LOGIN“Om Kael?”
Nuna langsung berdiri dari kursinya. Angin malam membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan. Kael berjalan mendekat.Tatapannya masih sama seperti biasanya. Sulit ditebak. “Kenapa Om pulang?” tanya Nuna pelan. “Memangnya aku tidak boleh pulang?” Nuna buru-buru menggeleng. “Bukan begitu. Bukannya Om harus menemani Mba Ayu?” Rahang Kael mengeras. Ia mengambil cangkir kopi di atas meja lalu menyesapnya tanpa izin. “Kopi dingin.” “Karena sudah lama dibuat. Om mau bikin yang baru?" Kael menggeleng pelan. Lalu mengembalikan cangkir itu ke meja. “Dokter bilang Ayu baik-baik saja.” Nuna mengangguk pelan.Dadanya terasa sedikit lega mendengarnya. Senyum tipis khasnya tersungging di bibirnya. ”Syukurlah.” “Kenapa kamu terlihat lebih khawatir daripada keluarganya sendiri?” Nuna terdiam. Ia menundukkan pandangan. “Mba Ayu sedang mengandung. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.” Entah kenapa, jawaban itu membuat Kael menatap Nuna lebih lama.Biasanya orang dalam posisi Nuna akan merasa senang jika Ayu tertimpa masalah.Tapi gadis ini justru sebaliknya. “Kamu aneh.” “Hah? Aku?” tunjuk Nuna tepat diwajahnya. “Orang-orang yang dibenci keluargaku biasanya akan membalas kebencian itu.” Nuna tersenyum tipis. “Tapi aku tidak punya siapa-siapa untuk dibela, Om.” Kalimat itu membuat Kael membeku. Untuk sesaat ia seperti melihat dirinya sendiri bertahun-tahun lalu. Sendirian.Tidak diinginkan.Dan selalu dianggap sebagai masalah. “Mulai sekarang kamu punya aku.” Nuna terkejut. Matanya membola. Nuna tak habis pikir kenapa Kael bersikap seperti ini. Namun Nuna sadar, mungkin Kael hanya iba saja. Dan Kael sendiri tampak tidak menyangka telah mengatakan kalimat itu. Suasana mendadak menjadi canggung. "Sebenarnya.... apa tujuan Om menikahi, Aku? Aku tahu, Om Kael masih sangat mencintai Mba Ayu." Kael terhenyak. Bola matanya melebar. "Ternyata kamu tidak sabaran, Nuna." Kael menoleh. Tatapannya menembus mata Nuna dengan keras. Nuna menelan salivanya dengan kasar. Hawa dingin mulai merambat ke sekucur tubuhnya. Suasana di kediaman Kael cukup senyap. "Aku dicurangi." Dada Nuna mencelos. Kael, Pria jangkung, dengan sorot mata tajam, dan terkenal arogan itu dicurangi, rasanya ini tak mungkin. Itu sama saja bunuh diri perlahan. "Jaga rahasia ini." "Nuna... " "iya..." "Kali ini aku peringatkan." Kael membuang tatapannya pada jendela kaca di depannya. "Di kediamanku ini, jangan terlalu mencampuri urusan orang lain." Nuna menundukkan kepalanya. “Besok pagi kemasi barang-barangmu.” Nuna mengernyit bingung. “Untuk apa?” “Kita jadi pindah.” “Pindah? Kita jadi pindah?" “Aku tidak akan membiarkan mereka terus memperlakukanmu seperti tadi pagi.” Jantung Nuna langsung berdebar. Ia menatap Kael tanpa berkedip. Sementara Kael justru memalingkan wajahnya ke arah taman. “Aku sudah menyiapkan rumah untukmu.” “Untukku?” “Rumah untuk kita.” Deg. Dada Nuna langsung menghangat. Namun mereka tidak menyadari.Di balik pintu balkon yang sedikit terbuka, seorang pelayan sedang merekam seluruh percakapan itu menggunakan ponselnya. Dan rekaman itu akan sampai ke tangan Ayu sebelum matahari terbit. *** Malam semakin larut.Angin dingin berembus pelan, menggerakkan tirai tipis yang menggantung di sekitar balkon.Nuna masih duduk di kursinya sambil memeluk kedua lututnya. Di sampingnya, Kael berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar balkon.Tatapannya lurus ke arah langit malam yang gelap.Tak ada yang berbicara.Hanya suara dedaunan yang saling bergesekan tertiup angin.Namun keheningan itu justru terasa menyesakkan. Nuna menoleh ke arah Kael.Pria itu tampak begitu dekat.Tapi dalam waktu yang bersamaan, terasa sangat