Share

3. Perdebatan yang Tidak Pernah Berakhir

Nathan mengepalkan kedua tangannya. Kemudian, pria arogan itu tersenyum sinis.

"Lucky adalah Asisten saya. Maka saya berhak mengaturnya."

"Kami bisa melakukannya di luar jam kerja."

Alicia tetap tidak bisa berkata lembut kepada Nathan sampai saat ini.

"Hei, Lucky! Kau tidak bekerja selama 24 jam, 'kan?"

"Tenーtentu saja tidak, Nona."

Lucky menjawab pertanyaan Alicia dengan terbata. Dia mengusap peluh yang bercucuran karena mendapatkan tatapan tajam dari Nathan.

"Bersiaplah untuk kehilangan bonus mu di bulan ini, Lucky!"

'Ancaman yang sama di setiap kesempatan. Namun, sepertinya kali ini Tuan Muda bersungguh-sungguh dengan ucapannya,' batin Lucky.

Alicia diam dan tidak akan campur tangan urusan Lucky. Sementara itu, Nathan menyandarkan punggungnya sambil memainkan ponsel. Dia mengurungkan niat untuk membalas perlakuan Alicia.

Alicia mulai sibuk membersihkan wajah. Dia juga menghapus lipstik merah di bibirnya. Wajah polos Alicia mulai terlihat dan tentunya menarik perhatian Nathan.

'Aku ingin melihat wajah asli singa betina ini! Apakah dia secantik Xaquila? Karena selama ini, tidak ada seorang wanita yang bisa menandingi kecantikannya.'

Nathan diam-diam memperhatikan Alicia dari ujung-ujung mata. Dan tentu saja, Lucky mengetahuinya.

"Apakah Anda sudah selesai, Nona Cia?"

Nathan hampir saja menjatuhkan ponselnya ketika mendengar suara Lucky. Dia menatap sang asisten dengan penuh tanda tanya.

"Mau apalagi kau, Lucky?"

Lucky tertawa kecil melihat ekspresi wajah Nathan. Dia menunjuk sebuah bangunan indah yang merupakan salah satu departemen store termewah milik keluarga Czarford di Birmingham, Inggris.

"Hepburn Store?! Ada apa dengan pusat perbelanjaan ini, Lucky?!"

Nathan tidak mengerti dengan jalan pikiran sang asisten.

Alicia penasaran. Dia menoleh ke arah bangunan indah nan megah yang berada di depan pelupuk matanya.

'Astaga! Bukankah ini adalah tempat ku bekerja? Untuk apa Lucky menghentikan mobil di sini?'

Wajah Alicia memucat. Dia berpikir keras bagaimana cara menghindari teman-teman kerjanya di Hepburn Store.

"Astaga, Tuan Muda! Perlukah saya membuka kelas privat untuk Anda? Ya, kelas privat yang mengajarkan Anda bagaimana caranya memperlakukan wanita?"

Lucky membuka lebar-lebar kedua matanya saat menatap Nathan.

"Oh, Lucky, jaga ucapanmu! Kau berlebihan!" 

Nathan menyimpan kembali ponselnya sambil berseru dengan ketus. Dia menatap Alicia.

"Apa yang kau tunggu?! Ayo, ikut saya ke dalam sana!"

Nathan menunjuk pusat perbelanjaan yang berdiri kokoh di depannya. Alicia pun menggeleng.

"Tidak. Saya tidak akan ikut dengan Anda."

Nathan mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil. Dia menghela napas panjang, lalu tanpa terduga menatap Alicia sinis.

"Astaga! Ada apalagi dengan wanita aneh ini?"

Alicia tidak tinggal diam. Dia membalas tatapan Nathan yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Anda menyebut saya sebagai wanita aneh, lalu bagaimana dengan Anda yang menghampiri dan menawarkan saputangan kepada wanita aneh ini, Tuan?"

Alicia bertolak pinggang. Dengan kesabaran yang terbatas, Nathan memejamkan mata sejenak memikirkan jawaban apa yang pantas diberikan untuk Alicia. Namun, suara tawa Lucky berhasil membuat keduanya membelalakkan mata bersamaan.

"Ha! Ha! Ha!"

"Apanya yang lucu, Lucky?!"

Nathan berteriak memenuhi seisi mobil sehingga Alicia menutup kedua telinganya spontan.

"Maーmaaf, Tuan Muda. Saya kelepasan tawa."

Lucky sontak memukul-mukul mulutnya guna menghentikan tawa. Di saat yang sama, Nathan kembali menatap Alicia.

"Cepat turun atau saya terpaksa menyeret Anda!"

Nathan membuka pintu mobil, lalu keluar dari sana.

'Rupanya nyali Cia sangat besar. Berani sekali dia bermain-main denganku!'

Nathan menggerutu saat tidak melihat Alicia keluar dari mobil. Dia memilih untuk menghampirinya. Dia membuka pintu mobil kembali. Dia geram ketika melihat Alicia hanya diam.

"Mengapa Anda tidak keluar juga?"

Nathan membentak Alicia. Dia menarik tangan Alicia agar mengikutinya.

"Tunggu! Gaun saya ...."

Nathan melepaskan tangannya dan membiarkan Alicia mengangkat sedikit gaun pengantinnya yang kotor.

