MasukCerita ini berkisah tentang Naima, wanita yang menolak perjodohan orang tuanya dan berakhir di dimensi lain. Dimana di dunia tersebut dia bertemu dengan Sagara, seorang putra mahkota kerajaan yang menolongnya dan selalu melindunginya hingga akhirnya merekapun saling jatuh cinta. Apakah mereka bisa bersama? Apakah mereka mampu melawan Takdir?
Lihat lebih banyakBRIANA'S POV
As I stand at the altar, adorned in a gown that isn't mine, I can feel the weight of deception pressing down on me like a leaden veil.The soft strains of the wedding march fill the air, mingling with the whispers of the gathered guests. All eyes are fixed on me, but they do not see the real me - they see the illusion I've been forced to embody.I steal a glance at him, the man I am to marry, the heir to a wealthy dynasty. His chiseled features are a mask of composure, but I couldn’t deny the love that shone in his eyes. He looked at me like I was the most precious jewel, and the sincerity with which he smiled caused my heart to ache painfully for him.Does he know the truth, or is he too blinded by duty and love to see through the charade?My chest tightens with every step I take closer to him, knowing that this union is built on a foundation of lies. I am not the woman he was meant to marry. She fled, leaving behind a void that I, with my uncanny resemblance, have been forced to fill.The officiant's voice washes over me, a solemn reminder of the vows I am about to speak."Do you take this man to be your lawfully wedded husband?"The words echo in my mind, each syllable a piercing reminder of the betrayal I am perpetrating, but I can’t back down now, not when there’s so much at stake. I meet his gaze once more, searching for a hint of hesitation, a spark of uncertainty. But all I find is a burning want and need that didn’t match my own, this man was head over heels for me, or rather who I pretended to be. And so, with a heavy heart and a voice that threatens to betray me, I utter the words that seal our fate."I do."As the ring slips onto my finger, I can feel the weight of it settling like a shackle, binding me to a life that is not my own. And yet, amidst the sea of unfamiliar faces and the swell of emotions, I only look for one person. The elegant lady who sat with the groom’s parents, her expression was unreadable, but her gaze was sharp, reminding me of the terms of our agreement. It was because of her that I was now privileged to wear a gown that I never thought I would, and it was because of her that I was pulled into a world that was vastly different from the one I had known all my life. This story had only just begun, a tale of how I married a billionaire as a side hustle.Two weeks earlier….“You dumb bitch!”A sharp slap resonated around the small cafe, and my cheeks stung as my fists ball at my sides. Anger bubbled in my chest, but I remained silent as the customer continued his onslaught on me.“How dare you say that it’s my fault after you messed up my order!” The man yelled, his veins bulging as he looked at me in pure disgust, like I resembled a grain of dust he could easily wipe away. But I continued to stay silent, trying my best to bite down the insults at the tip of my tongue, there was no use to escalate the matter forward.“I’m sorry sir.” I force out, the words leaving a bitter taste in my mouth, but it seems my apology was not enough to soothe his rage as he takes the rejected latte and pours it on me. The hot liquid burns my skin but I don’t flinch.“Sir! You can’t assault my workers, please leave you’re causing a commotion."That was my boss, Mr. Riley. The frail old man steps into the scene to defend me, and my heart warms with gratitude. The customer scoffs and turns on his heels, making sure to make a declaration of, “I’ll never shop from this store again.” before finally leaving.Once he was finally gone, Mr Riley turned to me, worry evident in his features as he examined my form. He opens his mouth to apologize but I stop him by giving a gentle pat on his back. He doesn’t have to take responsibility for someone’s lack of home training. “It’s okay boss.” I mask my true emotions with a smile, but the old man doesn’t look convinced.“You should take the rest of the day off Briana.” he insists but I shake my head at him in refusal. “This isn’t enough to faze me, I’ll simply just change my clothes.” I tell him, “ I would only leave when my shift is over, and besides I couldn’t possibly leave you to do all the work alone. It’s a full house today.” I add once more, hoping he listens. Well, I couldn’t blame him, it wasn’t the first time I had been harassed by a customer. But he finally agreed, making sure to check up on me if I was feeling overwhelmed, he was truly a sweet man.In the bathroom, I washed my stained clothes, grateful for the fact I always brought a spare outfit with me. I wince as the cold water runs over the scald burn marks on my arm, my expression grim as I heave out a heavy sigh.I want to believe that I shouldn’t accept this kind of treatment but the voices in my head say otherwise, constantly reminding me that I deserved much worse.“Get yourself together Briana,” I mutter to myself, shutting out the voices that threaten to consume me.I was determined to not let my hardships define me .Never again.