Share

Sedekat Apa?

Author: Aldra_12
last update publish date: 2026-10-09 20:22:48

"Siapa yang menghubungi?" tanya Keano. Matanya mengikuti gerakan Freya yang masih memegang ponsel.

Freya menurunkan ponselnya sedikit, jarinya belum menekan apa pun. "Rachel," jawabnya. "Dia pasti masih mencemaskanku. Boleh aku jawab dulu?"

Freya masih berdiri, ingin pergi ke sudut ruang untuk memberi ruang supaya Keano bisa beristirahat tanpa terganggu. Namun, sebelum melangkah, tangan Keano lebih dulu meraih pergelangan tangannya.

"Jawab di sini," kata Keano. "Di depanku." Nada suaranya pelan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
ada ada saja pertanyaan keano ini...............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Sedekat Apa?

    "Siapa yang menghubungi?" tanya Keano. Matanya mengikuti gerakan Freya yang masih memegang ponsel.Freya menurunkan ponselnya sedikit, jarinya belum menekan apa pun. "Rachel," jawabnya. "Dia pasti masih mencemaskanku. Boleh aku jawab dulu?"Freya masih berdiri, ingin pergi ke sudut ruang untuk memberi ruang supaya Keano bisa beristirahat tanpa terganggu. Namun, sebelum melangkah, tangan Keano lebih dulu meraih pergelangan tangannya."Jawab di sini," kata Keano. "Di depanku." Nada suaranya pelan tapi tegas.Freya mengerjap. Dia menatap jemari Keano yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menatap wajah pria itu. Tidak ada nada memerintah yang kasar, tapi tidak ada celah untuk membantah juga. Dia tidak tahu kenapa Keano meminta itu, tapi tidak punya alasan untuk menolak."Baik," ucap Freya akhirnya.Dia kembali duduk di tepi ranjang, lebih dekat dari sebelumnya, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Chel?""Frey! Akhirnya diangkat juga." Suara Rachel terdengar lega sekaligus gelisah,

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Keluar Dari Rumah Sakit

    Sore itu, urusan administrasi rumah sakit akhirnya selesai. Keano berjalan keluar dari kamar inap dengan langkah tegak meski tubuhnya masih agak lemas.Nadine tetap berjalan di sisinya dengan satu tangan siap menahan lengannya kalau-kalau dia goyah. Jordan melangkah di depan, sementara Freya mengikuti di belakang, dia tak berani berjalan sejajar dengan keluarga Pradipta.Lorong rumah sakit terasa lebih tenang dari semalam. Freya sesekali menatap punggung Keano. Pria itu berjalan tegak seperti biasa, seolah kejadian kemarin tidak meninggalkan bekas apa pun. Tapi Freya masih ingat betul betapa pucat wajah Keano kemarin, betapa dingin tubuh Keano saat dia mencoba membangunkannya."Freya," panggil Nadine dari depan sambil menoleh sedikit. "Hati-hati di tangga, lukamu belum kering.""Iya, Ma." Panggilan itu meluncur begitu saja, tapi detik berikutnya Freya menggigit bibir. Lidahnya masih belum terbiasa. Setiap kali kata Mama keluar dari mulutnya, ada hangat yang aneh di dada, bercampur r

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Sekarang Serius

    Keano menurunkan ponsel dari telinganya setelah panggilan singkat yang diterimanya berakhir. Alisnya yang sejak pagi tadi bertaut kini sedikit mengendur, meski sorot matanya masih tajam."Melissa sudah ditangkap," kata Keano pada seisi ruangan. "Polisi menangkapnya di bandara pagi tadi, saat dia hendak kabur."Freya yang duduk di tepi kursi dekat ranjang Keano menarik napas panjang. Bahunya yang sejak semalam menegang perlahan turun. Jemarinya yang meremas ujung kemejanya sendiri akhirnya terlepas."Syukurlah," ucap Freya pelan. "Setidaknya sekarang dia tidak bisa berbuat jahat lagi."Nadine bergeser duduk lebih dekat, lalu menggenggam tangan Freya dengan kedua tangannya. Telapak tangan wanita itu hangat, jauh berbeda dari sentuhan dingin yang dulu Freya bayangkan akan dia terima dari ibu mertuanya."Tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu, Freya," kata Nadine lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Freya. "Mama pastikan itu.""Papa juga." Jordan menambahkan. Suaranya tetap b

