LOGIN“Tuan Sanders baru menyelesaikan pendidikan di Gordon University, sekarang dia menjadi seorang produser musik untuk beberapa agensi. Tuan Sanders sering pulang lewat tengah malam, saat mendengar klakson di depan gerbang, kau harus cepat-cepat bangun dan membukanya agar tidak terkena damprat. Tuan Sanders punya tempramennya yang sedikit buruk. Saat beres-beres rumah, jangan sembarangan masuk ke ruangan musiknya, dia sangat sensitif jika barang pribadinya disentuh orang asing, bahkan kertas sobek sekalipun.”
Isela mengangguk dengan serius. “Bagaimana dengan tuan Riven dan nona Avery?” “Tuan Riven satu angkatan denganmu dan sedang menempuh gelar diploma, dia seorang penari es skating professional. Diantara semua orang, tuan Rivenlah yang paling santai dan rendah hati.” Isela tersenyum menyembunyikan sepercik kebahagiaan baru yang tumbuh begitu mendengar, jika ternyata Riven menyukai es skating seperti dirinya. “Sementar nona Avery, dia mulai berlatih acting untuk mengikuti jejak karier nyonya Dahlia. Kau harus tahu Isela, nona Avery adalah permata di rumah ini, semua orang sangat menyayanginya. Sebagai seorang pelayan, kau jangan pernah membantah ucapan nona Avery, turuti saja semua permintaannya dengan begitu semua urusan agar segera selesai,” nasihat Regina memberitahukan poin-poin penting yang harus Isela tahu agar dia tidak terkejut saat berhadapan langsung dengan majikan yang nanti akan dia layani. “Saya mengerti Regina.” “Apa ini pekerjaan pertamamu?” “Saya pernah bekerja paruh waktu di kebun kol disetiap musim panen.” “Tantangan bekerja di rumah dan tempat biasa itu berbeda. Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, namun aku ingin kau tahu, menjadi seorang pelayan mengharuskanmu peka pada sifat masing-masing orang yang ada di dalam rumah. Selain harus bersabar, hatimu juga harus lebih kuat, abaikan setiap perkataan buruk yang akan mengganggu dan mempengaruhi mentalmu.” Isela mengangguk patuh, berada di lingkungan yang beracun sudah biasa baginya, hinaan dan cacian tidak akan bisa membuat Isela menangis. Justru, tantangan terbesarnya kali ini adalah melayani keluarga ayah kandungnya sendiri, berlindung dibawah atap rumahnya menjadi pelayan sambil menyaksikan kebahagiaan mereka. “Isela, nyonya Dahlia menunggumu di belakang. Jangan membuatnya menanti lama,” ucap Lilith memberitahu. Isela segera beranjak meninggalkan dapur dan pergi ke taman belakang untuk menemui Dahlia. Dibawah lampu-lampu taman yang menyinari kegelapan malam, mata Isela menyipit memfokuskan pandagan matanya yang tidak menggunakan kacamata. Semakin dekat langkah Isela, samar-samar dia melihat keberadaan Dahlia yang tengah duduk sendirian, sibuk membaca sebuah naskah film yang tengah digarapnya. Langkah Isela memelan, ragu dan gugup membuatnya tidak memiliki keberanian untuk bersuara. Menyadari kedatangan Isela, Dahlia menutup naskah yang tengah dibacanya. “Duduklah.” Dengan patuh Isela akhirnya duduk dihadapan Dahlia. Dahlia melipat tangannya didada. Di bawah lampu kekuningan yang menerangi mereka berdua, wanita itu meneliti penampilan Isela dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dimata Dahlia, Isela terlihat seperti gelandangan. Sesaat Dahlia melihat kepenjuru arah untuk memastikan tidak ada siapapun yang dapat mendengar. “Apa ibumu telah berkata sesuatu selama perjalanan kesini?” Jemari Isela bertautan dipangkuan. “Apa Anda juga sudah tahu siapa saya?” Isela balik bertanya. Tubuh Dahlia menegak, sorot matanya berubah tajam karena keberanian Isela balas bertanya. “Apa yang sudah ibumu katakan?” Isela menarik napasnya dalam-dalam, dengan menahan malu dia berkata, “Ibu bilang, saya akan akan tinggal bersama ayah dan melanjutkan sekolah di ibukota.” Dahlia membuang muka, memandangi rumah mewahnya yang kini berada dalam kedamaian. “Grayson memang ayah kandungmu.” Bibir Isela terkatup rapat, dipenuhi oleh kelegaan dan sakit yang datang secara bersamaan mendengar pengakuan Dahlia, isteri sah Grayson yang secara tegas mengakui statusnya sebagai anak Grayson. Beberapa kali Isela mengatur napasnya untuk mengumpulkan keberanian bertanya, “Apakah ayah saya tahu, bahwa dia memiliki anak dari wanita lain selain Anda?” “Grayson tahu kau ada didunia ini. Namun patutnya kau tahu juga, jika Grayson tidak pernah mencarimu sejak kau dilahirkan, itu artinya dia tidak peduli dengan hidup dan matimu.” Hati Isela tertohok begitu sakit mendengar jawaban Dahlia. Benar kata Dahlia, jika Grayson mengetahui keberadaannya namun tidak pernah sekalipun mencarinya, itu artinya Isela memang tidak diinginkan dan terbuang bukan? Samar Dahlia tersenyum, memandangi kerapuhan Isela karena menelan lebih banyak kekecewaan dari berbagai kenyataan yang tidak dia duga. “Aku mengizinkanmu tinggal disini bukan untuk memberitahu Grayson bahwa kau putrinya. Aku hanya kasihan pada ibumu yang memohon-mohon sambil menangis. Aku akan menyekolahkanmu disekolah terbaik agar masa depanmu cerah. Tapi jangan mengharapkan apapun lebih dari itu. Selama kau tinggal di rumah ini, kau harus menjadi pelayan yang professional dan selesaikan sekolahmu secepatnya, lalu pergi baik-baik seperti para pekerja biasanya.” Seakan tidak puas dengan peringatan yang dilayangkan, Dahlia kembali bicara, “Lihatlah Gyason, aku dan dia telah menikah selama 30 tahun lamanya. Grayson memiliki keluarga yang sempurna dan kami hidup bahagia. Apa kau tega, setelah puluhan tahun dia hidup bahagia, kau merusak kebahagiaan kami?” “Andaipun kau nekat memberitahu siapa dirimu, aku orang pertama yang akan menolakmu, begitupun dengan anak-anakku, dan apa kau yakin Grayson bisa menerima seorang anak diluar nikah dalam kondisi cacat? Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dan menjadi sasaran kebencian. Kau akan diusir dan kami tidak peduli kau akan pergi kemana.” Isela bernapas tersengal memandangi jarinya yang gemetar hebat. Sekuat tenaga Isela menekan hatinya untuk tahu diri dan tidak serakah. Dahlia tidak jahat, dia hanya berbicara kebenaran sebagai seorang isteri sah sekaligus ibu dari ketiga anaknya. Dahlia menekan Isela demi menjaga rumah tangganya agar tidak hancur. “Saya mengerti, Nyonya,” bisik Isela nyaris tidak terdengar. “Kau boleh pergi.” “Terima kasih, Nyonya,” ucap Isela sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu dengan sisa-sisa harga dirinya usai berhadapan seorang isteri sah yang bersedia memberikan kebajikan pada anak haram hasil perselingkuhan suaminya. Apakah Isela bersyukur? Tidak. Isela justru merasa malu dihadapan Dahlia. Kebaikan hati Dahlia seperti sedang menguji dirinya, apakah Isela akan selalu sadar diri dan terus berdiri ditempat yang gelap menyaksikan keluarga ayahnya yang sempurna, atau menjadi serakah dengan menjadi noda yang merusak keluarga Grayson.Riuh suara penonton terdengar menggema di tribun. Sebuah gelanggang es, kini tengah dijadikan panggung penting untuk para pair skating yang mengikui olimpiade musim dingin. Keluarga Grayson duduk berbaris mengisi kursi. Marizawa yang pernah menjadi tokoh penting di dunia es skating, kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ditengah pusat perhatian itu, Marizawa tersenyum dengan mata berkaca-kaca terharu, jantungnya berdebar kencang diletupi oleh kebahagiaan. Marizawa merasa seperti dibawa kembali pada masa mudanya yang dia habiskan di lantai es, mengekspresikan seluruh jiwanya dengan menari. Marizawa sangat bangga, warisan bakat yang sangat dia cintai telah menurun pada kedua cucunya yang sebentar lagi akan tampil. Marizawa tidak mengharapkan apapun, hanya dengan menyaksikan Isela dan Riven tampil bersama, itu sudah menjadi sebuah kehormatan yang tak terhingga untuknya. “Kapan mereka akan tampil? Aku sudah sangat gugup,” ucap Grayson tampak gelisah. “Sabarlah, Grayson.
