashi.
“Siapa suaminya? Dan kenapa dia mengajukan gugatan cerai? Satu lagi, kenapa tiba-tiba dia berniat untuk rujuk?”
Ashi mengeluarkan desisan diiringi tarikan napas dari mulutnya. Ini cuma kasus perceraian, kenapa pengacara kelas kakap seperti Pras, mau repot-repot turun tangan untuk menangani hal receh seperti ini, pikirnya. Pasti ada maksud di balik itu semua.
“Suami Bu Sinar ... Wakil Pemimpin Redaksi Network TV, Pak Bintang Galexia.” Ashi menarik napas sejenak, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya. “Bu Sinar mengajukan gugatan karena sudah tidak ada kecocokan diantara mereka, tapi beliau tidak menyampaikan alasan untuk kembali rujuk.”
“Ah!” Ada sebuah keterkejutan saat Ashi menyebut nama Bintang, karena setahu Pras, istri Bintang adalah Daya bukan Sinar. Terlalu lama berada di Singapura, membuat dirinya jarang mendengar kabar tentang kehidupan pribadi kolega serta teman lamanya. “Jelaskan tentang ketidakcocokan yang dimaksud?”
“Kompleks, Pak. Dari masalah mertua, tidak adanya quality time, dan terakhir masalah wanita.”
“Baiklah.” Pras mengangguk paham dengan wajah datar. Biarlah nanti, ia cari tahu sendiri tentang Bintang dan Daya. “Kamu boleh pergi dan jangan lupa dengan yang aku minta tadi, e-mail segera.”
---
Pump heels setinggi 5 senti itu, menghentak begitu elegan ke dalam restoran. Menggaungkan bunyi seirama yang menggema, ketika Sinar melewati koridor sebuah restoran untuk menuju ruang VIP.
Ia ada janji temu dengan Ashi hari ini, perihal pencabutan gugatan cerainya. Tapi yang membuat heran adalah, Ashi meminta bertemu di ruang VIP sebuah restoran mewah. Padahal biasanya, mereka hanya bertemu di kafe biasa atau di Firma Sagara.
Sinar berucap terima kasih kepada pelayan yang telah mengantarkan, sekaligus membukakan pintu ruang VIP itu untuknya.
Mulutnya ternganga sejenak, berdiri statis beradu tatap dengan pria tampan berwajah antagonis, yang saat ini tengah berdiri mengancingkan jasnya, saat melihat Sinar ada di bibir pintu.
“Maaf, sepertinya saya salah ruang.” Sinar baru saja hendak membalik tubuhnya, namun ia kembali terdiam, saat mendengar ucapan pria itu.
“Ruangannya benar, silakan masuk.”
Ragu sebenarnya, tapi, kaki Sinar pada akhirnya melangkah maju. Pria itu mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri.
“Pras. Prasetyo Sagara.”
“Sinar Bhanuresmi,” kemudian Sinar duduk tanpa melepas pandangannya yang masih saja beradu dengan Pras. Dari nama belakangnya saja, Sinar sepertinya paham, siapa pria di depannya saat ini, yakni pemilik Firma Sagara. Tempat Ashi, pengacara yang mengurus perceraiannya bekerja. “Kemana, Mbak Ashi? Bukannya, saya seharusnya bertemu dengan beliau?”
Pras tidak menjawab. Ia menyodorkan sebuah berkas, yang telah Pras pelajari sebelumnya. “Aku, bukan orang yang suka basa-basi. Silakan baca, dan, karena aku tahu kamu pintar, berkas itu pasti bisa dengan cepat kamu pahami.”
Apa-apaan ini? Pria itu tidak mau repot-repot untuk berbicara formal dengannya. Padahal Sinar adalah klien di firmanya.
Sinar mengambil sebuah map berwarna cokelat yang disodorkan oleh Pras dalam diam. Tidak berucap sepatah katapun. Membaca dan meneliti lembar demi lembar, lalu, lama kelamaan deru napasnya melaju cepat.
“Apa maksudnya ini?”
“Perlu aku perjelas?” ekspresi Pras tidak terbaca, kemudian pria itu melanjutkan kalimatnya. “Itu, salinan dari laporan keuangan APBD, selama ayahmu menjabat sebagai Kabag Humas Pemprov*. Lihat sendirikan, ada beberapa penyelewengan yang ditandatangani oleh Pak Prabu?”
Sinar meneguk ludahnya yang gersang. Menggeleng tidak percaya dengan apa yang telah dibacanya saat ini.