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Akhirnya Ditangkap

    Bandara masih lengang di jam sepagi ini. Lampu-lampu terminal menyala putih pucat, dan pendingin udara berembus dingin sampai ke tengkuk Melissa. Dia duduk di deretan kursi dekat gerbang keberangkatan dengan topi ditarik rendah dan masker menutup separuh wajah. Koper besarnya dia peluk di samping kaki, seolah ada yang bisa merebutnya kapan saja.Segelas kopi di tangannya sudah lama dingin, tapi dia belum menyentuhnya sama sekali.Ponselnya kembali dia periksa untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk. Nomor pria suruhannya masih sama seperti sejak semalam, tidak aktif, tidak bisa dihubungi.“Angkat, dong,” gumam Melissa sambil menekan nomor itu lagi. Jarinya gemetar. Nada sambung yang berubah menjadi suara operator membuat dadanya semakin sesak.Sejak semalam dia tidak bisa memejamkan mata. Setiap bayangan di jendela apartemennya terasa seperti polisi. Setiap suara langkah di lorong membuatnya tersentak. Akhirnya dia memutuskan membeli tiket penerbangan pali

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Tidak Akan Membiarkan

    Keano tidak langsung menjawab pertanyaan Freya. Dia hanya menatap wanita itu dalam diam, sorot matanya menyimpan sesuatu yang begitu lembut.Freya tertegun melihat tatapan Keano, dia sampai mengalihkan pandangannya dari mata pria ini. Dehaman pelan bahkan lolos dari bibirnya.“Ba-baiklah kalau kamu gak bisa makan sendiri, aku akan suapi,” kata Freya mencoba mencairkan suasana canggung yang dirasakannya.Akhirnya, Freya memegang sendok, menyendokkan bubur hangat itu dan menyuapkannya perlahan ke mulut Keano.“Ini,” kata Freya, suaranya sedikit canggung.Keano menerima suapan itu tanpa banyak bicara.Sedang wajah Freya mendadak semakin memerah menahan rasa canggung yang begitu besar.Freya mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. “Keano,” panggilnya, mulai terbiasa dengan nama tanpa embel-embel yang selama ini dia gunakan, “soal penculikan kemarin, menurutmu apa mereka suruhan Pak Kusuma?”Keano mengunyah suapan berikutnya sebelum menjawab. “Aku tidak mau menebak. Tapi

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Mau Disuapi?

    Setelah pemeriksaan selesai, dokter menatap Keano dengan senyum puas, menuliskan beberapa catatan di lembar rekam medisnya. “Kondisi Pak Keano sudah jauh lebih stabil. Tidak ada tanda-tanda gangguan psikologis lanjutan seperti yang kami khawatirkan sebelumnya. Anda hanya perlu istirahat total selama beberapa hari ke depan.”Dokter menatap pada Keano lagi dengan senyum ramah di wajahnya.Keano mengangguk pelan mendengar penjelasan dokter.“Terima kasih, Dokter,” balas Nadine, menghela napas lega mendengar kabar baik itu. Kecemasannya semalaman ini benar-benar sirna sekarang.“Kalau begitu, kami permisi dulu.” Dokter menyudahi kunjungan pemeriksaan terhadap Keano. Dia dan perawat berjalan menuju pintu kamar.Begitu dokter dan perawat meninggalkan ruangan, Nadine menoleh pada Freya yang masih berdiri di dekat ranjang. “Freya, ayo sarapan dulu. Dari semalam kamu belum makan apa-apa. Mama bawakan sarapan khusus buatmu.”“Sebentar, Ma,” jawab Freya, matanya justru beralih ke nampan makanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status