MasukYa, inilah yang ditakutkan oleh Mutiara. Seakan peristiwa-peristiwa yang menakutkan sedang mengintai untuk mewujudkannya. Mutiara tidak rela kalau Lila berada di bawah pengasuhan seorang penjahat. Apalagi harta yang ia mililiki adalah pemberian Alvin.Hal bodoh itu tidak mungkin terjadi. Mutiara berisi keras untuk tetap mempertahankan Lila dan harta yang diberikan oleh Alvin. Ia tidak sampai hati, kalau semua yang Alvin dapatkan, diambil oleh Farel Arfando.“Ya, sudah sekarang Sus Nini boleh istirahat. Biar Aku yang mengurusi Lila.”“Tidak perlu Nyonya, saya baik-baik saja. Tapi saya takut kalau harus keluar dari gerbang rumah ini.”“Kalau begitu, mulai saat ini Sus Nini dan Sus Rina mengajak Lila dan Brigita bermain di teras rumah, di halaman dan di taman rumah saja. Saya kira tempat seluas ini tidak akan membosankan, bukan?”“Baik, Nyonya.” Suster Nini membalikkan badannya untuk menemui Lila.“Oh ya, kalau temen-temenmu yang kerja di mini market, atau pengasuh lainnya mau main. Aja
Seketika tubuhnya lunglai. Namun Suster Nini yang sedang merangkulnya menyadari keadaan Mutiara. Ia segera berteriak memanggil Mutiara.“Nyonya … Nyonya, bangun. Jangan pingsan, Nyonya.”Mutiara yang kaget berusaha melawan kelemahannya. Dengan sekuat tenaga ia memaksa dirinya untuk tetap tegak.Wajahnya memucat keringat dingin menetes di pelipisnya. Pelan-pelan ia mengatur napas. Rasa takut justru menyergapanya. Mutiara takut kalau Melinda akan menggunakan Farel Arfando untuk mengganggunya.Ingatannya kembali ketika ia tinggal di panthouse Melida menakut-nakutinya kalau Melinda akan menyerahkan Mutiara pada Farel Arfando. Kini Farel sudah berani muncul di dekat tempat tinggalnya. Bahkan ia tahu kalau Suster Nini yang mengasuh Lila.“Jangan ambil Lila,” gumam Mutiara.Serta merta kekuatannya kembali pulih. Ia menarik Sus Nini untuk segera pulang ke rumah. para pengawal seketika heboh. Mereka berpencar untuk menyisir tempat-tempat yang dimungkinkan menjadi tempat persembunyian Farel Ar
Pagi-pagi Mutiara begitu kerepotan menyiapkan sarapan para pengawal dan seluruh penghuni di rumah besar itu. Semalam Si Bibi sudah diberhentikan. Alvin tidak tega melihatnya.“Sayang sebaiknya kita pesan saja.”“Jangan, akan terlalu besar biayanya,” tolak Mutiara. “Kita harus menyiapkan banyak daging dan ikan.”“Tapi gak mungkin kan, kamu harus masak tiga kali setiap hari,” jelas Alvin.“Ya, aku sudah menghubungi Ibu Sulastri, sore ini ada orang yang akan datang untuk bantu-bantu di rumah ini.”“Oh, kalau begitu biar anak-anak yang jemput.” Alvin menghela napas. “Untuk keamanan sebaiknya kamu dan anak-anak meminimalisir untuk bepergian. Brigitta dan Lila juga ke Rumah Main harus dengan pengawalan lebih ketat.”Raut wajah Alvin menunjukkan kesedihan. Ia merasa sangat bersalah terhadap Mutiara. Sejak mereka dekat, di sanalah penderitaan mulai bermunculan. Bahkan Mutiara harus kehilangan kedua orang tuanya.Mutiara memperhatikan Suaminya. Ia sangat khawatir dengan keadaan perusahaannya.
Mutiara tercengang tidak menyangka pembantu yang ia percaya telah berkhianat. Naluri sebagai ibu yang ingin melindungi anaknya pun muncul. Ia berniat menyerang si Bibi, tapi ia urungkan karena ia ingin mendapatkan informasi lebih jauh dari percakapan Bibi dengan seseorang diseberang telepon.[Sekarang, nona Brigitta sudah ditangani dokter.][Baik Nona, saya akan lebih teliti lagi.][Siap Nona, tolong beritahu saya jika rencana itu akan dilaksanakan.][Dalam minggu ini?][Baik akan saya rahasiakan.]Keringat dingin menetes di pelipis Mutiara. Giginya bergeretak menahan kekecewaan. Mutiara segera pergi meninggalakan Bibi. Ia memberi tahu Alvin atas apa yang ia dengar.Alvin dan Danang pun marah. Mereka segera memanggil Bibi untuk ditanya. Mutiara tidak bergabung. Ia harus mengawasi Brigitta dan Lila beserta para baby siternya.“Siapa yang menyuruhmu?”Bibi hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Isak tangis Terdengar menyesakkan. Ada rasa tidak tega dari keduanya . Namun Tindakan pengh
Sebenarnya segala kemungkinan terburuk sudah ia prediksi. Tanpa sepengetahuan Alvin dan Danang Mutiara menelpon pengawalnya untuk bersiap karena ia hendak pulang.“Sayang, sepertinya aku harus pulang sekarang. Sebentar lagi waktunya menyusui Brigitta.”“Ya, kita pulang bersama-sama. Aku sedang kacau pikirannya.”“Gak … per … perlu. Maksudku gak perlu. Aku pulang sendiri saja,” jawab Mutiara terbata-bata.Alvin memincingkan matanya ke arah Mutiara, dahinya berkerut. Melihat Mutiara tampak salah tingkah ia pun berusaha mencari tahu. Tapi ia harus berbicara dengan Danag dan sekretarisnya yang baru saja bergabung.Alvin pun terlibat diskusi. Sesekali pandangannya ia alihkan pada Mutiara yang sedang kebingungan. Ia mondar mandir. Alvin pun semakin penasaran atas apa yang sedang terjadi. ia pun menyerahkan semua urusan pada Danang.“Pak Danang tolong diskusikan dengan dia. Aku akan pulang sekarang.”Setelah Bersiap-siap, Alvin menggandenga Mutiara. ia sengaja tidak menanyakan apapun. Yang i
Tangannya kuat mencengkeram kerah Baju Randi. Tindakan Alvin membuat Randi kesulitan bernapas hingga ia terbatuk-batuk. Randi berusaha keras melepaskannya ia hanya mampu sedikit melonggarkan cengkraman itu.Danang secepatnya memisahkan mereka. “Bos, lepaskan … jangan gegabah. Kita bicarakan baik-baik.”Alvin tidak bergeming, namun bujukan Mutiara membuatnya melepaskan cengkraman itu.“Sudah Sayang … Kalau seperti ini, kapan selesainya?”“Trimakasih Tuan Alvin,” ucapnya pelan dengan nada kesal.Alvin kembali duduk di tempatnya. Sementara Danang duduk di samping Randi tepat bersebrangan dengan Alvin hanya sebuah meja kerja yang menjadi penghalangnya.Rasa gusar masih memenyelimuti Alvin. Mutiara hanya menyodorkan air minum pada suaminya namun dengan lembut Alvin menolaknya.“Aku gak butuh ini Sayang ….”Mutiara segera menyingkirkannya. Memahami hal penting akan dibicarakan diantara mereka bertiga, Mutiara meminta ijin pada Alvin untuk meninggalkan mereka, namun Alvin justru meminta Mut




![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)


