LOGINBencana besar terlihat di Mata Kebenaran Batara Geni. Sehingga dia pun mulai mencari Pilar Penjaga Dunia dengan cara menggelar Turnamen Besar yang melibatkan para dewa termasuk anak-anaknya sendiri. Salah satu tujuan utama pagelaran turnamen tersebut adalah untuk membangkitkan kekuatan dahsyat yang tertidur di dalam tubuh salah satu anaknya. (Buku ini adalah lanjutan dari kisah Legenda Dewa Cahaya. Agar terhubung dengan kisah ini, silahkan baca dulu Legenda Dewa Cahaya.)
View More"Mati kau!" teriak Hamsika yang tiba-tiba muncul di belakang Bara Sena tanpa disadari oleh pemuda itu.Sut!Telapak tangan Dewi Hijau itu melesat dengan cepat menghantam punggung Bara Sena yang terbuka.Prak!Telapak tangan Hamsika menyentuh perisai cahaya yang sangat tipis. Bahkan periksa itu hampir tak terlihat oleh mata. Dia sempat terkejut namun terus melanjutkan serangannya. Hingga akhirnya saat telapak tangannya menyentuh Zirah Dewa Matahari, terjadi ledakan yang sangat kuat membuat tubuhnya terhempas ke belakang sejauh beberapa tombak."Ledakan yang sangat kuat!" seru wanita itu sambil bertahan dari hantaman gelombang cahaya yang muncul secara tiba-tiba. bahkan cahaya itu sempat membakar sedikit pakaiannya menunjukan bahwa cahaya tersebut sangat berbahaya.Tiba-tiba dari balik cahaya yang menyilaukan mata itu, melesat sepasang pedang Es yang membuat Hamsika terkejut. Dengan cepat dia menghindari serangan tersebut dengan gerakan yang indah.Set!Dua pedang es melewati pinggulnya
Dewi Hijau bernama Hamsika menatap tajam kearah Bara Sena dengan mata yang menyala hijau. Kecantikannya menjadi semakin meningkat saat wanita itu terlihat marah. Kulit putihnya, merona merah membuatnya menjadi semakin mempesona."Kau begitu percaya diri! Aku ingin melihat, sampai dimana batas kesombonganmu itu!" ucap Hamsika lalu kemudian dia mengangkat tangan kanannya ke atas.Dari atas langit sana muncul sembilan selendang yang bersinar hijau. Tak ada suara apa pun kecuali hembusan angin yang sangat kuat. Bahkan hembusan angin tersebut memaksa Bara mengerahkan perisai cahaya miliknya karena dia merasa kulitnya seperti disayat ribuan pisau."Hanya hembusan angin mampu memaksaku mengerahkan perisai cahaya...Kekuatan Dewi Hijau ini sungguh luar biasa," batin Bara.Sembilan selendang itu menghantam perisai cahaya miliknya hingga terjadi ledakan besar yang menggetarkan gunung di bawah kaki pemuda tersebut.Hamsika menatap tajam kearah asap tebal yang membubung tinggi ke angkasa. Dia mera
Gandi melompat ke udara dan meraih Pedang Semesta Biru yang memancarkan cahaya biru terang. Begitu pedang di dalam genggaman, Raja Naga Air tersebut bisa merasakan aura kekuatan yang menggelora dari dalam Pedang Dewa yang berasal dari Alam Lima Warna tersebut."Aura ini...Sangat kuat..." batinnya sambil melayang turun."Tuan.." terdengar suara lembut dari dalam Pedang biru tersebut. Gandi tahu, suara siapa itu."Ariyasa?" sahut Gandi sambil tersenyum."Terimakasih Tuan...Kau telah menyelamatkan diriku. Mulai sekarang, aku adalah milikmu. Dan aku akan menjadi senjatamu," kata Ariyasa.Gandi mengangguk. Dia menatap kearah sarung pedang yang melayang di atas reruntuhan batu raksasa lainnya. Dengan kekuatannya, sarung pedang itu melayang kearah Gandi dan langsung menyatu dengan Pedang yang ada di tangannya. Setelah itu, pemuda tersebut pergi meninggalkan telaga tersebut.~Kembali ke Bara Sena, setelah beberapa waktu lamanya terbang, akhirnya Dewa Cahaya itu berhenti di sebuah jurang yang
Gandi menatap sosok cantik tersebut."Siapa kau sebenarnya? Kenapa tubuh bagian bawahmu berbeda?" tanya Gandi."Namaku Ariyasa. Aku adalah manusia duyung dari Alam Lima Warna..." kata sosok bernama Ariyasa tersebut."Alam Lima Warna...? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?" tanya Gandi penasaran. Dia sudah pernah mendengar tentang alam tersebut dari Batara Geni."Itu adalah cerita yang panjang. Aku sudah berada disini lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu, bahkan mungkin sudah belasan ribu tahun yang lalu..." kata Ariyasa membuat Gandi tertegun."Lama sekali...Apakah Alam tempat kamu tinggal masih ada? Aku pernah mendengar nama alam Lima Warna. Tapi katanya Pencipta dari Alam itu sudah tewas sejak lama..." tanya Gandi. Ariyasa menggelengkan kepala."Alam itu memang sudah hancur saat pecah perang besar...Dan keberadaanku disini, tak lepas dari kehancuran alam lima warna...Seseorang membawaku ke tempat ini..." kata Ariyasa.Gandi terdiam. Kepalanya berpikir. Tapi tetap saja dia tak meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore