Protokol Senyap: Aletheia
ActionTragediDetektifPolisiPembalasan DendamPerjalanan WaktuPengkhianatanBerani
Alena Beatrix mati karena pengkhianatan, dibunuh oleh orang yang paling dia percaya. Namun takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu dengan ingatan tentang kematiannya.
Bertekad mengubah nasib, Alena mulai mengungkap rahasia kelam yang melibatkan ayahnya, organisasi berbahaya, dan sosok misterius di balik semua kehancuran hidupnya. Di tengah permainan penuh kebohongan, dia bertemu Arthur, detektif yang bisa menjadi musuh… atau satu-satunya sekutu yang dia miliki.
Tapi saat masa depan perlahan terulang dan pengkhianatan kembali mengintai, satu pertanyaan tersisa, bisakah Alena benar-benar mengubah takdirnya, atau justru semakin dekat dengan kematian yang sama?
Lesen
Chapter: Bab 29, Lubang KecilArthur menatap Lena sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Kau tahu?""Itu bukan jawabannya.""Itu jawabannya, kau sudah tahu.""Alasannya?""Pusat—""Pakai istilah..." potong Nyra dan Lena bersamaan."Badai utara," lanjut Nyra memberi tahu.Arthur mengangguk pelan. "Badai utara sangat kencang sehingga menghempaskan semua benda yang ada di hadapannya."Lena mengangguk paham. "Aku tidak suka badai, menyebalkan..." gumamnya."Lalu, kenapa sekolahku tidak?" lanjut Lena penasaran."Badai mengira daratan lemah."Lena menatap Nyra, sedangkan yang ditatap mengangguk paham."Begitu ya...""Baiklah, selagi tuan detektif di sini... kita bersantai saja dulu," lanjut Lena menatap Arthur dengan senyum manis."Bukan kah akan mencurigakan jika tidak seperti ini?" ucap Lena pelan hampir seperti berbisik, tidak lupa senyum manisnya yang belum hilang."Tidak ada pilihan lain..." ucap Arthur menghela napas dan pergi ke kasir memesan sesuatu.Nyra yang melihat Arthur pergi langsung menatap L
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-05
Chapter: Bab 28, Belum SelesaiDia mengangkat kepala.Seorang guru berdiri di ambang pintu."Ya?""Tolong ikut saya sebentar."Beberapa siswa langsung menoleh penasaran.Nyra bahkan berhenti memasukkan buku ke tasnya."Kenapa?""Tidak tahu."Guru itu hanya memberi isyarat agar Lena mengikutinya.Lena berdiri lalu berjalan keluar kelas.Sepanjang perjalanan menuju gedung administrasi, dia mencoba menebak-nebak alasan pemanggilan tersebut.Nilainya baik.Tidak membuat masalah.Setidaknya tidak ada yang berhasil membuktikan sebaliknya. Jadi, seharusnya tidak ada alasan khusus.Mereka berhenti di depan sebuah ruangan kecil.Guru itu mengetuk pintu."Silakan masuk."Lena mengangguk pelan lalu membuka pintu.Ruangan itu ternyata sudah berisi beberapa orang.Wakil kepala akademi.Dua staf administrasi.Dan seorang wanita yang belum pernah dia lihat sebelumnya.Semua mata langsung tertuju padanya."Oh."Lena berkedip."Apakah saya sedang dalam masalah?"Salah satu staf hampir tersedak mendengarnya.Wanita asing itu justru
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-04
Chapter: Bab 27, Rencana LenaTiga hari kemudian.Pagi di Aethelgard I—sekolah Lena—berjalan seperti biasa.Suara bel pertama baru saja berhenti ketika para siswa mulai memenuhi koridor utama. Beberapa berlari menuju kelas, sebagian lagi masih mengobrol santai sebelum pelajaran dimulai.Namun suasana itu tidak bertahan lama.Karena lima menit kemudian—seluruh layar informasi akademi menyala bersamaan."Hah?""Ada apa?"Para siswa langsung menoleh.Biasanya layar-layar itu hanya digunakan untuk jadwal ujian atau pengumuman penting akademi.Tapi kali ini yang muncul adalah lambang resmi Otoritas Kota Aethelgard.Ruangan kelas Lena langsung menjadi ramai.Bahkan guru yang baru masuk pun menghentikan langkahnya.Layar besar di depan kelas menampilkan seorang wanita berpakaian formal."Pengumuman resmi dari Dewan Otoritas Kota."Suasana kelas mendadak hening."Sebagai bagian dari perayaan Hari Persatuan Kota, Otoritas Aethelgard akan menyelenggarakan Gala Persatuan tahunan di Grand Hall Pusat."Beberapa siswa langsung
