Se connecterKiki, 20 tahun, mahasiswa semester 5 jurusan Teknik yang hidupnya pas-pasan, terpaksa pindah kos setelah kos lamanya digusur buat proyek ruko. Karena buru-buru dan budget cekak, dia asal comot iklan kos murah di dekat kampus—tanpa sadar itu kos khusus perempuan. Karena kesalahan admin (nama "Kiki" dikira nama cewek sama pemilik kos yang udah sepuh dan matanya rabun), dia keburu bayar DP dan dapat kamar sebelum ketahuan. Begitu masuk, dunia Kiki berubah drastis. Dia harus hidup serumah dengan lima penghuni cewek dengan kepribadian yang saling bertabrakan—mulai dari yang disiplin tapi gampang panik, yang jutek dan galak tapi diam-diam perhatian, yang polos tapi mulutnya paling frontal soal hal-hal dewasa, sampai yang kalem tapi ternyata paling usil. Setiap hari jadi rentetan insiden memalukan, salah paham yang berujung ngaco, dan drama-drama kecil khas anak kos—rebutan kamar mandi, listrik yang keburu mati pas momen krusial, sampai gosip antar penghuni yang bikin geger satu rumah. Di balik semua kekonyolan itu, pelan-pelan Kiki justru jadi orang yang paling dipercaya (dan diam-diam ditaksir) sama penghuni-penghuni lain—meski dia sendiri nggak pernah niat jadi " pusat perhatian.
Voir plusKiki menatap layar HP nya dengan tampang campur aduk, antara lega dan curiga. Chat dari pemilik kos, seorang ibu bernama Tuti, cuma berisi satu kalimat singkat: "Kamar sudah siap, Nak. Ditunggu kedatangannya sore ini ya."
Simpel. Nggak ada tanda bahaya sama sekali. Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh yang mengganjal di dada Kiki sejak transaksi DP tadi pagi. Semuanya berjalan terlalu mulus. Harga murah, lokasi strategis, dan yang paling penting—dia dapat kamar cuma dalam waktu setengah jam setelah chat pertama. Padahal biasanya nyari kos di sekitar kampus itu ibarat perang saudara, rebutan sama puluhan mahasiswa lain yang sama-sama desperate. "Ah, mungkin emang lagi hoki aja," gumamnya sambil beresin koper dan dua kardus isi buku kuliah serta baju-baju lecek. Kos lamanya digusur mendadak minggu lalu, pemiliknya jual tanah ke pembisnis yang mau bangun ruko, dan semua penghuni dikasih waktu cuma dua minggu buat angkat kaki. Kiki, yang emang dari sananya nggak terlalu banyak mikir panjang, langsung nyari kos pengganti lewat grup F******k "Info Kos Sekitar Kampus". Dan dari puluhan pilihan yang ada, satu iklan langsung menarik perhatiannya: "KOS PUTRI - Lokasi strategis, 5 menit ke kampus. Fasilitas lengkap, AC, wifi, dapur bersama. Harga nego. Hub. Bu Tuti." Kiki sempat mikir sebentar soal kata "Putri" di judul iklan itu, tapi otaknya yang lagi panik-panik cari tempat tinggal langsung menyimpulkan itu cuma nama branding doang. Toh banyak kos yang namanya aneh-aneh tapi isinya campur, kan? Lagian, dia buru-buru chat dan bilang namanya "Kiki", yang menurutnya jelas banget nama netral, bisa cowok bisa cewek, tapi ya udah kepalang telanjur kirim. Masalahnya, Bu Tuti udah berumur 67 tahun, matanya udah minus tebal plus katarak yang belum dioperasi, dan pendengarannya juga mulai berkurang. Pas Kiki nyebut namanya di telepon, di kepala Bu Tuti