MasukKendrick Harrold was supposed to be dead. At least, that’s what the world believes. For two years, he’s lived like a ghost—broken, hidden, and forgotten after the accident that stole his freedom. But when a stranger with storm-grey eyes slips past his fortress walls, everything he’s buried begins to stir. Rose shouldn’t be here. Yet she is. Rose doesn’t have the luxury of distractions. With her sister’s life on the line and a debt that could crush them both, she’s bound to a future she never wanted—a loveless marriage and a cage of her own. The last thing she needs is Kendrick Harrold. But from the moment their paths collide, she can’t stay away. He’s searching for answers. She’s desperate to escape. Neither of them expected the fire that sparks between them. But secrets have a way of clawing their way to the surface. And one act of compassion could ignite a bond neither of them can control—one that’s as dangerous as it is undeniable. In the shadows of a grand estate, behind the silence of locked doors, a voice calls her name. A presence lingers between the shelves of the vast library. She should run. She should forget she ever saw him. But Kendrick has other plans. Because she found him. And now… he might never let her go.
Lihat lebih banyakHujan baru saja reda sore itu, meninggalkan aroma tanah basah yang meruap ke udara. Nadin duduk di kursi kayu ruang tamu rumah besar bercat krem pucat, rumah mertuanya. Perasaan campur aduk menyeruak dalam dadanya: bahagia karena akhirnya resmi menjadi istri Rama, tapi juga canggung, sebab ia tahu sejak awal bahwa pernikahan mereka tidak sepenuhnya disambut hangat oleh keluarga suaminya.
Nadin masih mengenakan kebaya sederhana, rambutnya disanggul rapi, namun hatinya resah. Beberapa jam lalu ia masih duduk di pelaminan, tersenyum terhadap tamu yang memberi selamat. Kini hanya ada Nadin, Rama dan tatapan tajam ibu mertuanya. "Jadi ini menantuku?" suara Bu Rahayu datar, dingin, tanpa senyum. Tatapan matanya menyapu Nadin dari ujung kepala hingga kaki. "Bidan, tapi honorer, kan?" Nadin menunduk. Ada nada sinis yang jelas terasa. "Iya, Bu. Saya baru ditempatkan di puskesmas kecamatan," jawab Nadin lirih, mencoba terdengar sopan. Bu Rahayu menghela napas panjang, lalu melirik Rama. "Kamu ini, Rama. Dari dulu Ibu bilang carilah istri yang bisa bikin hidupmu naik derajat. Eh, yang dipilih malah bidan honorer. Gajinya berapa sih, Nak? Paling cuma cukup buat beli beras." Ucapan itu menusuk hati Nadin. Rasanya panas menjalari dadanya, namun ia berusaha tersenyum. "Insya Allah, Bu, rezeki bisa dicari bersama." Alih-alih melunak, Bu Rahayu justru tersenyum miring. "Iya, rezeki bisa dicari. Tapi kalau dasarnya cuma honorer, kapan mau cukup? Kamu itu perempuan, harusnya pikir panjang. Kasihan suamimu." Rama yang sejak tadi diam, mengengam tangan Nadin di bawah meja. Isyarat itu seakan berkata, sabar, jangan diambil hati. Namun, malam pertama sebagai menantu di rumah baru itu justru terasa berat. Nadin tak pernah menyangka dirinya akan langsung mendapat luka pertama dari ibu mertuanya sendiri. Keesokan harinya, Nadin bangun lebih pagi. Ia ingin menunjukkan kesungguhannya sebagai istri dan menantu. Ia ke dapur, mencoba membantu mertua menyiapkan sarapan. "Bu, boleh saya bantu masak?" tanyanya hati-hati. Bu Rahayu menoleh sekilas, lalu mengangkat alis. "Kamu bisa masak?" "Insya Allah bisa, Bu. Memang nggak jago, tapi..." "Sudah, nggak usah. Nanti malah bikin repot. Kamu kan sibuk kerja, katanya mau jadi bidan hebat, ya sudah fokus saja. Urusan dapur biar Ibu." Sekali lagi, ada nada meremehkan. Nadin merasa tidak