"Bukankah saya sudah katakan kepada Anda bahwa saya tidak ingin ikut?! Mengapa Anda memaksa saya?"

Alicia berkata dengan sedikit emosi. Nathan kembali menariknya. Alicia berusaha berontak. Namun apa daya, dia tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri dari Nathan.

"Diam dan jangan mempermalukan saya di depan umum atau saya akanー"

"Tuan Muda!"

Sebenarnya Nathan belum selesai berbicara. Dia terpaksa diam dan menoleh ke arah Lucky yang baru saja keluar dari mobil sambil berteriak.

"Hmm?"

Nathan terlihat tidak peduli saat Lucky memanggilnya. Namun, tatapan Lucky justru membuatnya muak.

"Hey, Lucky! Ada apa dengan tatapan mu? Seperti sedang melihat hantu saja!"

"Ya, benar. Saya tercengang melihat Anda tidak alergi bersentuhan dengan Nona Cia."

Lucky memastikan indera penglihatannya tidak salah. Nathan dan Alicia pun mengikuti arah pandang pria melambai itu.

"Astaga!"

Nathan buru-buru melepaskan tangan Alicia. Kemudian, menatap Lucky seolah hendak memakannya.

"Mengapa kau hanya diam, Lucky?! Di mana tisu basah dan hand sanitizer?! Hah?!"

Dengan suara melengking, Nathan bertanya kepada sang asisten seraya menaikkan satu alisnya.

"Saーsaya sudah menyiapkannya, Tuan Muda."

Lucky menyodorkan tisu basah kepada sang tuan. Nathan segera mengambil tisu basah antiseptik dengan kasar, lalu membersihkan tangannya cepat-cepat.

'Dasar Asisten idiot! Bisa-bisanya aku bersentuhan dengan wanita aneh yang tidak diketahui asal-usulnya ini!'

Nathan mengeluh di dalam hati. Dia membuang tisu basah bekas ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempatnya.

"Berikan saya hand sanitizer sekarang!"

Alicia hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan oleh Nathan.

"Gila! Ini benar-benar gila!"

Alicia menggeleng. Dia meletakkan kedua tangan di depan dada.

"Apa yang gila?!"

Nathan bertanya dengan nada tinggi. Dia geram karena melakukan hal di luar kehendaknya.

"Saya tidak menyangka jika ternyata pria angkuh seperti Anda sangat gila kebersihan! Cihh! Anda menganggap saya seperti kuman, bakteri atau bahkan virus mematikan."

Nathan tidak memedulikan ocehan Alicia. Karena baginya, wanita adalah sama. Biang onar yang selalu membuatnya repot.

"Ayo, Lucky! Seret wanita aneh itu untuk ikut saya ke dalam!"

Nathan berjalan lebih dulu. Lucky dan Alicia tetap tidak beranjak dari tempat mereka.

"Anda sudah mendengar titah Tuan saya, 'kan, Nona? Mari, ikuti Tuan Nathan!"

'Oh, pria angkuh itu bernama Nathan!' seru Alicia di dalam hati sambil mengingat nama pria menyebalkan itu.

Lucky mempersilakan Alicia untuk berjalan lebih dulu menyusul Nathan. Setelah berpikir sejenak, Alicia pun akhirnya memutuskan untuk tidak menggubris perkataan Nathan dan asistennya.

"Lucky, tarik dia ke sini!"

"Dear, tunggu apalagi? Puaskan hasrat Anda untuk menghabiskan uang Tuan Muda Nathan!" 

Alicia khawatir. Lucky menyadari hal itu. Lucky mendekati Alicia guna menghiburnya.

"Anda tenang saja! Saya berani jamin, Tuan Nathan tidak akan berbuat kasar atau bahkan mempermalukan Anda di depan umum. Karena saya tahu persis seperti apa kelakuannya."

'Sial! Bagaimana sekarang? Apa yang harus kukatakan kepada teman-temanku jika mereka menanyakan pernikahanku yang gagal hari ini?'

Alicia membatin sambil menoleh ke segala arah. Dia bersiap ingin mengambil langkah seribu dan bersembunyi di belahan dunia yang tidak terlihat oleh siapapun.

"Apa yang Anda lakukan?"

Alicia tersentak hingga mundur beberapa langkah ketika sosok Nathan sudah berdiri di hadapannya.

"Hei, wanita! Jangan coba-coba kabur atau saya akan berteriak pencuri dan membawa Anda ke kantor polisi!"

Nathan menatap Alicia dalam-dalam. Entah mengapa, hatinya bergetar hebat.

"Ah, tiーtidak!"

Alicia mencoba menepis dugaan Nathan yang mencurigai dirinya.

"Ayo masuk!"

Nathan melangkah lebih dulu. Alicia menyerah. Dia mengikuti ke manapun Nathan melangkah.

Kini, ketiganya telah berdiri di depan pintu masuk Hepburn Store yang menjual berbagai macam pakaian pengantin beserta pernak-perniknya. Alicia yang terhalang ragu pun menghentikan langkahnya.

"Tuーtunggu!"

Alicia menggigit bibir bawahnya. Nathan yang salah paham segera memalingkan wajah.

'Sial! Bibirnya yang tipis dan imut membuatku bergairah! Apakah bibirnya masih virgin?'

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status