ログインMutiara seorang janda cantik beranak satu melamar menjadi ibu susu bagi anak mantan kekasihnya. Ia sedang membutuhkan dana untuk biaya operasi bayinya. Mantan ke kasihnya, Alvin, kini menjadi orang kaya raya. Dulu Mutiara meninggalkannya karena dijodohkan oleh orang tuanya. Alvin telah memiliki perusahaan di bidang infrastruktur berkat mertuanya seorang konglomerat. Istri Alvin baru saja meninggal dunia. Namun, Alvin menolak keras Mutiara menjadi calon ibu susu bagi anaknya. Rasa dendam yang besar terhadap Mutiara membuatnya tak segan-segan melontarkan kalimat yang merendahkan wanita itu. Demi keselamatan bayinya Mutiara rela dihina oleh Alvin, meskipun dalam lubuk hatinya ia sangat kecewa dengan perubahan Alvin yang sudah tidak mencintainya lagi tapi justru sangat membencinya. Belum lagi ia harus menghadapi adik dari mendiang istri Alvin yang melakukan segala cara untuk mendapatkan cinta Alvin. Akankah Mutiara yang cantik bisa kembali menaklukkan hati Alvin, seorang duda kaya nan tampan, atau justru akan membawanya pada penderitaan karena cintanya bertepuk sebelah tangan ?
もっと見る“Anak Ibu mengalami obstruksi usus, atau penyumbatan usus. Ia harus dioperasi secepatnya,” ujar dokter.
Dada Mutiara seolah dihantam benda tumpul. Napasnya tersengal. Ketakutan yang ia bawa sejak dari rumah meledak jadi kepanikan murni. Ia tidak sanggup kehilangan bayinya, tapi juga tidak tahu dari mana harus mencari uang untuk menyelamatkannya.
Pagi buta tadi, Mutiara panik ketika melihat bola mata Lila melotot ke atas, tubuh mungil itu kejang-kejang. Ia langsung melarikannya ke rumah sakit. Bayi berusia tiga minggu itu sempat memuntahkan cairan kehijauan. Perutnya bengkak, keras, dan suhu tubuhnya terus naik.
Kini, di depan dokter, Mutiara hanya bisa menangis tersedu, meremas jari-jari tangannya sendiri. Rasa marah dan sesal menggelegak ketika mengingat ibunya, Sulastri, yang diam-diam menyuapi Lila dengan pisang. Tapi pikirannya terlalu kalut untuk menyalahkan siapa pun.
Tangisan Lila terdengar lirih, seperti memohon pertolongan. Mutiara memeluk erat tubuh kecil itu, tak ingin lepas.
“Dokter… Lila… tolong anak saya…” ucapnya dengan suara gemetar.“Ibu, tenang dulu,” ujar sang dokter, sementara suster segera mengambil Lila dari pelukannya dan membaringkannya di ranjang kecil.
Air mata Mutiara tak berhenti. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dunia seolah runtuh di hadapannya. Dalam hati, ia bersumpah akan menyelamatkan anaknya, apa pun caranya—meski harus menjual ginjal sekalipun.
Tak lama, dokter kembali. “Bu, Lila harus dirawat di NICU. Tubuhnya makin lemah. Kita harus bertindak cepat.”
“Iya, Dok... tolong lakukan yang terbaik…” suaranya patah-patah.Di ruang NICU, dua suster menempelkan selang-selang ke tubuh mungil Lila. Mutiara hanya diperbolehkan masuk sebentar.
“Sus, boleh saya menciumnya?” tanyanya lirih. “Boleh, tapi sebentar ya,” jawab suster lembut.Mutiara menunduk, mencium wajah pucat Lila berkali-kali. “Mamah sayang kamu… kuat ya, Nak,” bisiknya.
Tangisnya kembali pecah ketika suster menepuk bahunya, mengisyaratkan ia harus segera keluar, itu artinya ia tidak diperkenankan lagi masuk ke ruangan NICU sampe tindakan operasi.Di luar ruangan, air matanya tak berhenti. ASI-nya mengalir deras, membasahi bajunya—tanda tubuhnya masih ingin menyusui anaknya yang kini terbaring tak berdaya.
