LOGINFreya ketakutan. Bagaimana jika para pria ini adalah anak buah Pak Kusuma yang menunggunya di sini?
Tanpa sadar, Freya memegang lengan Keano untuk meminta perlindungan pria ini.
Mata tajam Keano tertuju ke lengan yang Freya pegang, ketika pandangannya teralihkan ke para pria bertubuh tegap yang mendekati mereka, dengan nada pelan tapi penuh penekanan Keano bicara. “Mereka anak buahku.”
Freya terkesiap. Dia menatap bingung pada Keano.
“Hanya berjaga-jaga.” Keano kembali bicara dengan tatapan tertuju lurus ke depan.
Freya mengembuskan napas pelan. Perlahan cengkraman tangannya dari lengan Keano mengendur. Dia benar-benar dirundung ketakutan karena kejadian semalam.
“Kalian berjaga-jaga saja di luar,” perintah Keano pada anak buahnya.
Begitu selesai memberi instruksi, Keano melangkah menuju gang sempit bersama Freya.
Di rumah Kevin.
Pria ini panik dan kebingungan karena Freya kabur. Belum lagi anak buah Pak Kusuma mengancamnya, jika Kevin tidak menyerahkan Freya atau melunasi hutangnya sore ini, maka Kevin akan dipenjarakan.
“Tidak bisa. Aku tidak mau dipenjara.” Kevin gemetar panik.
Freya tak membalas panggilannya, lalu putra keduanya yang ada di asrama juga tak tahu keberadaan Freya. Ini membuat Kevin benar-benar takut dengan ancaman Pak Kusuma.
Kevin berniat mencari Freya di mall tempat putrinya itu bekerja. Saat baru saja membuka pintu rumahnya, langkah Kevin terhenti ketika melihat Freya berdiri di hadapannya.
“Akhirnya kamu pulang juga, anak sialan! Apa kamu mau mencelakai ayahmu, hah?!” Suara makian langsung meluncur dari bibir Kevin, sampai mulutnya bungkam ketika melihat tatapan tajam pria yang ada di samping Freya.
Kevin menatap bergantian ke Freya dan pria gagah di samping putrinya. Saat memandang pada Freya, Kevin langsung berkata, “Apa maksudnya ini? Kamu kabur dari rumah dan sekarang membawa pria asing kemari?!”
“Dia bukan pria asing.” Freya membalas cepat. Dia menoleh pada Keano, tatapannya agak ragu untuk membicarakan Keano secara nonformal, tapi demi sandiwaranya, Freya mengangkat dagu dan dengan lantang berkata, “Dia kekasihku dan akan menikahiku. Jadi, Ayah tidak bisa memaksaku menikah dengan Pak Kusuma.”
Satu sudut alis Kevin tertarik ke atas. Tatapannya tak mempercayai ucapan putrinya. “Jangan bercanda, kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu itu tak punya pacar?!”
Tanpa disangka, Keano merengkuh pinggang Freya, begitu erat sampai tubuh Freya terdesak ke tubuhnya. “Saya Keano, dan saya memang kekasih Freya. Kedatangan saya kemari untuk menikahinya, hari ini juga.”
Kevin terperangah mendengar ucapan Keano. Bola matanya bergerak liar. Jika Freya menikahi pria lain, maka urusannya dengan Pak Kusuma akan semakin panjang. Imbasnya, Kevin akan dipenjara kalau tak bisa membayar hutang beserta bunganya yang begitu besar.
“Tidak bisa!” Kevin menolak mentah-mentah. “Freya sudah kujodohkan dengan pria mapan dan kaya. Jadi, aku tidak memberikan restu pada kalian!” Kevin bicara dengan lantang, kedua tangannya sampai berkacak pinggang.
Namun, wajah garang Kevin tak bertahan lama. Tiba-tiba saja nyalinya menciut, kedua tangan di pinggangnya turun ke samping tubuh saat melihat tatapan Keano yang sedingin es.
“Po-pokoknya, aku tidak merestui hubungan kalian.” Kevin mendadak tergagap sambil mengalihkan tatapannya dari Keano.
Freya cemas karena Kevin menolak rencananya dengan Keano. Sampai dia mendengar Keano bicara.
“Saya akan memberikan maharnya. Anda tinggal merestui pernikahan kami di kantor catatan sipil hari ini, dan Anda bisa mendapatkan semua mahar yang saya siapkan.”
