Teilen

Bab 42

last update Veröffentlichungsdatum: 25.08.2023 08:39:23

Rustam bangun setelah Calvin sampai di rumah. Calvin memberikan kembali botol vitamin, yang tentu saja isinya telah diganti.

Calvin memberikan obat penyembuh saraf. Keadaan Rustam sudah terlihat lebih baik. Setelah minum obat penawar racun, wajah tua itu sudah tidak pucat, seperti tadi saat beliau tidur.

Calvin memberikan dosis penuh kepada kakeknya. Supaya, kandungan obat yang selama seminggu ini, dikonsumsi Rustam, khasiatnya bisa berkurang.

Setelah mandi, Calvin mengutarakan keinginannya
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
marlaina marliana
cie.. cie.. si gunung es sebentar lagi mencair nich hihihihihihi ......
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 156

    Benar saja. Kurang dari lima menit kemudian, Nugi datang dari arah lobi barat mall. Dengan langkah tegap dan cepat. Matanya dengan tajam memindai sekelilingku. Memperhatikan dengan seksama, siapa saja yang ada di sekitarku. "Anda baik-baik saja kan?" suara sedikit bergetar dan wajah kuatir itu, entah mengapa aku menyukainya. Mataku menatapnya dengan lekat. Ah. Aku memang merindukannya. Mungkin itulah sebabnya, kontak yang aku hubungi duluan adalah dia. "Nona Acha ... Anda tidak apa-apa?" Kali ini, pertanyaannya, berhasil membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum, lalu menepuk kursi di sampingku. "Duduk dulu, Mas Nugi," Tanpa melepaskan tatapan mataku padanya, aku berkata "Coba liat deh, toko ponsel di seberang sana. Ada dua orang pakai baju hitam kan? Mereka itu, sudah sejak tadi menatap ke sini. Kalo mau beli hp, harusnya sekarang udah keluar. Tapi sampe sekarang masih mereka masih di sana." Aku menggerakan ujung mata, menunjuk ke toko ponsel di seberang tempat duduk kami, jar

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 155

    Tanggal ditetapkan. Arga dan Cita akan tunangan dua minggu lagi. Mereka menikah satu bulan setelahnya. Dan yang lebih gongnya lagi, aku yang dimintai tolong sama papi buat menangani acara mereka. Semua setuju selain bunda. Beliau masih mempertimbangkan kesehatanku. Setelah aku pikir-pikir, lebih baik menyibukkan diri dengan acara dua sejoli ini. Mungkin bisa lebih membuatku move on dari kesedihan. Siang itu di tepi kolam samping mansion. Aku sedang memeriksa lagi rekapan acara tunangan Arga dan Cita. Meneliti lagi satu persatu, karena tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun. Derap langkah kecil mendekatiku dengan perlahan. Aku mengakat kepala dan melihat ke depan. Dua anak kecil, berjalan pelan dan takut-takut ke arahku. Wajah mereka terlihat hati-hati dan ragu. Aku mengernyitkan kening. Marco dan Mario. Dua anak yang aku bawa dari jalan, waktu itu. Ya Allah. Bagaimana aku bisa lupa dengan mereka? Wajah mereka yang putih, bersih dan tampan, membuat hatiku dipenuhi sukaci

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 154

    Aku terhenyak seketika. Merasa dunia seperti berhenti berputar. Aku terlambat ya Allah. Tatapan sayang Kak Luna,hanya menambah luka dihatiku. Aku terluka mendengar sepotong kalimat itu. Ayahku meninggal dunia. "Kakak bercanda kan?" Tanyaku padanya, berharap, dia akan bilang 'Iya. Kakak bercanda aja kok' Melihat reaksiku, Kak Luna tersenyum lagi. "Gak apa-apa Dek. Gak apa-apa. Kata Mbak Melisa, beliau sempat bangun, terus ngomong sama Kak Melisa. Papa gak ragu pergi sekarang, Nak. Adek-adek kamu sudah maafin Papa. Kamu udah maafin Ayah kan, Cha?" Aku terhenyak lagi. Ayah ... Jadi, itu cara Allah menjawab doanya, dan melunakkan hatiku. Tapi, aku butuh ayah memelukku sekali lagi. Atau, yah ... Ayah bisa menikahkan aku sama pria pilihannya. Aku menunduk. Diam seribu bahasa. Namun air mataku menetes dengan deras. Aku berdiri tanpa kata, tanpa pamit, berjalan keluar dari rumah Kak Acha. Tubuhku yang terbawa oleh otak yang sedang diterjang kebingungan, kemudian membeku di depan

