INICIAR SESIÓNItu adalah suara Cassandra. Lyria merapikan diri dan menghadap ke pintu, “I-iya, Yang Mulia. Sebentar.” Menoleh, “Pergilah, Kael.”“Kau berani mengusir pangeran?”“Kael! Ini bukan saatnya untuk berdebat. Aku tidak mau ratu Cassandra menemukanmu di sini. Ayo pergilah dulu!” Lyria mendorong Kael, melihat Kael pergi, dan meninggalkannya di ruang tamu sendirian, barulah dia membuka pintu paviliun. “Silakan masuk, Yang Mulia.”Cassandra tersenyum, “Tidak usah, Lyria. Mana tanganmu?”Meski bingung, dia tetap mengulurkan tangan ke Cassandra, “Ini, Yang mulia.”Cassandra memegangi tangan Lyria, mengucapkan mantra dalam hati, dan gelang putih membelit pergelangan tangan Lyria. Setelah menghilang, dia menatap Lyria, dan tersenyum, “Ini segel ladang herbal. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Lyria. Saat perang besar terjadi, semua makhluk berlindung di ladang herbal, dan yang memakai gelang ini pasti selamat. Tidak ada satu pun hal yang bisa menyentuhnya selama di ladang herbal.
Kael cepat menunggangi Zarveth dan bom sihir itu menyambar ranting yang tadi menjadi tempatnya bersandar, hingga patah. “Aku tidak punya urusan denganmu!” Mengajak Zarveth pergi dari sana.Pria bertudung, mengejar Kael ke mana pun Kael pergi, sambil melemparkan bom sihir, dia tertawa melihat Kael yang terus menghindar “Apa ini putra raja iblis?!”Kael tak peduli, terus terbang, level pria bertudung itu empat puluh delapan, dia tidak akan bisa menghadapinya. Melihat ada daratan cukup luas di tengah hutan, dia mengajak Zarveth ke sana, memasang kuda-kuda, dan mengaktifkan Devour.“Hahahaa. Sudah lelah melarikan diri?”“Kenapa kau menyerangku?”“Karena aku mau melakukannya.” Mengumpulkan bola sihir raksasa dan melemparnya ke Kael.Tangan Kael bergetar hebat, kekuatan itu sangat tinggi, tubuhnya terasa terbakar.Melihat Kael menahan sihirnya, dia menambahkan bola sihir lain, dan melemparnya lagi ke Keal.BOOM! Kael terlempar, bibirnya berdarah, devour-nya eror karena terlalu banyak seran
Baru saja masuk, bahkan belum sepenuhnya, dan Kael berhenti bergerak sambil menatap Lyria bingung. "I-iya, Ibu! Aku sedang... sedang ganti baju!" Kael tertawa kecil. Dia cukup tahu diri. Mengambil kembali miliknya, merapikan baju Lyria, memagut bibir itu singkat, dan keluar lewat jendela sambil memamerkan celana dalam Lyria yang sengaja dibawa. Lyria menarik napas beberapa kali sambil merapikan pakaiannya meski tanpa celana dalam, lalu membuka pintu, "A-ada apa, Bu?" Ibu Lyria menatap putrinya curiga, "Bukankah itu baju yang kamu pakai tadi?" Masuk kamar, memperhatikan sekeliling, dan kembali menoleh ke Lyria. "Iya, Bu." Membuka lemari, "Aku masih bingung mau pakai baju yang mana." Mengambil baju sembarang dan ditempetkan ke tubuhnya sendiri, "Aku tidak tahu pangeran Leon seperti apa." Tersenyum, "Pakai apa pun yang membuatmu nyaman, Lyria. Pangeran Leon baik, meski pun dia mengemban tanggung jawab berat, dia tak pernah mengabaikan semua hal yang terjadi di sekitarnya." Me
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Lyria tak percaya dengan kelancangan Kael. Kael tersenyum, mendekati Lyria lagi, dan saat berada tepat di depan Lyria, saat Lyria berpaling darinya, dia berbisik tepat di telinga Lyria, "Aku merindukan desahanmu." Ucapan itu sukses membuat Lyria menoleh, Kael tepat di hadapannya, dan dia benci kalimat itu. "Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan oleh seorang pangeran." "Lalu siapa yang pantas mengucapkannya?" Kael menunjukkan celana dalam Lyria dengan tangan kirinya, "Aku akan menyimpannya dengan baik." Sambil menunjukkan senyumnya yang manis. "Kembalikan!" Lyria meraihnya dengan susah payah. Namun, Kael yang licik terus mempermainkannya, "Terserah kau saja, Kael. Pulanglah dari rumahku." Membuang muka dan bersedekap dada. "Mengusir pangeran adalah sebuah kejahatan, Lyria." "Kau!" Lyria menunjuk Kael tepat di depan wajah. Kael malah tertawa kecil mengetahui Lyria kesal padanya. Berbaring dan memejamkan mata begitu saja, "Tetapi aku bisa
Kael membawa hati itu keluar. Melihat iblis agung berubah menjadi awan abu-abu, sepertinya sedang menyerang sesuatu dan yang ada di sini hanya Evelyn. Kael melesat cepat ke sana dan masuk ke awan abu-abu bersama dengan hati di tangannya. "Jadilah mainanku! Jadilah mainanku! Hahahaa." Pelindung tubuh Evelyn pecah, dia mrasakan dadanya sakit, dan langsung meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Kael mencari sebuah titik di tengan awan abu-abu, saat inti pusat terlihat, mengulurkan tangan yang membawa hati, dan awan itu seketika menjadi kemerah-mudaan. Pusaran angin tak terlalu kencang dan perlahan menyusut tak sebesar tadi. Iblis agung jadi pohon besar lagi, memegangi inti pohon yang berubah menjadi kemerah-mudaan, dan menoleh ke Kael. "Kau membuka gua itu?!" Kael mengangguk, "Ya." Berlari ke arah gua, masuk untuk mencari sesuatu, dan keluar lagi. Dia melesat cepat ke inti hutan kekosongan. Evelyn masih pingsan dan Kael tak terlalu khawatir, dia mengikuti ke arah mana ib
Lunara mencabut paksa bulu di sampinh pusar dan memberikannya ke Kael, "Simpanlah ini. Hutan kekosongan sangat berbahaya, banyak yang terjebak dan tidak bisa kembali hidup-hidup, kau sangat baik padaku." Kael menerima bulu itu, "Terima kasih." Lanjut menuju hutan kekosongan dan meninggalkan Lunara. Evelyn terus menjaga jarak. Tak banyak yang dibicarakan dengan Kael. Saat hutan berwarna abu-abu terbentang begitu luas di depannya, Evelyn berhenti berjalan, "Setelah kita masuk, tidak ada kesempatan untuk menyerah." Kael mengangguk, "Aku tidak akan menyerah." Melangkah lebih dulu dan seketika semua pakaian yang digunakan, bahkan waena bola mata Kael berubah jadi abu-abu. Evelyn merapatkan jarak, hutan ini aneh, tidak ada suara dan angin, dia seperti berada di dunia lain. "Kael." Mendekat dan merangkul lengan Kael. "Jangan khawatir, Evelyn. Tidak ada yang harus ditakuti." Evelyn malah mendorong Kael, "Ya, karena kau yang harusnya ditakuti!" Berjalan lebih dulu meninggalkan Kael







