Mereka turun ke ruang makan. Meja panjang dengan taplak putih sudah ditata rapi. Sepiring roti panggang, telur setengah matang, buah segar, dan kopi hitam mengepul.Queen duduk lebih dulu, menarik kursi dengan hati-hati. Sultan duduk di ujung meja, gerakannya tenang, nyaris tanpa suara.Suasana sempat hening. Hanya suara sendok beradu dengan piring. Queen menatap roti panggangnya, lalu tanpa sadar bicara, “Kamu selalu makan seformal ini setiap pagi?”Sultan menoleh singkat. “Begitulah.”Queen menyeringai kecil. “Tidak pernah sekalipun sarapan dengan bubur ayam di pinggir jalan?”Sultan mengernyit ringan. “Untuk apa?”“Untuk tahu rasanya hidup normal.” Queen meneguk jus jeruknya. “Tidak semua orang butuh ruang makan sebesar ini hanya untuk duduk berdua.”Sultan tidak langsung menjawab. Ia menyendok telur setengah matang ke piringnya, lalu berkata datar, “Normalmu tidak sama dengan normalku.”Queen tersenyum tipis, mengaduk kopinya. “Aku mulai sadar itu.”Hening lagi sejenak, sebelum Su
Queen masuk ke kamar lebih dulu. Lampu temaram menyebar lembut di ruangan, tirai jendela sudah ditutup rapat. Ia melepas sepatu pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Pikirannya masih penuh oleh wajah Kai, air mata Mami, dan tamparan Papi.Tangannya mengusap wajah, nafasnya berat. “Kuat,” gumamnya lirih. “Katanya aku harus kuat.”Pintu kamar berderit ringan. Sultan masuk, masih dengan kemeja hitamnya yang belum berganti sejak tadi. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu berjalan mendekat.Queen mendongak cepat. “Kau belum istirahat?”“Aku belum selesai,” jawabnya singkat. Ia meletakkan berkas kecil di meja samping sofa, lalu menoleh ke arahnya. “Tapi kau harus tidur.”Queen tersenyum tipis, getir. “Bagaimana bisa tidur kalau kepalaku penuh?”Sultan mendekat, berdiri di depan ranjang. Ia menatap Queen beberapa detik, lalu berjongkok perlahan hingga sejajar dengannya. Tatapannya menusuk, tapi tidak sekeras biasanya. “Apa yang memenuhi kepalamu?”Queen menunduk, jemarinya saling meremas di pangk
Suasana ruang keluarga masih menegang. Kai berdiri terpaku di samping Queen, wajahnya tertunduk, bekas merah tamparan Gala masih jelas di pipinya. Vanda menatap keduanya dengan mata basah, tangannya berulang kali menyentuh lengan putranya seakan ingin melindungi.Queen ingin berkata sesuatu lagi, tapi sebelum sempat, suara Sultan memotong hening itu.“Cukup.” Suaranya tenang, tapi dalam, membuat semua kepala refleks menoleh ke arahnya.Sultan melangkah maju, berdiri di tengah ruangan. Tatapannya menyapu Gala, Vanda, lalu berhenti di Kai. “Untuk malam ini, semua sudah selesai. Kai tetap di sini bersama Papi dan Mami.”Kai mendongak, matanya bergetar. “Tapi, Bang…”Sultan menggeleng pelan. “Tidak ada ‘tapi’. Besok kita pikirkan langkah berikutnya.”Queen menoleh cepat ke arah Sultan. “Aku bisa tinggal di sini dulu. Setidaknya menemani Kai.”Sultan menatapnya singkat, lalu menggeleng. “Tidak. Kau ikut denganku.”Nada suaranya tidak meninggi, tapi jelas sebuah keputusan, bukan tawaran.Qu
Rivando menatap Sultan lurus, sorot matanya keras. “Kau selalu begitu. Berlindung di balik wibawa, seolah semua orang harus tunduk. Tapi kali ini berbeda. Yang terlibat adalah keluargaku.”Sultan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Dan yang kau hadapi adalah aku.”Queen menahan napas, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia ingin bicara, tapi atmosfer di antara keduanya begitu pekat, seakan satu kata saja bisa memantik api.Rivando mendekat setengah langkah, suaranya turun tapi lebih tajam. “Aku akan pastikan kakekku tidak jadi korban permainanmu.”Sultan balas menatap tanpa bergeming. “Dan aku akan pastikan adikku tidak jadi tumbal untuk kebencian lamamu.”Ketegangan itu terhenti sejenak ketika pintu ruang pemeriksaan terbuka. Patra keluar, membawa map di tangannya. Wajahnya tetap tenang, tapi jelas situasi panas di depan matanya tidak luput dari perhatian.“Maaf mengganggu,” ucap Patra, nadanya sopan tapi cukup kuat untuk memotong. Ia menoleh pada Sultan. “Tuan, pemeriksaan
Petugas mengetik cepat di laptop, suara ketukan tuts terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sempit. Kai duduk kembali, masih pucat, tangannya gelisah meremas ujung celana.Patra berdiri di sampingnya, tubuh tegapnya memberi kesan tenang. “Baca dulu setiap kalimat sebelum tanda tangan. Jangan terburu-buru,” ucapnya pelan pada Kai.Kai mengangguk cepat. “Iya, Pak.”Sultan berdiri sejenak memperhatikan, lalu menoleh ke Queen. “Kita keluar.”Queen sempat ragu, matanya menatap Kai. Tapi Sultan menyentuh lengannya sebentar, bukan menarik, hanya isyarat. Queen akhirnya bangkit, dan mereka keluar dari ruang pemeriksaan.Di koridor, lampu neon putih terasa menusuk mata. Kursi tunggu berjejer, sebagian kosong. Queen duduk pelan, tasnya dipangku erat. Sultan tetap berdiri, kedua tangannya masuk ke saku celana, pandangan lurus ke dinding seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis di sana.Beberapa menit hening. Queen akhirnya bicara, suaranya rendah. “Kenapa sepertinya semu
Suasana di ruang kerja itu hening. Sultan duduk di samping Queen, matanya menyapu cepat lembar-lembar yang terbuka di meja. Queen menunjuk beberapa catatan kecil yang ia buat dengan pensil, menjelaskan singkat.“Kalau mereka terus ngotot dengan valuasi segitu, aku yakin opsi partnership transisi bisa jadi jalan tengah,” ucapnya.Sultan mengangguk tipis, sorot matanya masih fokus. “kamu cepat belajar.”Queen hendak menanggapi, tapi suara ketukan pintu keras tiba-tiba memecah keheningan. Tanpa menunggu izin, Nala masuk kembali. Wajahnya tampak lebih tegang dari sebelumnya, nafasnya sedikit terburu.“Tuan, Nyonya,” ucap Nala cepat, “barusan ada telepon masuk. Dari kantor polisi.”Queen langsung menegakkan tubuh. “Polisi? Ada apa?”Nala menatap Queen sejenak sebelum menjawab, “Tuan Kai, adik Nyonya. Beliau sekarang sedang ditahan untuk dimintai keterangan.”Queen berdiri mendadak, kursinya bergeser keras ke belakang. “Apa? Kenapa Kai bisa di sana?”“Pihak kepolisian bilang masih terkait k