Chapter: Bab 67Manajer di samping Gio segera menunduk hormat.“Pak, ini Nona Vanya Adhirani. Calon Arsitek Muda yang masuk atas rekomendasi Nyonya Helena. Pak Darius meminta Bapak untuk menandatangani surat penempatannya sebelum beliau resmi bergabung dengan tim kita.”Perhatian Gio jatuh pada map berlogo Graha Semesta di tangan Vanya. Logo perusahaan itu terpampang jelas di sudut map, tepat di bawah jemari Vanya yang menggenggamnya erat.“Ini.…” Suaranya tertahan sejenak. “Tinggalkan kami berdua.”“Tapi, Pak, berkas ini harus segera di—”“Saya bilang keluar!”Manajer itu langsung terdiam. Ia merapikan dokumen yang ada di tangannya dengan gerakan tergesa, lalu berjalan melewati Vanya tanpa berani menatapnya. Kini hanya mereka berdua. Vanya menarik napas pelan. Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh tengkuknya, tetapi telapak tangannya justru terasa hangat. Gio masih berdiri di sisi meja. Tablet yang tadi berada di tangannya sudah diletakkan, beberapa lembar dokumen proyek terbuka tanpa dise
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Bab 66“Surat cerai?”Jemari Vanya bergetar saat menyentuh permukaan kertas tebal yang baru saja ia temukan di dasar laci meja kerja Gio.Tanda tangan Gio sudah tertera di bagian bawah dengan tinta hitam yang tegas. Hanya satu kolom yang masih kosong, tempat untuk tanda tangannya sendiri.Vanya terdiam. Angin pagi menyusup dari celah jendela yang terbuka, membawa udara dingin ke dalam ruangan. Beberapa helai rambut yang terlepas dari sanggulnya bergerak pelan di sekitar wajah.‘Jadi, waktu ini akhirnya tiba.’Dalam ingatan Vanya asli, dua tahun pernikahan mereka memang dipenuhi sikap acuh tak acuh Gio. Pria itu sering menjaga jarak dan mengatur segala sesuatu dengan kaku.Namun, bagi Shen Zhaoning yang sepanjang hidupnya terbiasa berhadapan dengan berbagai macam watak manusia, Gio tetap terasa jauh lebih baik dibandingkan orang-orang yang pernah ia temui di zamannya.‘Pria ini memang bermulut tajam dan suka memerintah, tapi dia tidak pernah membunuhku. Bahkan dia berdiri di depanku saat baha
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Bab 65"Tadi malam lo kelihatan sok akrab banget sama Gara dan tamu-tamu VIP-nya," celetuk Akyas mengembuskan asap rokok ke udara. "Jangan mentang-mentang dibelikan kebebasan sama dia, lo lupa posisi lo di sini cuma pelayan."Aroma kopi hangat memenuhi udara ruang istirahat staf klub malam yang remang-remang. Dentuman musik dari lantai utama bergetar tipis di balik dinding.Akyas menyandarkan pinggulnya ke tepi meja bar. Bara rokok di antara jarinya menyala redup, matanya mengikuti setiap gerakan Vanya yang sedang merapikan nampan."Posisi?" Vanya tersenyum tipis. "Justru aku kasihan sama posisi kamu, Akyas."Akyas mengisap rokoknya, lalu berhenti di tengah tarikan. Asap tipis keluar dari sudut bibirnya.“ Maksud lo apa?”Vanya mendekat sampai hanya berjarak satu langkah dari Akyas. Ia melirik pintu di belakangnya, lalu kembali menatap Akyas."Semalam, di ruang VIP, Gara sempat membahas soal pengiriman minggu depan yang berkaitan dengan Southern Branch. Dia bilang, kalau sampai proyek itu b
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 64“Kamu siapa?”Seorang wanita sekitar empat puluh tahun mengenakan seragam pelayan berdiri di halaman depan.Tangannya mengayunkan sapu lidi perlahan, mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di dekat teras.Gerakan sapunya terhenti. Ia menoleh ke belakang sambil mengusap telapak tangannya pada sisi seragam.“Eh, nyonya. Saya Rena, ART baru di sini.”Vanya melangkah turun dari teras, menghampiri wanita itu yang masih menggenggam sapu di tangannya.“Kok Gio nggak diskusi dulu ya, kebiasaan banget,” gerutu Vanya.Wanita itu menyandarkan sapu lidinya pada batang pohon di dekatnya, lalu berbalik menghadap Vanya.“Oh iya, Pak Gio pesen ke saya. Kalau beberapa hari ini dia akan pulang telat. Jadi, selama nyonya sakit saya yang jagain.”Vanya mengerutkan kening. “Jagain aku?”Rena mengangguk kecil. “Iya, Nyonya.”“Kalau Mbak Rena udah selesai nyapunya, minta tolong ya buatin saya makan. Saya laper.”Rena mengangguk kecil. Ia mengambil kembali sapu yang disandarkan di pohon, lalu melanjut
