author-banner
Marsalsa
Marsalsa
Author

Novels by Marsalsa

Rahim Terakhir di Sektor 7

Rahim Terakhir di Sektor 7

Di tengah peradaban yang telah runtuh, Aruna dipaksa kehilangan identitasnya dan dijadikan "Aset 01"—harapan terakhir Sektor 7 untuk melahirkan generasi baru umat manusia. Dalam tenggat waktu 360 hari, Aruna harus menjalankan misi penting yang ditentukan oleh Dewan di bawah pengawasan ketat lima pria elit yang berpengaruh. Namun, tugas tersebut berubah menjadi konflik yang kian rumit saat kelima pria berbahaya itu mulai terobsesi dan bersaing ketat untuk menguasai serta menanamkan pengaruh mereka pada diri Aruna. Terjebak di antara tuntutan masa depan peradaban dan intrik perebutan kekuasaan, Aruna harus bertahan di tengah ancaman dominasi para pria yang memperebutkannya.
อ่าน
Chapter: 135
Di kejauhan, cahaya Jantung Dunia menyala semakin terang. Di bawah langit yang perlahan berubah warna, kehidupan baru mereka akhirnya benar-benar dimulai.Kabut yang selama bertahun-tahun menutupi langit mulai menipis, menyisakan cahaya yang belum pernah Aruna lihat sejelas itu.Hari berganti minggu, lalu bulan. Rumput tumbuh di sepanjang jalan yang dahulu dipenuhi debu, sementara embun menempel di daun-daun setiap pagi. Sesekali, Aruna masih terbangun dan mencari langit kelabu yang dulu selalu menyambutnya, hanya untuk menemukan warna biru terbentang luas di balik jendela.Keenam bayinya tumbuh semakin besar. Mereka mulai duduk sendiri, merangkak ke mana-mana, lalu tertawa ketika salah satu dari mereka berhasil menarik kain meja hingga hampir menjatuhkan sesuatu. Suara riuh itu memenuhi rumah setiap pagi, membuat Aruna beberapa kali hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.Pagi itu, mereka berkumpul di beranda yang kini dipenuhi tanaman hijau. Malik meletakkan setumpuk laporan di
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-24
Chapter: Bab 134
“Dari mana?”Aruna tertawa kecil. Ujung jarinya menyentuh kelopak hijau yang masih segar itu, berhati-hati agar tidak merusaknya. Angin mengibaskan beberapa helai rambut di pipinya, sementara aroma tanah basah memenuhi halaman yang dulu hanya dipenuhi debu dan asap.Aset 02 tidak menjawab. Ia menurunkan tangan, lalu meletakkan bunga itu di sisi keranjang bayi tanpa menyentuh tubuh kecil yang tertidur di dalamnya.Setelah itu, ia kembali berdiri di tempatnya, hanya beberapa langkah dari Aruna.“Kau sudah banyak berubah,” ucap Aruna pelan, matanya masih tertuju pada bunga itu. “Dulu kau tak akan peduli pada bunga, atau hal kecil apa pun.”Aset 02 mengikuti arah pandangnya. Jemarinya sempat bergerak, menyentuh ujung salah satu daun yang tumbuh di dekat kakinya. “Karena dulu aku tak tahu rasanya melihat sesuatu tumbuh… dan ingin ia tetap hidup.”Langkah kaki terdengar dari bawah beranda. Malik muncul sambil membawa setumpuk berkas yang bagian ujungnya sudah tertekuk. Ia menaiki tangga,
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-24
Chapter: Bab 133
“Kita terkunci di sini… dan gas itu menyebar makin cepat.” Aset 02 menegakkan tubuhnya. Kabut putih telah merayap hingga pinggang, menyusup di antara kaki mereka dan membuat pandangan di seberang ruangan semakin kabur. Ia segera menarik Aruna mendekat, lalu merobek bagian bawah jubahnya dengan sekali sentakan. “Tahan napas,” bisiknya pelan sambil merobek ujung kain jubahnya, lalu melipat-lipat rapat menutupi hidung serta mulut Aruna. “Jangan hirup udara apa pun sampai kita cari jalan lain.” Aruna mencengkeram kain di depan wajahnya. Matanya beralih ke pintu yang masih terkunci, kemudian ke kabut yang terus meninggi. Aset 02 sudah berbalik dan menekan telapak tangannya ke panel darurat, tetapi lampu merah tetap berkedip tanpa perubahan. Di ruang Jantung Dunia, Eros memukul pinggiran pagar besi keras sekali hingga bunyi dentang bergema luas. Ia menatap indikator yang berubah merah perlahan, lalu membalikkan badan menatap Malik dan Dante. “Gas menyala, mereka nggak pu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-24