Seorang suster melihatnya dan berkata, “Bu, ASI Ibu sangat deras. Ada bayi bernama Brigitta, ibunya meninggal pagi ini. Kami butuh donor ASI. Kalau cocok, Ibu akan dapat imbalan besar. Brigitta anak orang kaya.”
Mutiara tercekat. Antara sedih dan harapan. “Saya mau, Sus. Tolong tes saya.”
Sambil menunggu hasil tes, Mutiara berjalan di koridor rumah sakit. Ia berharap uang dari donor ASI bisa membantu biaya operasi Lila.
Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara seorang wanita dari kejauhan.
“Sabar, Alvin… kamu harus kuat demi Brigitta. Dia cuma punya kamu.”Deg.
Nama itu—Alvin—membuat darahnya berdesir. Ia menoleh. Di ujung lorong, seorang pria tampak lemas, rambutnya berantakan, dipapah dua orang.Mutiara mengenalinya.
Itu Alvin. Mantan suaminya.“Alvin…” desisnya pelan.
Lalu siapa Brigitta? Anak itu… calon bayi yang akan menerima ASI-ku?Alvin pun melihatnya. Pandangan mereka bertaut sesaat, dan amarah lama menyeruak dari matanya. Ingatan tentang masa lalu kembali berputar di kepalanya—tentang pernikahan diam-diam, utang yang menjerat, dan orang tuanya yang kehilangan segalanya demi Mutiara.
“Aku tidak akan memaafkanmu, Tiara,” gumamnya di antara rahang yang mengeras.
Langkah Mutiara goyah. Saat posisinya sejajar, kakinya tersandung, tubuhnya hampir jatuh—dan spontan Alvin menangkapnya.
“Ka… kamu…” “Kamu masih berani muncul di depanku?” bentaknya tajam.“Sial! Melinda telah mengganggu urusan kita. Ternyata kemampuannya diatas prasangkaku,” terang Nando dengan kesal.“Memangnya ada apa? aku gak tahu apa yang kamu ucapkan,” selidik Stevani.Nando yang sedari tadi modar madir di hadapan Stevani, ia segera duduk di sampingnya dengan menghentakkan badaanya ke sofa. Ia segera menyalakan cerutu mahalnya, hisapan asapnya begitu dalam, memenuhi rongga pernafasannya. Dengan pelan ia menghembuskannya. Kepulan asap bergulung gulung saling berkekjaran di udara yang makin lama makin pudar dan menghilang begitulah seterusnya.Setelah dirasa cukup memberikan ketenangan padanya, Nando menghentikan aktifitasnya sementara. “Keabsahan surat kepemilikan lahan itu mulai diulik oleh pemerintah, bahkan sedang dibuat undang-undang baru untuk mengambil alih lahan-lahan yang dulu dimiliki oleh suatu wilayah pemerintahan.”“Bagaimana Melinda bisa melakukan semua itu?” tanya Stevani keheranan, ia pun melanjutkan kaliamatnya. “bukankah selama ini semua pengusaha
Dua hari pun berlalu, Alvin sudah mulai siuman. Mutiara merasa lega, begitu pun dengan Danang. Alvin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu pandangannya mengamati seluruh ruangan rumah sakit.Mutiara tersenyum, “Sayang, kamu segera pulih. Jangan pikirkan hal-hal berat dulu.”Alvin hanya mengangguk. Ia pun menatap lekat ke arah Mutiara cukup lama. Lalu ia mengarahkan pada Danang. Sebagai sahabatnya yang selalu menemani di saat-saat genting dalam hidup Alvin, terbersit rasa gembira.“Bos, ada yang bisa saya bantu? Katakana lah.”“Tolong panggilkan dokter.”“Baik Bos.”Mutiara merasa cemas seketika. Raut wajah Alvin tampak kebingungan. Apakah ada hal serius yang dirasakan oleh suaminya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya.“Sayang, kamu kenapa?”“Gak, papa ….”Air mata menetes di sudut mata Alvin, dengan lembut Mutiara mengelap air mata suaminya yang hendak menyebrang ke telinganya. Alvin menghalaunya, lalu ia menggenggam tangan istrinya dengan kencang.“Sayang maafin aku ya …
