เข้าสู่ระบบPada tahun 2019 sebuah meteor yang membawa virus bernama 'Veyron' menghantam bumi, mengakibatkan semua kehidupan hancur, 95% manusia menjadi mutan, begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Reivan salah satu manusia yang berhasil selamat dari kehancuran itu berhasil membangkitkan kekuatan tersembunyi virus Veyron, akan tetapi setelah meteor ketiga jatuh dan mutan berevolusi ke fase Evolusi 5, Reivan harus menelan pil pahit, Aurelia (Aurel) wanita yang ia cintai, wanita yang ia jaga dan bimbing hingga menjadi seorang Awakener, menusuknya dari belakang, hingga Reivan berkahir menjadi santapan para mutan Evolusi 5. Akan tetapi kehidupannya tidak berkahir di situ, semesta memberinya kesempatan kedua untuk hidup, Reivan kembali kemasa lalu dimana waktu menunjukkan 2 jam sebelum virus veyron menyebar.
ดูเพิ่มเติมSrek!
Tusukan belati berlapis racun menembus punggung Reivan tepat di antara tulang belikatnya yang seketika membuat darah menyembur deras dan membasahi seragam tempurnya yang sudah compang-camping. “Huarggghh!” Raungan Mutan Evolusi 5 menggelegar di kejauhan ketika suaranya memantul di antara reruntuhan gedung-gedung yang sudah hancur. "HAH!..." Reivan tersentak. Tangannya bergetar ketika ia merasakan logam dingin itu merobek daging dan ototnya. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat ia jatuh berlutut. Napasnya tersengal, dan ia bisa merasakan racun dari belati itu mulai menyebar melalui aliran darahnya. Aurel, perempuan yang ia cintai dan ia percayai selama tiga tahun terakhir di dunia kiamat ini, berdiri di belakangnya ketika tangannya masih menggenggam belati yang sama yang dulu Reivan berikan sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua puluh empat. Senyum dingin tersungging di bibirnya, tanpa mengucap sepatah kata penjelasan pun. Raungan Mutant Evolusi 5 kembali terdengar, namun kali ini lebih dekat. Suara gedung runtuh di kejauhan menambah suasana mencekam di sekitar mereka. "A... Aurel..." Suara Reivan terdengar parau ketika darah segar mengalir dari sudut mulutnya lalu menetes ke lantai beton yang retak di bawahnya. Matanya menatap perempuan itu dengan ekspresi campur aduk. "Kenapa Aurel? Kenapa kau tega melakukan ini ke diriku? Uhuk!" Reivan terbatuk ketika lebih banyak darah mengalir dari mulutnya. Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Reivan dengan ekspresi kosong. Lalu ia berbalik dengan langkah kaki pelan dan teratur ketika perlahan menjauh dari pria yang sekarat di lantai beton itu. Reivan mencoba meraih sesuatu, apa saja, tapi tangannya hanya menggenggam udara kosong. Jemarinya menggores lantai beton yang kasar ketika meninggalkan jejak-jejak darah. Pandangannya mulai mengabur. “Grrrrrr!” Geraman Mutant Evolusi 5 kini terdengar sangat dekat, mungkin jaraknya hanya beberapa blok lagi dari posisi Reivan. Makhluk itu pasti sudah mencium bau darah segar miliknya. "Kenapa... takdir... begitu kejam?..." bisiknya lagi, kali ini lebih pelan dan penuh rasa putus asa. Air matanya mengalir dari sudut matanya, bersamaan dengan darah yang terus mengucur dari lukanya. Bukan hanya rasa sakit fisik yang perlahan membunuhnya, tapi juga rasa sakit di dalam dadanya karena dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia cintai di dunia yang sudah hancur ini. “Garhhh” Raungan Mutant Evolusi 5 kini terdengar tepat di belakangnya sekarang. Suara napas makhluk itu berat dan panas, dan Reivan bisa mencium bau busuk yang keluar dari mulutnya. Tepat sebelum kegelapan total menarik kesadarannya, ia mendengar suara langkah kaki Aurel yang sudah jauh, menghilang di antara reruntuhan. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ke belakang .--- Kriiiing! "Hahhh!... Hah. Hah. Hah..." Suara bel sekolah yang nyaring tiba-tiba membangunkan Reivan. