Home / Romansa / Istri Rahasia Bos Dingin / Menjadi Istri Kontrak?

Share

Menjadi Istri Kontrak?

Author: Aldra_12
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-24 19:21:09

Mata Freya membola sempurna. Dia menatap tak percaya pada Keano yang baru saja bicara.

“I-istri?” Freya memastikan jika apa yang baru saja didengarnya tidak salah. “Tunggu, Pak. Anda sedang bercanda, kan?” Freya mencoba tersenyum seolah apa yang baru saja didengarnya bukanlah sebuah kebenaran.

Namun, bukan jawaban yang Freya dapatkan. Melainkan tatapan yang mengintimidasinya dari bola mata hitam Keano yang tak bisa dihindarinya.

“Apa kamu berpikir kalau aku suka bercanda, Freya Winata?” Suara Keano tegas tak terbantah.

Seketika Freya meneguk ludahnya kasar meluncur di tenggorokan. Dia masih tak paham, kenapa Keano ingin menjadikannya seorang istri?

“Tapi, kenapa? Saya bisa menjadi pelayan Anda, mungkin membersihkan tempat Anda, mencuci pakaian Anda, menyiapkan segala kebutuhan Anda. Apa pun, tapi kenapa malah meminta saya menjadi istri Anda?” Freya mencoba mencari alasan logis dari permintaan Keano.

Senyum samar nyaris tak terlihat terpajang di bibir Keano. Tatapannya masih sekelam malam, saat dia kembali berkata, “Karena aku butuh istri. Tepatnya, istri kontrak.”

Freya tertegun mendengar balasan Keano, sampai suara Keano kembali terdengar.

“Katakan padaku, Freya. Jika kamu keluar dari sini dengan status masih lajang, apa kamu juga bisa lepas dari perjodohan yang ayahmu buat?” Mata Keano berkilat saat menatap ke arah Freya. “Apa kamu yakin, ayahmu akan melepasmu begitu saja, jika benar alasanmu kabur karena ingin dijodohkan dengan pria beristri?”

Freya bergeming mendengar ucapan Keano. Benar, ayahnya tak mungkin melepas Freya begitu saja. Ayahnya pasti akan berusaha membawanya ke Pak Kusuma untuk dinikahkan demi melunasi hutang-hutang ayahnya.

Tapi, andai dia menikah kontrak dengan Keano, apa itu akan menjamin ayahnya akan berhenti memaksanya? Sedangkan Freya tahu, ayahnya tak mungkin bisa membayar hutang ke Pak Kusuma yang pasti tak sedikit jumlahnya.

Freya dilanda kebingungan, tapi tawaran Keano juga bisa menjadi solusi untuknya.

Saat tatapan Freya tertuju pada Keano. “Tapi, meski menikah dengan Anda, Ayah saya tetap akan mencari saya. Dia butuh uang dari saya.”

“Akan kuberi ayahmu uang.” Keano menyambar cepat. “Sebagai mahar menikahimu.”

Jari-jari Freya mencengkram kuat tali tas. Benarkah ini satu-satunya solusi untuknya?

“Bagaimana? Aku tidak menawarkan hal yang sama dua kali.” Keano memberikan penekanan, matanya menyorot tak terbantah.

Freya meneguk ludah kasar, tubuhnya sedikit gemetaran. “Ki-kita hanya menikah kontrak, Pak?” Freya kembali memastikan.

Freya melihat tatapan tajam Keano ke arahnya. Bibirnya terkatup rapat, tubuhnya membeku di tempatnya. Sampai dia mendengar pria di hadapannya ini bicara.

“Ya. Satu tahun.”

Kelegaan seketika singgah di dadanya. Satu tahun, bukan waktu lama untuk dia jalani. Dan setidaknya, dia tidak akan dipaksa lagi menikah dengan pria tua beristri empat.

“Ba-baik, saya terima.” Freya mengangguk pelan seolah masih ada sedikit keraguan dalam keputusannya ini.

Keano menurunkan satu kakinya yang dia silangkan. Tangan kirinya dia tekuk, tatapannya tertuju pada jarum yang ada di arlojinya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Besok aku akan datang lagi untuk mengurus pernikahan kita.” Keano berdiri dari duduknya. Tatapannya tertuju lagi pada Freya, saat dia kembali berkata, “Kamu bisa istirahat di sini.”

