Share

Meminta Bantuan

Penulis: Aldra_12
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 19:20:13

Freya menggeleng kuat mendengar Keano tak mempercayainya. Dia juga keheranan, kenapa Keano bisa tahu nama lengkapnya. Pria tak terjangkau seperti Keano, mana mungkin menghafal setiap nama karyawannya.

“Saya benar-benar tidak bohong, Pak Keano.” Freya bicara dengan nada suara yang bergetar. 

Satu sudut alis Keano tertarik ke atas. Sampai satu kalimat kembali meluncur dari bibirnya. “Putar arah, antar dia ke tempat tadi.”

Mata Freya membola sempurna. Dia menggeleng kuat.

“Saya mohon jangan, Pak. Saya mohon selamatkan saya, Pak.” Cairan bening luruh dari pelupuk mata Freya. “Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan. Apa pun, asal Anda tidak mengembalikan saya ke sana.” Freya memohon dengan linangan air mata.

“Hentikan mobilnya!” perintah Keano pada sopirnya.

Begitu mobil berhenti di bahu jalan. Keano menoleh pada Freya yang memberikan tatapan memohon padanya. 

Senyum samar nyaris tak terlihat terangkat di bibir Keano, lalu dia memastikan. “Apa pun?”

Freya baru menyadari ucapannya yang impulsif. Tapi demi meyakinkan Keano dan tidak dikembalikan ke tempat tadi, Freya mengangguk-angguk mantap. “Apa pun, Pak. saya akan lakukan. Anda bisa meminta saya lembur, tak memberikan bonus saya, atau apa pun asal saya tidak kembali ke sana dan dipaksa menikah, Pak.”

Tanpa kata, Keano mengetuk sandaran kursi sopir sebagai isyarat agar kembali melajukan mobil.

Freya tidak bisa membaca ekspresi datar Keano. Apa sikap pria ini pertanda jika Keano tidak akan mengembalikannya ke tempat tadi?

Freya meremat jemarinya. Dia tidak berani bertanya, atau satu kesalahan kecil bisa membuatnya benar-benar diantar ke pria suruhan Pak Wijaya.

Keheningan di kabin mobil ini semakin mencekam. Freya melirik pada Keano yang duduk begitu tenang, bahkan suara napas pria ini saja seperti tak terdengar.

Lalu, Freya mengamati jalanan yang mereka lewati. Mobil Keano tidak berbalik ke arah rumah Freya berada, setidaknya Freya bisa sedikit tenang dan aman sekarang.

Setelah beberapa saat perjalanan.

Freya menoleh pada Keano, dia memberanikan diri berkata, “Pak, Anda bisa menurunkan saya di sisi jalan.”

“Bukankah kamu akan melakukan apa pun untukku sebagai imbalan atas bantuan yang aku berikan?” Suara Keano yang tegas tak terbantah memenuhi kabin mobil ini.

Freya tersentak, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. “I-iya, Pak. Tapi, apa Anda mau memintanya sekarang?” Freya memastikan. Matanya menatap panik dan cemas dengan apa yang akan diminta Keano darinya.

Tidak ada balasan. Sekali lagi pria ini membisu, membuat jantung Freya berdegup cepat karena kepanikan dan kecemasan yang menguasainya.

Sampai akhirnya mobil ini memasuki area parkir sebuah hotel bintang lima. Hotel Prada yang merupakan salah satu hotel milik Pradipta Group.

Freya semakin panik. Dia menelan ludah susah payah. Untuk apa Keano mengajaknya ke hotel? 

Freya menoleh pada Keano yang duduk dengan sangat tenang dan berwibawa. Bosnya di mall ini, tidak akan meminta macam-macam sebagai balasan atas bantuan yang dia berikan, kan?

“Ayo turun!” Suara tegas Keano menggema di dalam kabin begitu mobil ini berhenti sempurna di basement hotel.

Tempat yang sempurna menurunkan Keano dan Freya tanpa dilihat oleh orang lain.

Freya meneguk ludah kasar. Dia benar-benar tak berani untuk melangkah keluar.

“Apa yang kamu tunggu?” Keano menatap Freya yang masih duduk membeku di kursi sampingnya.

Saat Freya menoleh pada Keano, dia melihat tatapan setajam elang pria itu menyorot ke arahnya.

Freya tak berani membantah. Dia mengangguk lalu ikut membuka pintu mobil untuk segera turun dari mobil.

