로그인Wajah Kaylan begitu kaku, matanya membola lebar saat melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang.Pandangan Kaylan sedikit diturunkan saat dia berkata, “Aku lapar.” Arthur menatap Kaylan yang tak berani memandangnya ini. “Lapar? Bukankah ada susu kotak dan camilan di kamarmu? Atau kamu makan yang lain?”Kedua pundak Kaylan bergetar. Suara Arthur yang tegas membuatnya takut.Suara Kaylan begitu lirih saat dia berkata, “Aku belum dapat izin buat makan, jadi mau minta izin dulu.”Arthur terkesiap. Dia menatap tak percaya pada Kaylan yang baru saja selesai bicara.“Kamu ingin minta izin dulu sebelum makan?” Arthur memastikan.Kaylan mengangguk-angguk. “Kata Ibu, jangan makan milik orang kalau tidak ditawari. Aku belum ditawari, jadi tidak berani makan.”Arthur benar-benar tidak menyangka, di balik kehidupan yang serba terbatas, Sienna masih mengajarkan hal-hal baik seperti ini.Arthur menatap Kaylan yang terus menunduk. Benar kata Kian, Kaylan sangat takut padanya.Arthur berjongkok di
Arthur melirik sekilas ke istrinya. Dia melihat bagaimana tatapan Kian yang penuh kasih pada Kaylan.Arthur mungkin egois, tapi dia tidak bisa mengabaikan kebahagiaan Kian.Dia sadar, hidup mereka, bukan hanya berpusat padanya saja. Lagi pula, Kian sudah banyak melakukan banyak hal untuk keluarga kecil mereka.“Tentu.” Arthur mengangguk. “Aku tidak akan kesal atau cemburu. Yang terpenting kamu senang.”Kian terkejut tapi juga senang mendengar ucapan suaminya.Sampai dia meraih pipi Arthur, kecupan hangat mendarat di pipi suaminya.“Terima kasih, aku tahu kamu yang terbaik.” Kian tidak bisa membendung rasa senangnya, setelah sebelumnya panik dan cemas jika keputusannya ditolak sang suami.Arthur mengusap rambut Kian dengan lembut, meski tatapannya tertuju ke jalan. “Tapi jangan lupakan aku juga.”Tawa Kian pecah mendengar ucapan suaminya. Arthur memang menggemaskan saat manja.“Tentu saja, bagaimana mungkin aku lupa pada suamiku sendiri,” katanya dengan nada gemas.Mobil mereka tiba d
Sienna lebih dulu memandang pada Kaylan, lalu dia kembali menatap Kian.“Kaylan berkata kalau Anda punya anak tapi tidak ada di sana, apa itu benar? Saya hanya penasaran saja, karena Anda sangat baik mau memberikan pakaian anak Anda untuk Kaylan.”Sienna bicara dengan sangat hati-hati.Tapi melihat diamnya Kian, Sienna kembali bicara. “Jika Anda tidak mau menjawab, tidak apa-apa, Nyonya. Maaf saya sudah lancang bertanya hal pribadi pada Anda.”Kian mengangguk. Senyumnya diangkat kecil.“Tidak apa-apa,” balas Kian. Walau pertanyaan Sienna membuat luka di hatinya kembali sedikit terbuka.“Setelah keluar dari rumah sakit, apa yang mau kamu lakukan?” tanya Kian mengalihkan pembicaraan lain. “Dengan kondisimu ini, kamu pasti tidak bisa bekerja yang berat-berat.” Napas Sienna diembuskan pelan. “Saya hanya bisa kerja serabutan, entah menjadi tukang cuci baju atau bersih-bersih.” Senyum Sienna begitu getir.“Karena kondisi saya yang begini, saya akan bekerja seperlunya.” Sienna mencoba terse
Sore hari.Kian keluar dari ruang kerjanya. Dia melangkah menuju lift sambil memperhatikan ponsel.[Aku masih ada beberapa kerjaan yang harus kuselesaikan, mungkin tidak bisa pulang sebelum makan malam.]Kian tersenyum kecil membawa pesan dari suaminya. Jarinya lincah di atas layar mengetik balasan untuk Arthur.[Tidak apa-apa. Tapi ingat tetap makan saat lembur.][Sore ini aku akan menjemput Kaylan lagi. Ibunya memperbolehkan ‘ku membawanya pulang lagi karena tidak bagus Kaylan ada di rumah sakit saat malam hari. Setidaknya sampai ibunya boleh pulang, aku akan membawa Kaylan ke rumah.]Di ruangan Arthur.Arthur menegakkan badan membaca pesan dari Kian.Dia segera menekan tombol panggil di nomor sang istri.Tanpa menunggu lama, panggilan itu langsung tersambung.Suara Kian terdengar dari seberang panggilan.“Kukira kamu akan membiarkannya tetap di sana.” Arthur mulai mempertanyakan.“Ibunya menerima bantuanku, apa salahnya menampung satu anak kecil?”Ekspresi wajah Arthur perlahan sur
Kian melajukan mobil lebih cepat untuk bisa segera sampai di perusahaan, setelah mendapat panggilan dari Ginny.Begitu tiba di perusahaan, Kian langsung naik ke lantai atas menuju ruangannya dan Kian melangkah keluar dari dalam lift begitu pintunya terbuka di lantai yang ditujunya.Ginny sudah menanti Kian. Dia langsung mengikuti langkah Kian menuju ke ruang kerja.“Jadi, syarat apa saja yang dia ajukan?” tanya Kian begitu masuk ke dalam ruangannya. Nada suaranya datar, tidak seperti sedang bersemangat.Kian mendengar di telepon Ginny mengatakan jika manager Luna mengajukan beberapa syarat tambahan. Kini Kian meminta penjelasan lebih detail syarat yang diajukan oleh Fio.Kian meletakkan tasnya di gantungan, sebelum duduk di kursinya. Tatapan Kian tertuju pada Ginny yang sedang membuka tablet pintar.Ginny berdiri di depan meja kerja Kian, lalu dia mulai membacakan syarat tambahan yang dia dapatkan dari Fio.Di antara termasuk perlindungan untuk Luna jika ada skandal atau berita miring
Kian terkejut mendengar pertanyaan Sienna.Tapi, dia memahami kecemasan dan kepanikan Sienna, apalagi Kaylan pernah berkata jika dia dilarang menerima pemberian orang yang sifatnya mengemis.Kian meletakkan lebih dulu keranjang yang dibawanya. Lalu dia mendekat ke ranjang Sienna, Kian tersenyum kecil.“Kita belum berkenalan,” kata Kian, “perkenalkan, aku Kiandra Shaylin Hadwin. Aku tidak sengaja bertemu dengan Kaylan beberapa kali sebelumnya. Semalam waktu mengantarnya pulang, aku dan suamiku melihatmu pingsan, jadi kami membawamu ke rumah sakit.”Setelah memperkenalkan diri, Kian menatap pada Kaylan yang menundukkan kepala karena pertanyaan Sienna yang menuntut dan membuat anak kecil ini takut.“Semalam aku dan suamiku membawa Kaylan pulang ke rumah kami, agar bisa beristirahat dengan tenang, karena dia pasti sangat bingung dan cemas jika berada di sini sendirian melihatmu yang tak sadarkan diri,” kata Kian dengan hati-hati ketika menjelaskan. “Soal pakaian yang Kaylan pakai, itu mili







