Chapter: Bab 122"Semuanya udah datang?" Zen meletakkan proyektor kecil di atas meja. Cahaya redup memenuhi ruang bawah tanah mansion Dante saat layar perlahan menyala. "Kurang Aruna." Malik menutup pintu, lalu memastikan penguncinya benar-benar aktif sebelum ikut duduk. "Dia tetap ikut." Zen mengetuk komunikator di tengah meja. Lampu indikatornya berkedip beberapa kali sebelum sambungan berhasil terhubung. "Aku dengar." Suara Aruna terdengar pelan dari balik alat itu. Dengung statis sesekali memotong ucapannya. "Kondisimu?" "Masih hidup." Zen terkekeh kecil sambil menggeleng. Jawaban itu sudah cukup memberi tahu bahwa Aruna masih bisa berbicara tanpa pengawasan langsung. "Yaudah, kita mulai." "Aku nemu ini." Dante meletakkan sebuah buku tua di atas meja. Sampul kulitnya mulai retak, tetapi lambang keluarga Ashford masih terlihat jelas. "Arsip keluarga?" "Lebih tua." Dante membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya menguning, sementara tinta hitam di beberapa bagian mulai memu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 121Zen memutar kursinya menghadap Cilian. Beberapa monitor di belakangnya masih dipenuhi deretan data yang terus bergerak. "Belum bisa dipastikan." Cilian menggulir halaman demi halaman dengan wajah serius. Sesekali ia berhenti cukup lama pada satu laporan sebelum kembali melanjutkan. "Jangan gantung." "Aku lagi nyusun polanya." Cilian memperbesar salah satu dokumen. Nomor arsip di pojok kanan atas membuat dahinya sedikit berkerut. "Lihat nomor ini." Zen mendekat. Nomor dokumen itu berurutan, tetapi file setelahnya langsung meloncat beberapa angka. "Ada yang hilang?" "Bukan satu." Cilian menggeser layar ke laporan lain. Pola yang sama kembali muncul. "Ada yang sengaja ngapus rantainya." "Berarti datanya masih ada." Zen kembali ke kursinya. Jemarinya mulai mengetik lebih cepat, mencoba melacak jejak file yang sudah dihapus dari server utama. "Kalau benar dimusnahkan, jejak digitalnya juga ikut hilang." "Tapi ini nggak." Cilian menunjuk sederet kode kecil di bagian bawah layar.
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 120"Masuk ke server pusat itu sama aja bunuh diri." Zen memutar kursinya menghadap deretan monitor. Jemarinya menari di atas keyboard, sementara baris-baris kode terus memenuhi layar di depannya. "Untung aku nggak takut mati." Satu per satu firewall Dewan muncul di monitor. Zen menyusup melalui server logistik, lalu berpindah ke jaringan medis sebelum akhirnya mencapai pusat data Genesis. "Ketemu...." Sudut bibirnya terangkat tipis. Puluhan folder bermunculan di layar, tetapi hampir semuanya ditandai ikon gembok berwarna merah. "Masih dikunci?" Zen membuka salah satu arsip. Layar hanya menampilkan stempel DATA TELAH DIMUSNAHKAN. Ia berpindah ke folder lain, tetapi hasilnya tetap sama. "Seseorang sengaja nyapu bersih." Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. Kali ini ia mencoba memaksa membuka server yang tingkat enkripsinya paling tinggi. "Biasanya kamu nggak selama ini." Suara itu keluar dari headset di telinganya. Zen tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. "