dianggap, seolah keberadaannya di rumah itu hanya beban. Ia ingin membalas, tapi memilih menahan. Ia tahu, sebagai menantu, terlalu cepat melawan hanya akan memperburuk keadaan. Hari berganti minggu. Nadin mulai menjalani rutinitasnya sebagai bidan honorer. Setiap pagi ia berangkat ke puskesmas kecamatan dengan motor tua peninggalan ayahnya. Gajinya kecil, kadang bahkan telat cair, tapi Nadin selalu pulang dengan cerita penuh semangat: menolong ibu melahirkan, memeriksa balita, atau sekadar memberi penyuluhan kesehatan. Namun di rumah, semangat itu selalu dipatahkan. Suatu sore, Bu Rahayu sedang berbincang dengan beberapa tetangga di teras. Nadin baru pulang kerja, masih mengenakan seragam putihnya yang mulai pudar warnanya. "Wah, baru pulang kerja ya, Mbak Nadin?" sapa salah satu tetangga. Nadin tersenyum, "Iya, Bu." Tapi sebelum ia sempat duduk, Bu Rahayu sudah menimpali dengan tawa hambar. "Iya, kerja sih kerja. Tapi tahu sendiri, cuma honorer. Dapat gajinya paling buat beli bensin motornya itu." Beberapa ibu terdiam, ada yang tertawa kecil, ada pula yang menatap Nadin dengan rasa kasihan. Nadin tersenyum kaku, meski dalam hatinya runtuh. Setelah tamu pulang, Nadin masuk kamar dengan mata berkaca-kaca. "Rama..." suaranya bergetar saat suaminya masuk. "Kenapa Ibu selalu begitu ke aku? Aku salah apa?" Rama menarik napas dalam, duduk di sampingnya. "Kamu nggak salah, Nad. Ibu cuma... ya, memang begitu orangnya. Dia selalu ingin yang terbaik buat aku." "Yang terbaik itu apa, Ram? Yang gajinya besar? Yang statusnya tinggi? Bukankah seorang istri itu yang penting harus patuh dan setia sama suaminya?." Rama terdiam. Ia tidak bisa menyangkal. Nadin pun terisak pelan, menyadari bahwa perjuangannya sebagai bidan honorer bukan hanya melawan pandangan masyarakat, tapi juga rasa tidak diterima di rumah mertuanya sendiri. Hari demi hari, kata-kata tajam dari mertua dan bisikan tetangga terus menghantui. "Bidan kok honorer, kasihan suaminya." "Kalau mau hidup enak, jangan nikah sama pegawai honorer." "Bisa apa sih gajinya? Paling kalah sama tukang bangunan harian." Kalimat-kalimat itu membekas di telinga Nadin. Kadang ia ingin menyerah, berhenti bekerja, lalu mencari pekerjaan lain yang lebih dianggap. Namun setiap kali ia membantu persalinan, mendengar tangisan pertama seorang bayi, melihat senyum lega seorang ibu, Nadin kembali kekuatannya. Baginya, menjadi bidan bukan sekadar soal gaji. Ini adalah panggilan jiwa. Tapi akankah mertua dan masyarakat pernah melihat itu? Malam itu, sebelum tidur, Nadin menatap wajah Ardi yang sudah terlelap. Dalam hati, ia berbisik, Aku akan buktikan, Ram. Aku mungkin cuma bidan honorer, tapi suatu hari semua orang akan tahu arti pengabdian ini. Aku bukan perempuan lemah seperti yang mereka pikirkan. Dan dengan tekad itu, Nadin memejamkan mata, menyimpan luka sekaligus menyiapkan diri untuk hari-hari berat yang masih menantinya. Malam semakin larut. Nadin duduk sendirian di teras rumah mertua, ditemani suara jangkrik dan aroma tanah basah yang masih tersisa setelah hujan sore tadi. Rama sudah tidur di kamar karena kelelahan, sementara Bu Rahayu masih terdengar berbicara di ruang tengah lewat telepon. Sesekali terdengar nada tinggi suaranya, seperti biasa-tegas, keras, dan penuh gengsi. Nadin mengusap lengannya sendiri. Udara dingin menusuk kulit, tapi bukan itu yang membuat tubuhnya menggigil. Lebih karena perasaan terasing di rumah yang seharusnya menjadi rumahnya juga. "Menjadi istri itu sudah sulit," batinnya, "tapi menjadi menantu di rumah yang tidak benar-benar menerimaku... rasanya seperti berjalan di atas