Sepanjang melangkah menuju lift mengikuti Keano. Freya terus menggenggam tali tas yang menyilang di depan dada. Freya bahkan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk meredam gemetar dalam tubuhnya yang kian menjadi-jadi.

Hingga pintu lift terbuka di lantai teratas hotel. Lantai penthouse mewah satu-satunya yang terdapat di lantai ini.

Freya masih mengekori langkah Keano dengan gugup. Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam penthouse.

Freya berdiri di dekat Keano, sisi samping agak belakang, sehingga dia bisa melihat pria bergaris rahang tegas ini dari samping.

Dan, Freya menyaksikan Keano mengeluarkan ponsel, seperti baru mengetik sesuatu, lalu kembali menoleh padanya.

Tatapan tajam dari bola matanya yang hitam membuat tubuh Freya membeku. Bahkan saat pria ini kemudian duduk di sofa, Freya masih berdiri mematung di tempatnya.

“Aku sudah membantumu dan kamu siap melakukan apa pun untukku, itu perjanjiannya.” Tatapan Keano tertuju pada Freya. Satu kakinya lantas disilangkan, sedang salah satu lengannya dia letakkan di atas sandaran sofa.

Freya meneguk ludah kasar. Kata ‘apa pun’ yang terlontar dari bibir Keano, entah kenapa seperti sebuah firasat buruk untuknya.

Namun, dia sudah mengatakan itu, dan Freya tak bisa menariknya kembali.

“Iy-iya, Pak. Apa pun, tapi saya tidak bisa jika Anda meminta saya untuk mela—”

“Aku butuh seorang istri, itu balasan yang aku inginkan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
Keano langsung gass tanpa basa basi.,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ragu Pada Diri Sendiri

    Keesokan harinya.Freya ada di dalam kamar mandi. Dia tidak ke mall, Keano sudah membuatkan izin untuknya agar tak masuk hari ini.Freya melangkah keluar dari kamar mandi begitu selesai. Dia berjalan sambil mengusap rambutnya yang basah, dan langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. “Freya, ini Mama.” Suara Nadine terdengar dari pintu luar.“Ya, Ma.” Freya membalas. Dia berjalan ke arah pintu, lalu membuka.Freya kaget melihat Nadine datang tak sendirian.Nadine masuk bersama dua pelayan yang mendorong rak gantungan berisi gaun-gaun malam."Keano sudah meminta izin ke supervisor tokomu, kan?" kata Nadine sambil menunjuk koleksi itu. "Jadi, ayo pilih gaun yang harus kamu pakai buat acara nanti."Freya canggung, dia tatap Nadine yang tampak begitu antusias. "Ma, tidak usah repot-repot—""Mama tidak repot." Nadine menarik satu gaun dari gantungan. "Mama senang."Freya tidak tahu bagaimana menolak orang yang berkata ‘senang’ dengan wajah sebahagia itu. Dia pasrah. Beberap

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Mungkin Tidak Bisa

    Makan malam tiba. Sup buatan Freya sudah disajikan di atas meja. Uapnya mengepul dengan aroma rempah yang begitu kuat.Jordan duduk di kursinya, menatap menu di atas meja, menunggu makan malam siap.Nadine duduk berhadapan dengan Keano yang bersebelahan dengan Freya. Freya menunduk sambil memutar sendok di mangkuknya sendiri. Dia terlalu gugup untuk menatap Keano.Keano menyendok kuahnya, meniup pelan, lalu menyesap.Tidak ada yang bicara.Keano menyendok lagi. Sekali, dua kali, tiga kali. Tanpa berkata apa pun, dia mengambil sepotong iga, memisahkan dagingnya dengan sendok, dan memakannya dengan tenang. Mangkuk pertama habis. Dia menambah satu mangkuk lagi tanpa menoleh pada siapa pun.Jordan menurunkan sendoknya perlahan. Dia menatap heran pada putranya yang makan begitu lahap."Sudah lama Papa gak lihat kamu makan sebanyak ini." Jordan tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Keano.Nadine juga menatap pada putranya, nafsu makan Keano mendadak berubah begitu besar."Supnya en

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Janji Memasak

    Mobil berhenti di pelataran rumah Pradipta saat langit mulai berubah warna. Keano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Freya. Gerakannya biasa saja, tapi Freya masih belum terbiasa diperlakukan begitu.Di sepanjang jalan tadi dia belum bicara lagi. Wajah Keano yang melembut sesaat setelah membaca pesan itu masih mengganggu pikirannya. Dia sudah memutuskan untuk mengabaikannya, tapi keputusan itu tidak sepenuhnya berhasil."Keano," panggil Freya begitu mereka berdiri di depan pintu utama."Hm?" Keano menoleh, menatap Freya yang seperti mau mengatakan sesuatu."Aku mau ke dapur sebentar." Telunjuk Freya terangkat sejenak ke dalam rumah.Kedua sudut alis Keano tertarik ke atas. "Lapar?""Bukan." Freya menggigit bibir bawahnya. "Aku pernah janji akan memasakkan sup iga untukmu. Kamu ingat?"Mata Keano menatap Freya lekat, seolah tidak percaya dia mengingat percakapan sederhana di mobil malam itu. Setelah beberapa saat, sudut bibir Keano bergerak tipis."Ingat," kata Keano. "Kamu

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Jadi Beda

    Bel tanda toko dibuka berbunyi dari pengeras suara. Rachel menepuk lutut Freya sekali, lalu berdiri dan merapikan seragamnya."Ayo. Yang kamu ceritakan tadi aman di aku," bisik Rachel. "Tapi soal 'cuma balas budi' itu, aku belum setuju."Freya hanya tersenyum tipis dan mengikuti Rachel keluar dari ruang ganti tanpa berkata apa-apa lagi.Begitu mereka melangkah ke area toko, Freya langsung merasakannya. Percakapan di sudut-sudut ruangan berhenti sepersekian detik, lalu berlanjut dengan suara yang lebih rendah. Ada yang pura-pura sibuk merapikan rak, ada yang menatap terang-terangan, ada pula yang buru-buru tersenyum begitu matanya bertemu mata Freya."Freya," sapa seorang karyawan yang dulu tidak pernah menyapanya lebih dulu. Dia melangkah mendekat dengan kedua tangan terlipat di depan perut. "Maaf ya soal kemarin. Aku sama sekali tidak percaya gosip itu, sumpah.""Tidak apa-apa," jawab Freya pelan."Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya, Bu Freya." Freya tersentak. "Bu?""Eh, maksudku

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Hanya Karena Hutang Budi

    Freya keluar dari walk in closet dengan kemeja kerja yang sudah rapi dan rambut yang dikuncir seadanya. Kamar sudah kosong. Ponsel Keano tidak lagi tergeletak di atas meja, dan jas hitam yang tadi tergantung di kapstok pun hilang. Hanya aroma hangat dari parfum pria itu yang masih tertinggal di udara.Dia berdiri sebentar di tengah kamar, menatap pintu yang tertutup rapat. Suara Keano di telepon tadi masih terngiang di telinganya, begitu pelan dan hati-hati, seperti seseorang yang bicara pada sesuatu yang mudah pecah.Siapa yang menelepon sampai dia bicara selembut itu?Freya menggeleng cepat, mengusir pikiran itu. Bukan urusannya. Dia meraih tas dan melangkah turun. Di teras, Pak Beni sudah menunggu di samping mobil, membukakan pintu belakang dengan senyum sopan."Silakan, Nona. Pak Keano sudah berpesan agar saya mengantar Nona sampai ke mall.""Terima kasih, Pak Beni."Sepanjang jalan, Freya menatap jalanan pagi yang mulai ramai. Kursi di sampingnya kosong, dan entah kenapa terasa

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Belum Tahu Banyak

    Freya mengerjap. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cara Keano menanyakannya, pelan dan hati-hati, membuatnya sedikit bingung. Kenapa Keano ingin tahu sedetail ini?"Punya," jawab Freya akhirnya. "Seorang adik laki-laki. Namanya Arvin. Dia masih kuliah.""Tinggal bersama ayahmu?" tanya Keano lagi. Karena saat datang ke rumah Freya, dia tak melihat seseorang selain ayah Freya.Freya menggeleng pelan. "Tidak, dia di asrama." Freya menunduk, napasnya berembus panjang. "Aku yang menyuruhnya tinggal di sana."Satu sudut alis Keano tertarik ke atas. "Kenapa?"Freya diam sejenak. Dia menimbang apakah perlu menjelaskan sampai sejauh itu, lalu memutuskan bahwa Keano sudah melihat sendiri seperti apa ayahnya, jadi lebih baik tidak ada yang dia tutupi."Aku tidak mau Arvin diperlakukan buruk kalau tinggal serumah dengan Ayah," ucapnya pelan. "Ayah mudah marah kalau sedang kalah judi atau mabuk. Biar aku saja yang menerima semua itu. Arvin harus kuliah dengan tenang."Keano tidak menjawab.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status