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-02
Chapter: Bab 26, CLASSIFIED : LEVEL 02Hujan turun pelan membasahi jendela kantor investigasi.Langit Aethelgard tampak lebih gelap dibanding biasanya, sementara cahaya lampu gedung memantul samar di jalanan basah kota. Suasana kantor juga tidak jauh berbeda—sunyi, berat, dan dipenuhi rasa lelah setelah hampir semalaman menyelidiki kasus auditor.Sesekali kilat tipis menyambar di balik gedung-gedung tinggi kota, memantulkan cahaya pucat ke ruangan investigasi yang hampir kosong. Beberapa petugas lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan meja-meja kerja yang masih dipenuhi dokumen dan layar data yang belum dimatikan.Arthur masih duduk di depan layar hologram utama.Puluhan data melayang di hadapannya. Nama siswa. Log akses. Waktu kematian. Rekaman kamera yang sempat mati tujuh menit.Dan semakin lama dia melihat semuanya—semakin jelas ada sesuatu yang tidak masuk akal.Tatapan Arthur perlahan berubah tajam.Suara hujan di luar terdengar makin berat, memenuhi keheningan ruangan bersama dengung mesin hologram yang
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-20
Chapter: Bab 25, Jejak yang DihapusPagi di kantor investigasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara ketikan keyboard dan dengung layar hologram memenuhi ruangan redup yang masih dipenuhi aroma kopi pahit sejak beberapa jam lalu. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa ulang data kasus auditor, sementara sebagian lain memeriksa kasus yang berbeda. Arthur berdiri di depan layar utama tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada satu nama besar yang terus muncul sejak tadi. AKADEMI AETHELGARD II. Luke mendekat sambil membawa tablet data baru. "Aku sudah coba akses riwayat database sekolah itu." Dia menghela napas pelan. "Dan hasilnya aneh." Arthur melirik sekilas. "Seberapa aneh?" "Beberapa file siswa hilang." "Hilang?" "Bukan terhapus biasa..." Luke memperbesar tampilan layar. "Seolah identitas mereka tidak pernah ada sejak awal." Arthur terdiam. Data digital di kota Aethelgard hampir mustahil hilang total. Semua aktivitas tersimpan otomatis di server pusat kota. Bahkan catatan pelanggaran kecil pun bisa berta
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-19
Chapter: Bab 24, Lawan yang Tak TerlihatNyra menatap Lena beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan tubuh ke sofa."Aku serius," katanya sambil menunjuk layar ponsel Lena dengan kaleng minumannya. "Kasus seperti ini mulai terlalu sering muncul."Lena tidak langsung menjawab.Tatapannya justru tertuju ke jendela kamar yang memperlihatkan langit pagi Aethelgard. Cerah. Tenang. "Orang yang bekerja bersih seperti ini biasanya bukan amatir," ucap Lena pelan.Nyra menaikkan alis. "Kau terdengar seperti mengenal mereka.""Tidak." Lena tersenyum kecil. "Tapi pola tetaplah pola."Suasana hening beberapa saat. Hanya suara kendaraan samar dari luar apartemen dan bunyi pendingin ruangan yang terdengar pelan memenuhi kamar.Lalu—Bzzt.Ponsel Nyra tiba-tiba bergetar cukup keras di atas meja.Dia melirik layar sebentar, lalu ekspresinya langsung berubah."…Hm?""Apa?" tanya Lena malas.Nyra tidak langsung menjawab. Dia membaca pesan itu sekali lagi seolah memastikan dirinya tidak salah baca."Markas mengirim update."Lena kini mulai
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-18
Chapter: Bagian 109, A Thread Bound by EternityAnora berdiri di balkon, menikmati angin malam yang berembus pelan. Rambutnya berkibar tertiup angin, menyentuh pipinya lalu terlepas kembali, sementara tatapannya terarah ke langit gelap yang dipenuhi kilau bintang, membawa keheningan yang menenangkan."Kau terbangun?" tanya Alaric di belakang Anora. Dia menghampiri Anora, lalu memeluknya dari belakang."Vampir memang makhluk malam, bukan?" Anora menyenderkan kepalanya pada tubuh Alaric.Alaric tertawa pelan. "Hampir lupa kalau kita vampir."Hening.Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan.Tidak lama, Anora mendengar lolongan serigala yang berasal dari hutan–tidak jauh dari tempat hutan Ashlyn."Kau mendengarnya?" tanya Anora.Alaric diam mencoba mendengar apa yang Anora bilang. "Tidak, sepertinya pendengaranmu semakin tajam...""Sungguh? Aku mendengar lolongan Serigala," jawab Anora. Anora terdiam, melihat lurus ke arah hutan. "Kau tahu, mate Selvara?""Suara yang aku dengar tadi, itu dia.
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-16
Chapter: Bagian 108, A Gentle BeginningMalam turun dengan lembut.Anora bersandar di bahu Alaric, menatap bintang-bintang yang berkilau tenang. Kepalanya tidak lagi sakit. Yang tersisa hanya rasa lelah yang manis."Alaric?" bisiknya."Hm?""Kalau suatu hari aku lupa… atau berubah…""Aku akan mengingatmu," jawab Alaric tanpa ragu. "Dalam bentuk apa pun."Anora tersenyum, memejamkan mata.Di kejauhan, Sebastian berdiri sendiri di bawah langit yang sama. Angin malam menyapu mantel putihnya. Dia menatap bintang paling terang, Senyumnya tipis, hampir tak terlihat—namun tulus."Jika ini sudah takdirku di kehidupan ini…" gumamnya nyaris tak terdengar, "…maka biarlah aku bahagia melihatmu bahagia."Langit tetap diam. Tapi bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya.Dan untuk malam itu, dunia membiarkan mereka semua berbahagia.---Malam semakin dalam. Udara dingin mengalir pelan, tapi kehangatan di antara mereka tak berkurang sedikit pun.Alaric menyesuaikan posisinya, satu lengannya melingkari Anora dengan hati-hati, seo
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-15
Chapter: Bagian 107, A Quiet After the StormRasa sakit itu tidak berlangsung lama.Anora terhuyung, jemarinya masih mencengkeram sisi kepalanya ketika denyutan tajam itu perlahan mereda, menyisakan rasa lelah yang dalam. Napasnya terengah sejenak sebelum akhirnya kembali stabil. Ruangan kerja itu sunyi, hanya cahaya lampu kecil yang temaram menemani.Udara terasa dingin di kulitnya. Detik-detik berlalu dengan lambat, seolah dunia sengaja memberinya waktu untuk kembali berpijak pada kenyataan. Detak jantungnya masih sedikit lebih cepat dari biasanya, namun tidak lagi kacau."Aneh…" gumamnya pelan.Suara itu hampir tenggelam dalam keheningan. Tidak ada jawaban. Tidak ada gema sihir yang biasanya menyusul setiap gangguan seperti ini.Dia berdiri lebih tegak, mengusap pelipisnya perlahan. Tidak ada darah. Tidak ada sisa sihir liar yang terasa. Hanya sensasi seperti ingatan yang nyaris muncul—lalu menguap begitu saja.Perasaan itu membuat dadanya sesak sesaat, seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam. Tapi Anor
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-15
Chapter: Bagian 106, False CalmSetelah kesadaran Kael benar-benar pulih, Anora akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Dia sempat kembali ke ruang perawatan, sekadar memastikan Kael stabil. Sebastian sudah menangani lukanya dengan tenang dan teliti, sihir penyembuhnya bekerja perlahan namun pasti. Tidak ada lagi kepanikan. Tidak ada lagi napas yang tersendat atau detak jantung yang nyaris menghilang.Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu berakhir, Anora mengizinkan dirinya sendiri untuk beristirahat.Malam telah turun sepenuhnya ketika ia berdiri di depan jendela kamarnya. Kota membentang luas di bawah sana, berkilauan dalam cahaya lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh yang tak pernah padam. Dari ketinggian itu, semuanya tampak tenang—terlalu tenang, bahkan."Banyak sekali yang berubah," gumam Anora lirih.Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah keluar bersama embusan napas yang dia lepaskan perlahan. Bahunya turun sedikit, tubuhnya terasa lebih ringan namun pikirannya justru semakin penuh."
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-14
Chapter: Bagian 105, The One Who StayedHari-hari berlalu tanpa benar-benar meninggalkan jejak.Apartemen Anora tetap berada dalam keadaan yang sama—perlindungan sihir berdenyut stabil, cahaya tipis mengalir di dinding seperti nadi yang tidak pernah tidur. Di dalamnya, waktu bukan lagi garis lurus, melainkan lingkaran kecil yang terus berputar di sekitar satu hal: napas Kael.Anora menjadi pusat lingkaran itu.Dia jarang benar-benar tidur. Jika pun matanya terpejam, itu hanya beberapa menit—cukup untuk membuat tubuhnya tidak roboh. Begitu napas Kael berubah, sekecil apa pun, Anora selalu terjaga. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan kesadarannya dengan ritme di ranjang itu.Pada hari ketiga, Sebastian mencatat sesuatu."Napasnya," katanya pelan, sambil mengamati simbol sihir yang bergetar halus di udara. "Mulai menyesuaikan."Ink menoleh. "Menyesuaikan bagaimana?""Sinkron," jawab Sebastian. "Saat Anora tenang, napas Kael ikut stabil. Saat dia lelah—irama Kael ikut goyah."Anora mendengarnya. Dia tidak menoleh.
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-13
Chapter: Bagian 104, Between BreathsApartemen Anora tidak pernah terasa setenang ini. Perlindungan sihir aktif di setiap sudut—lapisan cahaya tipis berdenyut lembut di dinding, jendela, dan lantai. Dunia di luar boleh saja runtuh, tapi di dalam sini, segalanya terkunci. Aman. Sangat aman. Kael dibaringkan di tengah lingkaran perlindungan utama—di atas ranjang Ink. Dadanya naik turun teratur. Napasnya ada—kembali, sebelum tadi sempat menghilang. Kulitnya tidak sedingin sebelumnya. Secara teknis, semua tanda kehidupan masih melekat pada tubuh itu. Namun tidak ada satu pun yang terasa benar. Anora duduk di sampingnya sejak mereka tiba. Jaketnya masih berlumur debu dan sisa sihir, rambutnya acak-acakan, tapi dia tidak peduli. Tangannya bertumpu di sisi Kael, jari-jarinya sesekali bergerak kecil—merapikan kerah baju, meluruskan lipatan kain. "Kau selalu keras kepala," gumamnya pelan, seperti mengomel biasa. "Tidak pernah mengeluhkan apa pun, ke siapa pun..." Kael tidak menjawab. Sunyi itu merayap pelan, bukan menghant
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-12