Share

Bab 4

Author: Echo
Keesokan paginya, aku setir mobil menuju kantor hukum Keluarga Pradana di bagian bawah Morena untuk selesaikan dokumen akhir proses merger.

Baru saja keluar dari jalan tol, tiga SUV hitam muncul di kaca spionku. Perutku langsung terasa mual. Tanpa sadar, aku injak pedal gas lebih dalam.

Mobil-mobil itu bergerak cepat, kepung aku dari berbagai sisi. Jendela kursi penumpang mobil di sebelahku perlahan terbuka, perlihatkan seorang pria bertopeng yang angkat pistol berperedam.

Keluarga Susanto. Musuh bebuyutan Keluarga Pradana.

Bang.

Peluru pertama hantam jendela mobilku, ciptakan retakan seperti jaring laba-laba di kaca antipeluru.

Dengan satu tangan, aku putar setir dengan tajam. Tangan lainnya meraba-raba HP-ku dengan panik.

Aku telepon ke nomor pribadi Darius. Nada sambung terdengar selama satu menit penuh. Nggak ada jawaban. Aku coba lagi. Lalu untuk ketiga kalinya. Tetap nggak ada respons. Aku lempar HP itu ke kursi sebelah sambil tertawa getir.

Selama ini, Darius nggak pernah abaikan panggilanku. Kecuali saat dia lagi sama Angelina.

Mobil-mobil itu semakin mendekat. Aku tarik napas dalam-dalam, injak pedal gas sampai paling bawah, lalu tabrakkan mobilku ke celah sempit di antara mereka. Kalau nggak ada yang datang selamatkan aku, maka aku harus selamatkan diriku sendiri.

Saat berhasil lolos dari kepungan, sebuah peluru tembus jendela yang telah retak dan hantam bahu kiriku. Erangan tertahan lolos dari bibirku. Namun, aku gigit bibir kuat-kuat dan tetap jaga kendali setir mobilku.

Begitu berhasil menjauh, aku kumpulkan sisa tenagaku untuk raih HP dan hubungi ambulans.

...

Aku terbangun dengan aroma antiseptik yang menyengat.

"Anita! Akhirnya kamu sadar!"

Clarita Wongso, sahabatku, bergegas ke sisi ranjang. Matanya merah karena nangis terlalu lama. Dia genggam tanganku erat, suaranya bergetar.

"Kamu nggak sadarkan diri selama tiga hari. Dokter bilang kamu kehilangan terlalu banyak darah ...."

Aku basahi bibirku yang kering dan paksakan senyum lemah.

"Maaf sudah buat kamu khawatir."

Seorang perawat masuk ke dalam ruangan.

"Nona Anita, kita sangat senang Anda akhirnya sudah sadar. Sepertinya ada masalah dengan informasi kontak suami Anda. Kita nggak berhasil hubungi dia. Apa Anda mau ...."

"Nggak perlu," potongku datar. "Kita sudah cerai."

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan keras.

Darius berdiri di ambang pintu dengan ekspresi membeku.

"Cerai? Cerai apanya?"

Udara di ruangan seolah berubah jadi es. Jantungku berhenti berdetak sesaat sebelum aku angkat tangan dan tunjuk ke arah Clarita dengan tenang.

"Clarita. Dia yang lagi urus perceraian."

Clarita langsung ngerti.

"Iya. Suamiku selingkuh. Aku cuma minta bantuan Anita."

Kecurigaan masih terlihat di mata Darius. Sebelum dia sempat tanya lebih jauh, aku bicara lebih dulu, "Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk. Aku nggak mau ganggu kamu dengan hal-hal kecil."

Jakunnya bergerak pelan. Sorot tajam dan penuh selidik di matanya perlahan berubah jadi rasa bersalah. Mungkin Darius teringat dengan apa yang buat dia begitu sibuk akhir-akhir ini. Dan semua itu selalu bermuara ke Angelina.

Darius duduk di samping ranjang dan genggam tanganku yang nggak terluka. Telapak tangannya terasa hangat, sementara buku-buku jarinya sedikit bergetar.

"Anita, maafkan aku," katanya lirih. "Bajingan-bajingan Keluarga Susanto yang lakukan ini ke kamu akan aku buat bayar sepuluh kali lipat."

Aku hanya mengangguk pelan.

"Dan mulai sekarang ...." Dia tarik napas. "Apa pun yang sedang aku lakukan, aku akan selalu jawab teleponmu."

Aku menunduk, biarkan bulu mataku sembunyikan emosi yang bergolak.

"Oke."

Tampaknya Darius ingin katakan sesuatu lagi, tetapi nggak tahu harus mulai dari mana. Untuk beberapa saat, dia hanya duduk dalam keheningan yang kaku.