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 63“Parah banget dia. Dihajar habis-habisan di sofa.”Vanya membungkuk sedikit. Satu tangannya meraba punggung bawah, mencari titik yang terasa paling kaku. Telapak tangannya berhenti di sana, lalu menekan perlahan. Alisnya berkerut ketika rasa pegal itu justru menusuk sampai ke pinggang. Ia menggeser telapak tangannya naik-turun beberapa kali, sebelum akhirnya berdiri tegak dengan bahu tertarik ke belakang.“Aku malah mengacaukan semuanya.”Vanya merapikan bantal sofa yang berantakan, menepuk-nepuk sudutnya hingga kembali rapi. Tangannya terhenti ketika pandangannya jatuh pada ponsel Gio yang tergeletak di meja.Layar masih menyala dan durasi panggilan terus berjalan. Mata Vanya membelalak. ‘Hoh?’Vanya menyambar ponsel itu, lalu berbalik. Telapak kakinya menghantam lantai marmer saat ia berlari menuju tangga. Satu tangannya sempat mencengkeram pegangan, tubuhnya condong ke depan ketika ia menaiki anak tangga dengan langkah terburu-buru.Sesampainya di lantai atas, ia melewati lounge
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Bab 62"Eh, maaf nggak sengaja."Cairan cokelat pekat menggenang di atas tumpukan kertas. Kopi meresap ke dalam serat-serat putih, menyebar hingga menutupi tulisan dan angka yang tercetak di sana.Gio refleks menarik map itu menjauh, tetapi beberapa lembar terlanjur basah kuyup. Saat ia mencoba memisahkannya, satu sudut kertas robek di antara jarinya."Kamu tau berapa lama aku susun ini semua?"Alih-alih memisahkan satu per satu, jemari gadis itu justru menekan permukaan kertas yang lembek.Lembaran yang masih bisa diselamatkan ikut menempel, tinta yang belum luntur semakin melebar di bawah tekanan tangannya.Ia menarik satu lembar cepat. Kertas itu robek memanjang dari bagian tengah hingga ke tepi. Vanya mengerutkan kening, lalu mencoba meratakan lembar lainnya. "Aku bilang maaf kan? Terus kenapa harus marah begitu? Cuma kertas! Bisa dicetak lagi."‘Dia masih marah soal Clara kah? Kalau iya, dia masih peduli. Semakin cemburu, semakin besar rasa sayangnya padaku,’ batin Gio.Gio menatap ta
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: 135Di kejauhan, cahaya Jantung Dunia menyala semakin terang. Di bawah langit yang perlahan berubah warna, kehidupan baru mereka akhirnya benar-benar dimulai.Kabut yang selama bertahun-tahun menutupi langit mulai menipis, menyisakan cahaya yang belum pernah Aruna lihat sejelas itu.Hari berganti minggu, lalu bulan. Rumput tumbuh di sepanjang jalan yang dahulu dipenuhi debu, sementara embun menempel di daun-daun setiap pagi. Sesekali, Aruna masih terbangun dan mencari langit kelabu yang dulu selalu menyambutnya, hanya untuk menemukan warna biru terbentang luas di balik jendela.Keenam bayinya tumbuh semakin besar. Mereka mulai duduk sendiri, merangkak ke mana-mana, lalu tertawa ketika salah satu dari mereka berhasil menarik kain meja hingga hampir menjatuhkan sesuatu. Suara riuh itu memenuhi rumah setiap pagi, membuat Aruna beberapa kali hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.Pagi itu, mereka berkumpul di beranda yang kini dipenuhi tanaman hijau. Malik meletakkan setumpuk laporan di
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 134“Dari mana?”Aruna tertawa kecil. Ujung jarinya menyentuh kelopak hijau yang masih segar itu, berhati-hati agar tidak merusaknya. Angin mengibaskan beberapa helai rambut di pipinya, sementara aroma tanah basah memenuhi halaman yang dulu hanya dipenuhi debu dan asap.Aset 02 tidak menjawab. Ia menurunkan tangan, lalu meletakkan bunga itu di sisi keranjang bayi tanpa menyentuh tubuh kecil yang tertidur di dalamnya.Setelah itu, ia kembali berdiri di tempatnya, hanya beberapa langkah dari Aruna.“Kau sudah banyak berubah,” ucap Aruna pelan, matanya masih tertuju pada bunga itu. “Dulu kau tak akan peduli pada bunga, atau hal kecil apa pun.”Aset 02 mengikuti arah pandangnya. Jemarinya sempat bergerak, menyentuh ujung salah satu daun yang tumbuh di dekat kakinya. “Karena dulu aku tak tahu rasanya melihat sesuatu tumbuh… dan ingin ia tetap hidup.”Langkah kaki terdengar dari bawah beranda. Malik muncul sambil membawa setumpuk berkas yang bagian ujungnya sudah tertekuk. Ia menaiki tangga,