langsung kebayang salah satu keponakannya yang juga namanya mirip-mirip dan kebetulan perempuan. "Oh, Kiki ya? Ibu kira anaknya Bu Wati, ternyata beda toh. Ya sudah, sama aja," kata Bu Tuti waktu itu, dan Kiki yang lagi buru-buru dan setengah nggak fokus dengerin cuma jawab, "Iya Bu, hehe," tanpa sadar dia baru aja mengiyakan kesalahpahaman fatal yang bakal ngubah hidupnya. Sore itu, jam lima kurang, Kiki udah berdiri di depan rumah kos dua lantai bercat krem dengan pagar besi hijau. Bangunannya cukup besar, ada taman kecil di depan dengan beberapa pot bunga, dan plang kayu bertuliskan "KOS MELATI PUTRI" tergantung di samping pintu gerbang. "Melati Putri," gumam Kiki sambil baca ulang plangnya. "Cakep juga namanya." Dia belum ngeh sama sekali. Otaknya masih polos-polos aja, cuma mikirin gimana caranya pindahan barang secepat mungkin biar bisa istirahat. Pintu gerbang dibuka oleh seorang perempuan berkacamata dengan rambut dikuncir rapi, mengenakan kaos oblong dan celana training. Dia menatap Kiki dengan tampang bingung selama beberapa detik, kayak lagi proses informasi yang nggak biasa. "Eh... nyari siapa, Mas?" tanyanya, sopan tapi ada nada was-was. "Saya penghuni baru. Katanya kamar udah disiapin sama Bu Tuti," jawab Kiki santai sambil nunjuk kardus-kardus di sampingnya. Perempuan itu yang berbincang dengan Kiki namanya Maya. Ia melongo. Matanya bolak-balik antara Kiki dan kardus-kardus itu, kayak lagi ngitung ulang kewarasannya sendiri. "Penghuni baru? Di sini?" "Iya, Kak. Ini kos putri, kan? Tapi katanya bisa buat siapa aja. "INI KOS KHUSUS PUTRI, MAS!" Maya setengah teriak, sampai bikin dua ekor kucing di taman kaget dan lari terbirit-birit. Kiki membeku. Otaknya butuh waktu sekitar tiga detik buat mencerna informasi itu, dan begitu prosesnya selesai, wajahnya langsung pucat. "Hah? Apa?" "KHUSUS PUTRI. Perempuan doang, Mas! Kok bisa Mas dapat kamar di sini?!" Sebelum Kiki sempat menjelaskan atau bahkan panik lebih jauh, terdengar suara langkah tertatih-tatih dari dalam rumah. Muncullah sesosok ibu tua dengan kacamata tebal, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. "Kiki! Akhirnya datang juga! Ayo masuk, Nak, kamarnya udah Ibu siapin!" Maya menoleh ke Bu Tuti dengan mata melotot. "Bu... ini laki-laki, Bu." "Apa?" Bu Tuti mendekat, memicingkan mata, mengamati Kiki dari ujung kepala sampai kaki dengan jarak yang cukup dekat—dekat banget malah, sampai Kiki bisa ngerasain bau minyak kayu putih yang khas. Hening sesaat. "Oh iya ya," kata Bu Tuti santai, seolah baru sadar tapi nggak terlalu kaget. "Kiki ternyata laki-laki toh. Ya sudah, nggak apa-apa." "BU?!" Maya berteriak lagi, kali ini volumenya bikin tetangga sebelah ikutan nongol dari jendela. "Lho, kenapa? Kamarnya kan udah dibayar DP-nya. Uangnya udah Ibu pake buat beli obat," kata Bu Tuti santai sambil pegang pinggang, seolah itu argumen paling logis sedunia. Kiki, yang dari tadi cuma bisa bengong di antara dua perempuan yang lagi berdebat soal nasibnya, akhirnya angkat suara. "Eh tapi Bu, kalau memang salah paham, saya bisa kok cari kos lain, DP-nya nggak masalah kalau