“Terus, apa maksud dari semua ini?” tanyanya sekali lagi sembari mengembalikan berkas ke dalam amplop coklat dan menyodorkannya kepada Pras. “Apa tujuanmu?” Sinar bahkan sudah tidak ingin bersikap formal dengan Pras.
“Aku bisa menjebloskan ayahmu ke penjara, kalau dokumen itu sampai ke pihak berwenang.”
“Brengsek!” Sinar menggebrak meja tanpa ragu, namun Pras tetap tidak berekspresi, tetap tenang dengan wajah arogan. “Apa maumu? Kamu butuh uang? Mau memeras keluarga kami? Begitu?” decihnya penuh tatapan geram.
Pras tertawa pongah, mengejek sekaligus meremehkan. “Harta yang kupunya, bahkan jumlahnya berkali lipat dari milik keluarga kalian.”
“Gak usah bertele-tele! Langsung aja, apa maumu!”
“Jadi milikku!” seru Pras tidak berbasa-basi.
“Are you insane?” Sinar mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya. “I’m married.”
“So? I didn’t see the problem.”
Sinar menggeleng diikuti decakan berkali-kali. Pria seperti apa, yang sedang dihadapinya saat ini. Ekpresinya sangat datar dan tidak mudah untuk di tebak.
“Kamu benar-benar gila, kenapa gak cari cewek di luar sa—”
“Karena aku menginginkanmu!” sela Pras sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Sinar. “Well, kita bisa mencobanya terlebih dahulu, satu malam—”
Cukup sudah!
Sinar kembali menggebrak meja dengan emosi yang memuncak. “Pasang indera pendengaranmu itu baik-baik, Pras. Aku sudah menikah da—”
“Dan kamu mengajukan gugatan cerai.” potong Pras dengan tatapan datar, pun intonasi bicaranya. “Apa Bintang gak bisa memuaskanmu di ranjang?”
Pria ini, benar-benar tidak bisa memfilter mulutnya ketika berbicara, pikir Sinar.
“Aku sudah mencabut gugatan itu, dan aku mau rujuk! Dan ini gak ada urusannya dengan masalah ranjang!”
“Boleh aku tahu alasannya?”
“Aku hamil, empat minggu.” intonasi Sinar sedikit melunak.
Detik itu juga, Pras mengumpat dalam hati. Namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Kenapa hasratnya harus berurusan dengan wanita yang tengah hamil seperi ini.
“Well, it’s oke. Selalu ada yang pertama bukan? Aku memang gak pernah menghabiskan malam dengan perempuanya yang sedang hamil. Tapi, sepertinya itu menarik.”
Sinar kembali menggeleng, tidak habis pikir dengan semua yang ada di benak Pras. Tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan pria itu, Sinar memundurkan kursinya lalu berdiri dengan menyampirkan tas di bahu.
“Pergilah,” ucap Pras dingin. “Dan bisa aku pastikan kalau besok … ayahmu akan langsung berada di bui.” imbuh Pras beranjak menghampiri Sinar yang saat ini tengah berdiri kaku.
Pria itu berhenti tepat di depan Sinar. Memberikan seringai tipis penuh kemenangan, saat melihat wajah Sinar yang tampak pias. Mulut Pras baru saja hendak terbuka, untuk mentertawakan ketidakberdayaan gadis itu.
Alih-alih sebuah tawa yang keluar dari mulutnya, Pras malah mengaduh keras. Menunduk sembari mengusap kaki kirinya yang baru saja terkena ujung pump heel milik gadis itu.
Yah, Sinar telah menendang tulang kering Pras dengan sekuat tenaga yang ia punya, di tengah kekesalannya yang memuncak.
“SINAR!”
Pras mengumpat, merasa diremehkan. Ini kali pertama, ada seorang wanita yang memperlakukannya dengan kasar. Itu artinya, Sinar telah menantangnya dan Pras pantang untuk ditantang, apalagi dengan mahkluk berjenis kelamin perempuan.
Sinar dengan berani menarik dasi Pras, mensejajarkan wajah pria itu dengan dirinya. “Hei, pengecut! apa kamu gak punya cara yang lebih gentle untuk menghadapi seseorang, sampai harus menyerangnya dari belakang? Lebih baik kamu kebiri aja tuh ulat bulu yang ada di balik celanamu, karena kamu gak pantes sama sekali disebut sebagai seorang laki-laki.”
Oh, sungguh Pras benar-benar merasa tertantang kalau seperti ini. “Ckckck, kamu itu, cuma belum tahu aja, bagaimana ulat buluku bisa membuatmu meracau nikmat saat kamu berada di bawahku.”