Freya mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak.”

Tidak ada balasan, Keano melewati Freya begitu saja.

Freya masih mematung di tempatnya. Begitu mendengar suara pintu tertutup, tubuh Freya seketika lemas sampai dia jatuh ke lantai marmer yang dingin.

“Bagaimana bisa kamu mengambil keputusan segila ini, Freya?”

Freya ingin merutuki ucapannya tadi. 

Akan tetapi menikah kontrak dengan Keano tidak ada buruknya, daripada dia harus menjadi istri kelima dari pria tua gila itu.

**

Keesokan harinya.

Freya masih terlelap di sofa ruang tengah penthouse milik Keano. Dia tak berani masuk ke kamar, sehingga semalam memilih tidur di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Sampai terdengar suara bel dari depan, membuat Freya terkejut dan segera bangun dari posisinya. Tatapannya langsung tertuju ke arah pintu, walau seluruh nyawanya belum terkumpul sempurna.

Suara bel kembali terdengar. Mau tak mau, Freya melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

Tanpa melihat ke layar interkom, Freya membuka pintu begitu saja. Sampai dia berhadapan dengan pelayan hotel yang tersenyum ramah padanya.

“Nona Freya, saya kemari untuk mengantar pakaian untuk Anda.” Pelayan mengulurkan gaun putih yang terbungkus plastik rapi.

Freya mengerutkan kening. “Tapi, saya tidak memesan gaun atau melakukan laundry service.”

Pelayan tersenyum ramah, lalu kembali bicara. “Ini perintah Pak Keano. Saya hanya bertugas mengantarnya saja. Silakan diterima.”

Mendengar nama Keano, Freya buru-buru mengambil gaun dari tangan pelayan.

“Terima kasih.” Freya berucap lirih.

“Satu lagi, Pak Keano berpesan agar Anda siap dalam tiga puluh menit. Beliau sudah dalam perjalanan kemari.”

Freya mengangguk-angguk pelan mendengar instruksi dari pelayan. Setelah pelayan pergi, Freya kembali masuk ke dalam penthouse.

Freya memandangi gaun putih ini. Terlihat sederhana tapi begitu cantik. 

Freya segera mandi lalu setelahnya memakai gaun yang Keano berikan.

Saat menatap bayangannya dari pantulan cermin di kamar mandi dekat dapur, Freya melihat gaun itu sangat pas melekat di tubuhnya.

“Bagaimana bisa Pak Keano tahu ukuranku?” Kening Freya berkerut dalam.

Saat itu, terdengar suara pintu terbuka. 

Freya segera keluar dari dalam kamar mandi. Saat melangkah menuju ruang tamu, tatapan Freya tertuju pada Keano yang sudah berdiri di sana.

Freya sedikit memperlambat langkahnya, ketika melihat Keano menoleh ke arahnya, Freya segera menyapa. “Selamat pagi, Pak.”

Sedang Keano tak membalas sapaan Freya. Matanya yang gelap menelisik penampilan Freya dari atas hingga ujung kaki, sampai dia melihat kedua kaki Freya yang telanjang. 

Keano mengulurkan paper bag yang ada di tangan kirinya. “Pakai ini,” perintahnya tak terbantah.

Freya terkejut. Tapi dia tetap menerima paper bag yang Keano ulurkan. Ketika melihat isinya, dia kembali dibuat kaget karena Keano memberikan sepatu untuknya. Mata Freya melirik ke sepatunya yang ada di lantai, di samping sofa. Heels miliknya itu memang patah, jadi kebetulan sekali Keano memberinya sepatu baru.

“Segera pakai sepatunya dan kita pergi sekarang.” Tanpa menunggu balasan dari Freya, Keano membalikkan tubuhnya menuju pintu utama.

Freya buru-buru memakai heels pemberian Keano. Lagi-lagi barang yang Keano berikan sangat pas ketika dia pakai, seolah-olah pria ini memang tahu ukurannya. 

Tapi, mana mungkin Keano tahu. Pasti hanya kebetulan saja.