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 153

    "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Ayah dapatkan anugerah yang besar dari Allah karena memiliki anak sebaik kamu. Acha ... Ada banyak hal yang mau Ayah lewati bareng kamu. Ayah pengen liat kamu sama Arga menikah. Ayah pengen menikahkan kamu sama laki-laki yang kamu cintai. Tapi, waktu Ayah gak banyak Sayang. Ayah sakit, Nak," Ayahku berbicara sambil terus mendekapku dengan erat. Seakan-akan, itu adalah pelukannya yang terakhir. "Ayah harus sembuh. Ayah harus bisa lawan apapun penyakit Ayah. Ayah harus tebus semua hutang Ayah sama aku. Aku gak mau Ayah kemana-mana lagi," "Baiklah Sayang. Ayah akan coba sekali lagi. Jika, Allah mengijinkannya, Ayah akan pulang untuk menikahkan kamu," "Menikah?" Pertanyaan itu muncul di dalam hatiku. Untuk apa memikirkan masalah pernikahan diusia yang semuda ini? Karena aku tidak menanggapi perkataan Ayah, beliau merenggangkan pelukannya. Membantu aku berdiri, lalu kami berdua duduk di bawah pohon besar itu. Aku sama sekali tidak melepask

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 152

    POV Acha Rasa sakit seperti diremas dengan cengkraman yang mematikan, menusuk-nusuk bagian dadaku dengan kejam. Itu bagaikan satu tangan raksasa, yang mau aku mati seketika, saat berada dalam genggamannya. Aku menjerit tertahan. Apa aku akan mati? Aku menekuk tubuhku di lantai kamar, dengan harapan, rasa sakit yang aku rasakan secepatnya berlalu. Namun ... Saat mataku yang terpejam, perlahan terbuka, aku tidak lagi berada di kamarku yang nyaman. Aku seperti berada dalam sebuah ruangan kosong, yang tidak ada ujungnya. Saat menyadari keadaan sekitar, rasa sakit itu seketika menghilang entah kemana. Semua terjadi dengan cepat. Aku berdiri menatap sekelilingku. Apa ini dunia orang mati? Apa aku sudah meninggal? Tidak ada satu benda pun, sejauh mata memandang. Ruangan itu seperti tidak berujung. Kosong. Aku berjalan dengan ribuan pertanyaan dalam kepalaku. Jauh. Sangat jauh. Entah sudah berapa lama aku berjalan. Ini seperti berjalan di padang gurun, tanpa tujuan. Air mataku m

  • Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan   Bab 151

    "Nona Cita menolak Tuan Besar. Sepertinya, saya akan kesulitan menghadapinya. Dia benar-benar keturunan Adijaya," Tuan Besar itu tampak sumringah. Diwajahnya yang keriput, tersungging senyum dan sukacita yang besar. "Apa kau kewalahan menghadapi sifat keras kepalanya? Kau tau Nabila. Sifat keras kepala adalah salah satu bukti, dia bisa menjadi pemimpin yang dominan. Bagaimana dengan pria yang kerap dekat dengannya? Kau sudah selidiki dia?" tanya Tuan Besar Adijaya, suara sumringahnya berubah dengan seketika. "Sudah Tuan. Dia adalah putra bungsu Anaya Hendrawan. Sekarang, dia yang memegang kendali perusahaan ibunya, setelah ibunya menikah dengan Hendrawan, dan pensiun," Tuan Besar itu mencebik. Dunia bisnis negara ini memang mengenal siapa Anaya. Dia adalah wanita yang bisa mendapatkan nama, setelah berhasil membangun bisnis sendiri dan memulai semuanya dari nol. Tapi, semua itu, tidak bisa disamakan dengan kedudukan Cita. Cita adalah anak bangsawan. Jika orang mengenal k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status