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya hingga membuat basah seragam putih abu-abu miliknya yang kini bersih tanpa noda darah. Ia tersentak bangkit dari meja kelasnya, napasnya memburu, dan tangannya otomatis meraba punggungnya sendiri. Di sekelilingnya, suara obrolan ringan para siswa memenuhi ruangan kelas. "Eh, kamu udah ngerjain PR mtk-mu belom, Ka? Ihh... aku semalem kelupaan lagi gara-gara keasyikan nonton drakor.” "Sama nih, Aku juga belum.” Jawab siswa itu ketika ia menolehkan wajahnya ke arah lain, “May, aku mau pinjam buku kamu dong, mumpung Bu Ratna belum masuk nih." "Boleh kok tapi kamu bayar ya, harganya lima ribu persoal.." Ucap Siswi bernama Maya itu dengan alis yang di naik turunkan sembari tersenyum jahil. Obrolan teman-teman kelasnya perlahan memudar di telinga Reivan ketika pandangan Reivan tertuju pada jam dinding yang menunjukkan jarum pendek ke angka tujuh dengan jarum panjang menunjuk ke angka tiga. Pukul 07.15 pagi, tanggal 3 Maret 2019. Reivan membeku saat melihat tanggal dan jam tersebut, ‘Tunggu, tunggu, tunggu... pukul tujuh, tanggal tiga Maret dua ribu sembilan belas?!...’ Ia telah kembali kemasa lalu?! Bahkan itu tepat di hari jatuhnya meteor pembawa bencana yang memusnahkan nyaris semua kehidupan! “Oi!” Sebuah tepukan ringan membuyarkan lamunan sekaligus mengagetkan Reivan. Reivan menoleh untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya. “Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus, Van? Lagi mikirin apa si?” tanya seorang siswa yang tengah memegang dua botol air mineral. Saat melihat siswa itu, Reivan kembali membeku untuk kedua kalinya. “Ba-yu..” Kata itu keluar dari mulut Reivan tanpa ia sadari, sementara Bayu yang melihat ekspresi Reivan seketika mengerutkan keningnya dan melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Reivan. “Van, Reivan. Kau kenapa woi!” Bayu terus mencoba menyadarkan Reivan. Tapi Reivan tak menghiraukan itu karena terlalu terkejut, sekaligus tak percaya dengan apa yang ia lihat, sahabatnya itu yang dulu dicabik-cabik mutan didepan matanya sendiri kini berdiri di hadapannya. “Yu... Ini… benar-benar dirimu? Aku tidak sedang bermimpi kan?” Reivan berusaha memastikannya ketika ia perlahan mengangkat tangannya ke arah pipi Bayu, jemarinya bergetar ketika menyentuh pipi sahabatnya itu. Plak! Bayu menepis tangan Reivan dan bergidik, "Iiiiii... Apaan si kamu, Van? Pake segala megang pipiku, jijik anjir." Para siswa dan siswi yang ada di kelas mereka seketika menatap Reivan dan Bayu. Terutama Nadia yang baru saja masuk bersama temannya. "Wah, wah, wah... Ada apa ini?" suara Nadia melengking ketika ia berjalan mendekat dengan langkah yang dibuat-buat menggoda. Dibelakangnya, teman-temannya pun turut mengikutinya. "Jangan-jangan gara-gara aku tolak kemarin, kamu jadi patah hati terus sekarang malah nembak Bayu, Van? Aduh... kasihan banget sih." Tawa teman-teman Nadia langsung meledak memenuhi ruangan kelas. Beberapa siswa lain juga ikut terkekeh, sementara yang lain hanya menggelengkan kepala dan kembali pada urusan mereka masing-masing. Reivan tidak menanggapi mereka dan hanya menatap Nadia dengan tatapan tajam, ia ingin sekali membunuh Nadia detik itu juga, karena di kehidupannya sebelumnya, Nadia lah yang menjadi salah satu penyebab kematian Bayu. "Udah ah, Nad. Reivan juga cuma becanda." Bayu melambaikan tangannya dengan ekspresi malas. "Daripada ngurusin kami, mending kalian belajar aja gih. Kemarin nilai ulangan mu jelek kan?” Wajah Nadia langsung memerah. "Apanya yang jelek?! Itu cuma—" "Eh, ngomong-ngomong," potong salah satu teman Nadia yang lain yang berusaha mengalihkan pembicaraan, "Kalian udah tau tentang berita hujan meteor yang akan terjadi malam ini belum?” "Udah dong!" Nadia langsung bersemangat dan melupakan kekesalannya pada Bayu. "Beritanya kan viral banget di sosial media. Katannya hujan meteor ini adalah yang terbesar dalam seratus tahun terakhir!" "Jadi kalian mau nonton gak nanti malem?" tanya temannya lagi. "Aku kebetulan tau tempat yang enak buat nonton hujan meteor." "Aku ikut! Aku ikut!" seru Nadia sambil melompat-lompat kecil. "Iiii udah nggak sabar aku nontonnya, pasti seru banget kan nonton bareng-bareng" Reivan tersenyum miring. 