hangus." "Nggak bisa!" potong Bu Tuti cepat. "Ibu udah janji sama anak Ibu di kampung, uang itu buat modal usaha dia. Kalau Ibu balikin, berabe urusannya." Kiki menghela napas panjang. Situasi ini jelas di luar kendali siapa pun. Maya menggaruk kepala nya, keliatan banget lagi berusaha keras nahan emosi. Sebagai ketua kos yang paling bertanggung jawab soal keteraturan dan aturan, situasi kayak gini itu jelas mimpi buruk. Gimana caranya dia jelasin ke empat penghuni lain kalau tiba-tiba ada laki-laki asing bakal tinggal serumah? "Bu, ini serius. Nggak bisa gitu aja. Ini kos PUTRI. Ada aturan, ada... ada privasi, Bu!" "Ya makanya, kasih aja dia kamar di ujung, deket gudang. Kamar mandinya kan juga ada yang terpisah di situ. Nggak akan ganggu yang lain kok," jawab Bu Tuti enteng, kayak lagi nawar barang dagangan di pasar. Kiki ngelirik Maya, berharap ada pembelaan. Tapi Maya cuma menghela napas panjang, tampak pasrah menghadapi kenyataan bahwa argumennya nggak akan menang lawan keras kepalanya Bu Tuti. "...Ya udah deh," gumam Maya akhirnya, sambil menatap Kiki dengan tatapan curiga. "Tapi Mas harus janji, nggak boleh macem-macem. Kalau sampai ada masalah, Mas keluar hari itu juga. Ngerti?" Kiki mengangguk cepat. "Iya Kak, saya janji. Saya orangnya kalem kok, nggak neko-neko." Maya menatapnya lama, kayak lagi menilai apakah kata-kata itu bisa dipercaya. Tapi karena udah kesorean dan dia juga capek berdebat, akhirnya dia cuma mengangguk singkat. "Oke. Tapi saya bakal kasih tahu penghuni lain malam ini. Siap-siap aja, Mas, bakal ramai." Kata-kata itu terbukti dan akan menjadi pertanda yang sangat akurat. Malam harinya, saat Kiki lagi beres-beres kamar barunya yang emang terpisah dari bangunan utama dekat gudang, persis kayak yang dibilang Bu Tuti, terdengar suara ribut dari arah dapur. Beberapa suara perempuan saling sahut, ada yang kedengeran kaget, ada yang keliatan excited, ada juga yang cuma diem tapi kedengeran ketawa kecil. Kiki menghela napas. Malam pertamanya di kos baru, dan dia udah bisa nebak bakal ada drama panjang menanti di depan. Dia belum tahu aja, drama itu baru permulaan dari ratusan kejadian absurd yang bakal mewarnai hari-harinya ke depan.Kiki menatap foto itu tanpa berkedip.Tangannya masih gemetar."Ki..." Suara Maya terdengar pelan. "Kamu nggak apa-apa?"Kiki buru-buru membalik foto itu lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Nggak... cuma surat iseng."Selvi mengernyit. "Surat iseng bikin muka kamu pucat begitu?""Iya... mungkin temen lama."Tina langsung mendekat. "Sini aku lihat."Refleks Kiki menarik amplop itu menjauh."Jangan." Semua langsung diam.Mereka belum pernah melihat Kiki bereaksi secepat itu. Suasana yang tadi penuh tawa mendadak berubah canggung. Bu Tuti akhirnya memecah keheningan."Kalau memang urusan pribadi, nggak usah dipaksa cerita."Kiki mengangguk pelan. "Makasih, Bu."Siang harinya, semua kembali beraktivitas seperti biasa. Maya sibuk membersihkan ruang tamu.Selvi mencuci pakaian. Risma membaca novel di teras. Sedangkan Tina..."...Eh, siapa yang makan ayam terakhir?""Tin.""Apa?""Itu mulutmu masih ada sambalnya.""Hehehe..."Kiki ikut tertawa kecil.Namun pikirannya tetap dipenuhi
