MasukDi dunia kultivasi, Su Tian adalah Pangeran Iblis yang ditakuti. Namun di puncak kekuatannya, ia dikhianati dan dibunuh oleh sahabat dan istrinya sendiri. 1000 tahun kemudian, Su Tian bereinkarnasi ke tubuh seorang pemuda miskin yang dijual sebagai suami kontrak kepada seorang alkemis cantik — Lin Yue — yang tak pernah percaya cinta. Kini, tanpa identitas dan tanpa kekuatan, Su Tian harus bangkit dari awal... sambil menghadapi dunia modern kultivasi yang telah berubah. Tapi siapa sangka... sang istri kontrak justru memiliki rahasia yang bisa menghancurkan seluruh Sekte Langit Mistis? Balas dendam. Cinta. Dan rahasia besar. Inilah kisah Su Tian yang akan menggetarkan sembilan alam!
Lihat lebih banyakThere is beauty and love in everything, even in death. Susan Hill knew this, and it made her smile.
The adonis sitting across her in the Gold Lounge, a well-styled restaurant sure did mistake her smile as a reaction to what he said to her. But all she thought about was what would happen if she made love to him here and now. Could he manage it? Would he be able to please her?
A waiter arrived, distracting Susan's carnal thoughts, he took their order.
When the waiter left, the adonis said, "I was quite surprised when you agreed to my offer."
Susan sent him a charming smile. "Why is that?" she asked.
"You're, which I'm certain, the most beautiful lady I've ever come across in my life, and ladies like you are usually hard to find, and don't just say yes to any guy. I mean, clearly, you don't look like someone who can be driven by wealth. You look well to do on your part. It's just, I'm amazed, and I feel like the luckiest guy in this world tonight."
Susan kept on smiling. "Thanks," she said.
Without looking, Susan was aware of the glances coming her way from different tables occupied by men, women, and couples. They sure had seen a beautiful lady before as some of the ladies who were here, were, and for the men, they were with a few themselves tonight, but Susan's beauty was unrivalled, and she had a habit of attracting unwanted attention to herself.
The waiter arrived with their orders, and they ate their meal.
After their meal, Susan said with a smile, "Why do you keep looking at me that way?"
Her adonis grinned. "I'm sorry. I hope it doesn't make you uncomfortable?"
She slightly shook her head. "No," she said.
"It's just, I'm finding it hard to take my eyes off you."
"We've been seeing each other for two days. Surely, by now, you should have gotten used to it."
"And that's the thing. Not a beauty like yours. It looks so surreal, it feels like this is all a dream."
"If it were a dream, would you like to wake up?" she asked.
He shook his head. "No. Not ever."
"Maybe, you're dreaming."
"Are you real?"
Susan smiled. "Yes."
"Good. That's good to know. So if this is a dream, when I wake up, I'll find you."
Susan laughed.
"What's your name in the real world?" he asked.
"Susan Hill," she said.
"And I am—"
"I already know your name."
He asked her, and she told him, along with his surname.
He squinted his gaze at her. "This is odd. You seem to know quite a lot about me, and I barely know a thing about you. Why is that?" He feigned a gasp with a hand to his mouth. "Are you stalking me?"
Susan as usual simply smiled, and said, "You won't believe me if I told you."
He made a head gesture. "Try me," he said.
"Okay," she said. "I am a bloodstone, one actually made from blood, and my heart is a heart of stone. I move at the speed of light, I can split my being into different personalities, and I am a killer. I can kill anyone, it matters not where they are; public, or secret, and even with cameras recording. However, when I leave, every image of me; in the minds of witnesses, and those caught on cameras would be erased. When I kill, I get stronger, and I can call nature at will to fight on my behalf."
After he heard all this, the man with Susan burst into wild laughter, people within the Gold Lounge looked their way.
"That was a good one," he said. "Didn't know you were this humorous. What else? You fly too?"
Susan grinned. "I can move with lightning. Not fly per se." Her smile vanished as she looked to the table surface. "However, I understand love quite well. I am a creature of love," she said, looking up to meet his gaze, for he too now wore a serious stare, "and when I love, I love with every bit of myself. I can't hate evil or good. I can tell the difference, and usually, I run from good, and I'm very much attracted to evil to love it."
