MasukFlashback On.
Malam itu, di hutan yang sunyi dan gelap, udara dingin merayap perlahan di antara pepohonan tinggi, membuat dedaunan berdesir pelan seolah berbisik. Kabut tipis menggantung rendah, menelan cahaya bulan yang pucat, sementara tanah lembap di bawah kaki terasa dingin.Ashlyn berjalan menuju salah satu pohon di hutan itu, dia menatap sekeliling hutan yang dia kunjungi."Ibu Lio," panggil Ashlyn saat melihat seorang wanita dengan gaun indah menjulang."Ashlyn? ada apa nak?" Suara lembut wanita itu memecah keheningan dinginnya malam di hutan itu."Maaf mengganggu waktu Ibu mengisi energi... tapi, saya butuh bantuan Ibu kali ini," ujar Ashlyn lirih."Bilang saja nak, ada apa?"Ashlyn menatap Ibu Lio dengan tersenyum lembut. "Ibu bisa menolongku?"Ibu Lio mengangguk. "Tentu saja, katakan ada apa?"Ashlyn mendekat, membisikkan sesuatu kepada Ibu Lio."Apakah Ibu bisa membantuku menaruhSetelah kesadaran Kael benar-benar pulih, Anora akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Dia sempat kembali ke ruang perawatan, sekadar memastikan Kael stabil. Sebastian sudah menangani lukanya dengan tenang dan teliti, sihir penyembuhnya bekerja perlahan namun pasti. Tidak ada lagi kepanikan. Tidak ada lagi napas yang tersendat atau detak jantung yang nyaris menghilang.Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu berakhir, Anora mengizinkan dirinya sendiri untuk beristirahat.Malam telah turun sepenuhnya ketika ia berdiri di depan jendela kamarnya. Kota membentang luas di bawah sana, berkilauan dalam cahaya lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh yang tak pernah padam. Dari ketinggian itu, semuanya tampak tenang—terlalu tenang, bahkan."Banyak sekali yang berubah," gumam Anora lirih.Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah keluar bersama embusan napas yang dia lepaskan perlahan. Bahunya turun sedikit, tubuhnya terasa lebih ringan namun pikirannya justru semakin penuh."
Hari-hari berlalu tanpa benar-benar meninggalkan jejak.Apartemen Anora tetap berada dalam keadaan yang sama—perlindungan sihir berdenyut stabil, cahaya tipis mengalir di dinding seperti nadi yang tidak pernah tidur. Di dalamnya, waktu bukan lagi garis lurus, melainkan lingkaran kecil yang terus berputar di sekitar satu hal: napas Kael.Anora menjadi pusat lingkaran itu.Dia jarang benar-benar tidur. Jika pun matanya terpejam, itu hanya beberapa menit—cukup untuk membuat tubuhnya tidak roboh. Begitu napas Kael berubah, sekecil apa pun, Anora selalu terjaga. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan kesadarannya dengan ritme di ranjang itu.Pada hari ketiga, Sebastian mencatat sesuatu."Napasnya," katanya pelan, sambil mengamati simbol sihir yang bergetar halus di udara. "Mulai menyesuaikan."Ink menoleh. "Menyesuaikan bagaimana?""Sinkron," jawab Sebastian. "Saat Anora tenang, napas Kael ikut stabil. Saat dia lelah—irama Kael ikut goyah."Anora mendengarnya. Dia tidak menoleh.
