LOGINNihara Xuyue, wanita misterius yang jatuh dari celah dimensi, dituduh penyusup dan dijadikan Selir ke-7 Kaisar Tian Yanzhou. Tak seorang pun tahu, di balik senyum lembutnya tersembunyi kekuatan yang mampu mengguncang langit, Petir Sutra Ketiadaan. Ia bukan sekadar selir, melainkan Saint King dari Alam Ketiadaan. Demi misi rahasia, ia harus menyembunyikan identitasnya, berpura-pura lemah, dan bertahan di tengah kecemburuan Permaisuri serta enam selir lainnya yang ingin menghancurkannya. Namun ketika darah mulai tertumpah dan kekuatan gelap dari Alam Dewa turun, dunia akhirnya menyadari satu kebenaran: “Jangan sentuh Selir Ke-7. Ia adalah kematian yang berwujud keindahan.” Dalam cinta dan kehancuran, siapakah yang akan tetap berdiri di puncak langit?
View MoreDarah di bibir Xuyue terasa asin. Itu satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.
Langit malam di Alam Kaisar Langit biasanya tenang, dihiasi ribuan bintang yang berkilau seperti permata. Namun malam itu, ketenangan hancur. Suara retakan menggema di angkasa, seolah ada tangan raksasa yang merobek tabir semesta. Cahaya ungu keperakan menyembur keluar, membelah langit menjadi dua. Burung spiritual berjatuhan, binatang buas meraung ketakutan, dan para kultivator yang bermeditasi di seluruh penjuru alam terbangun dengan wajah pucat. Di kuil-kuil tua, lonceng kuno yang sudah ratusan tahun bisu tiba-tiba berdentang sendiri, seolah alam semesta ikut merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bencana biasa. Celah dimensi melebar, berputar seperti pusaran neraka. Petir tanpa suara menyambar, menghantam udara dengan kekuatan yang membuat gunung-gunung di kejauhan bergetar hebat. Di tengah pusaran itu, tubuh seorang perempuan melayang tak berdaya. Rambut hitam panjangnya berkibar liar, gaun putihnya berlumuran darah. Setiap kali petir menyambar di sekitarnya, cahaya itu memantul di kulitnya yang pucat, membuatnya tampak seperti lukisan yang sedang hancur perlahan, indah dan mengerikan dalam waktu bersamaan. Nihara Xuyue. Matanya setengah terpejam, napasnya tersengal. Di dalam dadanya, rasa sakit menjalar bukan hanya dari luka fisik, tetapi dari segel yang mengekang kekuatannya, menekan seperti rantai yang tak pernah longgar walau ia sudah sekarat. 'Aku jatuh… apakah ini akhirku? Atau awal dari sesuatu yang lebih buruk?' Ada ketakutan kecil yang menyusup di balik ketenangannya, sesuatu yang jarang ia izinkan muncul. Selama seratus tahun terakhir, ia hampir lupa bagaimana rasanya benar-benar takut. Tubuhnya terlepas dari pusaran, jatuh menembus lapisan langit. Ia menghantam hutan lebat di bawah dengan ledakan dahsyat. Pohon-pohon raksasa tumbang, tanah terbelah, kawah besar terbentuk. Hewan-hewan spiritual melarikan diri sejauh mungkin, meninggalkan hutan itu dalam keheningan yang ganjil. Ledakan itu begitu besar hingga menara pengawas di perbatasan istana berguncang. "Komandan! Ada sesuatu jatuh dari langit!" teriak seorang pengawal, suaranya nyaris pecah karena panik. Komandan pasukan segera berdiri, tangannya mencengkeram gagang pedang bahkan sebelum ia sadar melakukannya. "Bentuk barisan! Kita harus memeriksa sumber ledakan itu. Cepat!" Puluhan pengawal berlari menembus hutan, cahaya obor mereka bergetar di antara pepohonan. Aroma tanah terbakar memenuhi udara. Ketika mereka tiba di lokasi, semua terdiam. Di tengah kawah yang masih mengepulkan asap, berdiri seorang perempuan. Tubuhnya bergetar lemah, namun kecantikannya membuat semua pengawal menahan napas. Aura samar yang keluar dari tubuhnya membuat pedang mereka bergetar, seakan besi itu sendiri mengenali sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah mereka hadapi. "Siapa dia…?" bisik salah satu pengawal. "Apakah dia dewi… atau iblis?" tanya yang lain. Komandan maju selangkah, pedangnya terangkat meski tangannya bergetar. "Bersiap! Jangan lengah! Wanita ini bukan orang biasa." Xuyue membuka matanya perlahan, lalu tersenyum samar, sebuah senyum yang disusun dengan susah payah di balik rasa sakit yang masih membakar setiap ruas tubuhnya. 