duri." Ia teringat wajah ibunya di kampung, yang sempat memeluknya erat sebelum ia dibawa ke rumah Rama. "Nadin sayang, nak. Kamu harus kuat. Orang menikah bukan hanya dengan suami, tapi juga dengan keluarganya. Kalau ada yang meremehkanmu, buktikan dengan kesabaran dan kerja keras." Kalimat itu menguatkan, tapi tetap saja, hatinya rapuh. Nadin menatap tangannya sendiri. Tangan ini tadi siang menolong seorang ibu muda di puskesmas yang nyaris melahirkan di ruang tunggu. Meski hanya bidan honorer, tangannya sudah berkali-kali menyentuh batas hidup dan mati. Bukankah itu cukup mulia? Tapi kenapa orang-orang masih melihatnya sebelah mata? Keesokan paginya, suara keras Bu Rahayu membangunkannya. "Rama! Kamu jangan manja sama istrimu. Suruh dia belajar mengurus rumah. Masa semua Ibu yang kerjakan?" Nadin segera bangun, menyingkap selimut, dan bergegas ke dapur. Ia ingin menunjukkan itikad baik. Tapi ketika sampai di sana, Bu Rahayu sudah menata piring dan memasak sayur. Wajahnya masam saat melihat Nadin datang. "Baru bangun? Kalau orang desa itu biasanya sudah bangun subuh. Bantu suaminya, bantu mertuanya. Jangan cuma bisa kerja di luar lalu pulang bawa badan capek," katanya sambil mengaduk kuah sayur. Nadin menunduk. "Maaf, Bu. Saya akan bangun lebih pagi besok." "Ah, percuma. Bidan honorer sibuknya sok-sokan saja. Kerjanya nggak seberapa, gajinya juga kecil, tapi pulang selalu capek. Coba kalau PNS, beda cerita. Ada masa depan." Kata-kata itu menusuk lagi. Nadin menelan ludah, mencoba menahan air mata. Kalau saja bukan mertua yang bicara, mungkin ia sudah pergi meninggalkan dapur. Tapi ia tahu, di sinilah ujian barunya dimulai. Siang harinya, Nadin mendapat panggilan mendadak dari puskesmas. Seorang ibu hamil dari desa tetangga mengalami kontraksi lebih cepat dari perkiraan. Nadin segera berpamitan. "Bu, saya dipanggil ke puskesmas. Ada persalinan darurat," katanya sambil meraih tas kecil berisi peralatan sederhana. Bu Rahayu hanya menoleh sekikas lalu mendengus. "Ya sudah, sana. Tapi jangan berharap kamu dapat bayaran besar. Orang desa paling ngasihmu apa? Beras, ayam, atau sekadar ucapan terima kasih. Kalau mau hidup enak, bukan begitu caranya." Nadin tersenyum kaku, meski hatinya sakit. Ia tahu benar, seringkali ia memang pulang hanya dengan sekantong sayuran atau seikat pisang. Tapi bagi Nadin, setiap tangisan bayi yang lahir adalah hadiah paling berharga. Rama yang ikut mendengar hanya bisa diam, menatap istrinya penuh iba. Di puskesmas, Nadin bekerja dengan cekatan. Tangannya gemetar sebentar saat pertama kali melihat kepala bayi mulai keluar, tapi ia segera menguasai diri. "Ibu, tarik napas dalam... keluarkan pelan-pelan. Bagus, Bu. Sedikit lagi..." Tak lama kemudian, tangisan nyaring bayi perempuan memenuhi ruangan. Ibu itu menangis lega, suaminya sujud syukur di lantai. Mereka berterima kasih berkali-kali, bahkan memeluk Nadin dengan haru. "Terima kasih, Bu Bidan. Kalau bukan karena Anda, mungkin istri saya tak selamat." Nadin tersenyum, matanya ikut berkaca-kaca. Saat-saat seperti inilah yang membuatnya bertahan, meski direndahkan mertua, meski digaji rendah, meski dicibir tetangga. Baginya, inilah panggilan jiwa. Namun, kebahagiaan itu sirna begitu ia pulang ke rumah. Di ruang tengah, Bu Rahayu sudah duduk menunggu dengan wajah dingin. "Lama sekali. Kamu tahu nggak, Rama tadi makan siang cuma dengan tempe goreng. Kamu ke mana saja? Kalau sudah nikah, kewajiban pertama itu mengurus suami, baru kerja. Jangan dibalik." "Maaf, Bu," suara Nadin bergetar. "Tadi ada persalinan darurat, Bu. Nyawa ibu dan bayi bisa terancam kalau saya