Share

Terselamatkan

Author: Mom Three
last update publish date: 2026-06-25 06:11:46

Suasana Instalasi Gawat Darurat mendadak dipenuhi kepanikan.

Ayu langsung dibawa masuk menggunakan brankar oleh beberapa perawat.

"Dokter! Tolong istri saya!" ujar Kael dengan napas yang masih memburu.

Wajah Ayu sudah pucat pasi. Jemarinya mencengkeram erat lengan Kael.

"Mas... anak kita... selamatkan anak kita."

Kael mengangguk cepat.

"Kamu tenang dulu."

Namun Ayu justru semakin menangis.

"Tolong jangan biarkan aku kehilangan dia,Mas, raut wajahnya Ayu begitu khawatir.

Di belakang mereka, Nyonya Mirasih berjalan mondar-mandir dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.

Beberapa kali wanita paruh baya itu meremas kedua telapak tangannya sendiri. Bibirnya terus komat-kamit memanjatkan doa.

"Ya Tuhan... jangan sampai terjadi apa-apa pada cucuku."

Sementara itu, Tuan Devgard berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Meski berusaha terlihat tenang, rahangnya terlihat mengeras.

Sesekali pria paruh baya itu menatap ke arah pintu ruang pemeriksaan yang masih tertutup rapat.

Waktu terasa berjalan begitu lambat.

Dua puluh menit berlalu.

Akhirnya ruang pintu terbuka.

Seorang dokter keluar sambil membawa hasil pemeriksaan.Seketika semua orang berdiri.

"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Kael.

Dokter tersenyum tipis.

"Anda tak perlu khawatir. Untungnya pasien segera dibawa ke rumah sakit. Janinnya masih bisa diselamatkan,Tuan Kael."

Semuanya langsung mengembuskan napas lega.

Ayu yang masih berada di atas ranjang perlahan memejamkan matanya.Air mata kembali jatuh di kedua pipinya.Tangannya terangkat untuk menyentuh perutnya sendiri.

"Syukurlah..."

Nyonya Mirasih yang sedari tadi tegang langsung mengusap dadanya berkali-kali.Air matanya ikut menggenang.Ia berjalan mendekati Ayu dan menggenggam tangannya erat.

"Jangan membuat Mamah takut lagi, Ayu. Apapun yang kamu rasakan, kamu harus bilang sama mamah.”

Ayu mengangguk pelan.

"Maaf, Mah."

Nyonya Mirasih mengusap rambut Ayu dengan penuh kasih sayang.

"Kamu harus lebih menjaga diri sekarang. Cucu Mamah ada di dalam sana. Kamu jangan mau kalah dengan wanita miskin itu," tuturnya.

Di samping mereka, Tuan Devgard juga terlihat jauh lebih tenang.

Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum menepuk bahu Kael.

"Syukurlah semuanya baik-baik saja."

Namun, beberapa detik kemudian, ekspresi Kael perlahan berubah.Tatapannya mendadak kosong.Seolah baru teringat sesuatu.

Nuna.

Ia meninggalkan Nuna sendirian di rumah besar itu. Harusnya dia membawa Nuna pergi hari ini.

Kael merogoh ponselnya ke dalam saku celana. Tak ada panggilan ataupun pesan masuk dari gadis itu.

Lalu Kar mencoba mengubungi terlebih dahulu. Tak ada jawaban. Kael nampak emosi. Tanpa ia sadari, kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna.

Kael mengangkat kepalanya.

"Papah.Tolong jaga Ayu malam ini."

Nyonya Mirasih menoleh.

"Kamu mau ke mana, Kael?"

“Mengantar Nuna.”

“Sekarang?”

Kael hanya membalasnya dengan anggukan.

"Apa kamu sudah gila?” suara itu berasal dari Tuan Devgard yang sejak tadi berdiri di depannya.

“Bukannya Ayu sudah baik-baik saja. Kata dokter anaknya selamat."

“Jangan halangi aku, Pah.”

“Aku harus mengatar Nuna sekarang."

Mendengar nama itu, ekssi Nyonya Mirasih langsung berubah.Senyumnya memudar begitu saja.

Sementara Ayu yang semula terlihat tenang, jemarinya perlahan mengepal di balik selimut.Ia menahan gejolak emosi yang kembali muncul di dadanya.

Namun Kael tidak menyadarinya.

"Aku titip Ayu pada kalian."

Tanpa menunggu jawaban, Kael segera berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.

Ayu menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.

Dadanya mendadak terasa sesak.

"Mas Kael..."

Suara lirih itu nyaris tak terdengar.

Ayu mulai takut. Matanya kembali mengkristal.Takut kalau perhatian Kael perlahan tidak lagi hanya tertuju padanya.

“Kenapa saat seperti ini, dia masih ingat Nuna.”

Airmata Ayu tumpah menetes di pipinya.