"Kapan kamu boleh pulang?" tanyanya akhirnya.

"Kata dokter lima hari lagi."

"Aku akan jemput kamu lima hari lagi," ujarnya dengan nada tegas yang nggak kasih ruang untuk dibantah. "Aku akan kosongkan jadwalku. Aku sendiri yang akan bawa kamu pulang."

Aku mendongak dan tersenyum tipis.

"Oke."

Lima hari kemudian, langit tampak mendung. Seharian aku tunggu di kamar rumah sakit. Namun, Darius nggak pernah datang.

Tanpa sadar, aku buka halaman instragram Angelina. Satu jam yang lalu, dia unggah foto baru. Angelina berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat. Jarum infus terpasang di punggung tangannya.

Di kursi di samping ranjang, duduk sosok yang terlalu aku kenal. Darius. Dia menatap Angelina dengan penuh perhatian, ekspresinya begitu lembut.

Keterangan fotonya berbunyi:

[Selalu ngerepotin dia.]

Aku menatap foto itu lama sekali. Kemudian, aku telepon Darius.

"Anita?" Suaranya terdengar tergesa-gesa. Dari seberang telepon, samar-samar terdengar bunyi monitor detak jantung. "Maaf, ada urusan mendesak. Sekarang aku lagi urus itu, mungkin aku akan telat ...."

"Nggak apa-apa," potongku lembut. "Aku bisa pulang sendiri."

"Kamu belum benar-benar sembuh. Aku akan suruh sopir jemput kamu."

"Nggak perlu. Aku sudah pesan taksi."

Aku terdiam sejenak, lalu tambahkan kalimat yang selalu aku katakan, "Hati-hati di jalan."

Aku akhiri panggilan. Berdiri di tepi jalan, aku menatap kalender di layar HP. Sepuluh hari lagi. Aku peluk diriku sendiri dan bisikkan kata-kata itu seperti sebuah doa. Sepuluh hari lagi, aku akan bebas.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 21

    Aku “ketemu” Darius lagi di meja resepsionis hotel.Petugas resepsionis di depan menatap layar komputernya lalu angkat wajah dengan senyum profesional.“Nona Anita, selamat. Anda dapat upgrade gratis ke Aurora Suite di lantai paling atas.”Aku pijat pelipis dan tarik napas panjang.Belum sempat aku bereaksi, sosok yang sudah sangat aku kenal melangkah santai ke sampingku.Darius serahkan paspornya ke resepsionis.“Selamat malam. Aku punya reservasi.”Dia noleh ke arahku, wajahnya tampilkan ekspresi polos yang terlalu dibuat-buat.“Anita, kebetulan sekali.”“Aku juga nginap di hotel ini.”Aku sampai tertawa kecil.Lalu aku berbalik menghadapnya.“Darius, aku nggak butuh semua ini.”“Aku nggak butuh kamu meng-upgrade kamarku.”“Dan aku juga nggak butuh kamu ada dalam radius sepuluh meter dari aku.”“Kamu ngerti?”Dia hanya angkat bahu dengan santai, sama sekali nggak terusik.“Anita, aku cuma mau kamu merasa nyaman.”“Kamu nggak perlu merasa tertekan.”“Lagipula, hotel ini salah satu pro

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 20

    Darius hanya menatapku, tanpa sedikit pun rasa malu, seolah semua ucapanku nggak mampu sentuh dia.Tiba-tiba aku sadar bahwa berdebat dengan pria ini hanyalah pemborosan waktu yang sia-sia.Aku pejamkan mata, sandarkan kursi, lalu palingkan wajah ke arah jendela, putuskan untuk abaikan dia.Pesawat melaju mulus di atas lapisan awan.Aku pura-pura tidur, mundurkan kursiku, tetapi aku bisa rasakan tatapannya tertuju ke aku.Pandangan itu terasa tajam, susuri sisi wajahku, berhenti lama di dahi, hidung, hingga bibirku.Aku kesal bukan main, tapi tetap nggak buka mata.Setelah waktu yang terasa lama, aku dengar suaranya yang pelan.“Anita.”“Boleh nggak aku tanya?”“Apa kamu putuskan untuk ceraikan aku karena tahu aku kirim pengawal untuk lindungi Angelina?”Aku buka mata dan noleh ke arahnya.“Itu hanya pemicu terakhir.”Setelah semua ini, akhirnya aku bisa katakan itu dengan tenang.“Darius, keinginan untuk ceraikan kamu itu sudah ada sejak lama, sangat lama.”“Anita .…” Suaranya serak.

