Short
Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua

Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua

By:  FlowerCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
15Chapters
88views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah adikku pergi ke luar negeri, aku menggantikan dia menikah dengan Ketua Geng mafia. Selama lima tahun pernikahan, kami adalah dua orang yang paling saling membenci. Dia membenciku karena mengira akulah yang memaksa adik pergi, lalu memakai cara licik untuk menjadi istrinya. Aku membencinya karena sejak awal sampai akhir dia selalu menganggapku hanya sebagai pengganti, bahkan tidak pernah mengumumkan identitasku ke publik. Justru karena tidak diakui, orang tuaku yang gengsi menanggung segala hinaan, dan sejak itu mereka pun membenciku sampai ke tulang. Di akhir kehidupan sebelumnya, dia dan kedua orang tuaku demi merayakan Natal untuk adikku, melupakan diriku di pegunungan bersalju. Di tengah kedinginan yang membeku, aku dan anakku yang belum sempat dilahirkan meninggal bersama. Sementara itu, adikku menikmati seluruh limpahan kasih sayang, menjalani Natal paling bahagia dalam hidupnya. Saat membuka mata kembali, aku kembali ke hari pertama adikku pulang ke tanah air. Di kehidupan ini, aku tidak akan lagi memohon cinta dari Adriano maupun dari kedua orang tuaku.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Nona Yuanita, selamat, Anda sudah hamil tiga bulan."

Aku duduk di hadapan dokter keluarga, wajahku tanpa sedikit pun riak emosi, sama sekali tak terlihat kegembiraan.

Dokter dengan bersemangat ingin menelepon Adriano, tetapi ponselnya segera kurebut.

"Nggak perlu!"

Para tenaga medis saling berpandangan, tidak mengerti maksudku.

Mereka tidak mengerti, sebagai istri Ketua Geng mafia dengan kedudukan tinggi dan kekuasaan besar, anak ini adalah kehormatan seluruh keluarga, mengapa justru ingin kusembunyikan.

Namun mereka juga tidak tahu, jika kabar ini tersebar, anak ini akan mati bersamaku pada musim dingin itu.

Pada Natal di kehidupan sebelumnya, Adriano dan seluruh keluarga membawa adik perempuanku yang baru pulang dari luar negeri ke pegunungan salju untuk berlibur. Aku mengikuti mereka dari belakang, diam-diam menyaksikan mereka berpesta.

Akhirnya karena cuaca buruk, Adriano memanggil helikopter untuk pulang, tetapi sampai pesawat mendarat tak satu pun dari mereka mengingatku.

Aku dan anakku yang belum sempat dilahirkan mati membeku hidup-hidup di tengah es dan salju.

Syukurlah, aku terlahir kembali, kembali ke hari aku mengetahui kehamilanku, hari yang sama ketika adikku kembali ke tanah air.

Adik yang selalu dipihak semua anggota keluarga dan selalu lebih dicintai suamiku itu, telah kembali.

Aku melangkah pulang, mengabaikan tatapan terperangah semua orang.

Seperti biasa aku memasukkan kode pintu, tetapi berapa kali pun dicoba tetap muncul pemberitahuan kata sandi salah.

Tiba-tiba aku teringat bahwa di hari yang sama pada kehidupan sebelumnya, kejadiannya persis seperti ini.

Sejak adik kembali, segala sesuatu di rumah kembali ditulis atas namanya.

Misalnya, kode pintu kembali menjadi tanggal lahirnya.

Aku mengingat sebentar, lalu memasukkan empat angka 0604.

Pintu pun terbuka dengan mulus.

Aku tersenyum pahit. Baru hendak masuk, setumpuk dokumen tebal menghantam wajahku.

"Tanda tangani surat perjanjian cerai ini!" kata Ibu dengan sikap dingin.

Aku dengan tenang menyeka darah di sudut dahi, lalu mengulurkan tangan. "Beri aku pena."

Tiga kata itu membuat semua orang di tempat itu terperangah.

