Share

7. Kekesalan

Penulis: Rich Ghali
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-25 22:39:36

“Mami!” Pagi-pagi sekali pintu kamar Evelyn sudah digedor dari luar. Wanita itu menggeliat di atas ranjang, ia mengucek mata dan menguap karena masih sangat mengantuk. Kepalanya terasa sangat sakit akibat minum beberapa gelas tadi malam, juga karena tamparan yang Vernon berikan.

“Mamiii!” Joy terus memanggil dengan menggedor pintu kamar.

“Ya, Sayang?” Evelyn menyahut dengan sangat lembut, meskipun kini ia tengah menahan kesal karena merasa tidurnya diganggu.

“Kamu itu kebiasaan bangun siang. Tidak ingat jam!” Mamanya di bawah sana langsung memberikan umpatan.

“Ayo pulang!” Gadis kecil itu menarik tangan Evelyn, merengek untuk segera pulang ke rumah papanya. Sebab, ia harus sekolah pagi ini.

“Kamu sarapan dulu, ya. Mami mau mandi.” Evelyn berucap dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Semua orang sudah sarapan dari tadi, kamunya saja yang bangun kesiangan.” Mamanya lagi-lagi menimbrung pembicaraan.

“Jam berapa, Ma?” Evelyn melongok ke bawah sana.

“Sudah jam tujuh lewat.” Wanita paruh baya itu menjawab acuh tak acuh.

Evelyn menghela napas dengan berat. Tidak panik sama sekali meskipun ia telah terlambat menuju kantor. Ia bahkan belum mandi, dandan akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tampaknya ia akan meminta izin masuk siang hari ini.

Terdengar ketukan di pintu utama. Vernon datang untuk menjemput putrinya setelah ia mendapat kabar dari Bi Asih pagi ini. Lelaki itu tampaknya masih kesal karena Evelyn sudah sangat ceroboh. Ia membiarkan anak sekecil Joy menunggu lama tanpa dijemput sepulang sekolah. Untung saja mamanya lewat kawasan sekolah, andai tidak entah sampai kapan anak itu dan gurunya akan menunggu di sana.

“Joy! Papamu jemput, Sayang!” Terdengar lembut sekali ketika wanita paruh baya itu memanggil cucunya. Sama persis dengan di saat ia memanggil ibu anak itu dulu. Perlakuannya sama-sama lembut.

“Ayo, Mi!” Joy menarik paksa Evelyn untuk ikut dengannya.

“Kamu sama papa duluan saja, ya. Nanti mami menyusul.” Evelyn berucap dengan senyuman. Meyakinkan pada anak itu bahwa ia akan segera pulang.

“Mau sama Mamii!” Anak itu bergelayut manja di kedua lututnya.

Evelyn hanya bisa menghela napas dengan kasar. Ia menggandeng anak itu untuk menuruni anak-anak tangga. Mengantarkan putrinya untuk bertemu dengan Vernon yang sudah menunggu di bawah sana.

Tidak ada percakapan sama sekali saat sepasang suami istri itu saling berhadap-hadapan. Vernon tampak merasa sangat bersalah atas sikapnya tadi malam. Di balik kekesalannya, sebenarnya ia ingin sekali mengucap kata maaf pada istrinya. Namun, rasa gengsi dan ego lebih besar dari sekadar rasa ingin berbaikan.

“Kamu pulang sama papa, ya.” Evelyn berucap dengan sangat lembut. Ia lepas genggamannya pada pergelangan tangan gadis kecil itu. Berusaha membujuk agar Joy lekas pulang bersama papanya.

“Kau tidak ikut?” Vernon akhirnya membuka percakapan lebih dulu. Nada bicaranya terdengar dingin dan datar.

Evelyn mendongak, menatap lelaki di hadapannya dengan nanar.

“Kurasa Bi Inah sudah memberitahumu. Karena Joy sudah kau jemput, barang-barangku kirim saja ke sini dengan jasa pengirim. Nanti ongkos biar kubayar sendiri.” Evelyn menjawab dengan nada yang tidak kalah dingin. Seumur hidup baru pertama kali ia ditampar. Apalagi ia ditampar oleh suami sendiri di usia pernikahan yang masih sangat dini.