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 119"Buka pintunya." Dua petugas berseragam hitam berdiri di kanan-kiri lorong. Salah satunya menggeser senapan ke dada saat Aruna melangkah turun dari kendaraan. "Selamat datang kembali, Aset 01." Aruna tidak menjawab. Pandangannya menyapu bangunan yang menjulang di hadapannya. Tak ada yang berubah. Bahkan bau antiseptik yang menguar dari ventilasi masih sama seperti terakhir kali ia pergi. "Ikuti kami." Pintu baja terbuka perlahan. Suara gesekan logam bergema sepanjang lorong sebelum kembali tertutup rapat di belakang mereka. "Berhenti." Seorang petugas perempuan mengangkat alat pemindai ke depan Aruna. Cahaya biru menyapu tubuhnya dari kepala hingga kaki. Sesaat kemudian, layar monitor memunculkan data medis lengkap beserta status kehamilan yang kini berubah menjadi TERMINATED. "Pemeriksaan selesai." Petugas itu melepas gelang identitas lama dari pergelangan tangan Aruna, lalu menggantinya dengan gelang hitam berlapis logam. "Apa bedanya?" "Model terbaru." Petugas mengunci
Terakhir Diperbarui: 2026-07-20
Chapter: Bab 118"Sophie! Jangan!"Teriakan itu memecah kesibukan mansion. Para pelayan menjatuhkan pekerjaan mereka, sementara beberapa prajurit serentak mendongak ke balkon lantai dua."Cepat! Naik ke atas!"Dua penjaga baru saja hendak berlari ketika Dante keluar dari dalam mansion. Tatapannya langsung terkunci pada sosok yang berdiri diam di balkon."Berhenti. Jangan ada yang mendekat."Suara Dante membuat langkah mereka tertahan. Tak seorang pun berani membantah, meski udara dipenuhi bisik-bisik cemas."Dia berdiri di sana dari tadi....""Jangan-jangan...."Kalimat itu menggantung. Tak ada yang sanggup mengucapkan dugaan yang sama-sama mereka pikirkan."Sophie!"Eros menerobos kerumunan tanpa menghiraukan siapa pun. Ia menaiki tangga dua anak sekaligus hingga akhirnya tiba di balkon."Aku di sini."Sophie tidak menoleh. Pandangannya tetap lurus ke langit yang tertutup awan kelabu, seolah tak mendengar langkah kaki di belakangnya."Aku minta maaf."Eros berhenti beberapa langkah darinya. Napasnya
Terakhir Diperbarui: 2026-07-19
Chapter: Bab 117Aruna mendorong dada Eros. Pria itu mundur setengah langkah. "Jangan ngaco." "Terus ini apa?" Zen menunjuk mereka bergantian. "Lima menit lalu kalian baku hantam. Habis itu pelukan. Sekarang nangis. Aku beneran nggak ngerti." Aruna mengusap cepat pipinya yang basah. "Orang dia yang maksa peluk, lagian nggak semua orang pelukan karena saling cinta." "Ya, tapi biasanya ada alasannya." Eros mengembuskan napas panjang. "Ini salahku." Zen meliriknya. "Yang mana?" "Semuanya." Dahi Zen berkerut. "Sumpah, kalian hobinya ngomong pakai teka-teki, ya?" Aruna mendengus pelan. "Dia lagi nyesel." "Karena?" Aruna menatap Eros beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara lagi. "Dia baru aja menghancurkan hidup seseorang." Suhu ruangan seolah turun. Zen tidak lagi melipat tangan di depan dada. Tatapannya terkunci pada Eros yang berdiri
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18

Anak Haram yang Dibenci Ayahku
"Pergi dari rumah ini! Kau hanya noda sialan yang merusak kehormatan keluarga!"
Suara Gavin menggelegar, mengusir Monica Althansia dalam kondisi mengandung. Malam itu, di depan ratusan pasang mata elit, dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh ayah tirinya sendiri.
Namun, Monica menolak menyerah pada takdir. Bersama Javier, pria yang rela mengotori tangan demi melindunginya, ia membangun benteng di dunia bawah.
Klub malam eksklusif didirikannya sebagai pusat transaksi gelap para penguasa.
Isaac melemparkan selembar kertas tes DNA ke mejanya.
"Gavin bukan ayah kandungmu," bisik Isaac dingin. "Dan bayi di rahimmu adalah buruan seluruh Sektor."
Seketika, pelarian Monica berubah menjadi perang genetik yang mengerikan. Bayinya memegang kunci kehancuran peradaban mesin buatan Gavin.
Di antara kepungan robot, sahabat yang berkhianat, dan rahasia masa lalu.
Monica harus bertahan ketika dihantam trauma, tetapi ia bersumpah akan membakar dunia jika ada yang berani menyentuh anaknya.