'Aku tidak boleh menunjukkan kelemahanku. Jika mereka tahu siapa aku sebenarnya, segalanya akan berakhir sebelum dimulai.' Ia menahan gemetar di ujung jarinya, memaksa punggungnya tetap tegak. Satu kesalahan kecil, dan seratus tahun perencanaan bisa hancur dalam semalam. Beberapa saat berlalu tanpa ada yang berani bergerak. Seorang pengawal muda mencoba maju atas perintah, namun baru dua langkah, tubuhnya terhenti sendiri, wajahnya memucat. "Komandan… aku tidak bisa bernapas dengan benar. Energi ini terlalu berat." "Tetap tenang. Jika kau goyah sekarang, kau akan mati sebelum sempat menghunus pedangmu," sahut Komandan tanpa menoleh, meski jantungnya sendiri berdegup jauh lebih cepat daripada yang ingin ia akui. Xuyue menatap ketakutan mereka dengan tenang, seolah menikmatinya tanpa harus mengangkat jari. Di baliknya, ada kelegaan pahit, karena ketakutan mereka berarti ia belum perlu membuka kartu sesungguhnya. "Kalian takut padaku?" Para pengawal saling pandang. Tidak ada yang berani menjawab. "Siapa kau? Dari mana asalmu?" tanya Komandan. "Aku… hanya seseorang yang jatuh dari langit." Bisik-bisik semakin ramai. "Jatuh dari langit? Mustahil…" "Apakah dia utusan dewa?" "Atau iblis yang menyamar?" "Cukup. Apa pun dia, kita tidak bisa memutuskan di sini. Kita harus membawanya ke istana. Hanya Yang Mulia Kaisar yang berhak menentukan nasibnya," ucap Komandan, memotong semua suara. "Bagaimana jika dia berbahaya, Komandan? Bagaimana jika ia menghancurkan kita semua begitu sampai di istana?" "Jika dia ingin membunuh kita, kita semua sudah mati sejak tadi. Fakta bahwa kita masih hidup berarti ia tidak berniat menyerang." Xuyue menutup matanya sejenak, menahan rasa sakit yang berdenyut dari dalam. 'Aku harus menahan diri. Jika aku melepaskan sedikit saja kekuatan sejati, mereka akan tahu siapa aku. Aku harus masuk ke istana. Dari sana, aku bisa mengendalikan arah takdirku.' Namun jauh di lubuk hatinya, satu pertanyaan terus berdenging: berapa lama lagi ia bisa menahan topeng ini sebelum retak dengan sendirinya? Suara terompet panjang terdengar dari kejauhan. Seorang perwira tinggi turun dari kuda spiritualnya. "Apa yang terjadi di sini?" Komandan berlutut. "Yang Mulia Perwira, seorang wanita jatuh dari langit. Ledakan energinya membentuk kawah ini. Kami menemukannya masih hidup." Perwira itu menatap Xuyue, wajahnya berubah, campuran keterkejutan dan ketakutan. "Kecantikan seperti ini… bahkan legenda pun tidak pernah menyebutkan hal serupa." Ia menoleh pada Komandan. "Bawa dia ke istana. Jangan sakiti, jangan ikat dengan rantai. Jika dia benar-benar makhluk dari luar alam, memperlakukannya kasar hanya akan membawa bencana." Rombongan mengiringi Xuyue keluar dari kawah. Xuyue melangkah perlahan, setiap langkahnya membuat tanah bergetar halus. Para pengawal menelan ludah, sebagian menundukkan kepala, tidak sanggup menatap wajahnya terlalu lama. Tepat sebelum rombongan mencapai tepi hutan, Xuyue merasakannya, sebuah tatapan berbeda dari semua tatapan takut dan kagum malam itu. Tatapan ini tidak gentar. Tatapan ini seolah sudah tahu siapa dirinya. Di balik pepohonan, sepasang mata tua mengamati dengan penuh minat. Kepala pelayan istana, Leluhur Tian Zhenxu, tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah terlihat siapa pun selama seratus tahun ia menyamar sebagai pelayan biasa. "Menarik… sangat menarik. Seorang wanita jatuh dari celah dimensi, dengan aura yang bahkan membuatku merinding. Siapa sebenarnya kau, gadis misterius?" Para pengawal membawa Xuyue menuju istana, tanpa tahu bahwa sepasang mata tua yang mengikuti mereka menyimpan rahasia yang, jika terbongkar malam itu juga, akan mengubah nasib seluruh Alam Kaisar Langit selamanya.Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Naga Emas, membiaskan kilau keemasan di atas lantai giok hijau yang berkilat dingin.Nihara Xuyue melangkah perlahan melintasi lorong pilar, gaun sutra putihnya berdesir lembut menyapu lantai marmer. Dayang-dayang penjaga yang berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Bukan sekadar rasa hormat pada status barunya, melainkan pancaran hawa murni dan pesona asing dari wanita itu yang membuat dada mereka sesak jika memandangnya terlalu lama.Xuyue memasuki aula peristirahatan pribadi tempat Kaisar Tian Yanzhou telah menantinya.Sejak jamuan perkenalan tempo hari, sang kaisar semakin sering menitahkan panggilannya, seolah ingin memastikan keberadaan sang selir baru tetap berada dalam jangkauan tatapannya.Kaisar duduk di singgasana kayu cendana hitam dengan jubah berhiaskan bordir naga emas.Pandangannya yang terkenal tajam dan membekukan musuh di medan perang seketika melunak begitu sosok bergaun putih itu melangkah masuk.
