LOGINFreya menggeleng kuat mendengar Keano tak mempercayainya. Dia juga keheranan, kenapa Keano bisa tahu nama lengkapnya. Pria tak terjangkau seperti Keano, mana mungkin menghafal setiap nama karyawannya.
“Saya benar-benar tidak bohong, Pak Keano.” Freya bicara dengan nada suara yang bergetar.
Satu sudut alis Keano tertarik ke atas. Sampai satu kalimat kembali meluncur dari bibirnya. “Putar arah, antar dia ke tempat tadi.”
Mata Freya membola sempurna. Dia menggeleng kuat.
“Saya mohon jangan, Pak. Saya mohon selamatkan saya, Pak.” Cairan bening luruh dari pelupuk mata Freya. “Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan. Apa pun, asal Anda tidak mengembalikan saya ke sana.” Freya memohon dengan linangan air mata.
“Hentikan mobilnya!” perintah Keano pada sopirnya.
Begitu mobil berhenti di bahu jalan. Keano menoleh pada Freya yang memberikan tatapan memohon padanya.
Senyum samar nyaris tak terlihat terangkat di bibir Keano, lalu dia memastikan. “Apa pun?”
Freya baru menyadari ucapannya yang impulsif. Tapi demi meyakinkan Keano dan tidak dikembalikan ke tempat tadi, Freya mengangguk-angguk mantap. “Apa pun, Pak. saya akan lakukan. Anda bisa meminta saya lembur, tak memberikan bonus saya, atau apa pun asal saya tidak kembali ke sana dan dipaksa menikah, Pak.”
Tanpa kata, Keano mengetuk sandaran kursi sopir sebagai isyarat agar kembali melajukan mobil.
Freya tidak bisa membaca ekspresi datar Keano. Apa sikap pria ini pertanda jika Keano tidak akan mengembalikannya ke tempat tadi?
Freya meremat jemarinya. Dia tidak berani bertanya, atau satu kesalahan kecil bisa membuatnya benar-benar diantar ke pria suruhan Pak Wijaya.
Keheningan di kabin mobil ini semakin mencekam. Freya melirik pada Keano yang duduk begitu tenang, bahkan suara napas pria ini saja seperti tak terdengar.
Lalu, Freya mengamati jalanan yang mereka lewati. Mobil Keano tidak berbalik ke arah rumah Freya berada, setidaknya Freya bisa sedikit tenang dan aman sekarang.
Setelah beberapa saat perjalanan.
Freya menoleh pada Keano, dia memberanikan diri berkata, “Pak, Anda bisa menurunkan saya di sisi jalan.”
“Bukankah kamu akan melakukan apa pun untukku sebagai imbalan atas bantuan yang aku berikan?” Suara Keano yang tegas tak terbantah memenuhi kabin mobil ini.
Freya tersentak, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. “I-iya, Pak. Tapi, apa Anda mau memintanya sekarang?” Freya memastikan. Matanya menatap panik dan cemas dengan apa yang akan diminta Keano darinya.
Tidak ada balasan. Sekali lagi pria ini membisu, membuat jantung Freya berdegup cepat karena kepanikan dan kecemasan yang menguasainya.
Sampai akhirnya mobil ini memasuki area parkir sebuah hotel bintang lima. Hotel Prada yang merupakan salah satu hotel milik Pradipta Group.
Freya semakin panik. Dia menelan ludah susah payah. Untuk apa Keano mengajaknya ke hotel?
Freya menoleh pada Keano yang duduk dengan sangat tenang dan berwibawa. Bosnya di mall ini, tidak akan meminta macam-macam sebagai balasan atas bantuan yang dia berikan, kan?
“Ayo turun!” Suara tegas Keano menggema di dalam kabin begitu mobil ini berhenti sempurna di basement hotel.
Tempat yang sempurna menurunkan Keano dan Freya tanpa dilihat oleh orang lain.
Freya meneguk ludah kasar. Dia benar-benar tak berani untuk melangkah keluar.
“Apa yang kamu tunggu?” Keano menatap Freya yang masih duduk membeku di kursi sampingnya.
Saat Freya menoleh pada Keano, dia melihat tatapan setajam elang pria itu menyorot ke arahnya.