Yang pertama bereaksi adalah adikku. Dia mendengus, "Secepat ini? Yuanita, kuperingatkan, jangan macam-macam."

Ayah mencibir, "Menurutku dia sendiri juga paham. Kalau dulu bukan karena Clarissa pergi ke luar negeri, mana mungkin posisi Nyonya Ketua Geng itu jatuh ke tangannya? Begitu dengar Clarissa akan pulang, menantu kita segera mengirim pesawat pribadi dan belasan pengawal untuk mengawal sepanjang jalan .... Sekarang dia begitu penurut, sepertinya juga demi menyisakan jalan mundur. Bagaimanapun, dibanding diusir keluar, cerai sukarela jelas lebih baik."

Begitu mendengar itu, Clarissa segera menutup mulutnya seolah baru sadar, lalu merapat ke sisi Ayah.

"Ayah, Ayah memang pintar! Kok aku nggak kepikiran sampai situ."

Ayah dan Ibu menariknya dalam pelukan, mengusap hidungnya dengan penuh sayang, mata mereka dipenuhi rasa memanjakan.

Aku berdiri di samping, seperti orang asing yang sama sekali tidak menyatu.

Clarissa melirikku dengan penuh kemenangan. Aku tidak menghiraukannya, hanya memungut dokumen di lantai dan dengan sigap menandatangani namaku.

Senyum di sudut Clarissa sempat membeku. Akhirnya dia merampas dokumen itu. "Benar-benar tegas."

Tentu saja, kesalahan kehidupan sebelumnya tidak akan kuulangi.

Aku tak lagi menanggapi. Saat aku berbalik naik ke atas, Clarissa menghalangiku, menunjuk bagian kosong pada dokumen,

"Tanda tangan Adriano juga harus kamu urus."

"Aku nggak mau mengajukannya sendiri, nanti Adri mengira aku berebut dan merampas, terlalu merendahkan diri."

"Dalam tiga hari, selesaikan prosedur cerai, lalu enyah dari rumah ini, enyah dari hadapan Adriano."

Dia menatap wajahku lekat-lekat, berusaha menemukan celah sekecil apa pun.

Namun aku hanya tersenyum dan berkata, "Baik."

"Justru itu yang kuinginkan."

Sejak lama aku ingin meninggalkan keluarga yang tidak mencintaiku ini, dan sejak lama aku ingin meninggalkan Adriano yang membuatku menderita.

Aku menerima dokumen itu dan berbalik naik ke lantai atas.

Mereka pun tak lagi menghiraukan aku. Ayah dan Ibu mulai mendandani Clarissa.

Bagaimanapun, acara pertemuan kepulangannya akan segera dimulai.

Diselenggarakan sendiri oleh Adriano.

Bahkan terlahir kembali sekali pun, aku sulit melupakan raut serius pria itu saat mempersiapkan acara itu.

Dari tempat acara hingga setiap bunga di dalam vas, semuanya dipilih Adriano dengan sungguh-sungguh.

Seorang Ketua Geng dengan kekuasaan besar ternyata bisa begitu teliti demi seorang perempuan.

Dan justru karena itu, semua orang dalam keluarga paham mengapa dia tak pernah mengumumkan identitasku.

Karena perempuan yang dia cintai adalah orang lain.

Kini, perempuan itu telah kembali, nyonya rumah yang sesungguhnya telah kembali.

Aku sadar diri, naik ke atas untuk membereskan barang. Saat mendorong pintu, kudapati sebagian besar barangku sudah dibuang.

Aku menarik sudut bibir dengan getir, menyeret sebuah koper kosong menuju luar.

Tak kusangka, begitu membuka pintu, aku menabrak Adriano.

Dia mengenakan topi hitam dan setelan ungu yang rapi, jelas berdandan dengan sangat serius.

Dia menunduk melirik gaun polosku dan koper di tanganku, suaranya sedingin es,

"Kamu mau ke mana?"