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 133“Kita terkunci di sini… dan gas itu menyebar makin cepat.” Aset 02 menegakkan tubuhnya. Kabut putih telah merayap hingga pinggang, menyusup di antara kaki mereka dan membuat pandangan di seberang ruangan semakin kabur. Ia segera menarik Aruna mendekat, lalu merobek bagian bawah jubahnya dengan sekali sentakan. “Tahan napas,” bisiknya pelan sambil merobek ujung kain jubahnya, lalu melipat-lipat rapat menutupi hidung serta mulut Aruna. “Jangan hirup udara apa pun sampai kita cari jalan lain.” Aruna mencengkeram kain di depan wajahnya. Matanya beralih ke pintu yang masih terkunci, kemudian ke kabut yang terus meninggi. Aset 02 sudah berbalik dan menekan telapak tangannya ke panel darurat, tetapi lampu merah tetap berkedip tanpa perubahan. Di ruang Jantung Dunia, Eros memukul pinggiran pagar besi keras sekali hingga bunyi dentang bergema luas. Ia menatap indikator yang berubah merah perlahan, lalu membalikkan badan menatap Malik dan Dante. “Gas menyala, mereka nggak pu
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 132“Karena kalau aku mati… kalian semua ikut hancur bersamaku.” Aset 02 bicara datar, tak ada nada naik turun. Tangannya tak melonggar sedikit pun dari leher Valeska. Matanya diam menatap tiap wajah penjaga yang kini menahan napas serempak. Lampu merah terus berkedip pelan sepanjang dinding. Bunyi peringatan halus berirama, naik turun tak berhenti. Tak satu pun berani melangkah maju atau menjangkau senjata di pinggang. “Balikin anak‑anakku sekarang,” desis Aruna, suaranya pecah namun tajam. Ia melangkah maju meski kakinya masih goyah. “Kau bilang mereka aman, bawa mereka ke sini!” Valeska tersedak, wajahnya merah padam, bibir bergetar berusaha bicara. Matanya melirik ke arah panel di sisi pintu lalu beralih tajam ke Aset 02. “Mereka… nggak ada di sini dipindahkan ke tempat terpisah.” “Ke mana?” potong Cilian cepat, melangkah berdiri di samping Aruna, bahunya menegang. “Bicara sekarang juga!" Di ruang terpisah jauh, Zen duduk lurus di depan susunan layar besar. Jari‑jarinya bergerak
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 131Kelopak mata Aruna bergerak perlahan. Begitu terbuka, tangannya langsung meraba sisi ranjang yang kosong. Pandangannya beralih cepat ke sekeliling, mencari suara-suara kecil yang tadi memenuhi ruangan, tetapi yang tersisa hanya bunyi alarm dan langkah kaki yang bersahutan. “Anakku... mana mereka?” Aruna mencoba bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia menepis tangan yang hendak menahannya, lalu menarik selimut dan memandang ke balik ranjang seolah keenam bayinya mungkin tersembunyi di sana. “Mana anak-anak aku?” Napasnya semakin memburu. Jemarinya mencengkeram seprai sampai kusut, lalu tangannya berpindah ke lengan Cilian ketika tak menemukan satu pun dari mereka. “Jangan... jangan bilang mereka dibawa.” Cilian belum sempat menjawab ketika Aruna kembali meronta. Kakinya dipaksa menapak lantai, tetapi lututnya langsung kehilangan tenaga hingga tubuhnya nyaris ambruk. “Lepasin aku!” Tangannya terus memukul dada Cilian, semakin lemah setiap kali bergerak. Air mata membasahi