Begitu proses putusan persidangan telah selesai dilakukan. Grayson langsung meninggalkan kursinya bersama Aurelie, menghampiri Riven dan Sanders untuk memberikan mereka dukungan.Grayson tidak berbicara sepatah katapun pada Dahlia yang saat ini sedang menangis pilu di kursinya. Setelah resmi bercerai, bagi Grayson segalanya telah selesai, tidak ada tanggung jawab yang perlu dia lakukan pada Dahlia. Grayson tidak sudi harus memberinya perhatian, mengingat seberapa teganya Dahlia selama ini padanya.Dari tempatnya, Isela masih duduk dan memperhatikan tanpa berani mendekat.Isela cukup puas mendengar hukuman yang harus Dahlia jalani selama sepuluh tahun di dalam pejara. Mungkin terdengar tidak adil untuk keluarga korban yang meninggal. Tetapi, ini akan memberikan peringatan yang cukup keras untuk Dahlia, yang harus menjalani masa tuanya dalam kesendirian di balik jeruji besi.Air mata terus berlinangan tanpa henti, tangannya terulur kembali harus diborgol. Wanita itu menatap ke sekelil
Setelah enam bulan menanti dan melewati proses penyelidikan, akhirnya hari putusan pengadilan akhirnya telah tiba.. Dahlia menjalani tahanan di penjara berfasilitas terbaik. Setiap hari dia menghabiskan waktunya dalam ruangan, sekalinya keluar hanya untuk merasakan hangatnya sinar matahari tanpa mau berinteraksi dengan siapapun. Dunia Dahlia yang gemerlap oleh kebebasan, kesenangan dan kemewahan telah berubah, sangat gelap dan sunyi. Dahlia masih sering menangis setiap kali dia merasakan kesepian, dia masih tidak menyangka bahwa di penjara lah dia menghabiskan masa tuanya. Seumur hidupnya Dahlia, dia selalu diberi kemudahan, dia selalu berada di atas angin sebelum akhirnya sebuah ‘karma’ datang merusak sayapnya dan membuat Dahlia jatuh, sejatuh-jatuhnya. Dahlia terperosok di dalam kesendiria, putus asa, hingga titik dimana dia sampai malu saat memandangi diri sendiri di cermin. Berkali-kali Dahlia jatuh sakit dengan kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Dalam perenungannya,
Sapuan cahaya merah menyentuh kulit yang bertelanjang tak tertutupi sehelai benang pakaianpun. Jach terbaring miring menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan. Kehangatan dari panas tubuh masih menguar disekitar.. Suara deru napas terdengar ditengah kesunyian Jach yang tengah memandangi Isela yang memunggunginya. Tangan Jach terulur, ujung telunjuknya menjangkau tubuh telanjang Isela dan mengusap cekungan tulang pinggangnya yang menggoda pandangan. Pakaian mereka berceceran dilantai dengan beberapa pengaman yang telah terpakai. Jach bergeser mendekat, tidak sempat dia memeluk, tangan Isela menepisnya, seketika gadis itu berguliang ke pinggiran ranjang dan menggulung diri dengan selimut. Matanya yang sambab habis menangis menatap curiga gerak-gerik Jach. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Isela dengan suara serak. “Aku hanya ingin membangunkanmu. Kupikir kau sedang tidur,” jawab Jach dengan sorot mata cerahnya, bahkan tidak ada elah sedikitpun yang tersirat diwajahnya. “Bohong!”
Rambut Isela menyapu pipi, terlepas dari ikatanya. Gadis itu mengangkat wajahnya menyaksikan cahaya matahari yang sudah berada di puncaknya, bersiap turun ke ufuk barat.Hamparan bunga matahari yang bermekaran membentang sejauh mata memandang, terlihat cerah menyilaukan.Ibukota yang terlukis mewah dan modern terlihat jauh berbeda dengan kondisi sudut tempat lainnya yang seperti tidak banyak tersentuh kemajuan. Kendaraan bergerak cepat di jalanan berkelok, menyusuri sepanjang pesisir danau, melewati luasnya ladang dan hutan sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah gerbang hitam yang terbuka.Kaca kendaraan menurun, memperjelas penglihatan Isela dari sebuah mansion bergaya artistik menghadap kangsung ke arah danau dengan sebuah yacht koru yang bertengker tepat didepannya.Isela berkedip pelan, teringat dengan sebaris dongeng yang menceritakan istana kerajaan yang berdiri di tengah hutan. Rasanya, kini dia sedang berada dalam dongeng itu.Pintu disisi Isela terbuka, membawanya kel
“Kau menghindariku ya?” tanya Asteria mengomentari Riven yang berkali-kali menghindar setiap kali berpapasan dengan Asteria, Riven membuang pandangan setiap tidak sengaja bertatapan.Sikap Riven seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk karena Asteria telah melakukan kesalahan padanya.Sejak hari itu.. tepatnya sejak kencan tiga hari yang Asteria tawarkan. Hubungan Riven dan Asteria menjadi ambigu, bukan teman, bukan musuh, bukan pula pacar, namun mereka sangat sering kedapatan berdua.Asteria telah ingkar janji dengan ucapannya untuk berhenti mengganggu Riven. Asteria tidak dapat membendung ketertarikannya, ada kesenangan yang dia rasakan setiap kali berdekatan dan menggoda Riven. Dibalik sifatnya yang jutek, Riven adalah pemuda yang manis, polos dan perhatian.Wajahnya yang pernah menjadi alasan Asteria tertarik padanya, kini telah barubah pada hatinya yang menjadi alasan kuat Asteria benar-benar menyukainya.Lantas apa yang dirasakan Riven terhadap Asteria?Riven tidak menam