Freya tak berani membantah. Dia mengangguk lalu ikut membuka pintu mobil untuk segera turun dari mobil.
Sepanjang melangkah menuju lift mengikuti Keano. Freya terus menggenggam tali tas yang menyilang di depan dada. Freya bahkan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk meredam gemetar dalam tubuhnya yang kian menjadi-jadi.
Hingga pintu lift terbuka di lantai teratas hotel. Lantai penthouse mewah satu-satunya yang terdapat di lantai ini.
Freya masih mengekori langkah Keano dengan gugup. Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam penthouse.
Freya berdiri di dekat Keano, sisi samping agak belakang, sehingga dia bisa melihat pria bergaris rahang tegas ini dari samping.
Dan, Freya menyaksikan Keano mengeluarkan ponsel, seperti baru mengetik sesuatu, lalu kembali menoleh padanya.
Tatapan tajam dari bola matanya yang hitam membuat tubuh Freya membeku. Bahkan saat pria ini kemudian duduk di sofa, Freya masih berdiri mematung di tempatnya.
“Aku sudah membantumu dan kamu siap melakukan apa pun untukku, itu perjanjiannya.” Tatapan Keano tertuju pada Freya. Satu kakinya lantas disilangkan, sedang salah satu lengannya dia letakkan di atas sandaran sofa.
Freya meneguk ludah kasar. Kata ‘apa pun’ yang terlontar dari bibir Keano, entah kenapa seperti sebuah firasat buruk untuknya.
Namun, dia sudah mengatakan itu, dan Freya tak bisa menariknya kembali.
“Iy-iya, Pak. Apa pun, tapi saya tidak bisa jika Anda meminta saya untuk mela—”
“Aku butuh seorang istri, itu balasan yang aku inginkan.”
Freya menunduk sejenak, mengumpulkan pikirannya yang masih berkecamuk. Jemarinya meremat ujung rok kerja, gerakan kecil yang selalu muncul setiap kali dia gugup atau ragu mengungkapkan sesuatu.“Sebenarnya ….” Freya memulai dengan suara pelan, matanya masih menatap ke bawah. “Saya juga masih bingung dan penasaran, kenapa Brian yang akhirnya terpilih.”Keano menatap lekat wajah Freya yang tampak bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia tidak menyela, membiarkan Freya menyelesaikan kalimatnya dengan caranya sendiri.“Kalau memang dia layak mendapatkan posisi itu, memang seharusnya dia yang mendapatkannya,” ucap Freya lagi, kali ini dia mengangkat wajah dan menatap Keano dengan sorot mata penuh kejujuran. “Saya tidak keberatan kalau memang penilaiannya adil.”Freya menjeda sejenak kalimatnya, menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Tapi kalau ternyata dia tidak pantas, dan posisi itu didapat dengan cara yang curang seperti mencuri hasil kerja orang lain ... saya berharap posisi itu dibe
Freya masih berdiri di belakang gedung sambil menarik dan membuang napas berkali-kali untuk melegakan sesak di dadanya.Memang tak apa jika dia tak menjadi manager toko, hanya saja Freya tak bisa menerima hasil kerjanya dicuri oleh orang yang benar-benar dia percayai.Seperti mendapat roti ketika dia membutuhkan, tapi juga harus menerima racun secara bersamaan.Ini sangat menyakitkan untuk Freya. Bibirnya tersenyum getir, pria yang dia kagumi, ternyata tak lebih dari pria licik, manipulatif, dan tak berperasaan.Bodohnya Freya percaya pada Brian begitu saja. Bagaimana bisa dia tak pernah menaruh curiga pada pria itu.Saat Freya masih terus menenangkan perasaan kecewanya. Ponsel Freya kembali bergetar. Kali ini pesan singkat yang muncul di layar.Pesan ini dari Keano.Freya membuka pesan itu dan membaca isinya.[Naik ke ruang kerjaku. Sekarang.]Freya menatap pesan itu dengan dada berdebar. Tidak ada ruang untuk menolak dari nada tegas yang tersirat lewat kalimat singkat itu.Dia menar