Keano dan Freya sudah berada di dalam mobil. Mereka menuju rumah ayah Freya.

Sebenarnya, sejak semalam Kevin terus menghubungi Freya dan mengirim banyak pesan menanyakan keberadaan Freya. Tapi Freya tak mau meresponnya, karena dia tahu ayahnya hanya ingin menyerahkannya pada Pak Kusuma.

Setengah jam berlalu, mobil Keano tiba di tempat semalam mereka bertemu.

Begitu mobil menepi. Keano menoleh pada Freya. “Di mana rumahmu?” tanyanya dingin.

Freya menunjuk pelan keluar jendela. “Masuk gang itu, Pak.”

Tanpa kata Keano keluar dari dalam mobil, diikuti Freya yang ikut turun.

Dan, saat Freya menginjakkan kaki di luar, dia baru menyadari ada dua mobil lain yang berhenti di belakang mobil Keano. Beberapa pria bertubuh tegap keluar dari mobil, wajah Freya menegang karena panik dan takut.

“Pak, mereka ….” Freya menjeda kalimatnya dengan tatapan tertuju pada para pria yang berjalan ke arah mereka.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Adeena
jangan kaget Freya kalo banyak orang2 buat tameng kalo ayahmu berulah....
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
itu pengawal keano ya freya.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Belum Terbuka

    Acara usai menjelang tengah malam. Freya sudah berada di dalam mobil bersama Keano.Di dalam kabin, Freya bersandar pelan di jok. Senyum yang dia pertahankan sepanjang malam mulai terasa pegal di pipinya. Kakinya berdenyut karena hak sepatunya yang terlalu tinggi, dan jari-jarinya juga terasa dingin. Jas Keano masih tersemant di bahunya karena dia lupa mengembalikannya.Keano tidak banyak bicara. Dia duduk dengan satu tangan di atas lutut dan pandangan tertuju ke jendela. Sesekali Freya menangkap pantulan wajah Keano dari spion tengah, dan pria itu selalu berpaling saat menyadari tatapan Freya.Freya hanya diam, tak ada pembahasan sama sekali di dalam mobil.Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka tiba di kediaman Pradipta.Freya melangkah turun dari mobil, dia tatap Keano yang sudah berdiri di hadapannya.“Ayo.” Tangan Keano terulur pada Freya.Freya meraihnya, hangat menjalar di kulitnya. Dia melangkah mengikuti Keano yang berjalan menuntunnya masuk ke dalam rumah.Begitu pint

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Beban di Pesta

    Mobil berhenti di pelataran Hotel Prada tepat ketika lampu-lampu kristal di lobi menyala semua. Seorang petugas valet membuka pintu, dan udara malam yang dingin menyapu bahu Freya yang hanya tertutup kain tipis.Dia menggenggam clutch di pangkuannya dengan kedua tangan. Lalu, perlahan turun dari mobil saat Keano mengulurkan tangan ke arahnya.Freya berdiri dengan anggun, bahkan dia sampai tak mengenali kalau wanita berpakaian kelas atas ini adalah dirinya.Dari mobil di belakang, Jordan dan Nadine turun. Nadine melangkah mendekat bersama Jordan ke arah Freya dan Keano berdiri.Begitu ada di hadapan Freya, Nadine mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Freya yang menjuntai di pelipis dengan gerakan ringan seperti ibu yang mengantar anaknya ke panggung."Cantik," bisik Nadine. "Tegakkan bahumu. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun malam ini." Senyum Nadine begitu menghangatkan.Freya mengangguk. Dadanya berdegup begitu keras sampai dia khawatir suaranya terdengar.Keano menekuk le