Chapter: Bab 132
“Karena kalau aku mati… kalian semua ikut hancur bersamaku.” Aset 02 bicara datar, tak ada nada naik turun. Tangannya tak melonggar sedikit pun dari leher Valeska. Matanya diam menatap tiap wajah penjaga yang kini menahan napas serempak. Lampu merah terus berkedip pelan sepanjang dinding. Bunyi peringatan halus berirama, naik turun tak berhenti. Tak satu pun berani melangkah maju atau menjangkau senjata di pinggang. “Balikin anak‑anakku sekarang,” desis Aruna, suaranya pecah namun tajam. Ia melangkah maju meski kakinya masih goyah. “Kau bilang mereka aman, bawa mereka ke sini!” Valeska tersedak, wajahnya merah padam, bibir bergetar berusaha bicara. Matanya melirik ke arah panel di sisi pintu lalu beralih tajam ke Aset 02. “Mereka… nggak ada di sini dipindahkan ke tempat terpisah.” “Ke mana?” potong Cilian cepat, melangkah berdiri di samping Aruna, bahunya menegang. “Bicara sekarang juga!" Di ruang terpisah jauh, Zen duduk lurus di depan susunan layar besar. Jari‑jarinya bergerak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-24
Chapter: Bab 131
Kelopak mata Aruna bergerak perlahan. Begitu terbuka, tangannya langsung meraba sisi ranjang yang kosong. Pandangannya beralih cepat ke sekeliling, mencari suara-suara kecil yang tadi memenuhi ruangan, tetapi yang tersisa hanya bunyi alarm dan langkah kaki yang bersahutan. “Anakku... mana mereka?” Aruna mencoba bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia menepis tangan yang hendak menahannya, lalu menarik selimut dan memandang ke balik ranjang seolah keenam bayinya mungkin tersembunyi di sana. “Mana anak-anak aku?” Napasnya semakin memburu. Jemarinya mencengkeram seprai sampai kusut, lalu tangannya berpindah ke lengan Cilian ketika tak menemukan satu pun dari mereka. “Jangan... jangan bilang mereka dibawa.” Cilian belum sempat menjawab ketika Aruna kembali meronta. Kakinya dipaksa menapak lantai, tetapi lututnya langsung kehilangan tenaga hingga tubuhnya nyaris ambruk. “Lepasin aku!” Tangannya terus memukul dada Cilian, semakin lemah setiap kali bergerak. Air mata membasahi
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-24
Chapter: Bab 130
“Selama ini kalian yang menentukan siapa yang layak hidup.”Malik menurunkan kedua tangannya perlahan.Tatapannya berpindah kepada Dante yang masih berdiri di depan tuas merah. Kemudian kepada Eros yang tak sedikit pun menurunkan senjatanya, dan kembali menatap para petinggi Dewan.“Siapa yang terlalu lemah? Siapa yang terlalu banyak menghabiskan sumber daya? Siapa yang dianggap tidak memiliki masa depanm”Malik terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati hologram, seolah ingin memastikan seluruh wajah mereka terlihat jelas olehnya.“Sekarang coba rasakan bagaimana rasanya ketika nasib kalian berada di tangan orang lain.”Beberapa anggota Dewan tampak mulai beranjak dari tempat duduknya. Sebagian mencoba meninggalkan Ruang Sidang Pusat, sementara yang lain berteriak memberikan perintah.Malik hanya menggeleng kecil. Senyumnya kembali muncul.“Tidak perlu terburu-buru. Kalian masih punya waktu.”Ia melirik Dante. “Berapa lama, Dan?”Dante tidak menjawab. Tangannya tetap berada di atas tuas
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-15
Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri

Istri Rahasia Dosen: Takdir Kedua Sang Permaisuri

Kehidupan kedua Shen Zhaoning dimulai di tubuh seorang mahasiswi miskin. Setelah mati diracun oleh para pengkhianat, Permaisuri Agung itu terbangun sebagai Vanya Adhiran, gadis yang terjerat utang, dipaksa bekerja di klub elit, dan terikat pernikahan rahasia dengan dosen pembimbingnya sendiri. Kini, Zhaoning harus beradaptasi dengan dunia modern sambil membalas dendam kepada mereka yang menghancurkan hidup Vanya. Namun, semakin dekat dengan suaminya, semakin sulit baginya membedakan mana yang sekadar sandiwara dan mana yang benar-benar cinta.
