Share

Bab 8 (Ardian POV)

Sebelum kembali ke apartemen, aku memutuskan untuk berbelanja dahulu ke sebuah supermarket yang masih searah dengan tujuan pulang. Karena sudah lebih dari sebulan tidak ditinggali, kulkas pun sengaja kubiarkan kosong. Sekarang karena Tasya memutuskan untuk tinggal di sana, mau tidak mau beberapa sayur, lauk, atau bahan makanan lain mesti siap sedia.

Dulu bersama Maira, aku terbiasa berbelanja berdua. Setelah kepergiannya, semua kegiatan ini aku lakukan sendiri. Saat ini walaupun sudah menikah kembali, sepertinya sulit jika mengharap bisa berjalan berduaan dengan yang namanya istri.

Huuuft ... aku berharap situasi seperti ini tidak berlangsung lama. Mudah-mudahan ke depan Tasya mau membuka hatinya. Ya, aku sendiri pun mesti belajar untuk menerima dia sebagai istriku.

Setelah aku memenuhi trolly dengan berbagai jenis sayuran, telur, daging-dagingan, sea food, dan beberapa macam makanan instan, lantas aku segera membayar ke kasir. Setelah itu, aku gegas menuju ke apartemen.

Sesampainya di kediaman kami, rupanya Tasya belum pulang juga. Tadi katanya pergi menemui sahabatnya, Fika. "Hhhh ... sudah kuingatkan, jangan pulang malam, masih aja," gumamku kesal.

Kulihat ke arah wastafel, piring kotor bekas kami makan tadi siang masih menumpuk di sana. Aku memutuskan untuk menata barang belanjaan ke dalam lemari es dahulu. Setelah itu baru aku mencuci piring-piring kotor tersebut.

Ini bukan masalah sebenarnya buatku. Aku sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti ini sejak masih remaja. Di pondok pesantren dulu, kami selalu bergiliran mencuci piring kotor bekas makan santri-santri. Hanya saja, aku heran dengan Tasya, padahal cuma dua buah piring kotor saja, mengapa tidak dicuci sebentar?

Usai mencuci piring, aku meraih ponsel yang tadi kuletakkan di atas meja makan. Kuhubungi Tasya, mungkin ia pergi ke rumah Fika. Harusnya ia mengirimiku pesan. Namun, tidak ia lakukan.

"Ck!" Aku berdecak kesal. Tiga kali aku mencoba dan tunggu, panggilanku sama sekali tidak dihiraukannya. "Aah, mandi aja dulu!"

***

Aku menahan emosi melihat respons Tasya yang sama sekali tidak menghargaiku sebagai suami. Bukan menjawab ke mana ia pergi dan mengapa panggilan teleponku tidak dijawab. Malah ia bilang aku ini hanya merecoki dirinya. Maira tidak pernah memperlakukan aku seperti ini!

Ia meraih bathrobe dari dalam almari. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Aku menunggu di atas ranjang kami. Ini tidak bisa dibiarkan. Natasya mesti paham posisinya sekarang ialah sebagai seorang istri. Suka ataupun tidak, ia mesti menurut kepadaku. Toh, aku bukan menyuruhnya berbuat yang tidak benar. Mau jadi apa rumah tangga ini kalau terus menerus seperti ini?

Sekitar dua puluh menit di dalam kamar mandi, akhirnya wanita itu keluar. Ia tampak menarik seperti biasanya, bahkan lebih menggoda dengan balutan bathrobe itu. Membuat pikiranku melanglang buana ke mana-mana.

Aku bangkit dari ranjang lalu menghampirinya dengan langkah pelan. "Kamu harum sekali."

Ia terperanjat. Sepertinya ia tak menyadari ketika aku mendekat barusan. "Kamu mau apa?!" tanyanya dengan nada sewot. Matanya memicing tajam.

Kulihat semburat rona kemerahan muncul di pipi ranumnya. "Sudah lebih dari sebulan kita menikah ya, Sya," tuturku sembari mengulurkan tangan hendak menyentuh lengannya.

"Jangan pegang-pegang!" Ia menepis tanganku sembari melangkah mundur. Wajahnya terlihat marah dan panik sekarang.

Hahah ...! Aku senang kamu ketakutan seperti ini, Tasya. Makanya jangan main-main denganku.

"Kamu makin hari makin cantik aja, Sya. Sebenarnya aku sudah lama menunggu momen biar kita bisa berduaan seperti ini." Aku terus melangkah lamban ke arahnya.

"Kamu mau apa, Ardian! Jangan macam-macam kamu ya! Jangan dekat-dekat!" teriaknya tertahan. Ia terus mundur dengan wajah yang semakin panik.

Aku tersenyum ketika melihat ia tersandung kemudian akhirnya terjatuh di ranjang. Dengan gerakan cepat aku mengukungnya.

"Menja–uh sana!" Ia berontak dan memukuliku. Astaghfirullah, bar-bar sekali Natasya.

Akhirnya aku meraih pergelangan tangan istriku dengan gemas, lalu menekan di atas kepalanya. Ia terus berusaha berontak, tetapi tentu saja, tidak bisa melawan kekuatanku.