Baca
Chapter: Bab 80. Fajar Sektor Nol (Ending)"Javier... bangun, Javier! Lo gak boleh mati sekarang, demi anak kita!" teriak Monica, suaranya parau seraya memuntahkan air laut yang terasa membakar paru-parunya.Monica membuka matanya perlahan, jemarinya meraba butiran halus di bawah tubuhnya yang gemetar.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan pias, hanya menemukan sebuah pulau asing yang sunyi dan kabut tipis yang menghalangi jarak pandangannya dari peradaban luar."Mon... lo selamat? Mana anak kita?" bisik Javier dengan sisa napasnya yang teramat pendek dan tersengal-sengal parah.Di sampingnya, tubuh Javier terbujur kaku, sementara tangan kirinya masih mendekap erat sang bayi yang mulai menangis memecah kesunyian fajar. Sepasang matanya menatap Monica dengan kepasrahan yang tulus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat di ujung jemari cewek itu."Javier! Gak, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian di tempat kayak begini!" tangis Monica pecah, memeluk jasad pria itu erat-erat di atas pasir yang din
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa"Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah. Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet."Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monica, Monica memaksakan tubuhnya yang kaku dan mati rasa untuk menerobos gulungan ombak, menempatkan dirinya tepat di antara moncong senjata Gavin dan sekoci anaknya. Setiap embusan napasnya terasa membakar."Sistem tidak mengenal kompromi organik, Monica. Pembersihan total adalah satu-satunya solusi," balas GavinMata Gavin yang sedingin es tidak lagi memancarkan kemanusiaan, melainkan deretan matriks data merah yang terus memindai kode enkripsi Sektor Nol dari ponsel Monica. Baginya, kehancuran
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 78. Konfrontasi Nihil Jarak"Gavin... lo beneran turun sendiri ke neraka ini," bisik Monica.Ia melihat sesosok pria melangkah keluar dari helikopter taktis yang mendarat darurat di geladak depan.Gavin berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, jubah taktis hitamnya berkibar dramatis membingkai wajahnya yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, sepasukan robot elite faksi berbaris rapi dengan moncong senjata yang mengunci mati posisi sekoci karet milik Javier."Pelarian lo sudah tidak memiliki nilai efisiensi lagi, Monica. Serahkan kunci Sektor Nol itu sekarang," ucap Gavin, suaranya terdengar begitu flat lewat pelantang suara jubahnya.Javier yang berada di dalam sekoci karet langsung memosisikan tubuhnya di depan sang bayi, tangan kanannya gemetar hebat saat mengarahkan sisa peluru senapan taktisnya ke arah Gavin. Napas mahasiswa koas itu memburu parah, sadar betul bahwa jarak di antara hidup dan mati mereka saat ini beneran sudah nihil."Jangan berani-berani lo melangkah maju, babi faksi! Gue tembak kepal
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 77. Pelarian Terakhir"Isaac! Sistem ponsel gue... ini kode apa?" teriak Monica, suaranya parau menahan getaran hebat yang merambat di seluruh tubuhnya.Layar gawai yang rusak itu terus memancarkan baris kode enkripsi berwarna emas, menyinari wajah Monica yang pias di tengah kepulan asap lambung kapal.Deretan angka digital itu terus berjalan dengan kecepatan gila, memicu bunyi dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa ngilu."Itu kode akses Sektor Nol, Mon! Lo beneran kunci utama yang dicari Gavin selama ini!" balas Isaac sambil menarik paksa tubuh Monica keluar dari palka.Isaac mencengkeram lengan Monica, menyeret gadis itu melewati koridor kabin kapal kargo yang kini posisinya sudah miring hingga empat puluh lima derajat. Air laut mulai tumpah ruah dari segala arah, menciptakan kepanikan mutlak karena kapal tua ini beneran tinggal menghitung menit sebelum karam sepenuhnya."Gue gak peduli soal Sektor setres itu! Gue cuma mau anak gue!" pekik Monica, napasnya tersengal-sengal parah akibat si
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 76. Sentuhan Air Es"Javier! Amankan anak gue! Jangan lepasin dia!" teriak Monica, suaranya parau membelah kegelapan palka yang kian tenggelam.Air laut kini sudah mencapai dadanya, membuat seluruh persendian Monica kaku dan napasnya terasa kian menghimpit sesak. Tangan kirinya mencengkeram besi penyangga tangga dengan memutih tegang, sementara tangan kanannya memaksakan diri mendorong balutan kain bayi itu ke atas permukaan air."Gue pegang, Mon! Gue gak bakal lepasin anak lo, demi apa pun!" sahut Javier dengan suara bariton yang bergetar menahan perih.Javier terbatuk-batuk di ambang lubang palka, wajahnya bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis akibat hantaman Kael tadi. Sepasang matanya menyala penuh kepasrahan yang nekat, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh kecil sang bayi murni ke dalam dekapan amannya."Sekarang tangan lo, Mon! Pegang tangan gue cepat!" bentak Javier, lengannya kembali terjulur ke dalam lubang yang kian dipenuhi air.Dada Monica terasa sesak l
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 75. Keputusan di Ujung Maut"Lepasin cewek itu sekarang atau gue hancurin sirkuit lo!" Isaac berdiri di sana dengan senapan taktis yang sudah terkokang penuh, sorot matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Pengkhianatannya di dermaga tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keputusasaan barunya."Lo beneran serakah, Isaac. Mau mengambil seluruh hadiah dari Gavin sendirian, hah?" dengus Kael sambil memutar kepalanya lambat.Cengkeraman besi Kael terlepas dari tangan Monica, beralih sepenuhnya untuk bersiap menghadapi ancaman baru dari moncong senjata Isaac yang siap meledak kapan saja. Monica terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kirinya yang kini tampak memar keunguan sambil merosot mundur mendekati lubang palka bawah dek yang remang dan berbau karat."Gue gak butuh hadiah dari faksi babi itu! Gue cuma mau lo mati!" teriak Isaac bersamaan dengan rentetan tembakan yang mulai memutus kesunyian malam.Peluru tajam bertubi-tubi menghantam dada titanium milik Kael, memicu percikan api sirkuit yan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11