อ่าน
Chapter: Bab 109
"Van?"Gio menyentuh punggung tangan Vanya yang terletak di atas pahanya. Mobil terus bergerak di antara deretan kendaraan sore, sementara ujung rambut Vanya sesekali terangkat oleh angin dari kaca yang terbuka sedikit."Hm?""Kamu… nggak mau cerita lebih banyak soal rencana ke depannya?"Gio membiarkan satu tangannya tetap berada di tangan Vanya, sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi. Pandangannya tak lepas dari jalan di depan."Aku ikut kamu, percaya sama kamu. Tapi aku mau tahu ke mana kita arahin semua ini."Vanya membalik telapak tangannya dan mengusap punggung tangan Gio dengan ibu jari."Kita amankan dulu semuanya, Mas. Pastikan nggak ada yang bisa ganggu Om Darius, ganggu kita. Setelah itu… cari siapa orang yang berdiri di balik semua ini.""Kita amankan dulu semuanya, Mas. Pastikan nggak ada yang bisa ganggu Om Darius, ganggu kita. Setelah itu… cari siapa orang yang berdiri di balik semua ini."Gio mengangguk kecil. Jarinya mengetuk setir sekali sebelum kembali mengge
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-03
Chapter: Bab 108
“Cukup. Anda sudah membuat perusahaan ini berantakan. Silakan keluar dari ruang rapat,” ucap salah satu direktur dengan nada dingin.Helena tetap berdiri di tempatnya. Jemarinya mencengkeram tali tas, sementara kursi di belakangnya sudah ditarik menjauh dari meja.“Saya tidak akan keluar dari ruangan ini. Ini perusahaan yang saya kelola selama bertahun-tahun.”“Justru karena itu. Kami meminta Anda meninggalkan ruangan.”“Saya punya wewenang di sini!”Helena meraih berkas di atas meja, tetapi direktur di sebelahnya lebih dulu mengambil dokumen tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam map.“Panggil keamanan.”Pintu ruang rapat terbuka. Dua petugas keamanan masuk dan berhenti di sisi pintu.“Bu Helena, mohon ikut kami.”“Jangan sentuh saya!”Helena menarik lengannya ketika salah satu petugas maju. Kursi-kursi di sekeliling meja tetap kosong. Tak ada yang kembali duduk atau membuka percakapan baru.“Saya bisa keluar sendiri!”Helena mengambil tasnya. Langkahnya terhenti sesaat di amban
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-03
Chapter: Bab 107
"Saya cek dulu datanya."Pak Arman menunduk ke layar laptop. Dahinya berkerut, lalu beberapa angka di tabel diperbesar. Tangannya berhenti di atas papan ketik sebelum kembali bergerak membuka berkas transaksi yang berbeda.Helena mengetukkan kukunya ke permukaan meja. "Mungkin ada kesalahan pencatatan. Lanjutkan saja."Gio mengangkat dokumen yang masih terbuka di tangannya. Ia mencocokkan tanggal pembayaran dengan bagian ketentuan kontrak yang tercetak di halaman berikutnya."Kesalahan pencatatan sebesar ini?"Helena tidak menjawab. Pak Arman justru kembali memperbesar tampilan di layar, memperlihatkan beberapa baris transaksi yang sebelumnya tertutup di bagian bawah tabel."Saya menemukan transaksi yang sama, Pak Gio.""Berapa?""Empat."Angka empat muncul dalam kolom yang sama. Gio menarik salah satu lembar dari tumpukan dokumen, kemudian memberi tanda pada empat transaksi tersebut dengan ujung penanya."Semua perusahaan yang menerima pembayaran ini siapa pemiliknya?"Pak Arman ba
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-03
Chapter: Bab 106