Belum sempat aku bicara, Clarissa sudah berlari turun, meraih tanganku dengan wajah teraniaya.

"Kakak, apa kamu benar-benar nggak bisa menerimaku? Aku hanya ingin pulang menjenguk Ayah dan Ibu, tapi kamu sampai marah besar dan kabur dari rumah."

"Kabur dari rumah?" Adriano mencibir, "Yuanita, sejak kapan aku nggak tahu kalau temperamenmu sebesar ini."

Dengan satu lirikan matanya, anak buahnya dengan sigap melempar koperku ke samping, dari belakang terdengar perintahnya.

"Hari ini acara pertemuan Clarissa. Kamu sebagai kakaknya nggak boleh ke mana-mana."

"Pergi ganti baju. Penampilan berantakan seperti ini jangan mempermalukan Clarissa."

Aku berdiri di tempat, jari-jariku tanpa sadar mencengkeram telapak tangan.

Sebelum Clarissa pulang, Adriano memang tidak hangat, tetapi dia sangat menghormatiku.

Sesekali ketika aku dirundung orang karena dia tidak mengumumkan identitasku, dia bahkan memelukku, memanggil nama kecilku, dan menenangkan diriku,

"Nita, jangan sedih. Penilaian orang lain nggak penting. Selama ada aku yang mencintaimu, itu sudah cukup."

Cinta?

Pria yang berkali-kali berkata mencintaiku itu, pada detik adikku kembali, justru melupakan diriku.

Melihat aku tidak bergerak, Clarissa buru-buru berkata, "Adri, jangan terlalu keras pada Kakak. Bagaimanapun dia istrimu ...."

Adriano tertegun sejenak. Ketika sadar dari ketertegunan, dia melirikku. Melihat wajahku tanpa ekspresi, rautnya kembali dingin, "Masih melamun apa? Perlu aku melayanimu ganti baju?"

Aku menunduk. Ribuan kata tersangkut di tenggorokan, akhirnya aku mengeluarkan dokumen dan menyerahkannya padanya.

Wajah Clarissa seketika berubah, jelas dia tak menyangka aku akan mengeluarkannya saat ini.

Dia hendak bicara, tetapi aku mendahuluinya, "Ini kuitansi pembayaran rumah sakit hari ini. Tolong tanda tangan."

Adriano mengerutkan kening, "Kamu kenapa?"

Aku menjawab tenang, "Pemeriksaan rutin saja."

Dia berdeham singkat sebagai jawaban, menerima dokumen itu, lalu menandatanganinya tanpa membacanya.

Aku memasukkan perjanjian cerai yang sudah bertanda tangan ke dalam tas, lalu tanpa ragu berbalik naik ke atas.

Dari belakang terdengar Clarissa sengaja meninggikan suara, "Adri, kenapa kamu begitu dingin pada Kakak? Bagaimanapun dia istrimu."

Adriano merendahkan suaranya, tetapi di rumah yang lengang itu tetap terdengar jelas.

Dia berkata, "Dia nggak pantas."

Tiga kata itu membuat langkahku terhenti, seketika seluruh tenagaku menghilang.

Dulu aku bertanya kepadanya entah berapa kali, mengapa dia tidak mempublikasikan identitasku.

Saat itu, alasannya adalah:

"Aku nggak ingin kamu terluka. Kamu tahu, ada begitu banyak orang di dunia ini yang ingin membunuhku. Menjadi istriku sama saja setiap hari ada pistol mengarah ke kepala."

Saat itu aku percaya, bahkan bersyukur atas perlindungannya, ak kusangka kini berubah menjadi aku tidak pantas.

Jantungku seperti diinjak-injak, setiap tarikan napas terasa seperti jarum menusuk.

Aku mengangkat tangan menyeka air mata, menatap perutku yang mulai sedikit menonjol, lalu tiba-tiba tersenyum.

Kalau aku tidak pantas, maka aku tidak akan mengganggu lagi.

Bagaimanapun setelah ini, kami memang tidak akan bertemu lagi.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status