"In other words, you like bad boys," he said.
Susan nodded. "I sure do. It's very easy to love them. Loving them comes easy, or cheap, but in the end, it's usually always expensive."
"Who gets to pay?"
"They do. You see, my mother cursed me. I sort of challenged her during an argument, and she cursed me. While my sisters have the blood of our ancestors coursing through their veins, I have to create avenues to keep mine alive."
"And how do you do that?" he asked.
"I kill those I love."
He smiled. "Back to that."
"I wasn't lying the first time," Susan said.
"What makes you think you're a killer?"
Susan slightly shook her head. "I just know that I am one."
He arched a brow. "Well, you don't look like one." Wish you really knew who I was, he said in his mind.
Susan heard him. Both the words of his mouth, and the words of his mind.
She looked down at the table. "I forgot to add."
"What?" he asked.
Her gaze lifted to meet his. "I read minds too."
He smiled.
"And I know who you really are," she said, noting his smile that was to her like a smudge on his face began to disperse, then she grinned, giving him the Devil's stare.
Before he could say the next set of words, Susan moved to kiss him, her hand caressed his hair, their lips played with each other.
Crack.
Her adonis stopped kissing her, cries erupted from all parts of the restaurant, everyone went into a frenzy. Susan broke off the kiss, and looked to the head of her lover whose hair she held firmly in her grasp, and smiled.
What's with the commotion, she thought. You all would surely forget.
"I told you I knew who you were," Susan said to the head, while the headless body just sat resolutely on the chair, blood sipping out of where the head used to sit.
Susan flung the head across the restaurant, she walked out into the cold night, and in everyone's recollection, including the memory of the cameras, there was no record she was there, for all traces of her did erase.
She loved him. And it was for who he was that she did.
She would find more people to kill. But first, she would have to love them.
Langkah itu bergema—bukan di tanah, tapi di udara, di dalam ruang itu sendiri. Suara retak-retak terdengar dari langit yang perlahan terbuka, seperti cangkang dunia sedang dikupas dari luar. Cahaya keperakan mengalir turun, membentuk pusaran spiral yang memutar angin, energi, dan waktu dalam satu kesatuan tak terkendali.Su Lian menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri di depan Lin Yue. Tangannya mengepal, bukan karena takut, tapi karena mengenali aroma yang tak asing.“Aura dimensi luar... seseorang menembus dinding dunia ini,” gumamnya. “Tapi bukan sembarang orang…”Dari celah langit yang terbelah, sosok itu muncul—melayang tenang, tubuhnya dibungkus jubah putih yang tidak bergerak meski angin meraung di sekitarnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya seperti celah bintang mati—gelap, kosong, dan tanpa emosi.Namun yang paling mencolok adalah simbol di dahinya: spiral kembar yang bercahaya seperti dua galaksi yang saling bertabrakan.“Pengawas Dimensi…” desis Su Lian. “Mereka data
Langkah kaki Lin Yue menyentuh tanah yang hancur, melewati patahan-patahan pohon bambu dan retakan bumi yang masih mengepul. Cahaya merah di langit mulai memudar, tapi atmosfer kematian belum sepenuhnya hilang. Di depannya, Su Lian bersandar lemah pada batang pohon, darah menetes dari sudut bibirnya. “Su Lian…” Lin Yue berlutut di sisinya, jemarinya gemetar saat menyentuh wajah pria itu. “Kau terluka parah…” Su Lian mencoba tersenyum, tapi wajahnya pucat. “Kau datang… terlalu cepat.” “Dan kau terlalu bodoh karena tidak membawaku dari awal,” jawab Lin Yue tajam, meski suaranya bergetar oleh ketakutan. Mereka saling menatap. Namun sebelum kata lain bisa keluar, tubuh Feng Luo yang semula tak bergerak, perlahan bangkit. Wajahnya dipenuhi darah, namun mata merahnya bersinar ganas. Kapak patahnya berubah menjadi bilah darah cair, mengambang di udara. “Aku belum kalah… sebelum salah satu dari kita benar-benar hilang dari dunia ini,” geramnya. Lin Yue berdiri perlahan, tubuhnya b