"Kami sudah menunggu cukup lama. Dan sepertinya ada yang salah paham soal siapa yang seharusnya hadir di sini."Helena mengetukkan ujung jarinya ke meja. Bunyi kecil itu terdengar di tengah ruangan yang sunyi."Gio boleh duduk. Tapi dia bukan bagian dari dewan ini. Bukan pemegang saham. Dan bukan siapa-siapa di perusahaan ini. Silakan keluar."Tangannya terangkat. Telunjuk Helena mengarah ke kursi kosong di sebelahnya, kemudian bergeser menuju pintu."Bukan siapa-siapa? Saya istri Gio." Vanya mengangkat dagu. Jemarinya masih melingkar di lengan Gio."Istri? Pernikahan yang didasari kontrak dan akan segera berakhir. Kamu cuma menumpang nama, Nak. Jangan terlalu tinggi mengangkat diri."Helena terkekeh pendek. Pria di sebelahnya menundukkan kepala, menyembunyikan sudut bibir yang ikut terangkat."Kontrak itu memang ada. Tapi selama belum ditandatangani surat cerai, saya tetap istrinya secara sah. Dan tempat saya di samping suami saya, di mana pun dia berada."‘Mengusir istri sah di depa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-01
Chapter: Bab 105
"Vanya."Gio baru masuk, pintu depan masih terbuka di belakangnya. Langkahnya terdengar berat di lantai ruang tengah, napasnya belum kembali teratur.Lengan kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan kantong apotek yang masih tersegel tergenggam kuat di tangannya."Kok udah pulang? Ada apa?"Vanya menghampiri. Gio menaruh kantong apotek di atas meja, lalu meraih tangan Vanya."Rapat pemegang saham diundur. Sore ini.""Diundur?"Genggaman Gio menguat. Ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangan Vanya, sementara bahunya masih naik turun."Atas permintaan Mama. Dia tau aku akan ambil alih. Dia gerak duluan."Vanya mengambil jas Gio yang masih melekat di bahunya. Ia membantu melepaskannya, lalu melipatnya di sandaran sofa. Setelah itu, tangannya turun ke ujung celana Gio, membantu menarik kaus kaki yang mulai membuatnya tidak nyaman sejak tadi.Pagi tadi Helena datang dengan suara yang penuh sindiran. Tentang perceraian. Tentang Gio. Tentang bagaimana Vanya seharusnya segera pe
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-01
Chapter: Bab 104
Vanya menyendok nasi goreng hangat ke dalam mangkuk kecil. Ia menekannya beberapa kali dengan bagian belakang sendok sebelum membalik mangkuk itu ke dalam kotak bekal.Tangan kanannya terulur meraih telur dadar di wajan. Kedua tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Gio merapat, lalu mengecup pipinya sekilas.“Kok kamu yang masak? Mbak Rena mana?”Vanya menoleh sedikit. Wajah Gio terkulai manja dekat bahunya. Ia tersenyum, lalu kembali melihat bekal di hadapannya.“Tadi aku suruh beres-beres di bagian lain aja.”Ia mengambil telur dadar, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu memasukkannya ke dalam kotak bekal. Vanya mengambil selembar nori, lalu mengguntingnya menjadi potongan-potongan kecil berbentuk segitiga. Dua potongan ia ambil, mempertemukan ujungnya, lalu sedikit menekannya sampai menyerupai dua sisi dasi kupu-kupu.“Lagi bikin apa itu?” tanya Gio.Vanya terkekeh. Pandangannya jatuh pada sendok yang tergantung di rak atas. Dari permukaan logam yang sedikit melengku
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-01
Anak Haram yang Dibenci Ayahku

Anak Haram yang Dibenci Ayahku

"Pergi dari rumah ini! Kau hanya noda sialan yang merusak kehormatan keluarga!" Suara Gavin menggelegar, mengusir Monica Althansia dalam kondisi mengandung. Malam itu, di depan ratusan pasang mata elit, dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh ayah tirinya sendiri. Namun, Monica menolak menyerah pada takdir. Bersama Javier, pria yang rela mengotori tangan demi melindunginya, ia membangun benteng di dunia bawah. Klub malam eksklusif didirikannya sebagai pusat transaksi gelap para penguasa. Isaac melemparkan selembar kertas tes DNA ke mejanya. "Gavin bukan ayah kandungmu," bisik Isaac dingin. "Dan bayi di rahimmu adalah buruan seluruh Sektor." Seketika, pelarian Monica berubah menjadi perang genetik yang mengerikan. Bayinya memegang kunci kehancuran peradaban mesin buatan Gavin. Di antara kepungan robot, sahabat yang berkhianat, dan rahasia masa lalu. Monica harus bertahan ketika dihantam trauma, tetapi ia bersumpah akan membakar dunia jika ada yang berani menyentuh anaknya.