“Mami harus ikut.” Joy tetap saja memaksa. Ingin Evelyn pulang bersamanya.

“Mami ada urusan, Sayang. Nanti mami datang buat nemuin kamu, ya.” Ia terus berusaha meyakinkan.

Setelah membujuk sekian lama, akhirnya Joy ingin pulang tanpa Evelyn. Anak itu percaya dengan janji yang Evelyn berikan padanya.

Pasangan ayah dan anak itu lekas beranjak pergi sebelum mereka terlambat ke tempat kesibukan masing-masing. Papa Evelyn juga tampaknya sudah hendak berangkat ke tempat kerja.

“Kamu belum siap-siap? Hari ini masuk kerja kan?” Lelaki paruh baya itu bertanya saat ia berpapasan dengan putrinya.

“Ini mau siap-siap, Pa.” Evelyn beranjak pergi hendak kembali ke kamarnya. Namun, langkah wanita itu terhenti saat ia dicekal oleh mamanya,

“Kamu nanti pulangnya ke rumah Vernon, jangan ke sini!” Wanita itu berucap dengan sangat tegas.

“Tapi, Ma ....”

“Kamu itu sudah menikah, cobalah jadi istri dan ibu yang baik untuk Joy.”

“Mama lihat pipiku, Vernon memukulku tadi malam! Mama mau aku mati di tangannya seperti kematian Kak Inara?” Evelyn berucap dengan penuh emosi.

“Jaga omongan kamu! Inara meninggal itu karena sudah takdirnya. Bukan karena Vernon!” Wanita paruh baya itu langsung menyangkal. “Hidup kamu akan terjamin jika kamu tinggal bersamanya. Sikapnya mungkin memang sedikit menjengkelkan, tapi dia bisa jadi tipe suami penyayang jika dia bisa melihat suatu yang spesial ada di diri kamu.”

“Aku tidak mau menyerahkan hidupku untuk orang sekasar dia. Jika aku tidak diterima di sini, aku bisa menyewa tempat tinggal sendiri!” Evelyn berucap dengan tegas, kemudian berlalu dengan penuh emosi.

“Kamu akan paham apa yang mama inginkan jika kau sudah jadi seorang ibu!” Wanita itu masih saja meneriaki Evelyn yang tengah berlari menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua.

“Aku sudah jadi seorang ibu bagi Joy! Aku tahu apa yang terbaik untukku! Juga apa yang terbaik bagi Joy!” Evelyn balas berteriak dari atas sana.

Hening sejenak. Beberapa saat kemudian Evelyn turun lagi dengan tangan kanan yang tengah menarik koper berisi pakaian. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya sama sekali. Ada sedikit tabungan yang tersimpan di laci nakas samping tempat tidurnya, akan ia gunakan uang itu untuk membayar ongkosnya menuju rumah Vernon, ia akan menjemput barang-barangnya sekarang. Ponselnya ada di sana, juga kartu-kartu penting berisi tabungan ratusan juta.

“Nyonya, kau pulang?” Bi Asih tampak senang saat melihat kedatangan Evelyn ke rumah itu. Namun, tegur sapa dan senyuman yang ia berikan tidak dibalas sama sekali oleh Evelyn. Wanita itu langsung berlari menuju kamar utama, ingin mengumpulkan semua barangnya.

“Terkunci?” Evelyn bertanya tidak percaya. Ia menendang dan memukul daun pintu dengan penuh kekesalan.

“Aku akan memberitahu Tuan Vernon jika kau sudah pulang, Nyonya. Beliau berpesan agar aku memberitahunya jika kau datang.”

“Bagus, cepat hubungi dia karena aku ingin pintu kamar segera dibuka.” Evelyn masih saja terlihat kesal. Ia tampak begitu acak-acakan.

Wanita itu mondar-mandir di depan pintu kamar, menunggu Vernon segera datang. Cukup lama ia menunggu. Ia tampak sangat gelisah, sebab sopir taksi ikut menunggu di depan sana beserta barang-barangnya di bagasi mobil.

“Kita ubah kesepakatan.” Suara bariton milik Vernon langsung membuat Evelyn menoleh ke sumber suara.