“ Mas, Kael.”

Nyonya Mirasih meraih tangan menantunya itu. Dan menguatkannya.

“Kael memang sangat keterlaluan. Kenapa di saat seperti ini, dia justru pergi demi wanita itu.”

“Nuna... Kamu benar-benar sudah merebutnya. Merebut Mas Kael dariku.”

“Kael memang bodoh.”

“ Gadis itu memang pembawa sial. Sampai kapan Kael terus membelanya,” ucap Nyonya Mirasih dengan penuh emosi.

Suasana dalam ruang itu nampak sepi kembali. Hanya suara alat medis dan jarum jam yang berdetak begitu keras.

***

Sementara itu di kediaman Kael.

Nuna sedang duduk di balkon kamarnya. Tidak ada yang ia lakukan untuk saat ini.

Di sini, di rumah bak istana, Nuna seperti burung dalam sangkar emas. Hidup dalam kemewahan, tapi dia seperti dalam penjara.

Nuna tertawa kecil. Tawa yang tak lama. Hanya beberapa detik saja. Ia hanya sedang mentertawakan hidupnya.

“Bisa-bisanya aku kasihan pada diriku sendiri.”

“Apa memang begini nasibku? Selalu jadi yang tersisih?”

Sruppp...

Kopi yang sudah hangat diseruput pelan.

Nuna terus menatap luar kediaman Kael. Pohon-pohon yang rindang dan daun yang terus bergoyang karena tertiup angin.

Kejadian pagi ini masih terus terbayang. Ancaman dari Nyonya Mirasih, tatapan dingin Tuan Devgard. Semua berputar begitu saja seperti sebuah flim yang sedang berputar di layar bioskop.

“Aku tahu, dari tatapan Om Kael. Dia masih mencintai Mba Ayu. Tapi kenapa dia menikahiku?”

“Tidak semua alasan harus kamu tahu, Nuna.”

Suara bariton itu membuyarkan lamunan Nuna. Gadis itu langsung menoleh kebelakang.

Di sana sudah berdiri Kael dengan rahang yang mengeras.

“Om Kael?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kedua Om Kael   Bab Kediaman Alpha

    "Apa kamu baik-baik saja di sini?" Nuna tersenyum tenang khasnya. "Aku baik-baik saja, Om.""Kamu bisa ubah panggilanmu sekarang, Nuna.""Emmm..." Nuna terlihat canggung. "Mas... Emmm.. Mas Kael?" salah satu alis Nuna naik ke atas. Ada senyum tersembunyi di balik wajah Kael. Pria itu masih berdiri di teras. Menatap sosok istri kedua dari ujung kaki hingga rambutnya. Nuna terlihat baik-baik saja. Bahkan dari kacamata yang ia lihat, gadis yang masih berusia dua puluh tahunan itu terlihat tampil lebih cantik. "Mas kesini kenapa nggak kasih kabar dulu?""Apa perlu aku memberitahumu? Aku bisa datang kapan saja semauku. Bahkan sebaliknya, Nuna."Nuna menaikkan bahunya. "Ya, aku tahu itu.""Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Kael dengan serius. "Baik, Mas."Kael berjalan lebih dulu masuk ke dalam perumahan mewah di kota Alpha itu. Semua interiornya adalah pilihan Nuna. Tidak buruk, bahkan terlihat elegan. Mereka duduk di ruang tengah, di sana ada lukisan yang baru

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 13 Jatah Istri Kedua

    "Mas kamu mau kemana?" Kael berhenti sejenak. Sopirnya, Pak Handi membawakan koper berukuran kecil miliknya ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan. "Hari ke empat dan lima,enam, aku ke rumah Nuna."Tangan Ayu mengepal dikedua sisi tubuhnya. Ia tak bisa protes apa yang sudah menjadi keputusan suaminya. Meskipun dalam hatinya ia merasa marah dan kecewa. "Oh ya, aku lupa. Kapan kamu akan pulang, Mas? Bukannya pekerjaanmu di sini, dan rumah Nuna ada di kota Alpha akan mengganggu waktumu?"Kael tersenyum dingin. "Aku sudah atur semuanya. Mungkin aku akan membuka cabang di kota Alpha. Ini baru rencana. Ya seperti yang kamu katakan, bolak balik dari sini ke rumah Nuna pasti sangat lelah."Mendengar ucapan Kael yang begitu tenang membuat genggaman tangan Ayu semakin mengepal erat. "A-Apa? Kamu akan membuat kantor cabang di sana?" Wajah Ayu sudah panik. "Iya. Ada yang salah?"Kael menjeda kalimatnya sejenak. Lalu menatap Ayu beberapa detik. "Aku bisa melakukan apa saja yang aku m

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 12 Jika Ayu tidak mengandung anakku...