อ่าน
Chapter: Bab 80. Fajar Sektor Nol (Ending)
"Javier... bangun, Javier! Lo gak boleh mati sekarang, demi anak kita!" teriak Monica, suaranya parau seraya memuntahkan air laut yang terasa membakar paru-parunya.Monica membuka matanya perlahan, jemarinya meraba butiran halus di bawah tubuhnya yang gemetar.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan pias, hanya menemukan sebuah pulau asing yang sunyi dan kabut tipis yang menghalangi jarak pandangannya dari peradaban luar."Mon... lo selamat? Mana anak kita?" bisik Javier dengan sisa napasnya yang teramat pendek dan tersengal-sengal parah.Di sampingnya, tubuh Javier terbujur kaku, sementara tangan kirinya masih mendekap erat sang bayi yang mulai menangis memecah kesunyian fajar. Sepasang matanya menatap Monica dengan kepasrahan yang tulus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tepat di ujung jemari cewek itu."Javier! Gak, lo nggak boleh ninggalin gue sendirian di tempat kayak begini!" tangis Monica pecah, memeluk jasad pria itu erat-erat di atas pasir yang din
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 79. Runtuhnya Sang Penguasa
"Pelarian lo beneran selesai di sini. Tidak ada ruang untuk anomali dalam masa depan yang sempurna," ucap Gavin.Pria itu melangkah tegap di atas sisa geladak yang kini sudah terendam air laut hingga batas pinggang, mengabaikan sirkuit di jubah taktisnya yang mulai korsleting parah. Tangan mekaniknya terangkat lurus, mengarahkan sebuah proyektil laser mini tepat ke arah dada Javier yang masih memegangi sekoci karet."Gavin, jangan! Target lo itu gue, bukan Javier ataupun anak itu!" jerit Monica, Monica memaksakan tubuhnya yang kaku dan mati rasa untuk menerobos gulungan ombak, menempatkan dirinya tepat di antara moncong senjata Gavin dan sekoci anaknya. Setiap embusan napasnya terasa membakar."Sistem tidak mengenal kompromi organik, Monica. Pembersihan total adalah satu-satunya solusi," balas GavinMata Gavin yang sedingin es tidak lagi memancarkan kemanusiaan, melainkan deretan matriks data merah yang terus memindai kode enkripsi Sektor Nol dari ponsel Monica. Baginya, kehancuran
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 78. Konfrontasi Nihil Jarak
"Gavin... lo beneran turun sendiri ke neraka ini," bisik Monica.Ia melihat sesosok pria melangkah keluar dari helikopter taktis yang mendarat darurat di geladak depan.Gavin berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, jubah taktis hitamnya berkibar dramatis membingkai wajahnya yang dingin tanpa emosi. Di belakangnya, sepasukan robot elite faksi berbaris rapi dengan moncong senjata yang mengunci mati posisi sekoci karet milik Javier."Pelarian lo sudah tidak memiliki nilai efisiensi lagi, Monica. Serahkan kunci Sektor Nol itu sekarang," ucap Gavin, suaranya terdengar begitu flat lewat pelantang suara jubahnya.Javier yang berada di dalam sekoci karet langsung memosisikan tubuhnya di depan sang bayi, tangan kanannya gemetar hebat saat mengarahkan sisa peluru senapan taktisnya ke arah Gavin. Napas mahasiswa koas itu memburu parah, sadar betul bahwa jarak di antara hidup dan mati mereka saat ini beneran sudah nihil."Jangan berani-berani lo melangkah maju, babi faksi! Gue tembak kepal
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 77. Pelarian Terakhir