Di dalam area mall.Keano baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu tenant di lantai bawah PD Mall. Langkahnya melintasi koridor utama, sengaja memilih rute yang melewati depan toko kosmetik tempat Freya bekerja.Kebiasaan barunya ini muncul entah sejak kapan—setiap kali ada urusan di lantai bawah, dia selalu menyempatkan diri lewat sana, meski hanya sekadar memastikan.Tatapan Keano menyapu etalase toko yang tertata rapi, mencari sosok yang biasanya berdiri di balik meja kasir atau sibuk merapikan rak produk.Namun, Freya tidak ada di sana.Keano menghentikan langkahnya sejenak, matanya menelusuri setiap sudut toko yang terlihat dari luar. Hanya ada Rachel yang tampak sibuk melayani pelanggan, dan seorang karyawan lain yang tidak dia kenal namanya.Kening Keano berkerut tipis. Biasanya di jam seperti ini, Freya sudah berada di posisinya.Nanda yang berjalan di belakangnya menyadari langkah Keano yang melambat. Nanda sampai memastikan ke mana arah tatapan atasannya
Freya menatap Brian yang berdiri di ujung koridor dengan senyum ramahnya yang biasa, seolah dunia baik-baik saja. Rasa marah yang tadi tertahan di dadanya kini mendidih, siap meluap kapan saja.“Frey? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tanya Brian, melangkah mendekat dengan raut khawatir yang terlihat begitu meyakinkan.Freya menatap Brian lekat-lekat, mencoba mencari secuil rasa bersalah di balik wajah tenang itu. Tapi yang dia temukan hanyalah ketenangan yang begitu wajar, seolah pria ini benar-benar tidak tahu apa-apa.“Aku baru saja melihat data penjualanku,” kata Freya akhirnya, suaranya datar tapi tajam. “Kenapa kode stafmu ada di transaksi-transaksi besarku, Brian?”Untuk sepersekian detik, ada kilat terkejut yang lewat di mata Brian. Tapi secepat itu pula raut wajahnya kembali normal, bahkan menampilkan ekspresi bingung yang dibuat-buat.“Maksudmu apa? Aku tidak paham,” balas Brian, mengangkat bahu seolah benar-benar tidak mengerti.“Jangan berpura-pura, Brian.” Freya melangk
Freya berangkat bersama Nanda seperti hari sebelumnya. Dia sudah tiba di mall dan langsung masuk untuk bersiap bekerja.Suasana di area belakang toko kosmetik dipenuhi bisik-bisik karyawan yang berkumpul di depan papan pengumuman. Freya berjalan mendekat bersama Rachel, ikut menyelinap di antara kerumunan untuk melihat kertas yang baru saja ditempel.Pengumuman Resmi: Manajer Toko Kosmetik Area Lantai 2 — Brian MahendraFreya membaca nama itu berulang kali, memastikan matanya tidak salah lihat.“Apa?” Rachel yang berdiri di sampingnya bersuara lebih dulu, matanya membola tak percaya. “Brian? Yang benar saja!”Bisikan di sekitar mereka semakin ramai. Beberapa karyawan saling berpandangan dengan raut heran, ada juga yang menggelengkan kepala pelan.“Bukannya penjualan Brian selalu di bawah rata-rata?” bisik salah satu karyawan dari toko sebelah.“Iya, aneh sekali. Padahal semua tahu Freya yang paling konsisten mencapai target,” timpal yang lain, suaranya cukup pelan tapi masih terdenga
Keesokan harinya.Freya baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan blus lengan panjang berwarna krem, rambutnya masih setengah basah dan tergerai di bahu.Freya melangkah menuju cermin besar di sudut walk in closet, lalu mulai menyisir rambutnya dengan gerakan cepat karena waktu hampir siang.Sampai suara pintu walk in closet kembali terbuka, membuat Freya menoleh sekilas.Keano melangkah masuk dengan kemeja putih yang belum sepenuhnya dikancingkan dan memperlihatkan sebagian dada bidangnya. Tangannya membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.Freya buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas tanpa alasan jelas. Dia kembali fokus menyisir rambutnya, berusaha terlihat sesibuk mungkin.“Duduk,” kata Keano begitu sampai di dekat Freya, suaranya datar seperti biasa.Freya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dengan kening berkerut. “Duduk, Pak? Untuk apa?”Keano tidak menjawab. Dia hanya menunjuk kursi kecil di dekat meja rias dengan d