terlambat." "Tapi tetap saja, apa gunanya? Kamu cuma honorer. Orang kalau butuh bidan yang benar-benar ahli, pasti cari yang sudah PNS. Kamu itu hanya cadangan, Nadin. Cadangan!" Kata itu menghantam seperti palu. Cadangan, seolah-olah hidupnya hanya sisa, hanya pengisi, tak pernah dianggap utama. Nadin akhirnya masuk kamar, menutup pintu, dan membiarkan air matanya jatuh deras. Di balik pintu, ia mendengar suara mertuanya lagi, bercampur dengan suara Rama yang mencoba menenangkan. "Terserah kamu, Ram. Tapi Ibu nggak yakin Nadin bisa jadi istri yang membanggakan. Hidupmu akan berat kalau terus bersamanya." Mata Nadin merah. Dadanya sesak, seperti ada batu besar yang menindih. Kata-kata itu terus bergema di kepalanya, menusuk lebih dalam daripada sekadar ucapan. Nadin meremas ujung kerudungnya, mencoba menahan perih yang kian meluap. "Apa aku memang seburuk itu di mata mereka?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ia ingin menutup telinga, tapi suara dari luar tetap jelas. Suara Rama, yang biasanya menenangkan, kini terdengar gamang. "Bu, Nadin itu baik. Dia berusaha keras buat menyesuaikan diri. Jangan gitu..." Rama mencoba menegaskan, tapi suaranya terdengar ragu, seakan ikut terhimpit di antara kasih pada istrinya dan bakti pada ibunya. Air mata Nadin makin deras. Ia berharap Rama membelanya habis-habisan, tapi nyatanya, laki-laki itu terdengar seperti seseorang yang sedang menimbang, bukan berdiri tegak untuknya. Nadin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu mendekap bantal erat-erat. Hatinya ingin berlari jauh, keluar dari rumah itu, dari pandangan penuh penilaian, dari ucapan yang membuatnya merasa kecil. Tapi di sisi lain, ada cinta untuk Rama yang membuatnya bertahan. "Aku kuat... aku harus kuat..." ucapnya, meski suaranya bergetar. Namun, di dalam lubuk hatinya, Nadin tahu luka itu tidak akan mudah sembuh. Dan ia mulai bertanya-tanya, apakah cintanya pada Rama cukup untuk melawan rasa sakit karena tidak pernah dianggap pantas oleh keluarganya sendiri.I stir, disoriented, everything spinning as I try to remember what happened.Flashes hit me hard—metal crunching, tires screaming, fire.The crash from the car race I watched earlier in the day messed with my head. Sparking pain like citric acid poured into a wound.My worst mistake? Thinking a nap would make it go away."Elsa cheated again," I croak, forcing myself upright on the bed, each movement heavier than it should be.Jeffery, Liam, and Rose glance at each other—silent, tense, like they're wondering if I even know where I am."Liam," I croak, "Yes, I was drunk but I wasn't driving. She was. I—I saw a text. From someone. Sean..."The words feel slippery, like water spilling through my fingers."We don't need to go back there," Liam says quickly, cutting me off. "You're alive. That's all that matters.""Rose, check his temperature," Jeffery says, shoving a thermometer and stethoscope into her hands like he's desperate to do something."I'm fine," I snap, even though I'm not.Wh
"I had to dash down immediately I heard. Thank you again.""It's the least I can do, Mr Harrold.""Call me Liam, please.""Erm...""I insist.""...Alright. Liam."Last night, when Jeffrey barged into our quarters asking for me, I already suspected it was about Kendrick. He claimed it was "Mr Liam," but the urgency in his voice gave him away.When I arrived, Kendrick was in the middle of another episode—worse than before. No one knew what triggered it.Thankfully, the room was stocked. The wardrobe alone looked like a mini hospital. His doctor was away for her sister's inauguration, so they had no choice but to call me."He's sleeping," Jeffrey says quietly, stepping aside."Dr Madison said he was improving," he murmurs. "Something must've set him off.""Mother can't find out about this."Jeffrey tenses. "Sir...""You do realise Keisha—""It's Rose.""Right. Rose," Liam corrects without missing a beat."She's involved.""We didn't have a choice. Someone outside the family knows. She ne