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 130“Selama ini kalian yang menentukan siapa yang layak hidup.”Malik menurunkan kedua tangannya perlahan.Tatapannya berpindah kepada Dante yang masih berdiri di depan tuas merah. Kemudian kepada Eros yang tak sedikit pun menurunkan senjatanya, dan kembali menatap para petinggi Dewan.“Siapa yang terlalu lemah? Siapa yang terlalu banyak menghabiskan sumber daya? Siapa yang dianggap tidak memiliki masa depanm”Malik terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati hologram, seolah ingin memastikan seluruh wajah mereka terlihat jelas olehnya.“Sekarang coba rasakan bagaimana rasanya ketika nasib kalian berada di tangan orang lain.”Beberapa anggota Dewan tampak mulai beranjak dari tempat duduknya. Sebagian mencoba meninggalkan Ruang Sidang Pusat, sementara yang lain berteriak memberikan perintah.Malik hanya menggeleng kecil. Senyumnya kembali muncul.“Tidak perlu terburu-buru. Kalian masih punya waktu.”Ia melirik Dante. “Berapa lama, Dan?”Dante tidak menjawab. Tangannya tetap berada di atas tuas
Last Updated: 2026-08-15

Anak Haram yang Dibenci Ayahku
"Pergi dari rumah ini! Kau hanya noda sialan yang merusak kehormatan keluarga!"
Suara Gavin menggelegar, mengusir Monica Althansia dalam kondisi mengandung. Malam itu, di depan ratusan pasang mata elit, dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh ayah tirinya sendiri.
Namun, Monica menolak menyerah pada takdir. Bersama Javier, pria yang rela mengotori tangan demi melindunginya, ia membangun benteng di dunia bawah.
Klub malam eksklusif didirikannya sebagai pusat transaksi gelap para penguasa.
Isaac melemparkan selembar kertas tes DNA ke mejanya.
"Gavin bukan ayah kandungmu," bisik Isaac dingin. "Dan bayi di rahimmu adalah buruan seluruh Sektor."
Seketika, pelarian Monica berubah menjadi perang genetik yang mengerikan. Bayinya memegang kunci kehancuran peradaban mesin buatan Gavin.
Di antara kepungan robot, sahabat yang berkhianat, dan rahasia masa lalu.
Monica harus bertahan ketika dihantam trauma, tetapi ia bersumpah akan membakar dunia jika ada yang berani menyentuh anaknya.
Read
Chapter: Bab 80. Fajar Sektor Nol (Ending)"Javier... bangun, Javier! Lo gak boleh mati sekarang, demi anak kita!" teriak Monica, suaranya parau seraya memuntahkan air laut yang terasa membakar paru-parunya.Monica membuka matanya perlahan, jemarinya meraba butiran halus di bawah tubuhnya yang gemetar.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan pias, hanya menemukan sebuah pulau asing yang sunyi dan kabut tipis yang menghalangi jarak pandangannya dari peradaban luar."Mon... lo selamat? Mana anak kita?" bisik Javier dengan sisa napasnya yang teramat pendek dan tersengal-sengal parah.Di sampingnya, tubuh Javier terbujur kaku, sementara tangan kirinya masih mendekap erat sang bayi yang mulai menangis memecah kesunyian fajar. Sepasang matanya menatap Monica dengan kepasrahan yang tulus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat di ujung jemari cewek itu."Javier! Gak, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian di tempat kayak begini!" tangis Monica pecah, memeluk jasad pria itu erat-erat di atas pasir yang din
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa"Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah. Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet."Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monica, Monica memaksakan tubuhnya yang kaku dan mati rasa untuk menerobos gulungan ombak, menempatkan dirinya tepat di antara moncong senjata Gavin dan sekoci anaknya. Setiap embusan napasnya terasa membakar."Sistem tidak mengenal kompromi organik, Monica. Pembersihan total adalah satu-satunya solusi," balas GavinMata Gavin yang sedingin es tidak lagi memancarkan kemanusiaan, melainkan deretan matriks data merah yang terus memindai kode enkripsi Sektor Nol dari ponsel Monica. Baginya, kehancuran