Mendengar kata mahar dari bibir Keano, ekor mata Kevin tertuju pada pria berbadan tegap di depannya ini. Dia mulai tertarik.
“Mahar? Mahar apa yang bisa kamu berikan padaku? Memangnya kamu bisa memberiku apa? Kamu tahu, Freya ini tak ternilai! Makanya dia harus menikah dengan pria yang kaya.” Kevin terpancing tapi masih menahan dirinya untuk langsung setuju.
“Lima puluh juta, apa itu cukup untuk dijadikan mahar menikahi Freya?”
Freya terkesiap sampai menoleh pada Keano dengan rasa tak percaya.
Sedangkan Kevin rahangnya jatuh, mulutnya menganga mendengar nominal uang yang baru saja Keano sebutkan.
Lima puluh juta. Itu lebih dari cukup untuk melunasi hutangnya, dan Kevin bisa menggunakan sisanya untuk membeli minuman kesukaannya.
Senyum Kevin berubah licik, tapi detik berikutnya dia menyembunyikan senyum itu seolah masih meragukan tawaran yang baru saja Keano berikan.
“Lima puluh juta? Apa kamu mau menipuku?” Kevin memastikan kalau Keano tidak membual.
Keano melepas tangan dari pinggang Freya. Tangan kanannya merogoh saku jas bagian dalam, lalu mengeluarkan amplop cokelat tebal dari dalamnya.
“Dua ratus juta, cash.” Keano mengulurkan amplop itu, tapi saat Kevin ingin mengambilnya, Keano menariknya kembali.
Tatapan Keano yang tajam mengintimidasi Kevin, lalu dia kembali bicara. “Jadi, Anda akan merestui dan menjadi wali pernikahan kami?”
Freya menatap layar ponselnya yang masih menampilkan riwayat panggilan tak terjawab. Dari pagi sampai siang ini, Rachel masih tak mau menerima panggilan darinya.Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri, dia memutuskan untuk mengetik pesan panjang, mencurahkan semua yang tidak sempat dia jelaskan lewat telepon tadi.[Chel, maaf aku nggak pernah cerita soal ini. Bukan karena aku nggak percaya sama kamu, tapi karena ini bagian dari kesepakatan yang harus aku jaga. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi aku janji akan jelasin semuanya kalau memang sudah waktunya.][Kaki aku masih sakit banget, Chel. Kemarin aku sampai digendong karena nggak bisa jalan sama sekali. Aku cuma pengen kamu tahu, aku nggak lagi baik-baik aja, dan aku butuh kamu di saat kayak gini.][Please, jangan marah lagi. Aku sayang kamu sebagai sahabat, dan aku nggak mau kehilangan kamu.]Freya menekan tombol kirim, lalu menatap layar itu dengan napas tertahan, menunggu tanda centang biru yang menandakan pesannya sudah d
Freya menatap Keano dengan kening berkerut dalam, tidak sepenuhnya memahami maksud dari kalimat yang baru saja diucapkan pria itu. “Maksudnya, Pak? Kenapa Bapak bicara seperti itu?”“Aku tidak pernah mengajukan permintaan itu,” jawab Keano tegas, matanya menatap Freya lurus tanpa keraguan sedikit pun.“Memang benar saya yang mengajukannya, Pak,” balas Freya cepat, suaranya masih bergetar menahan gejolak emosi. “Karena saya tahu, pernikahan dengan saya bisa membuat citra Bapak buruk di mata orang lain. Saya hanya ingin menjaga nama baik Bapak, apalagi Bapak sudah begitu baik pada saya, sudah menolong saya dari masalah yang begitu besar.”“Itu hanya pikiranmu sendiri,” potong Keano cepat, tidak memberi ruang bagi Freya untuk melanjutkan.Freya tersentak, menatap Keano dengan mata membola tidak percaya. “Ta-tapi, Pak—”“Pernikahan ini pilihanku,” lanjut Keano, suaranya semakin tegas dan penuh keyakinan. “Aku tidak pernah takut pada apa pun, apalagi hanya soal citra diriku sendiri.”Freya