Sinar fajar pertama menerobos celah pepohonan, membasuh wajah Lin Yue yang masih terpejam. Tubuhnya terguncang pelan. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun denyut spiritual dalam tubuhnya terasa jauh berbeda dari sebelumnya lebih hidup, lebih murni. Di sisinya, Su Lian duduk bersila. Mata tertutup, namun kesadarannya menyebar luas. Dia bukan hanya melindungi Lin Yue dari serangan luar, tapi juga memandu proses penyesuaian tubuh baru Lin Yue—mengatur jalur-jalur meridian yang tadinya tersumbat kini mulai terbuka. Su Lian membuka matanya. "Dia sudah mulai menyesuaikan diri dengan warisan itu," gumamnya lirih. "Tapi ini baru awal." Lin Yue perlahan membuka mata. Pandangannya buram, tapi sorot matanya tajam, seolah melihat lebih jauh dari dunia yang tampak. "Aku... mendengar suara," katanya pelan. Su Lian mengangguk. "Itu suara dari dalam warisan. Bukan hanya kekuatan, tapi juga ingatan. Mungkin… peringatan." Lin Yue menyentuh dadanya. "Seperti ada dua jiwa yang bersatu. Ta
Langkah kaki Lin Yue menyentuh tanah yang hancur, melewati patahan-patahan pohon bambu dan retakan bumi yang masih mengepul. Cahaya merah di langit mulai memudar, tapi atmosfer kematian belum sepenuhnya hilang. Di depannya, Su Lian bersandar lemah pada batang pohon, darah menetes dari sudut bibirnya. “Su Lian…” Lin Yue berlutut di sisinya, jemarinya gemetar saat menyentuh wajah pria itu. “Kau terluka parah…” Su Lian mencoba tersenyum, tapi wajahnya pucat. “Kau datang… terlalu cepat.” “Dan kau terlalu bodoh karena tidak membawaku dari awal,” jawab Lin Yue tajam, meski suaranya bergetar oleh ketakutan. Mereka saling menatap. Namun sebelum kata lain bisa keluar, tubuh Feng Luo yang semula tak bergerak, perlahan bangkit. Wajahnya dipenuhi darah, namun mata merahnya bersinar ganas. Kapak patahnya berubah menjadi bilah darah cair, mengambang di udara. “Aku belum kalah… sebelum salah satu dari kita benar-benar hilang dari dunia ini,” geramnya. Lin Yue berdiri perlahan, tubuhnya b
Langit di atas Kota Angin Malam berubah perlahan, dari biru pucat menjadi merah gelap seperti darah kering. Angin yang berhembus membawa bisikan asing. Guntur bergema tanpa awan. Seluruh kota seakan berdetak bersama langkah kaki pasukan Sekte Darah yang mulai merangsek dari segala arah. Penjaga k
Kabut tipis menyelimuti seluruh Kota Angin Malam. Tapi ini bukan kabut biasa. Aura spiritual tingkat tinggi menyusup di dalamnya tanda jelas bahwa seseorang tengah mengamati dari balik tirai dimensi. Di puncak menara batu di pusat kota, seorang wanita berdiri diam. Rambutnya sehitam malam, mata me
Malam itu angin berhembus lembut, namun ada sesuatu yang asing di udara. Di atas atap aula barat, seekor burung gagak hitam bertengger. Tapi matanya… bukan mata burung biasa. Dari balik kegelapan, seorang pria berjubah merah gelap berdiri. Wajahnya tertutup, tapi auranya memancarkan tekanan dingin
Malam pertama setelah pernikahan. Tak ada peluk. Tak ada senyum. Hanya keheningan. Di dalam kamar dingin yang dibelah tirai tipis, dua orang duduk berjauhan. Di sisi kanan, Lin Yue, alkemis jenius Sekte Aliran Es. Di sisi kiri, Su Lian atau lebih tepatnya, Su Tian dalam tubuh Su Lian duduk bers












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.