“Cakra Cakra..”Panggil Naima pelan mencari keberadaan Cakra di antara para penduduk yang sedang berkumpul di halaman rumah. Wajah mereka panik bercampur bingung mendengar perdebatan Nyai Ratna dan Mak Ijah dibalik dinding bambu. Mereka dibuat heran dengan perselisihan tersebut, biasanya Mak Ijah dan Nyai Ratna selalu akur, tak pernah terlibat percekcokan apapun.Di kejauhan Naima melihat Cakra yang sedang berdiri mematung dengan wajah heran dan panik setelah mengecek beberapa pengawal di perbatasan yang sudah tergeletak tak sadarkan diri tanpa ada alasan yang jelas. Di tubuh mereka tidak ada luka secuil pun namun anehnya mereka serempak tak sadarkan diri seperti orang yang benar-benar mati. Cakra dibuat bertanya-tanya, kejadian tersebut penuh dengan teka-teki yang harus dipecahkannya. Ia tak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, karena tidak ada Sagara ataupun Abah Arya sebagai tetua, ia tidak akan mendahului mereka dan menghancurkan rencana yang telah mereka susun. Pikirannya s
Naima mengatur nafasnya pelan, menetralisir detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia menutupi wajah paniknya dengan tenang.“Bukan tidak ingin, sebagai wanita yang ditetuakan di sini Saya berhak melihat dan memastikan persalinan Iyah baik-baik saja Mak. Memastikan ibu dan anaknya selamat tanpa kekurangan apapun!” Ucap teguh Nyai Ratna tanpa rasa takut. Naima yang berada di pojokan itupun di buat kagum dengan sikap gigih ibu angkatnya, yang ingin memastikan semuanya baik-baik saja walaupun banyak penolakan yang dihadapi.Naima kini sadar, setelah menyaksikan perdebatan yang membingungkan dan janggal tersebut. Ia juga paham, jika persalinan menggunakan dukun beranak tidak boleh banyak orang di dalam ruangan. Tapi di saat keadaan seperti ini, dia sangat menyetujui usulan Nyai Ratna untuk tidak membiarkan Mak Ijah hanya berduaan saja dengan ceu Iyah. Ia semakin takut sesuatu akan terjadi ketika melihat gelang di tangannya yang semakin mengeluarkan cahaya terang. Aku harus cepat-cepat
“Jangan ada yang menggangguku! Tidak boleh ada yang di dalam! kalian keluarlah aku akan membantu persalinannya sendiri!” Ucap wanita tua yang menggelung rapi rambut putihnya, menatap satu persatu penduduk kampung yang berdiri di pintu agar keluar mematuhi ucapannya. Naima yang berdiri di pojokan merasa heran dengan Mak Ijah, yang baru datang dan malah mengusir orang di dalam yang menemani Ceu Iyah. Nyai Ratna pun menautkan alisnya, setiap ada yang melahirkan di kampung tersebut dia biasanya menemaninya, dan Mak Ijah pun tak pernah keberatan dan malahan senang. Mereka berdua merasakan ada sesuatu yang ganjal dari sifat Mak Ijah, Sagara dan Abah arya. “Betul apa yang dikatakan Mak Ijah, kalian keluarlah! Jangan ada yang di dalam biar Mak Ijah yang menangani kelahiran Ceu Iyah dengan tenang.” Ujar Abah Arya mengusir halus Nyai Ratna dan Suaminya Ceu Iyah agar segera meninggalkan tempat tersebut.Nyai Ratna menatap kearah suaminya dengan wajah bingung, ia menggelengkan kepala. Ia tak m
“Apa kalian mencium aroma harum yang memanjangkan hidung ini?” Tanya Nyai Genir dengan senyum menyeringai. Ini mengendus-endus bau yang entah berasal dari mana, matanya membulat sempurna dengan mata yang memerah. Ini merupakan satu pertanda baik menurutnya. Satu langkah cepat untuk mengapai tujuannya.Wewe Gombel yang berdiri di samping Mak Rompang pun tersenyum lebar. Ia menganggukkan matanya yang berkilat merah.“Aku menciumnya Nyai. Ini aroma wangi darah wanita yang akan melahirkan. Ini santapan besar untuk kita. Kita sudah lama tak meminum darah wanita yang melahirkan.” Nyai Genir itupun tertawa.“Hehehehe Hehehehe. Kau benar sekali Dasim.” Ia menyetujui ucapan anak buahnya. Sudah lama ia tak meminum darah wanita melahirkan yang bisa mengurangi penuaan diwajahnya.“Kau betul sekali. Perintahkan anak buahmu untuk mencari wanita melahirkan itu. Nanti malam aku akan mendatanginya langsung. Sudah tak sabar rasanya meminum apa yang harus kuminum hehehehehe.” Wewe gombel yang b
Naima memandang wajah itu, untuk meyakinkan. Ia ingat dengan perkataan kakek tua perihal gelang sepasang yang harus ia berikan kepada orang yang Ia cintai agar saling terhubung, lalu ia pun mengambil gelang yang berada disakunya untuk diberikan pada Sagara. “Ulurkan tangan kananmu Pangeran!” Ucap
Sagara terus menggerakkan kanvasnya dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya. Perasaannya tiba-tiba berbunga-bunga setelah mengunjungi desa Buaran tadi pagi. Ia menggerakkan tangannya dengan lihai dengan tatapan mata yang berbinar. Ia tak tahu akan melukis apa, tapi ia hanya mengikuti instingnya
Di Keraton kerajaan, malam ini cukup ramai. Di halaman keraton, kereta kencana silih berganti datang mengantarkan para bangsawan yang akan menghadiri acara perjamuan. Mereka menggunakan pakaian terbaik, agar mendapatkan kesan baik sekaligus menjadi pusat perhatian di acara malam ini.Di Ke
“Apa kau tidak papa?” Naima tidak bisa merespons ucapan seorang lelaki bersuara tegas yang kini berjongkok sambil menahan sebelah bahunya. Lidahnya kelu, dahinya berkeringat menahan rasa sakit dengan dada yang semakin sesak. Ia melihat samar-samar seorang lelaki berbaju bangsawan yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.