A tall man in a pressed shirt steps over, clearing his throat softly but standing firm. It's the manager. I've seen him here before—always poised, always watching from a distance. Tonight, he's up close, and his smile is tight."Sir," he begins, voice calm but with a thread of steel, "you know we close by ten. But because of the respect I have for your family, we decided to extend it to twelve."He glances at his watch. "It's two."I open my mouth, but he gently cuts in."We really need to close now. Lora over there's been waiting to shut down the systems since midnight."I follow his gaze to the woman by the bar, arms crossed, apron loosened, eyes drooping."Look," I say, pulling out my wallet, "I'll pay extra. Whatever the cost—add it."He gives a slow nod, almost sympathetic. "And we appreciate that. But it's not about the money tonight. It's time."I exhale, pressing the bills into his hand anyway. "Thanks," I murmur.He nods once and steps back.I turn to Elsa, still draped in he
"Why are you staring at me like that?" I ask, raising an eyebrow at Keisha as I fold the clean clothes into the wardrobe.She shrugs, arms loosely crossed over her chest, her eyes soft with thought. "Just thinking.""Is everything okay?" I pause, watching her more closely.She nods slowly. "Yeah. Just... thinking about how far we've come. I miss Mama Dee and Papa."A lump forms in my throat. "Me too," I whisper. "I wish they were here to see me now—becoming the doctor I always dreamed of.""They'd be so proud of you," she says, smiling faintly."And of you, Keisha. You took me in, cared for me like both a mother and father. I'll never forget that."She waves her hand dismissively. "Pfft. More like a burden.""Keisha, don't say that!" I drop the towel and take her hand. "You've never been a burden to me. You gave up so much, put me through the rest of high school. That's more than enough."She tries to hide the way her eyes well up, turning slightly. "Our parent's savings did most of i
Yesterday with Rose was... something else. I didn't want the moment to end. She looked tired—you could see it in her eyes—but she still showed up. For me. That meant more than I could explain. I know it wouldn't have happened without Liam's help, which is why I ask Jeffery to get everyone out of th
Kendrick's so-called surprise has been gnawing at the back of my mind all day, like a song stuck on loop. Locked up, yet still plotting something? That has to take serious effort. Has he ditched the wheels? Gotten all his memory back? Whatever it is, it's been itching under my skin, refusing to let
"I'm so proud of you, Kendrick.""Thanks, Dr. Madison."She smiles, packing up. "You're making real progress."I nod, feeling an odd mix of satisfaction and unease."I'll be back next week but first, I need to speak with Gregory and Mary.""Sure."She performed the surgery that saved my life. Neuro
"Are you okay?" Keisha asks, serving up a plate of rice and chicken soup."Yes. Why?""You've been acting weird.""Weird how?"She leans against the counter, eyeing me. "You're spending extra time at the library than agreed, crashing at my place way too often even though your apartment is practical
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.