"KIKI! CEPAT KE RUANG TAMU!" Suara Bu Tuti menggema sampai ke dapur.Kiki yang sedang menggoreng telur hampir menjatuhkan spatula."Ada apa, Bu?""Cepat sini!"Nada Bu Tuti terdengar berbeda. Bukan marah, tapi panik.Kiki buru-buru mematikan kompor lalu berlari ke ruang tamu.Di sana Maya, Selvi, Tina, dan Risma sudah berdiri mengelilingi seorang perempuan yang duduk membelakangi pintu.Perempuan itu mengenakan hoodie abu-abu, celana jeans, dan membawa koper kecil.Begitu mendengar langkah kaki Kiki, ia langsung berdiri."Kak Kiki..."Kiki mengernyit. "Eh... kita kenal?"Belum sempat perempuan itu menjawab, Tina langsung memekik."ASTAGA!"Maya ikut menoleh. "Jangan bilang..."Selvi melipatkan Kedua tangan. "Pacarnya?""Apa?!" Kiki hampir tersedak ludah sendiri."Bukan!" Perempuan itu ikut panik. "Bukan! Bukan begitu!"Tina sudah menutup mulut sambil menahan tawa. "Udah ketahuan. Datang bawa koper lagi.""Fix mau tinggal di sini."Kiki menggeleng kuat. "Demi apa pun aku nggak kenal di
Sabtu pagi, Kiki dibangunkan bukan oleh alarm HP-nya, tapi oleh ketukan keras di pintu kamar. Dia mengintip jam dan baru jam tujuh pagi, waktu yang menurutnya masih terlalu pagi buat hari libur."Ki! Bangun! Kita belanja bulanan hari ini, ikut bantuin angkat-angkat!" suara Maya terdengar penuh semangat dari luar, seolah nggak peduli ini hari Sabtu dan orang normal biasanya masih tidur.Kiki mengerang pelan, tapi tetap bangun dan siap-siap. Sejak insiden mati lampu beberapa hari lalu, dia emang udah mulai dianggap "berguna" sama penghuni-penghuni lain, dan sialnya itu berarti dia sekarang sering direkrut buat kerjaan-kerjaan fisik kayak angkat galon atau benerin genteng bocor.Begitu keluar kamar, dia udah nemuin Maya berdiri di halaman dengan daftar belanjaan panjang di tangan, lengkap dengan kalkulator kecil buat ngitung budget. Selvi berdiri di sampingnya dengan kaos santai dan topi baseball, keliatan lebih rileks dari biasanya karena ini hari libur dari kerja part time-nya. Tina ud
Selasa pagi, jadwal masak pertama Kiki akhirnya tiba. Dia bangun lebih pagi dari biasanya, sekitar jam lima, biar bisa nyiapin sarapan buat semua penghuni kos sebelum berangkat kuliah. Modal nekatnya cuma satu: video tutorial masak nasi goreng yang dia tonton semalam sambil mikir, "masa segini doang gue nggak bisa."Kenyataannya, ternyata nggak semudah itu.Begitu Kiki mulai masak di dapur, asap tebal langsung mengepul dari wajan gara-gara dia kelamaan manasin minyak sambil sibuk motong bawang. Alarm asap yang dipasang Bu Tuti di langit-langit dapur entah kenapa satu-satunya alat modern di rumah itu langsung bunyi nyaring."ASTAGA, KEBAKARAN?!" teriak Maya dari kamarnya, langsung lari turun dengan rambut masih berantakan."Nggak, Kak, cuma... kelamaan manasin minyak," jawab Kiki panik sambil buru-buru matiin kompor dan ngipas-ngipas asap pake serbet.Maya sampai di dapur dengan napas terengah, disusul Selvi yang keluar kamar dengan wajah masih ngantuk dan rambut acak-acakan. "Ada apa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.