LOGINKala dan Axel pernah saling mencintai. Tapi cinta saja tak cukup ketika dunia mereka tak pernah sejalan. Kala terikat tradisi keluarga. Axel hidup tanpa akar. Mereka berpisah, dan luka itu tak pernah sembuh. Sekarang Axel sudah bebas dari pernikahan tanpa cinta. Tapi Kala justru terkurung — menjadi janda muda yang dilarang menikah lagi oleh mertuanya. Ketika takdir mempertemukan mereka lagi di tempat yang penuh kenangan, Axel bersumpah tidak akan melepaskannya untuk kedua kalinya. Ia akan melawan siapa pun yang menghalangi. Tapi apakah Kala masih punya ruang untuk cinta? Dan apakah kali ini, mereka berani melawan takdir?
View MoreBaru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya
Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me
"Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,
"Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews