LOGINBencana besar terlihat di Mata Kebenaran Batara Geni. Sehingga dia pun mulai mencari Pilar Penjaga Dunia dengan cara menggelar Turnamen Besar yang melibatkan para dewa termasuk anak-anaknya sendiri. Salah satu tujuan utama pagelaran turnamen tersebut adalah untuk membangkitkan kekuatan dahsyat yang tertidur di dalam tubuh salah satu anaknya. (Buku ini adalah lanjutan dari kisah Legenda Dewa Cahaya. Agar terhubung dengan kisah ini, silahkan baca dulu Legenda Dewa Cahaya.)
View MoreKeadaan menjadi sunyi setelah Tubuh Dewa Bertangan Delapan itu menghantam Nara Soka. Tapi Bara tahu, roh senjata itu masih bertahan di bawah sana, berusaha mati-matian menahan serangannya. "Mustahil! Mustahil! Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan Ranah Alam Nirwana!? Aku yakin ini ilusi! Tapi kenapa bisa sekuat ini!?" teriak Nara Soka sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Serangan satu tangan Tubuh Dewa berukuran raksasa itu sangat kuat untuknya. Meski Nara Soka juga berada di Ranah yang sama, tetap saja, Tubuh Dewa milik Bara jauh lebih unggul darinya. "Kau terkejut bukan, melihat tubuh roh milikku yang berbeda dengan tubuh luarku?" tanya Bara di atas kepala raksasa sambil duduk dengan santai. "Kenapa bisa begitu...? Siapa kau sebenarnya...?" sahut Nara Soka sambil mengerahkan kekuatan miliknya untuk mendorong telapak tangan yang berukuran lebih besar dari Istana Kerajaan. Kedua mata Bara menyala kuning terang, lalu dia mengangkat tangan kanannya. Saat itu juga, tangan T
Nara Soka melepaskan lima anak panah sekaligus kearah bawah sana. Serangan sedahsyat itu bisa menghancurkan tempat tersebut karena satu anak panah saja bisa menciptakan kerusakan yang besar.Namun sepertinya Bara Sena memiliki satu rencana untuk membalikkan keadaan. Itu terlihat dari senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Tangannya bergerak membentuk rapalan jurus. Saat itu juga, tepat di depan matanya muncul lingkaran merah yang merupakan sebuah portal gaib. Kelima panah itu masuk ke dalam portal Gaib yang Bara ciptakan membuat Nara Soka terkejut setengah mati."Dia menciptakan portal!?" serunya tak percaya.Portal lain muncul tepat di atas tubuh Nara Soka yang masih melayang di langit. Lima panah itu pun menderu keluar dari dalam portal yang tiba-tiba muncul itu. Kemunculan portal itu membuat Nara Soka semakin terkejut. Bara tersenyum sinis. "Aku kembalikan serangan dirimu cacing berbulu merah!" seru Bara disusul tawanya yang menggema.Nara Soka berteriak keras. Dia langsung me
Bara Sena berteriak keras. Pedang Dewa Matahari dia ayunkan kearah Nara Soka yang menatap tak berkedip di puncak menara. "Hiaaaaahhh!"Semburat cahaya merah membelah langit saat pedang tersebut mengayun ke depan. Cahaya terang kemerahan itu melesat dari dalam Pedang menuju kearah Nara Soka yang menanti dengan perasaan berdebar. "Tidak salah lagi, itu adalah Pedang Dewa Matahari! Tapi Bagaimana bisa dia memiliki Pedang yang seharusnya ada ditangan Karmapala?" batin Nara Soka.Cahaya terang berbentuk sabit raksasa itu menderu ganas kearah puncak menara. Udara di sekitar menara batu itu terbakar oleh kekuatan merah yang terpancar dari serangan tersebut.Nara Soka tersenyum kecil."Serangan ini kuat, tapi sayangnya kau masih berada di Ranah Alam Dewa. Jadi, serangan yang kau ciptakan pun tak sekuat mereka yang sudah berada di atas Ranah Alam Semesta atau Alam Nirwana. Kau tetap tak akan bisa mengalahkan diriku karena perbedaan ranah," ucap Nara Soka lalu dia mengangkat tangan kirinya.D
Bssshhh!Blaaarrrr!Ledakan disertai semburat cahaya kuning terang membelah langit. Tubuh pemuda berambut merah terdorong ke belakang setelah menangkis serangan yang sangat kuat. Dengan busur di tanganya, dia ternyata mampu sedikit membelokan arah serangan tadi sehingga tak langsung mengenai tubuhnya."Hampir saja...Serangan yang sangat kuat..." batinnya sambil menatap kearah langit yang terbelah oleh tebasan Pedang Dewa Matahari milik Bara Sena.Dewa Cahaya itu melesat ke atas kemudian menukik menyambar kearah pemuda berambut merah tersebut. Dengan cepat sosok yang juga berpakaian serba merah itu menangkis serangan menggunakan busur yang ada di tangannya.Trak!Pedang Dewa Matahari berbenturan dengan Busur Panah Matahari. Saat itu juga, percikan cahaya menyambar bagaikan kilat ke beberapa titik sekaligus.Dar! Dar! Dar!Bara melompat mundur lalu pasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang kembali. Sementara sosok pemuda berambut merah yang ada di depannya nampak terlihat santai meski ba
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore