Share

Bab 53

Author: Marsalsa
last update publish date: 2026-08-29 15:32:30

Jemari Vanya kembali bergerak di atas layar. Setelah beberapa detik menimbang, ia mengirim pesan dari akun anonim.

Anonim: Pak, saya bisa kasih tahu siapa dua orang itu. Tapi, bayar uang muka dulu. Setelah itu saya akan berikan sisa informasinya.

Pesan terkirim. Vanya menatap layar beberapa saat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

‘Tiga puluh juta lumayan buat bekal kabur darinya. Semua utangku udah lunas. Tnggal kumpulkan cukup uang, lalu pergi jauh dan hidup tenang tanpa Gio.’

Vanya bersand
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 99

    'Kalau hubungan kami berantakan… semua perjanjian bisa diubah. Beasiswa Celine bisa hilang. Aku nggak boleh biarkan itu terjadi,' batin Zhaoning.“Gara! Tunggu!”Langkah Vanya terhenti beberapa meter dari pria itu. Ujung sepatunya menggesek kerikil di jalur taman sebelum ia mempercepat langkah, mengejar jarak yang kembali terbuka. Gara menghentikan langkahnya dan berbalik. Wajahnya tetap dingin, hanya alisnya yang sedikit terangkat.“Gara… maafin aku.”Vanya berdiri di hadapannya dengan napas yang belum kembali teratur. Jemarinya sempat terangkat, lalu jatuh lagi di sisi tubuh. Ia menundukkan kepala, sementara rambut yang tertiup angin menutupi sebagian wajahnya.“Aku tahu aku salah. Akhir-akhir ini aku sibuk banget, jarang balas pesan, jarang ketemu… soalnya Ibu baru pulang dari rumah sakit, aku harus jaga dia. Aku nggak bermaksud mengabaikan kamu.”Gara tidak menjawab. Tangannya masuk ke saku celana, sementara pandangannya tetap tertuju pada Vanya. Di belakang mereka, suara ana

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 98

    “Gio.…”Vanya menunduk mendekati wajah suaminya. Jemarinya menyibak rambut yang menempel di dahi Gio.Ia berhenti sebentar ketika kulit di bawah telapak tangannya terasa panas. Ponsel di tangannya kembali bergetar, tetapi kali ini ia hanya mematikan layarnya.Gara: Vanya, balas pesannya. Lo di rumah kan? Gue kirim alamat ini, datang ke sini sekarang. Kita harus bicara. Penting banget.‘Apasih ini orang!’ gerutu batinnya.Jemarinya mengetuk sisi ponsel tanpa membuka kolom balasan, kemudian ia memasukkan benda itu ke saku celananya. Pandangannya beralih pada pintu kamar yang masih tertutup rapat.“Aku pergi bentar, nggak lama,” gumamnya.Ia menarik selimut Gio sedikit lebih tinggi hingga menutupi dadanya. Setelah mengambil kunci dari meja samping, Vanya melangkah menuju pintu dengan telapak kaki yang nyaris tak menimbulkan gema di lantai.Vanya sampai di sebuah taman yang berada agak jauh dari pusat kota. Jalan setapak dari batu membelah hamparan rumput hijau, diapit bunga-bunga keci

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 97

    “Astaga… ini gimana? Mbak Vanya malah gelinding. Nggak mungkin aku angkat mereka berdua sendirian.”Mbak Rena berlutut di samping Gio dan menahan bahunya agar tubuh pria itu tidak kembali melorot di anak tangga.Di sisi bawah tangga, Vanya terdiam dengan tubuh menyandar pada pegangan.Rambutnya menutupi wajah, satu tangannya masih terulur ke arah Gio.Napas Mbak Rena memburu. Ia menoleh bergantian kepada keduanya, lalu meraih ponsel dari saku celemek.“Tasya… harus aku panggil Tasya.”Jemarinya bergerak cepat mencari nama Tasya. Ponsel itu hampir terlepas ketika tangannya bergetar, tetapi panggilan segera tersambung.Mbak Rena bahkan belum sempat menunggu sapaan dari seberang.“Tasya! Cepat ke sini! Darurat!”Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah ruang depan, disusul Tasya dan Angga yang masuk hampir bersamaan.“Mana mereka?!”Mbak Rena masih berdiri di anak tangga. Ia mengangkat tangan dan menunjuk ke bawah. Tasya mengikuti arah jarin

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 96

    “Sejak hari aku dipanggil dekanat. Setiap malam, begini. Satu per satu aku cari, aku hubungi, aku yakinkan.”Malam sudah lewat tengah malam. Ruang kerja Gio hanya diterangi lampu meja.Sementara kaca jendela memantulkan ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen. Di sudut meja, jam digital menunjukkan lewat pukul dua belas.Gio menyandarkan punggung sebentar. Kemejanya kusut di bagian lengan, rambutnya tak lagi serapi saat makan siang. Bayangan gelap terlihat di bawah matanya, sementara beberapa lembar dokumen penuh coretan tergeletak di dekat sikunya.Setelah beberapa detik, ia kembali menarik berkas berikutnya dan membuka halaman yang sudah diberi lipatan.“Tiap malam… kamu begini? Tanpa aku tau?”Vanya menurunkan berkas dari tangannya. Pandangannya berpindah pada tumpukan dokumen yang memenuhi meja, lalu pada gelas kopi kosong di dekat laptop. Beberapa bungkus makanan ringan yang sudah terbuka tertinggal di sudut meja, nyaris tertutup kertas.“Aku nggak mau kamu khawatir. Kamu sudah

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 95

    Ponsel masih berada di tangannya, layar yang menyala memantulkan cahaya pucat pada jemarinya.“Maafkan aku. Tapi aku nggak bisa membiarkan hal ini terjadi.”Helena memasukkan ponsel ke dalam tas. Tangannya merapikan ujung blazer sebelum membuka pintu. Langkah sepatunya terdengar menjauh melewati lorong, lalu menghilang di balik tikungan.“Mas... dia mau ngelakuin sesuatu.”Vanya berdiri di tengah ruang keluarga. Pandangannya mengikuti Helena sampai sosok itu benar-benar menghilang dari ujung. Jemarinya kemudian mencari tangan Gio dan menggenggamnya dari samping.“Aku tau. Dan aku harus siap.”Gio menatap pintu yang sudah tertutup. Tangannya menggenggam balik jemari Vanya, sementara tangan satunya mengambil ponsel dari saku celana. Layar menyala di antara mereka, menampilkan beberapa pesan baru yang masuk hampir bersamaan.“Tapi… kenapa?” Vanya menatapnya. “Kamu nggak mau lagi jadi dosen?”Vanya masih berdiri di sampingnya. Jemarinya yang semula menggenggam tangan Gio perlahan terle

  • Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri    Bab 94

    “Bukan. Aku... aku yang minta dulu. Aku yang tawarkan perjanjian itu.”Vanya menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan perut, lalu satu tangannya bergerak naik meremas ujung lengan baju sendiri. Ia mengangkat wajah kembali setelah beberapa saat.“Nah. Itu kebenarannya. Itu yang akan kita tunjukkan.”Gio mengusap rambut yang jatuh di dekat pelipis Vanya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Tangannya turun ke pipi perempuan itu dan berhenti di sana.“Tapi kalau Ibu bilang begitu ke semua orang? Ke pengadilan?”Vanya menggenggam pergelangan tangan Gio yang masih berada di pipinya. Suaranya mengecil di akhir kalimat. Matanya turun sebentar ke lantai sebelum kembali mencari wajah pria itu.“Biarkan. Kita buktikan sebaliknya.”Gio menunduk, lalu merangkul tubuh Vanya. Lengannya mengunci pinggang perempuan itu, sementara tangan satunya menahan bahunya agar tetap dekat.“Tiga hari lagi, Van. Tunggu momen itu. Setelah itu, kata-kata Ibu nggak akan bisa mengubah apa-apa lagi.”Vanya meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status