"Isaac! Sistem ponsel gue... ini kode apa?" teriak Monica, suaranya parau menahan getaran hebat yang merambat di seluruh tubuhnya.Layar gawai yang rusak itu terus memancarkan baris kode enkripsi berwarna emas, menyinari wajah Monica yang pias di tengah kepulan asap lambung kapal.Deretan angka digital itu terus berjalan dengan kecepatan gila, memicu bunyi dengung frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa ngilu."Itu kode akses Sektor Nol, Mon! Lo beneran kunci utama yang dicari Gavin selama ini!" balas Isaac sambil menarik paksa tubuh Monica keluar dari palka.Isaac mencengkeram lengan Monica, menyeret gadis itu melewati koridor kabin kapal kargo yang kini posisinya sudah miring hingga empat puluh lima derajat. Air laut mulai tumpah ruah dari segala arah, menciptakan kepanikan mutlak karena kapal tua ini beneran tinggal menghitung menit sebelum karam sepenuhnya."Gue gak peduli soal Sektor setres itu! Gue cuma mau anak gue!" pekik Monica, napasnya tersengal-sengal parah akibat si
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 76. Sentuhan Air Es
"Javier! Amankan anak gue! Jangan lepasin dia!" teriak Monica, suaranya parau membelah kegelapan palka yang kian tenggelam.Air laut kini sudah mencapai dadanya, membuat seluruh persendian Monica kaku dan napasnya terasa kian menghimpit sesak. Tangan kirinya mencengkeram besi penyangga tangga dengan memutih tegang, sementara tangan kanannya memaksakan diri mendorong balutan kain bayi itu ke atas permukaan air."Gue pegang, Mon! Gue gak bakal lepasin anak lo, demi apa pun!" sahut Javier dengan suara bariton yang bergetar menahan perih.Javier terbatuk-batuk di ambang lubang palka, wajahnya bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis akibat hantaman Kael tadi. Sepasang matanya menyala penuh kepasrahan yang nekat, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh kecil sang bayi murni ke dalam dekapan amannya."Sekarang tangan lo, Mon! Pegang tangan gue cepat!" bentak Javier, lengannya kembali terjulur ke dalam lubang yang kian dipenuhi air.Dada Monica terasa sesak l
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
Chapter: Bab 75. Keputusan di Ujung Maut
"Lepasin cewek itu sekarang atau gue hancurin sirkuit lo!" Isaac berdiri di sana dengan senapan taktis yang sudah terkokang penuh, sorot matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Pengkhianatannya di dermaga tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keputusasaan barunya."Lo beneran serakah, Isaac. Mau mengambil seluruh hadiah dari Gavin sendirian, hah?" dengus Kael sambil memutar kepalanya lambat.Cengkeraman besi Kael terlepas dari tangan Monica, beralih sepenuhnya untuk bersiap menghadapi ancaman baru dari moncong senjata Isaac yang siap meledak kapan saja. Monica terengah-engah, memegangi pergelangan tangan kirinya yang kini tampak memar keunguan sambil merosot mundur mendekati lubang palka bawah dek yang remang dan berbau karat."Gue gak butuh hadiah dari faksi babi itu! Gue cuma mau lo mati!" teriak Isaac bersamaan dengan rentetan tembakan yang mulai memutus kesunyian malam.Peluru tajam bertubi-tubi menghantam dada titanium milik Kael, memicu percikan api sirkuit yan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-06-11
บางทีคุณอาจจะชอบ
MENIKAH DENGAN SULTAN
MENIKAH DENGAN SULTAN
Romansa · Evie Yuzuma
259.8K views
Kamu yang Kucintai
Kamu yang Kucintai
Romansa · Lis Susanawati
259.5K views
Gairah Liar Playboy Tajir
Gairah Liar Playboy Tajir
Romansa · agneslovely2014
258.9K views
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status