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 19

    Sebulan kemudian, luka Darius hampir sepenuhnya pulih.Sayatan yang dulu begitu dalam hingga tulang pun terlihat, kini hanya sisakan bekas luka pucat yang membentang di kulitnya.Selama sebulan itu, aku beberapa kali jenguk dia di rumah sakit. Setiap kunjungan nggak pernah lebih dari sepuluh menit, sekadar ngobrol sebentar, lalu aku pergi.Dia nggak pernah berusaha minta aku kembali.Anehnya, ketegangan di antara kami perlahan mereda.Sekarang, setelah kondisinya membaik, aku siap lanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.Aku pesan tiket ke Islander. Sehari sebelum keberangkatan, aku datang ke rumah sakit untuk pamitan.“Darius,” kataku sambil berdiri di samping ranjangnya. “Besok aku berangkat.”Senyumnya seketika membeku.“Ke mana?”“Islander. Setelah itu mungkin keliling Scotan.”“Berapa lama?”Aku angkat bahu dengan santai.“Aku juga nggak tahu. Mungkin aku akan pulang kalau sudah bosan bepergian.”Dia terdiam beberapa detik.Lalu mengangguk pelan, bahkan masih sempat berikan seny

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 18

    Aku menatap cangkir kopi di hadapanku, sementara pikiranku berputar tanpa arah.Nggak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku kalau seperti inilah cerita yang dilihat dari sudut pandang Angelina.Setelah beberapa saat tenggelam dalam pemikiran, akhirnya aku buka suara.“Angelina, makasih sudah kasih tahu semua ini ke aku hari ini.”“Tapi ... aku nggak bisa sepenuhnya percaya dengan itu.”Angelina angkat wajahnya. Matanya masih basah oleh air mata saat menatapku.“Kalau Darius beneran cinta sama aku ....” kataku dengan senyum tipis yang pahit. “Mustahil selama tiga tahun terakhir aku nggak rasakan itu sedikit pun.”“Insting seorang wanita jarang salah.”“Sikap dinginnya, cueknya, rasa nggak pedulinya ... semua itu bukanlah perilaku seorang pria yang sedang jatuh cinta.”“Jadi, Angelina, aku nggak peduli lagi apa dia cinta aku atau nggak. Mungkin saja dia memang cinta aku. Tapi itu sudah nggak penting lagi.”“Yang penting adalah rasa sakit yang aku alami selama tiga tahun itu nyata.”“

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 17

    Keesokan sorenya, saat aku dorong pintu kedai kopi itu, Angelina sudah lebih dulu duduk di kursi dekat jendela.Dia kenakan sweter rajut berwarna krem, sementara rambut panjangnya diikat longgar ke belakang. Begitu lihat aku, dia langsung berdiri.“Anita,” sapanya pelan, suaranya dibalut rasa gugup yang sulit disembunyikan.Aku duduk di hadapannya dan pesan segelas kopi Americano.Beberapa saat kita hanya terdiam, hingga akhirnya Angelina buka suara.“Anita.” Dia tarik napas dalam-dalam. “Aku datang hari ini untuk katakan sesuatu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Maafkan aku.”Dia berdiri lalu bungkukkan badan sedikit ke arahku.Aku terkejut dan buru-buru kasih isyarat agar dia duduk kembali.“Angelina, kamu nggak perlu kayak gitu.”“Aku harus.” Matanya mulai memerah. “Hari itu di kapal pesiar, aku nggak tahu kamu itu istrinya Darius. Aku sudah bilang begitu banyak hal ... begitu banyak hal yang pasti nyakitin kamu.”“Aku bilang ke kamu kalau dia kirim pengawal untuk lindungi aku. A

  • Istri Rahasia Sang Ketua Mafia yang Hilang   Bab 16

    Jam tiga dini hari ketika Darius akhirnya didorong keluar dari ruang operasi.Aku masih duduk di bangku lorong rumah sakit, pakaian yang aku kenakan belum sempat diganti dan masih dipenuhi darahnya.Aku sendiri nggak tahu mengapa tetap tinggal.Aku hanya ... nggak sanggup melangkah pergi.Dokter keluar dari ruang operasi dan berkata singkat, “Dia sudah lewati masa kritis.”Aku hembuskan napas panjang yang bergetar. Rasanya baru saat itu paru-paruku kembali bekerja.Ruangan kamar di rumah sakit terasa sunyi. Hanya bunyi monitor jantung yang berdetak teratur pecah keheningan.Darius terbaring di atas ranjang rumah sakit. Berbagai selang dan alat medis terhubung ke tubuhnya. Wajahnya pucat seperti kertas. Namun ketika aku masuk, kelopak matanya perlahan terbuka.Tatapannya langsung temukan diriku. Bibirnya bergerak pelan. Aku harus membungkuk lebih dekat untuk dengar apa yang ingin dia katakan.“ ... Bajumu.”Suaranya begitu lemah.“Ganti bajumu. Kamu pasti kedinginan.”Aku membeku. Baru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status