Gulungan handuk di kepalanya terlepas, surainya yang basah kini berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya. Aroma harum shampo lebih menguar di indera penciumanku. "Kamu sangat menggoda, Sya," bisikku di dekat telinganya.

"Lep–paskan aku, berengs*k!"

Alisku bertaut demi mendengar umpatannya. Jujur saja hatiku kesal. "Masih berani kamu mencaciku, hhh?" Aku terus menahan pergelangan tangannya yang terus saja meronta-ronta.

"Cuih!!!"

Aku tersentak. Kuusap ludahnya yang beraroma mint dari wajahku dengan tangan kanan, sementara tangan sebelahku masih menahan kedua pergelangan tangannya. Sungguh, kalau aku tidak ingat dia perempuan ... hhhhgg!

Terus terang, tadinya aku hanya ingin mengerjainya saja. Akan tetapi, dengan sikapnya yang sangat ... aargh! Dia kira dia siapa, menghinaku seperti ini??

Dengan perlahan aku menyingkap sedikit bathrobe yang ia kenakan. Benar saja, ia belum mengenakan pakaian dalam sama sekali. Wajahnya semakin gelisah.

Sepasang mata Natasya terlihat nanar menatap emosi ke arahku. Dia juga mengeraskan kedua rahangnya.

Aku bukan tidak berhasrat dengannya saat ini. Akan tetapi, lebih didominasi rasa marahku karena sikap kurang ajarnya dari tadi.

Aku menyeringai, lalu sengaja menyentuh kulit halusnya, menjalankan sebelah tanganku merabanya dari betis ke bagian atas tubuhnya.

Tampak jelas sorot ketakutan di matanya saat ini. Rahangnya semakin mengeras bahkan aku merasakan pori-porinya yang menonjol sebab roma yang sontak berdiri akibat sentuhan jemariku.

"A–Ar ... Ardian ... ja–jangan sentuh aku ...." Tiba-tiba netra coklat beningnya dipenuhi dengan kaca-kaca. Ia terus menggeliat mencoba lepas dariku, tapi perbuatannya sia-sia belaka. Tenaganya jelas kalah jauh.

Telapak tangan kananku kini menahan rahangnya, kemudian perlahan aku mendaratkan bibirku ke bibir kemerahan lembut yang kini telah memucat.

Ia berusaha terus meronta dan meronta, tetapi tanganku masih menahan gerak wajahnya. Sehingga ia tidak dapat mengelak. Kelopak matanya kontan memejam dengan kencang.

Setelah beberapa saat bibir manis itu kupermainkan, lalu kulepas. Bibir itu tampak sedikit membengkak dan semakin berwarna. Tampak air mata mengalir di pipinya.

Hatiku sedikit tersentuh melihat ia mulai menangis. Semakin lama, isakannya semakin bertambah, lalu semakin menjadi-jadi dan sesegukan.

Alisku bertaut melihat Tasya yang tampak kalah kali ini.

Karena tidak tega, akhirnya aku melepaskan cekalan di pergelangan tangannya. Kemudian aku bangkit dari tubuh yang sebagian telah terbuka itu. Dengan cepat ia menutupinya.

Aku lalu berbalik, melangkah lebar ke arah luar kamar, lantas membanting pintunya dengan keras.

"Sh*t!!!" umpatku ketika langkah sudah sampai di ruang depan. Kuenyakkan bokong di sofa di sana, bersandar dan meremas rambut. Kepalaku kini terasa berdenyut.

Kuhirup udara di sekitar sedalam-dalamnya lalu kuembuskan kasar. Aaarrgh ...!

***

Alarm subuh terdengar dari ponselku yang tergeletak di meja dari tadi malam. Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. Kurenggangkan badan yang terasa kaku karena semalaman tidur di atas sofa di depan televisi. Kemudian aku beranjak dan melenggang ke arah kamar karena kamar mandi dan toilet berada di dalam sana.

Kutekan handle dan membuka pintu kamar. Tampak Tasya yang sedikit kaget melihat ke arahku. Sorot itu tampak ... aah, entah. Ia mengenakan mukena, sepertinya bersiap-siap untuk shalat. Aku terus melangkah ke arah kamar mandi tanpa menyapanya sama sekali.

Setelah selesai menggosok gigi dan berwudhu, aku pun menunaikan shalat witir di ruang tamu sekaligus ruang tengah. Lalu aku pergi menuju mushallah yang berada di lantai bawah.

Usai shalat, aku kembali ke unit apartemen. Melihat kamar kembali tertutup, aku langsung menuju ke dapur, ingin membuat kopi dan mungkin sedikit makanan buat sarapan pagi.

Aku merebus air, setelahnya kuseduh kopi untuk dua cangkir. Aku akan membuatkan untuk Tasya juga sekalian. Setelahnya aku memanggang roti di atas teflon yang sudah dibaluri mentega—

"Aku mau pulang ...."

Aku sedikit tersentak karena mendengar suara, lantas menoleh ke belakang. Tampak Natasya sudah berpenampilan rapi dengan sebuah koper berada di sampingnya.

.

.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status