jauh.Seolah ada tembok besar yang tidak bisa disentuh siapa pun. Nuna menurunkan kakinya. Ia mendekati Kael. Ada satu lagi yang mengganjal isi pikirannya. "Om..." lirih Nuna sungguh berhati-hati. Kael menoleh sekilas. "Hm? Apa lagi yang ingin kamu katakan?" balas pria itu dengan suara bassnya. Nuna lalu menggigit bibir bawahnya. Ada keraguan yang mengganjal. Namun pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya sejak pagi "Bagaimana kalau tuduhan Om tentang Mba Ayu berselingkuh itu salah? Bagaimana jika Mba Ayu dan pria itu hanya sebatas hubungan kerja saja?" Kael tak langsung menjawab. Ia duduk di kursi balkon. Kedua kakinya langsung bertumpu. "Aku tidak pernah menuduh tanpa bukti, Nuna. Semua bukti sudah jelas. Bukti foto, rekaman, hingga check-in hotel, Aku sudah mengantonginya." Nuna menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang berat yang ingin Nuna katakan. "Apa...." Kael meletakan gelas kopinya di atas meja. "Kamu berpikir, jika anak dalam kandungan Ayu itu bukan anakku?" Suaranya terdengar dingin. Nuna tersentak. Bahkan belum sempat mengatakan apapun, Kael seperti sedang membaca pikirannya. "Itu cuma pikiran kotorku, Om." "Aku juga berpikir seperti itu. Pernikahanku dan Ayu sudah bertahan lama" "Apa Om sudah pernah periksa ke dokter?" Kening Kael mengernyit. Menatap Nuna dalam-dalam. "Apa kamu berpikir, jika Aku mandul?""Apa kamu baik-baik saja di sini?" Nuna tersenyum tenang khasnya. "Aku baik-baik saja, Om.""Kamu bisa ubah panggilanmu sekarang, Nuna.""Emmm..." Nuna terlihat canggung. "Mas... Emmm.. Mas Kael?" salah satu alis Nuna naik ke atas. Ada senyum tersembunyi di balik wajah Kael. Pria itu masih berdiri di teras. Menatap sosok istri kedua dari ujung kaki hingga rambutnya. Nuna terlihat baik-baik saja. Bahkan dari kacamata yang ia lihat, gadis yang masih berusia dua puluh tahunan itu terlihat tampil lebih cantik. "Mas kesini kenapa nggak kasih kabar dulu?""Apa perlu aku memberitahumu? Aku bisa datang kapan saja semauku. Bahkan sebaliknya, Nuna."Nuna menaikkan bahunya. "Ya, aku tahu itu.""Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Kael dengan serius. "Baik, Mas."Kael berjalan lebih dulu masuk ke dalam perumahan mewah di kota Alpha itu. Semua interiornya adalah pilihan Nuna. Tidak buruk, bahkan terlihat elegan. Mereka duduk di ruang tengah, di sana ada lukisan yang baru
"Mas kamu mau kemana?" Kael berhenti sejenak. Sopirnya, Pak Handi membawakan koper berukuran kecil miliknya ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan. "Hari ke empat dan lima,enam, aku ke rumah Nuna."Tangan Ayu mengepal dikedua sisi tubuhnya. Ia tak bisa protes apa yang sudah menjadi keputusan suaminya. Meskipun dalam hatinya ia merasa marah dan kecewa. "Oh ya, aku lupa. Kapan kamu akan pulang, Mas? Bukannya pekerjaanmu di sini, dan rumah Nuna ada di kota Alpha akan mengganggu waktumu?"Kael tersenyum dingin. "Aku sudah atur semuanya. Mungkin aku akan membuka cabang di kota Alpha. Ini baru rencana. Ya seperti yang kamu katakan, bolak balik dari sini ke rumah Nuna pasti sangat lelah."Mendengar ucapan Kael yang begitu tenang membuat genggaman tangan Ayu semakin mengepal erat. "A-Apa? Kamu akan membuat kantor cabang di sana?" Wajah Ayu sudah panik. "Iya. Ada yang salah?"Kael menjeda kalimatnya sejenak. Lalu menatap Ayu beberapa detik. "Aku bisa melakukan apa saja yang aku m