“Ap-apa?” Rachel semakin terkejut sampai tergagap mendengar nominal yang begitu fantastis itu. Jika benar Freya sudah menikah, kenapa tidak pernah cerita ke Rachel?Rachel semakin penasaran, dia mencoba memastikan. “Memangnya siapa nama suaminya, Pak?”Kevin mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kalau nggak salah, namanya Keano. Keano Pradipta.”Rachel merasa dunianya berputar mendengar nama itu.“Bapak jangan bercanda!” Rachel masih tak percaya.“Tidak percaya ya sudah, ganggu saja!” Kevin menutup kembali pintu rumah, membiarkan Rachel yang masih berdiri di depan.Rachel membeku dengan wajah bingung dan syok. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membalikkan badan, melangkah cepat meninggalkan rumah itu dengan rasa penasaran yang bercampur menjadi satu dalam kepalanya.Sepanjang jalan, Rachel menarik ingatannya ke kejadian di mall yang berhubungan dengan Freya. Kenapa Keano turun tangan langsung mengurus masalah yang menyangkut Freya waktu itu. Ke
Freya masih duduk membeku di atas ranjang, matanya mengikuti gerakan pelayan yang datang membersihkan pecahan mangkuk dari lantai marmer. Suara sapu yang mengumpulkan serpihan keramik terdengar begitu jelas di tengah keheningan kamar.“Sudah, Tuan. Saya permisi.” Pelayan membungkuk ke arah Keano, lalu berjalan menuju pintu.Keano melangkah mendekat, berdiri di samping ranjang dengan tatapan yang masih menyimpan sedikit kekhawatiran.“Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanya Keano, matanya memperhatikan kaki Freya, memastikan tidak ada bagian yang tergores pecahan mangkuk tadi.“Saya baik-baik saja, Pak,” jawab Freya, suaranya masih sedikit gugup. “Tidak ada yang terluka.”Keano mengangguk pelan, meski tatapannya masih terpaku sejenak pada Freya sebelum akhirnya berkata, “Istirahatlah lagi.”Freya mengangguk, tidak membantah. Freya memperhatikan Keano yang berjalan keluar dari kamar.Begitu Keano menghilang dari balik pintu kamar yang kembali tertutup, Freya mengembuskan nap
Sore itu, cahaya jingga mulai menyusup lewat celah tirai kamar, memberi warna hangat pada ruangan yang biasanya terasa dingin. Freya duduk bersandar di headboard ranjang, kakinya yang masih terbalut perban dia sanggah dengan bantal kecil sesuai anjuran yang diberikan Rachel tadi siang.Dia menatap ponselnya sesekali, mengecek pesan dari Rachel yang terus menanyakan kondisinya, tapi pikirannya sendiri masih melayang pada kejadian tadi siang—cara Keano menggendongnya, cara jemari pria itu begitu telaten membalut perbannya, cara tatapannya yang begitu berbeda dari biasanya.Sampai suara pintu terbuka membuat Freya menoleh. Keano melangkah masuk dengan setelan kemeja yang sudah dilonggarkan di bagian kancing atas, membawa sebuah nampan kecil di tangannya.“Sudah waktunya makan,” kata Keano, meletakkan nampan itu di atas nakas dekat ranjang. Di sana tersaji semangkuk bubur hangat dengan taburan bawang goreng, serta segelas air putih.Freya menatap nampan itu dengan sedikit terkejut. “And
Sesampainya di kamar, Keano melangkah menuju ranjang, menurunkan Freya dengan gerakan yang begitu hati-hati, mendudukkannya perlahan di tepian kasur.Freya baru saja hendak bersuara untuk berterima kasih, tapi gerakan Keano berikutnya membuatnya membeku di tempat.Keano berlutut di hadapannya, satu tangan menopang lutut Freya, sementara tangan yang lain meraih pergelangan kaki yang terbalut perban, menariknya perlahan ke atas pahanya sendiri agar lebih mudah diperiksa.“Pak, tidak perlu—” Freya buru-buru mencoba menarik kakinya, wajahnya memerah menahan rasa canggung yang luar biasa melihat posisi Keano yang begitu rendah di hadapannya.Namun, Keano tidak berhenti. Tangannya tetap menahan kaki Freya dengan mantap, tidak memberi ruang untuk ditolak.“Diam sebentar,” kata Keano, suaranya datar tapi cukup tegas untuk membuat Freya berhenti meronta.Jemari Keano bergerak cekatan melepas simpul sepatu Freya, menariknya perlahan hingga terlepas sepenuhnya. Setelah itu, dia mulai membuka li