    Layar ponsel di tangan Kael menyala menampilkan notifikasi pesan singkat. Pengirimnya adalah Dokter Bayu—spesialis andrologi terkemuka yang menangani serangkaian pemeriksaan medis terkait kesuburan pria.[Pak Kael, hasil dari lab sudah keluar. Saya harap Pak Kael bisa menemui saya siang ini. Ada hal yang ingin saya katakan.]Seketika, udara di dalam kabin mobil terasa menipis. Pesan singkat itu tidak memberikan vonis secara langsung, namun cara penyampaiannya justru menyiksa batin Kael. Istilah medis mengenai kesuburan pria yang kerap menguji apakah seorang laki-laki memiliki kualitas sp3rma yang memadai untuk membuahi—berputar liar di kepalanya. Secara ilmiah, infertilitas pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan produksi sperma (seperti varikokel atau ketidakseimbangan hormon), penyumbatan saluran sperma, hingga faktor genetik dan gaya hidup.(sumber : google)Jika hasil laboratorium nanti menyatakan dirinya mandul, maka segalanya menjadi terang benderang. Ket

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 11

    Hari ini hari yang dinanti oleh Aluna Diandra. Meneruskan kuliah yang sempat tertunda. Supir turun membuka pintu mobil SUV Hitam di depan gerbang Universitas Alpha. "Silahkan, Nona.""Terima kasih, Pak."Nuna melempar senyum pada Pak Dani, supir pribadi Kael. Pak Dani membungkuk. "Sama-sama, Nona."Kaki jenjang itu berjalan memasuki area kampus bergengsi di kota Alpha. Tidak sembarang orang-orang yang bisa masuk ke dalam universitas tersebut. Hanya orang-orang beruntung dan mempunyai koneksi saja. Dan Nuna, salah satu di dalamnya. Semua mata tertuju pada gadis bermata hazel itu. Tidak dipungkiri, Nuna memang cantik. Wajahnya terlihat tenang. "Aku nggak perduli dengan penilaian orang. Bukan itu yang aku cari di sini. Aku hanya ingin memanfaatkan fasilitasku sebagai istri kedua Om Kael," batinnya. "Hidupku sudah cukup pedih. Dan aku nggak ingin terus menjadi bodoh," imbuhnya. Ia terus berjalan menyusuri kampus Alpha. Kampus yang masih terasa asing untuknya. Ya, tujuan Nuna hanya

  • Istri Kedua Om Kael   Rahasia Ayu

    "Om, tunggu," ucap Nuna menghentikan langkah Kael. "Om, Kondisi Mba Ayu masih lemah. Kenapa Om pergi begitu saja." Sorot mata Kael tajam, menyimpan marah yang hampir saja meledak. "Kamu tahu, pria yang berpapasan denganmu di lobby?" Nuna seketika mengingat. "Ya.." "Dia sahabatku," balas Kael. "Terus kenapa dengan dia? Apa hubungannya dengan Mba Ayu?" Tatapan tajam Kael melesat tepat pada Nara. Seluruh bulu kuduknya merinding. "Kamu polos atau memang bodoh, Nara?" Lalu Nunamengernyit. "Maksud Om Kael... Pria itu..." "Mereka sudah berselingkuh sejak lama. Ayu merahasiakan semua ini dariku. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa." Nuna menelan ludahnya. "Jadi... Ini alasan Om menikahi aku?" Kael menghela nafasnya. "Aku ingin membalas dendamku pada Ayu." Memang bodoh. Kenapa saat mendengar alasan Kael menikahinya karena balas dendam pada istrinya, justru Nuna merasa sakit hati. Bukannya ini bagus. Tapi perlakuan Kael padanya memang tidak terlalu buruk. Tidak s

  • Istri Kedua Om Kael   Ancaman Ayu

    Langkah Kael terhenti persis di ambang pintu. Tatapan matanya yang dingin sempat mencermati gesture Ayu—penuh dengan intrik dan kebencian yang terang-terangan diarahkan pada wanita di sampingnya. Di sisi Kael, Nuna mendongak pelan. Ada binar ketakutan dan ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari manik matanya. "A-aku..." cicit Nuna, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku yang menyuruhnya datang ke sini," potong Kael cepat. Suara baritonnya memotong udara, menyisakan gema tegas yang seketika membungkam Ayu maupun Bu Rindu. Ayu mendesis sinis. "Lain kali, nggak usah bawa gundikmu ini, Mas. Aku nggak sudi melihat dia ada di sini!" Kael langsung menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam. "Jangan sebut Nuna dengan sebutan yang tak pantas itu, Ayu! Apa kamu pikir kamu lebih baik darinya?" Ayu tersenyum pelik. "Kamu selalu membela dia di depanku, Mas. Kamu lupa semuanya? Semua tentang kita? " Kael berdehem pelan. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menampilkan gestu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status