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ragu Pada Diri Sendiri

    Keesokan harinya.Freya ada di dalam kamar mandi. Dia tidak ke mall, Keano sudah membuatkan izin untuknya agar tak masuk hari ini.Freya melangkah keluar dari kamar mandi begitu selesai. Dia berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah, dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. “Freya, ini Mama.” Suara Nadine terdengar dari pintu luar.“Ya, Ma.” Freya membalas. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membuka.Freya kaget melihat Nadine datang tak sendirian.Nadine masuk bersama dua pelayan yang mendorong rak gantungan berisi gaun-gaun malam."Keano sudah meminta izin ke supervisor tokomu, kan?" kata Nadine sambil menunjuk koleksi itu. "Jadi, ayo pilih gaun yang harus kamu pakai buat acara nanti."Freya canggung, dia tatap Nadine yang tampak begitu antusias. "Ma, tidak usah repot-repot—""Mama tidak repot." Nadine menarik satu gaun dari gantungan. "Mama senang."Freya tidak tahu bagaimana menolak orang yang berkata ‘senang’ dengan wajah sebahagia itu. Dia pasrah. Beberap

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Mungkin Tidak Bisa

    Makan malam tiba. Sup buatan Freya sudah disajikan di atas meja. Uapnya mengepul dengan aroma rempah yang begitu kuat.Jordan duduk di kursinya, menatap menu di atas meja, menunggu makan malam siap.Nadine duduk berhadapan dengan Keano yang bersebelahan dengan Freya. Freya menunduk sambil memutar sendok di mangkuknya sendiri. Dia terlalu gugup untuk menatap Keano.Keano menyendok kuahnya, meniup pelan, lalu menyesap.Tidak ada yang bicara.Keano menyendok lagi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tanpa berkata apa pun, dia mengambil sepotong iga, memisahkan dagingnya dengan sendok, dan memakannya dengan tenang. Mangkuk pertama habis. Dia menambah satu mangkuk lagi tanpa menoleh pada siapa pun.Jordan menurunkan sendoknya perlahan. Dia menatap heran pada putranya yang makan begitu lahap."Sudah lama Papa gak lihat kamu makan sebanyak ini." Jordan tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Keano.Nadine juga menatap pada putranya, nafsu makan Keano mendadak berubah begitu besar."Supnya en

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Janji Memasak

    Mobil berhenti di pelataran rumah Pradipta saat langit mulai berubah warna. Keano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Freya. Gerakannya biasa saja, tapi Freya masih belum terbiasa diperlakukan begitu.Di sepanjang jalan tadi dia belum bicara lagi. Wajah Keano yang melembut sesaat setelah membaca pesan itu masih mengganggu pikirannya. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikannya, tapi keputusan itu tidak sepenuhnya berhasil."Keano," panggil Freya begitu mereka berdiri di depan pintu utama."Hm?" Keano menoleh, menatap Freya yang seperti mau mengatakan sesuatu."Aku mau ke dapur sebentar." Telunjuk Freya terangkat sejenak ke dalam rumah.Kedua sudut alis Keano tertarik ke atas. "Lapar?""Bukan." Freya menggigit bibir bawahnya. "Aku pernah janji akan memasakkan sup iga untukmu. Kamu ingat?"Mata Keano menatap Freya lekat, seolah tidak percaya dia mengingat percakapan sederhana di mobil malam itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir Keano bergerak tipis."Ingat," kata Keano. "Kamu

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Jadi Beda

    Bel tanda toko dibuka berbunyi dari pengeras suara. Rachel menepuk lutut Freya sekali, lalu berdiri dan merapikan seragamnya."Ayo. Yang kamu ceritakan tadi aman di aku," bisik Rachel. "Tapi soal 'cuma balas budi' itu, aku belum setuju."Freya hanya tersenyum tipis dan mengikuti Rachel keluar dari ruang ganti tanpa berkata apa-apa lagi.Begitu mereka melangkah ke area toko, Freya langsung merasakannya. Percakapan di sudut-sudut ruangan berhenti sepersekian detik, lalu berlanjut dengan suara yang lebih rendah. Ada yang pura-pura sibuk merapikan rak, ada yang menatap terang-terangan, ada pula yang buru-buru tersenyum begitu matanya bertemu mata Freya."Freya," sapa seorang karyawan yang dulu tidak pernah menyapanya lebih dulu. Dia melangkah mendekat dengan kedua tangan terlipat di depan perut. "Maaf ya soal kemarin. Aku sama sekali tidak percaya gosip itu, sumpah.""Tidak apa-apa," jawab Freya pelan."Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya, Bu Freya." Freya tersentak. "Bu?""Eh, maksudku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status