Pendaran lampu minyak zaitun menerangi paviliun utama harem ketika kabar pengangkatan resmi Xuyue sebagai Selir Ketujuh menyapu seluruh sudut kediaman wanita istana.Malam itu, atas titah sang Permaisuri, keenam selir dikumpulkan dalam satu ruangan tertutup. Asap dupa melati menguar tebal dari pembakar perunggu, namun keharuman itu gagal menutupi aroma ketegangan yang merayap di udara.Permaisuri Luo Meiyan duduk di kursi kayu gaharu berukir burung feniks. Jemarinya yang ramping bertumpu tenang di sandaran kursi, namun sepasang matanya menyiratkan gelombang kemurkaan yang tertahan.Di hadapannya, keenam selir duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran dengan balutan sutra terbaik mereka.Lian Qixue, yang menempati posisi terdepan dekat singgasana Permaisuri, membetulkan lipatan gaun biru muda berbordir anggrek miliknya.Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat terukur. Di kalangan wanita bangsawan, Lian Qixue terkenal sebagai perajin kata-kata manis yang sanggup menusuk
Semburat fajar baru saja menyentuh bubungan atap istana ketika dentum genderang perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.Gelombang suaranya menggelegar membelah kabut pagi, menyusup ke setiap sudut paviliun dan menandakan panggilan titah kaisar yang tak dapat ditunda.Ratusan pasang kaki bergegas melintasi koridor utama. Para menteri, panglima perang, dayang istana dan keenam selir berduyun-duyun memenuhi balairung agung.Udara fajar yang menusuk kulit mendadak memanas oleh dengung bisik-bisik yang tertahan di balik lengan baju sutra."Pengumuman sepagi ini..." bisik seorang pejabat muda seraya melirik rekan di sampingnya."Kudengar ini mengenai wanita yang jatuh bersamaan dengan hancurnya langit perbatasan," sahut menteri lain dengan suara tercekat di tenggorokan. "Apakah Yang Mulia benar-benar akan memberinya gelar?"Dengung perbincangan itu padam seketika saat pintu ganda kayu cendana terbuka lebar.Kaisar Tian Yanzhou melangkah tegap memasuki aula. Jubah hitam bersulam benang em
Kaisar Tian Yanzhou belum pernah kehilangan kata-kata di depan siapa pun. Malam itu, ia hampir lupa cara bernapas.Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor ketika rombongan pengawal memasuki gerbang utama. Suara langkah kaki mereka bergema, membawa hawa asing yang membuat para dayang dan penjaga istana menoleh dengan wajah penuh tanya. Di tengah barisan, berjalan seorang perempuan dengan gaun putih yang koyak, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya tertutup debu serta darah kering.Namun meski tampak lemah, setiap langkahnya memancarkan keanggunan yang membuat semua orang terdiam, seolah ada sesuatu di balik langkah gontai itu yang menolak untuk terlihat rapuh sepenuhnya."Siapa dia…?" bisik seorang dayang."Aku tidak pernah melihat kecantikan seperti itu," jawab yang lain dengan suara bergetar.Xuyue menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajah. 'Aku harus tetap tenang. Setiap mata di sini adalah ujian. Jika aku goyah, mereka akan menganggapku lemah.' Ia men
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.