Layar ponsel di tangan Kael menyala menampilkan notifikasi pesan singkat. Pengirimnya adalah Dokter Bayu—spesialis andrologi terkemuka yang menangani serangkaian pemeriksaan medis terkait kesuburan pria.[Pak Kael, hasil dari lab sudah keluar. Saya harap Pak Kael bisa menemui saya siang ini. Ada hal yang ingin saya katakan.]Seketika, udara di dalam kabin mobil terasa menipis. Pesan singkat itu tidak memberikan vonis secara langsung, namun cara penyampaiannya justru menyiksa batin Kael. Istilah medis mengenai kesuburan pria yang kerap menguji apakah seorang laki-laki memiliki kualitas sp3rma yang memadai untuk membuahi—berputar liar di kepalanya. Secara ilmiah, infertilitas pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan produksi sperma (seperti varikokel atau ketidakseimbangan hormon), penyumbatan saluran sperma, hingga faktor genetik dan gaya hidup.(sumber : google)Jika hasil laboratorium nanti menyatakan dirinya mandul, maka segalanya menjadi terang benderang. Ket
Hari ini hari yang dinanti oleh Aluna Diandra. Meneruskan kuliah yang sempat tertunda. Supir turun membuka pintu mobil SUV Hitam di depan gerbang Universitas Alpha. "Silahkan, Nona.""Terima kasih, Pak."Nuna melempar senyum pada Pak Dani, supir pribadi Kael. Pak Dani membungkuk. "Sama-sama, Nona."Kaki jenjang itu berjalan memasuki area kampus bergengsi di kota Alpha. Tidak sembarang orang-orang yang bisa masuk ke dalam universitas tersebut. Hanya orang-orang beruntung dan mempunyai koneksi saja. Dan Nuna, salah satu di dalamnya. Semua mata tertuju pada gadis bermata hazel itu. Tidak dipungkiri, Nuna memang cantik. Wajahnya terlihat tenang. "Aku nggak perduli dengan penilaian orang. Bukan itu yang aku cari di sini. Aku hanya ingin memanfaatkan fasilitasku sebagai istri kedua Om Kael," batinnya. "Hidupku sudah cukup pedih. Dan aku nggak ingin terus menjadi bodoh," imbuhnya. Ia terus berjalan menyusuri kampus Alpha. Kampus yang masih terasa asing untuknya. Ya, tujuan Nuna hanya
"Om, tunggu," ucap Nuna menghentikan langkah Kael. "Om, Kondisi Mba Ayu masih lemah. Kenapa Om pergi begitu saja." Sorot mata Kael tajam, menyimpan marah yang hampir saja meledak. "Kamu tahu, pria yang berpapasan denganmu di lobby?" Nuna seketika mengingat. "Ya.." "Dia sahabatku," balas Kael. "Terus kenapa dengan dia? Apa hubungannya dengan Mba Ayu?" Tatapan tajam Kael melesat tepat pada Nara. Seluruh bulu kuduknya merinding. "Kamu polos atau memang bodoh, Nara?" Lalu Nunamengernyit. "Maksud Om Kael... Pria itu..." "Mereka sudah berselingkuh sejak lama. Ayu merahasiakan semua ini dariku. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa." Nuna menelan ludahnya. "Jadi... Ini alasan Om menikahi aku?" Kael menghela nafasnya. "Aku ingin membalas dendamku pada Ayu." Memang bodoh. Kenapa saat mendengar alasan Kael menikahinya karena balas dendam pada istrinya, justru Nuna merasa sakit hati. Bukannya ini bagus. Tapi perlakuan Kael padanya memang tidak terlalu buruk. Tidak s
Langkah Kael terhenti persis di ambang pintu. Tatapan matanya yang dingin sempat mencermati gesture Ayu—penuh dengan intrik dan kebencian yang terang-terangan diarahkan pada wanita di sampingnya. Di sisi Kael, Nuna mendongak pelan. Ada binar ketakutan dan ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari manik matanya. "A-aku..." cicit Nuna, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku yang menyuruhnya datang ke sini," potong Kael cepat. Suara baritonnya memotong udara, menyisakan gema tegas yang seketika membungkam Ayu maupun Bu Rindu. Ayu mendesis sinis. "Lain kali, nggak usah bawa gundikmu ini, Mas. Aku nggak sudi melihat dia ada di sini!" Kael langsung menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam. "Jangan sebut Nuna dengan sebutan yang tak pantas itu, Ayu! Apa kamu pikir kamu lebih baik darinya?" Ayu tersenyum pelik. "Kamu selalu membela dia di depanku, Mas. Kamu lupa semuanya? Semua tentang kita? " Kael berdehem pelan. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menampilkan gestu