Satu tangan Sinar yang lain sudah melayang di udara untuk menampar Pras, namun, pria itu dengan gesit menangkapnya. “Aku suka perempuan yang agresif dan sedikit kasar, apalagi saat di atas ranjang bersamaku.”
“Kamu itu sakit!” maki Sinar.
“Dan, cuma kamu obatnya.” balas Pras dengan menyematkan seringai tipis di wajah tampannya.“Kamu GILA!”“Karenamu!”“Just go to fuckin hell!”“And I’ll bring you with me, then.”“You’re such an asshole!” jerit Sinar pada akhirnya. Ia sudah benar-benar jengah dengan Pras.“I bet, this asshole gonna make you scream my name, all night long. and you won’t regret it at all!”---
* Capital Contribution: partner yang memasukkan sumber daya atau materi keuangannya sendiri ke dalam perusahaan untuk meningkatkan modal ekuitas.
* Kabag Humas Pemprov: Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi.
(Rhett's POV)My heart skipped a beat when I saw her slump to the ground. Green eyes wide with fear and confusion had been the last thing I saw before the figure had disappeared—but now she was just… gone. Not asleep, not resting. Fainted.And I was alone.Alone with a werewolf who, if she woke—or if anything else came back—could destroy me in seconds. My mind raced as I crouched beside her. She was bleeding from the left thigh, and I could see her fingers twitching slightly in the moonlight as if she were trying to fight the darkness claiming her.What the hell do I do now?I whispered to myself, barely moving, “Okay, Rhett… think. She’s unconscious. She’s strong… way stronger than me. If that cloaked guy comes back, I’m toast. Flat, minced, done.” My fingers itched at the thought, as if touching her would confirm the reality of the danger.Her breathing was shallow, and I could feel the faint warmth radiating from her skin. I couldn’t just leave her here. Not for a second. Not even
(Zyandra's POV)Rhett lay on the forest floor, his chest rising and falling unevenly, eyes half-closed, as though the night itself had drained him of his strength. I knelt beside him, my heart thudding in my chest. The anger that had fueled me moments ago was now tempered by something unfamiliar—pity, maybe, or the faintest flicker of doubt. He didn’t know, couldn’t know, what had just happened. He had walked into a world he had no concept of, and I had nearly killed him in blind obedience to duty.My hand hovered over his shoulder, and for the briefest moment I allowed myself to feel the weight of what I had become. The Alpha, the leader, the protector… and yet here I was, crouched over a human who hadn’t even realized what he had done, questioning why my instincts had driven me toward rage so quickly.I looked down at him. He was so small, so fragile in ways humans often were, and it made me sick to think of how close I had come to ending him. My chest tightened, and for the first t
(Rhett's POV cont'd)Glowing green eyes.Silver hair cascading like moonlight incarnate.Tall, powerful, otherworldly, terrifying and breathtaking all at once.The woman from my nightmare.The woman from the den.The woman who had growled at me beneath a full moon.The one who wasn’t supposed to exist.“It wasn’t hard locating you,” she said, her voice low and cold.My throat dried instantly.My breath stalled.This wasn’t a dream.This wasn’t a hallucination.This was real.My pulse hammered against my ribs as everything I’d tried desperately to rationalize came crashing back—those golden-eyed creatures surrounding me, the roar in my ears, the cold stone floor of that den, the green-eyed Alpha snarling at the moon goddess above her.“It’s you,” I whispered.Her jaw clenched. “Of course it’s me.”Suddenly, everything in me screamed run, but my body stayed rooted to the ground. Frozen. Not from fear—something else held me there. Something I couldn’t understand.Zyandra—though I still d
(Rhett's POV)Rhett hit the ground hard.At least, that’s what it felt like.In the dream, he was sprinting through a forest far thicker than anything in Winsdale, trees twisted like they’d grown from nightmares instead of soil. His lungs burned. His legs shook. And behind him—gods, behind him—he could hear it again. That growl. That bone-deep snarl that sounded like a building collapsing, metal grinding, the earth itself groaning in fury.His feet slammed against the forest floor as he ran. He couldn’t see the sky, only those towering black pines swallowing whatever light existed. A shadow barreled behind him—faster, bigger, angrier than any creature had a right to be.He didn’t look back. He didn’t have to. He knew she was coming.The silver-haired werewolf from the woods.Her teeth flashed in the dark, her eyes bright, feral, glowing green like wildfire.He stumbled. The world tilted. The beast lunged—he felt her claws skim his shoulder, felt hot breath on the back of his neck—And












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.