Evelyn menatap dengan sangat tajam. “Aku tidak butuh kesepakatan apa pun. Lekas buka pintunya karena aku harus segera pergi.”

“Tidak akan ada yang pergi dari rumah ini.” Lelaki itu menegaskan.

Evelyn menatap dengan muak.

“Kau bisa gunakan kamar tamu. Berhentilah bekerja dan urus Joy dengan selayaknya. Aku akan membayarmu dua kali lipat dari gajimu yang biasa.” Vernon memberikan penawaran. “Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kau tetap tinggal di sini, tapi karena Joy terlihat sangat membutuhkanmu. Sepanjang perjalanan ia selalu menyebut namamu.” Lelaki itu berucap dengan dingin.

“Setelah apa yang kau lakukan tadi malam, kau pikir aku ingin berbuat baik padamu?” Evelyn bertanya dengan tajam.

Vernon menghela napas dengan dalam. “Kau yang salah karena sudah memancing emosiku.” Ia sama sekali tidak ingin mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas tamparan yang sudah ia berikan.

Evelyn tertawa dengan sumbang. Ia maki lelaki itu dalam dada. Lelaki yang tidak punya cinta!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   131. Ending

    Evelyn menatap suaminya dengan mata sembab. Mata itu bahkan telah bengkak karena telah menangis untuk waktu yang lama. Ia tidak tidur semalaman, sebab tidak bisa tenang karena sang suami tidak kunjung siuman.“Vernon, kapan kau akan bangun? Mana janjimu yang ingin membuatku dan anak-anak hidup bahagia?” Evelyn berucap dengan suara serak.Terdengar ketukan di pintu ruangan. Evelyn bangkit untuk membukakan. Tampak kedua ornagtuanya yang datang untuk membesuk setelah hampir 24 jam Vernon berada di rumah sakit.“Papa.” Wanita itu langsung menghabur ke dalam pelukan papanya. Ia kembali menangis sejadi-jadinya di sana. Sebab, terlampau takut jika kehilangan suaminya. Ia belum siap kehilangan lelaki yang begitu ia cintai.“Maaf karena kemaren papa tidak menjawab teleponmu. Papa masih kesal karena kau tetap nekat buat pergi dari rumah. Tadi malam ibunya Vernon datang ke rumah, dia ngasih tahu apa yang terjadi. Papa jadi khawatir sama kamu.” Lelaki paruh baya itu berucap dengan penuh simpati.

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   130. Infeksi Otak

    Evelyn menggeliat kecil saat ia terbangun di pagi hari. Wanita itu berbalik, menatap suaminya yang masih terlelap di sisinya.Evelyn tersenyum menatap, ia elus lembut wajah lelaki itu dengan penuh cinta.“Sayang, bangun. Sudah pagi.” Evelyn berucap dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Vernon. Lelaki itu tetap saja terlelap. Helaan napasnya terdengar begitu lemah, tapi teratur. Bahkan pelukannya di tubuh Evelyn masih erat seperti sebelumnya.“Vernon.” Evelyn menepuk pipi suaminya dengan lembut, berharap dengan itu Vernon akan lekas bangun. Namun, tetap saja Vernon tidak memberikan respons apa pun.Evelyn menghela napas dengan dalam. Ia tatap wajah tampan itu lamat-lamat dari jarak yang begitu dekat. Wajahnya terasa panas saat napas mereka saling beradu.“Bangun, hey, bangun.” Evelyn terus berusaha membangunkan. Ia kecup wajah suaminya berkali-kali untuk mengganggu tidur lelaki itu. Namun, itu tidak memberikan efek apa pun, Vernon tidak kunjung bangun.“Ya sudahlah, nanti

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   129. Ciuman Ternikmat

    “Kamu punya mantan berapa?” Vernon tiba-tiba bertanya menjelang tidur mereka. Kini meraka hanya ada berdua, sebab Luke tidur di kamarnya.“Apa gunanya membahas masa lalu?” Evelyn balik bertanya. Ia kurang suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya.“Aku mau tahu saja. Kau sepertinya mudah disukai oleh orang lain.” Vernon berucap ingin tahu.Evelyn tertawa tipis.“Kau salah, justru tidak ada yang suka padaku. Bahkan kau juga sempat menolakku.” Evelyn ingat betul sekuat apa dulu suaminya itu menolak hubungan mereka. Andai ia tidak hamil, mungkin hubungan mereka tidak akan berlanjut hingga kini. Sebab, tidak ada yang mengikat mereka dan memaksa untuk hidup bersama. Kehamilan itu juga tidak diinginkan, bahkan Evelyn mendapatkannya karena malam pertama yang dipaksa.Vernon menoleh menatap istrinya.“Issa sangat menyukaimu, Joy juga, bahkan Barra.”“Cuma mereka. Kau juga tidak pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk masuk ke dalam kehidupan Issa. Issa juga sempat menolakku.”