'Hmph! Bermimpilah Nadia, karena sebentar lagi kekacauan itu akan datang… Dan kau Nadia, akan ku pastikan kali ini kau yang akan di makan oleh Mutan' Gumam Reivan ketika sorot matanya mengeras saat membayangkan apa yang akan terjadi dua jam dari sekarang. Ia lalu berdiri dan menarik bahu Bayu untuk merendahkan postur mereka. Tangannya mencengkeram bahu sahabatnya itu dengan erat. “Buset! Ada apa Van? Tiba-tiba narik aku kebawa?” "Stttt! Diam, Yu, kau harus dengerin aku baik-baik," kata Reivan dengan suara rendah nan serius. Matanya menatap langsung ke mata Bayu, dan sorot di dalamnya membuat sahabatnya itu langsung terdiam. "Dua jam dari sekarang sesuatu yang besar akan terjadi, dan aku ingin kau percaya padaku tanpa bertanya apa pun.”Bayu masih terengah-engah di lantai. Suara benturan dari luar terus terdengar, membuat jantungnya belum bisa melambat."Mereka terus mendobrak diluar.. Gimana kalau mereka berhasil masuk?" Bisik Bayu.“Tenang, rolling doornya masih kuat.”Jawab Reivan tanpa menoleh.“Asal jangan berisik, mereka akan pergi sendiri” Ujarnya ketika Reivan menyapukan senternya ke seluruh ruangan. Cahaya senternya seketika memperlihatkan debu yang beterbangan di udara. Ruangan bekas toko kelontong itu terlihat kacau, rak-rak besi berserakan, kaleng-kaleng makanan tercecer di lantai."Kau periksa area dapur. Aku akan periksa gudang," Putus Reivan."Sendirian?""Aku butuh kau buat mastiin nggak ada Mutan yang masuk lewat pintu belakang."Bayu menelan ludah, lalu mengangguk. "Oke... Oke."Ia berjalan pelan ke arah dapur dengan tongkat terangkat. Reivan bergerak ke arah gudang sambil menyapu setiap sudut dengan senter.Langkah kaki mereka menggema pelan di lantai keramik keti
Mereka keluar dari gang dan kembali ke jalan utama. Di depan sana, sebuah minimarket masih berdiri dengan pintu terbuka lebar.Beberapa orang terlihat berlarian keluar sambil membawa kardus-kardus makanan dan botol-botol air mineral, tapi mereka langsung dihadang oleh segerombolan Mutan yang muncul dari arah berlawanan."TOLONG! TOLONG KAMI!""JANGAN TINGGALIN AKU DI SINI!""ARGHHH!"Kekacauan terjadi dalam hitungan detik. Satu per satu orang-orang itu diterkam. Darah segar berceceran di trotoar, dan jeritan bercampur dengan erangan monster yang terus bertambah banyak.Reivan menghitung dengan cepat. “Tujuh puluh empat...”"Kita tidak jadi lewat sini. Mari lewat gang belakang saja," katanya sambil menarik Bayu ke arah lain.Mereka menyusuri jalan kecil di belakang deretan pertokoan. Di sini lebih sepi, tapi bukan berarti aman. Belum juga seratus meter, seekor Mutan muncul dari balik pintu belakang sebuah restoran cepat saji yang terbuka. Makhluk itu masih m
Reivan dan Bayu akhirnya meninggalkan area sekolah melalui gerbang belakang yang sudah terbuka lebar. Begitu mereka melangkah keluar, pemandangan yang menyambut langsung membuat Bayu berhenti di tempatnya. "Ya Tuhan... Kacau sekali..." bisiknya dengan mata membelalak lebar. Tangannya yang memegang tongkat baseball turun ke samping tubuhnya, dan rahangnya menganga tidak percaya. Jalanan yang dulu selalu ramai dengan kendaraan bahkan sering macet di jam-jam sibuk, kini telah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Mobil terbakar di mana-mana, asap hitam mengepul dari sisa-sisa kendaraan yang hangus. Mayat-mayat bergelimpangan di trotoar dengan luka yang mengerikan. Dan di kejauhan, Bayu bisa melihat mereka. Puluhan Mutan berkeliaran di persimpangan jalan. Jumlahnya bahkan terus bertambah seiring waktu. "Jumlah mereka sangat banyak dan semakin bertambah..." gumam Bayu. "Karena itu kita nggak boleh lewat jalan utama terlalu lama. Ayo, ikuti aku," kata Reivan sambil mul
Beberapa saat mereka hanya diam di halaman parkir belakang. Bayu masih bersandar ke dinding dengan napas yang belum sepenuhnya teratur. Matanya menatap kosong ke arah pintu darurat yang baru saja mereka lewati.Lalu, perlahan, ia menurunkan tongkat baseballnya sampai ujungnya menyentuh tanah. Tangannya masih gemetar, tapi ia mencoba mengatur napas."Aku mengerti tentang kejadian di kehidupanmu sebelumnya, Van," ucapnya akhirnya, suaranya masih bergetar. "Tapi aku ingin mendengar penjelasan yang lebih jelas."Ia menatap Reivan dengan raut penuh kebingungan."Siapa sebenarnya mereka di kehidupanmu sebelumnya? Dan apa yang sudah mereka lakukan sampai-sampai kau bisa setega itu ke mereka?” Reivan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah mobil tua yang terparkir di dekatnya, lalu duduk di bemper depan mobil itu. Lalu tongkat baseballnya ia letakkan di pangkuannya. Pundaknya merosot, dan kepalanya sedikit tertunduk. "Mereka memanfaatkan ku yang masih naif dan terlalu muda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.