Apartemen Anora tidak pernah terasa setenang ini. Perlindungan sihir aktif di setiap sudut—lapisan cahaya tipis berdenyut lembut di dinding, jendela, dan lantai. Dunia di luar boleh saja runtuh, tapi di dalam sini, segalanya terkunci. Aman. Sangat aman. Kael dibaringkan di tengah lingkaran perlindungan utama—di atas ranjang Ink. Dadanya naik turun teratur. Napasnya ada—kembali, sebelum tadi sempat menghilang. Kulitnya tidak sedingin sebelumnya. Secara teknis, semua tanda kehidupan masih melekat pada tubuh itu. Namun tidak ada satu pun yang terasa benar. Anora duduk di sampingnya sejak mereka tiba. Jaketnya masih berlumur debu dan sisa sihir, rambutnya acak-acakan, tapi dia tidak peduli. Tangannya bertumpu di sisi Kael, jari-jarinya sesekali bergerak kecil—merapikan kerah baju, meluruskan lipatan kain. "Kau selalu keras kepala," gumamnya pelan, seperti mengomel biasa. "Tidak pernah mengeluhkan apa pun, ke siapa pun..." Kael tidak menjawab. Sunyi itu merayap pelan, bukan menghant
Setelah kemusnahan sang Ghoul, medan perang tidak langsung menjadi sunyi.Dia hanya… perlahan kehilangan suaranya.Api naga masih menyisakan panas di udara, cahaya keemasan Anora berpendar redup di antara asap tipis yang menggantung rendah. Tanah yang tadinya berdenyut oleh sihir kini retak-retak, mengeluarkan uap hangat seolah mengembuskan napas terakhir setelah dipaksa menanggung kekuatan yang bukan miliknya.Ink berdiri terpaku di dekat Kael.Ilusi itu telah pecah, namun rasa dinginnya masih tertinggal di tulang belakangnya. Dadanya naik turun cepat, satu tangannya terkepal, yang lain gemetar tanpa dia sadari. Pandangannya kembali fokus—pada tubuh Kael yang tergeletak tak bergerak, pada darah tipis di pelipisnya, pada sihir pelindung yang sudah lama padam.Belum sempat Ink bergerak, udara di sekeliling mereka bergetar.Penyihir itu masih ada.Dia berdiri beberapa langkah dari reruntuhan pohon besar, jubahnya nyaris tak tersentuh. Tatapannya menyapu mereka satu per satu—Ink, Sebasti
Setelah kedatangan Naga, Anora kembali memusatkan diri pada peperangan di hadapannya. Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Semua yang telah direncanakan—semua kesepakatan sunyi yang dia dan Siluman Naga bicarakan sebelumnya—kini bergerak serempak, seolah satu kehendak yang terbelah dalam dua wujud.Kekuatannya dan kekuatan naga itu bersatu.Api naga dan cahaya Dewi menyatu.Bukan sekadar bertabrakan—melainkan saling mengenali.Cahaya keemasan mengalir deras dari tubuh Anora, berkelindan dengan nyala putih-perak milik Siluman Naga. Dua kekuatan itu berpintal di udara, membentuk pusaran raksasa yang menggantung di atas medan perang. Api itu tidak membakar seperti api biasa. Dia bernapas. Hidup. Bergerak dengan irama yang menyerupai nyanyian kuno—gema purba yang membuat tanah bergetar, akar-akar pepohonan meronta di bawah permukaan, dan langit berdenyut seolah memiliki nadi sendiri.Anora melayang di pusat pusaran itu.Sayapnya terbentang penuh, tiap helai memantulkan cahaya ilahi yang ki
Flashback On. Langit di atas puncak itu tidak sepenuhnya malam, namun juga tak bisa disebut siang. Tidak ada matahari, tidak pula bintang. Hanya bentangan luas kelabu keperakan, di mana awan berlapis cahaya pucat menggantung rendah, berputar perlahan—seolah mengikuti napas makhluk kuno yang bersemayam di sana.Udara terasa berat. Bukan karena tekanan, melainkan usia. Seakan tempat itu telah menyaksikan terlalu banyak perjanjian, terlalu banyak sumpah, dan terlalu banyak pengkhianatan.Anora berdiri di tengah lingkaran batu kuno, langkahnya mantap meski setiap makhluk rasional pasti sudah memilih mundur sejak awal.Di hadapannya—Siluman Naga.Tubuhnya raksasa, menjulang dengan keanggunan yang menakutkan. Sisik putih-peraknya berlapis cahaya yang tidak pernah benar-benar padam, seolah setiap sisik menyimpan pantulan langit purba. Saat dia bergerak sedikit saja, cahaya itu bergeser, hidup, seperti permukaan danau yang disentuh angin.Matanya—emas tua, dalam, dan penuh penilaian—menatap