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   128. Melayat

    Evelyn mengenakan topi pada Luke untuk menyamarkan luka di jidatnya. Anak itu tampak tampan dengan setelah pakaian yang Evelyn sarungkan. Ia benar-benar mirip dengan Vernon. Matanya, mulutnya, tatapannya, alisnya, rahangnya, benar-benar seperti Vernon. Ia hanya mengambil bagian hidung dan rambut Evelyn. Sebuah perpaduan yang begitu sempurna.[Sudah siap?] Sebuah pesan masuk dari Vernon. Sesuai janjinya, siang ini mereka akan ke rumah Barra.[Sudah.] Evelyn mengirim pesan balasan.Evelyn menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sofa seraya mengawasi Luke yang tidak jera untuk belajar berjalan dengan berpegangan pada sofa. Tampaknya pertumbuhan anak itu semakin ke sini semakin pesat.Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Vernon tiba di rumah. Lelaki itu berganti pakaian terlebih dahulu, agar terkesan ikut berduka atas kematian Fani dengan mengenakan pakaian serba hitam.“Joy gimana?” Evelyn bertanya dengan bingung ketika Vernon mengajaknya untuk segera berangkat. Sebab, Joy akan pulang s

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   127. Suami yang Evelyn Mau

    Vernon menyusul ke kamar setelah ia menenangkan dan menidurkan Joy di kamar anak itu. Evelyn telah terlelap ketika ia menyusul. Wanita itu tampak tidur dengan mendekap Luke. Tampak wajah Evelyn sedikit sembab, pertanda jika ia habis menangis. Barangkali ia menyesal karena telah memilih keputusan yang salah dengan kembali ke rumah itu. Atau juga karena ia merasa sakit karena ketidakpercayaan Vernon terhadapnya.Vernon duduk di tepian ranjang. Ia menghela napas dengan kasar. Terlihat menyesal karena telah memicu pertengkaran di antara mereka.“Evelyn ….” Vernon memanggil dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Evelyn. Wanita itu terlihat tetap terlelap dalam tidurnya.“Sayang ….” Ia menyentuh lembut pipi Evelyn. Membuat Evelyn membuka mata karena merasa terganggu dengan sentuhan itu. “Maaf, ya.” Vernon meminta maaf karena telah menyadari kesalahannya.Evelyn hanya diam. Ia melepas pelukannya pada Luke, lalu berbalik menghadap tembok. Untuk saat ini ia tidak ingin menatap Ver

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   126. Pertengkaran Kecil

    Vernon menggeliat di saat ia terbangun dari tidurnya. Tidak lagi ia dapati sang istri di sisinya. Ranjang itu kosong, hanya ada ia seorang diri. Pertanda jika Evelyn sudah bangun lebih dulu. Dari dalam kamar mandi terdengar air yang membentur lantai, tampaknya Evelyn tengah mandi.Vernon bangkit untuk duduk. Selimutnya melorot hingga pinggang, menunjukkan otot-otot di tubuhnya yang tampak begitu kekar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ia bisa merasakan kembali surga dunia bersama istrinya tadi malam.Vernon mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia menguap karena masih mengantuk. Ia melakukan peregangan kecil di atas ranjang. Setelahnya ia beranjak turun, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan melangkah dengan telanjang bulat menuju kamar mandi.“Sayang, buka pintunya.” Vernon mengetuk dengan lembut, ingin ikut mandi bersama Evelyn.“Sebentar, aku mau selesai!” Terdengar Evelyn menjawab dari dalam.“Mandinya bareng.” Vernon berucap dengan manja, suaranya terdengar serak khas o

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status