Tiga set alat make up dengan merek ternama keluaran brand dari negara-negara Eropa berjajar di atas meja rias. Mutiara terus memoles wajahnya dengan trampil. Ia mencampurkan beberapa palet blash on untuk diaplikasikan ke pipinya yang sudah terbentuk indah. Kini ia semakin cantik. Alvin tersenyum puas dengan kecantikan istrinya.“Sayang kamu cantik sekali, apalagi dengan make up itu.”“Iya dong ….”Alvin mencubit pipi Mutiara seraya berkata, “Ih, gak bilang terimakasih kalau di puji, malah lebih narsis.” Alvin dan Mutiara pun terkekeh.Keduanya memasuki sebuah mobil mewah keluaran pabrik Eropa. Beberapa mobil pengawalan pun turut menyertai mereka. Sepanjang perjalanan Mutiara merasakan hal yang aneh, ada beberapa mobil yang mengikutinya, bahkan ia sempat melihat Melinda ada di dalamnya. Namun ia tidak ingin Alvin menjadi khawatir mengingat pengawalan yang mereka cukup mumpuni.Mobil mulai memasuki area parkiran. Mutiara masih merasakan kejanggalan, karena mobil yang ditumpangi Melinda
Wajah Bandrio tampak gusar. Ia merasa Nando sudah berani main-main dengan dirinya, bahkan Alvin pun turut serta. Dengan kasar ia berdiri dari tempat duduknya.Melinda segera, menggengam tangan Bandrio. Ia mencoba untuk menenangkannya. Seakan tak perduli dengan permintaan Melinda ia bergegas meninggalkan mereka.“Papah ….” Melinda beranjak dari duduknya hendak mengejar Bandrio, tapi ia pun berpesan pada Raka, “Raka tolong tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan.”“Ok, saya tunggu ya, Nona Melinda.” Anggukan Raka, membuat Melinda tak ragu-ragu meninggalkannya.Melinda yang masih muda, mampu menyusul Bandrio yang sedang berjalan dengan beberapa ajudannya. Ia berupaya dalam kondisi sejajar untuk membersamainya. Melinda sempat melirik ke wajah Bandrio, di sana tampak wajah memerah dengan rahang mengeras.“Pah, aku bisa menyelesaikan masalah ini. Berikan kepercayaan itu padaku.”Bandrio menghentikan langkahnya. Ia menatap putrinya dengan tatapan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. I
“Oh, aku hanya penasaran tentang sesuatu,” Ujar Melinda, senyum licik terukir di bibirnya.“Apakah gerangan?” tanya Raka dengan antusias.“Beberapa waktu yang lalu saya melihat anda begitu dekat dengan seorang janda ….”Raka mengrenyitkan dahinya dengan mulut mengatup. Ia mencoba menebak apa yang d
“Sial! … kita terlambat. Kita tidak bisa menggunakan jasa preman dengan jumlah yang lebih dari mereka.” Dengan wajah kesal seraya menengok pada para preman yang sedang berjaga. Tatapannya dipenuhi amarah.“Ya Tuhan ….” Suaranya bergetar. Stevani merasa bersalah pada Melinda atas sikapnya di kafe ta
Untuk memastikan, apa yang sebenarnya terjadi, Melinda menghampiri Randi. Sementara giginya bergeretak.n “Selamat siang Pak Randi.” Kalimatnya terdengar mengintimidasi. Kedua tangannya mengepal sembari bersedekap.“Oh … selamat siang, Nona Melinda.” Wajahnya tampak menegang dengan senyum yang dipa
“Tuan Alvin!” panggilnya dengan suara menghentak ruangan, hingga tercipta gema di ruangan yang luas itu.Suaranya terdengar begitu maskulin, berbeda ketika Guawn sebelumnya berbincang dengan suara kemayu.Suara itu membuyarkan konsentrasi Alvin dan Mutiara yang sedang mengagumi keindahan gaun yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと