Share

Virus Iblis

Beruang raksasa itu tidak membunuhku melainkan membawaku ke depan wajahnya. Kakiku menerima lembut bulu tangannya.

"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan aku."

Ia bisa berbicara, aku yakin tidak salah dengar.

"Kamu sudah membebaskanku dari virus iblis." Suaranya bergemah.

"Virus iblis? Apa yang kau maksud?" Aku tidak yakin dia bisa mengerti bahasaku.

"Virus iblis merupakan virus yang dapat menyerang orang atau hewan yang jiwanya memiliki rasa dendam, kebencian, energi negatif yang berlebihan."

Dia menjawabnya itu berarti beruang ini mengerti bahasaku.

"Anak-anakku membutuhkanku, jika aku mati tidak ada yang merawatnya, maka izinkan aku hidup dan pergi dari sini."

Dia seorang ibu, anak-anaknya akan sedih jika ibunya tiada. Aku sangat memahami itu. Lalu bagaimana dengan kerusakan ini. Hutan kehidupan sudah pasti memaafkannya, tapi ras Triton terluka parah, desanya hancur, mereka tidak mudah mengikhlaskan perbuatan beruang ini.

Jika aku punya ibu, pasti ibuku sangat menyayangiku, dia akan melakukan apa saja demi anaknya. Ibu akan mencari ramuan supaya tubuhku lebih tinggi.

"Aku memaafkanmu, pergilah." ucapku setelah memikirkannya.

"Kamu memang anak yang baik, Indra, atas kebaikanmu, akan aku berikan Anugerahku padamu."

Beruang itu mengeluarkan cahaya putih, lalu cahaya itu merasuki tubuhku melalui tangan. Selama dua detik, kedua tanganku panas, terasa tertusuk-tusuk, aku tidak kuat menahannya, menjerit sekencang-kencangnya. Apa yang dia berikan padaku?

Beruang itu menyusut. Ukuran tubuhnya menjadi normal. Matanya yang hitam legam berubah coklat, begitu juga dengan bulunya.

Beruang itu berlari meninggalkan desa. Ras Triton terdiam, puluhan mata memandangku. Desa kami hancur, puluhan orang terluka parah, lalu pelakunya dibiarkan pergi begitu saja. Respon mereka padaku sudah sangat wajar.

"Kau membiarkan dia pergi." Guru berbicara sambil mengatur nafasnya, matanya layu menatapku.

Mereka terdiam sunyi, tidak ada sambutan untuk kemenangan ini. Mereka yang terluka perlahan bangkit, mengatur napas. Pohon-pohon yang tumbang dan hancur mulai tumbuh kembali, begitu juga dengan luka di tubuh mereka, sembuh dengan cepat.

"Beruang itu bisa bicara, dia minta tolong padaku untuk membebaskannya. Anak-anaknya sedang menunggu. Jika ia mati, kasihan mereka. Betapa sedih anak-anak itu jika ibunya tiada, aku sangat memahami perasaannya." Semoga kata-kata dan wajahku yang memelas bisa membuat Ras Triton bersimpati pada beruang itu.

"Kami tidak berhak menghukum dia. Hutan kehidupan ini hakimnya, jika ia memaafkan beruang itu, kami dengan senang hati menerima keputusannya." Salah satu ibu berbicara.

Aku dapat bernapas lega. Mereka tidak marah padaku. Hutan kehidupan ini sudah pasti memaafkan beruang itu. Lihatlah, dia tidak tercekik oleh akar berduri, atas terpukul oleh batang pohon besar.

"Aku berjanji, apabila beruang itu datang lagi aku akan membunuhnya. Kalian tahu kan aku ini hebat, aku bisa menghancurkan batu besar dengan sekali pukul."

"Si pendek memang hebat."

"Jangan memanggilku pendek!"

Mereka tertawa.

Tidak sulit bagi mereka untuk membangun desa kembali. Mereka tinggal meletakan tangannya pada pohon besar, dengan ajaib batang pohon itu terbuka dan jadilah rumah mereka.

Ras Triton tidak bisa meninggalkan hutan kehidupan ini. Karena mereka tidak akan bisa bertahan hidup di luar sana. Hutan ini yang memberikan mereka segalanya, kehidupan mereka sudah diatur.

Untuk merayakan kemenanganku, mereka mengadakan makan malam besar-besaran di halaman. Berbagai sayur-mayur terpampang di atas meja panjang.

"Ayo bersorak untuk Indra."

"Iya, untuk si pendek."

Mereka bersorak-sorai mengangkat sendok dan garpu. Tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang masam. Anak-anak berlarian di sekitar pesta.

"Krok-krok."

"Krok-krok."

"Krok-krok."

"Nago berbunyi, nago berbunyi." Anak-anak mendekati patung katak besar di sudut desa. Benda itu mengeluarkan kertas dari mulutnya.

"Biar aku lihat." Guru mengambil kertas itu dari tangan anak-anak yang terdahulu mengambilnya.

"Ada berita apa?"

Mata guru menelisik membaca berita tersebut.

"Putri Kerajaan Manggo hilang, mereka memberikan hadiah seribu Griel bagi siapapun yang menemukannya."

Seribu Greal, itu banyak sekali. Aku sepontan berdiri, lalu bertanya. "Apa ada gambar putri itu?" Kalau aku bisa menemukannya aku akan menjadi kaya.

Guru menggeleng.

"Bagaimana kita mencarinya kalau tidak ada gambarnya." Aku kecewa, kembali menghempaskan punggung di kursi.

"Untuk apa kita membutuhkan uang itu. Hutan kehidupan sudah memberikan segalanya untuk kita."

"Iya benar. Ayo kita bersorak lagi untuk si pendek."

"Yaaaaa!"

Mereka kembali tertawa meramaikan pesta.

"Kenapa wajah kamu murung, Indra." Guru menarik kursi di sampingku. "Apa memikirkan undian itu?"

"Apa guru tau tentang virus iblis?" Aku langsung bertanya tentang apa yang aku pikirkan sejak tadi.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status