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 78. Konfrontasi Nihil Jarak"Gavin... lo beneran turun sendiri ke neraka ini," bisik Monica.Ia melihat sesosok pria melangkah keluar dari helikopter taktis yang mendarat darurat di geladak depan.Gavin berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, jubah taktis hitamnya berkibar dramatis membingkai wajahnya yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, sepasukan robot elite faksi berbaris rapi dengan moncong senjata yang mengunci mati posisi sekoci karet milik Javier."Pelarian lo sudah tidak memiliki nilai efisiensi lagi, Monica. Serahkan kunci Sektor Nol itu sekarang," ucap Gavin, suaranya terdengar begitu flat lewat pelantang suara jubahnya.Javier yang berada di dalam sekoci karet langsung memosisikan tubuhnya di depan sang bayi, tangan kanannya gemetar hebat saat mengarahkan sisa peluru senapan taktisnya ke arah Gavin. Napas mahasiswa koas itu memburu parah, sadar betul bahwa jarak di antara hidup dan mati mereka saat ini beneran sudah nihil."Jangan berani-berani lo melangkah maju, babi faksi! Gue tembak kepal
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 77. Pelarian Terakhir"Isaac! Sistem ponsel gue... ini kode apa?" teriak Monica, suaranya parau menahan getaran hebat yang merambat di seluruh tubuhnya.Layar gawai yang rusak itu terus memancarkan baris kode enkripsi berwarna emas, menyinari wajah Monica yang pias di tengah kepulan asap lambung kapal.Deretan angka digital itu terus berjalan dengan kecepatan gila, memicu bunyi dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa ngilu."Itu kode akses Sektor Nol, Mon! Lo beneran kunci utama yang dicari Gavin selama ini!" balas Isaac sambil menarik paksa tubuh Monica keluar dari palka.Isaac mencengkeram lengan Monica, menyeret gadis itu melewati koridor kabin kapal kargo yang kini posisinya sudah miring hingga empat puluh lima derajat. Air laut mulai tumpah ruah dari segala arah, menciptakan kepanikan mutlak karena kapal tua ini beneran tinggal menghitung menit sebelum karam sepenuhnya."Gue gak peduli soal Sektor setres itu! Gue cuma mau anak gue!" pekik Monica, napasnya tersengal-sengal parah akibat si
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 76. Sentuhan Air Es"Javier! Amankan anak gue! Jangan lepasin dia!" teriak Monica, suaranya parau membelah kegelapan palka yang kian tenggelam.Air laut kini sudah mencapai dadanya, membuat seluruh persendian Monica kaku dan napasnya terasa kian menghimpit sesak. Tangan kirinya mencengkeram besi penyangga tangga dengan memutih tegang, sementara tangan kanannya memaksakan diri mendorong balutan kain bayi itu ke atas permukaan air."Gue pegang, Mon! Gue gak bakal lepasin anak lo, demi apa pun!" sahut Javier dengan suara bariton yang bergetar menahan perih.Javier terbatuk-batuk di ambang lubang palka, wajahnya bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis akibat hantaman Kael tadi. Sepasang matanya menyala penuh kepasrahan yang nekat, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh kecil sang bayi murni ke dalam dekapan amannya."Sekarang tangan lo, Mon! Pegang tangan gue cepat!" bentak Javier, lengannya kembali terjulur ke dalam lubang yang kian dipenuhi air.Dada Monica terasa sesak l
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 75. Keputusan di Ujung Maut"Lepasin cewek itu sekarang atau gue hancurin sirkuit lo!" Isaac berdiri di sana dengan senapan taktis yang sudah terkokang penuh, sorot matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Pengkhianatannya di dermaga tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keputusasaan barunya."Lo beneran serakah, Isaac. Mau mengambil seluruh hadiah dari Gavin sendirian, hah?" dengus Kael sambil memutar kepalanya lambat.Cengkeraman besi Kael terlepas dari tangan Monica, beralih sepenuhnya untuk bersiap menghadapi ancaman baru dari moncong senjata Isaac yang siap meledak kapan saja. Monica terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kirinya yang kini tampak memar keunguan sambil merosot mundur mendekati lubang palka bawah dek yang remang dan berbau karat."Gue gak butuh hadiah dari faksi babi itu! Gue cuma mau lo mati!" teriak Isaac bersamaan dengan rentetan tembakan yang mulai memutus kesunyian malam.Peluru tajam bertubi-tubi menghantam dada titanium milik Kael, memicu percikan api sirkuit yan
Last Updated: 2026-06-11