Share

Bab 45

Penulis: Suci Komala
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-25 17:59:36

"Apa-apaan, sih, Mas?!" Alana meradang. Bagaimana tidak? Kevin merampas ponselnya, lalu dilempar sekencang-kencangnya dan berakhir hancur menjadi beberapa bagian.

"Jangan harap kamu bisa lepas dari Mas, Alana!" ucap Kevin tegas. "Perceraian itu tidak akan pernah terjadi!"

Napas Alana memburu. Ia merutuki kebodohannya dalam hati. Kenapa ia tidak melihat situasi sekitar tadi? Jika saja ada Kevin, ia akan bergegas kembali ke kamar. Bukan tak beralasan Alana memilih di teras. Ia takut jika Liana
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 89

    Akhirnya Kevin berhasil membujuk Liana untuk diantar pulang. Namun, Kevin sengaja menempuh jalan yang cukup jauh sampai-sampai Ilana dan Alina tertidur pulas. Liana yang menyadari jalan yang dilalui bukan menuju rumahnya pun protes. "Anda memang tidak tahu jalan atau sengaja keliling-keliling gak jelas?""Rajendra bukan anak Papi," tutur Kevin tanpa mengindahkan apa yang Liana katakan. "Dia bayi orang lain yang Tante Melani ambil di rumah sakit untuk dijadikan alat untuk menipu Papi dan nenek. Juga ... Mamimu."Mendengar itu membuat Liana terdiam. "Bodohnya Papi percaya kalo Rajendra putra Papi."Ayah dan anak itu saling menatap melalui kaca spion. Liana berpaling muka. Ia memilih menatap ke luar jendela. Sejujurnya ia merasa kaget dengan pengakuan Kevin. Antara percaya dan tidak."Apa pun alasannya, aku tidak terima. Bukankah sebelum adanya anak itu kalian menjalin hubungan? Anda sudah menyakiti hati Mamiku," ujar Liana. Kevin terdiam. Ya, benar. Dirinya memang bersalah, ia tida

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 88

    Makan siang selesai. Sebelum meninggalkan restoran, Kevin mengirim pesan kepada Alana bahwasanya dirinya akan membawa putri mereka ke rusun. Tanpa menunggu balasan dari Alana, Kevin bergegas meminta mereka naik mobil.Ayah dan ketiga gadis itu sudah berada di dalam mobil. Si bungsu Alina dengan semangat ingin ke rumah Kevin, sedangkan Liana dan Ilana menolak. Drama lagi. "Sayang, please. Kita akan bahas acara ulang tahun Mami. Papi butuh bantuan kalian. Apa kalian tidak mau memberi kejutan untuknya juga?" tutur Kevin."Sekarang, kan, bisa!" ketus Liana. "Sekali ini saja, Sayang, please!" Kevin merapatkan kedua tangannya, memohon.Hati Liana terenyuh. Ia memandang wajah Kevin sebentar, lalu berpaling muka sambil berkata, "Oke! Sekali ini saja.""Makasih, Sayang." Kevin tersenyum. Binar bahagia terpancar di wajahnya. Mobil pun melaju menuju rusun. ---Tak butuh waktu lama, mobil Kevin memasuki area rusun.Ketiga gadis itu turun dan berjalan mengikuti ke mana Kevin melangkah. Tentu

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 87

    Sejak jam satu siang, Kevin sudah berada di area parkir sekolah Alina. Ia benar-benar ingin membuktikan janji kepada ketiga buah hatinya. Tiga puluh menit sudah berlalu. Sebuah mobil putih yang Kevin yakini milik Alana memasuki area parkir. Mobil itu berhenti tepat di samping mobilnya. Kevin turun. "Maaf, apa Anda akan menjemput Alina?"Bapak tua yang mengemudikan mobil itu mengangguk. "Iya, benar. Saya ditugasi Nyonya Alana."Kevin tersenyum mencoba ramah. "Anda kembali saja, Pak. Biarkan saya yang jemput Alina. Alina juga putri saya. Kevin melihat pak tua itu mengernyit. Mungkin ia tidak percaya dengan ucapannya, pikirnya. Wajar saja, selain wajah Kevin yang masih babak belur, penampilan sederhana, dan mobil yang jauh dari kata mewah. Akhirnya Kevin mengulurkan tangan. "Nama saya Kevin Chandra Pratama. Ayah dari Liana, Ilana, dan Alina.""Benarkah itu?" Pria tua itu balik bertanya tanpa menerima uluran tangan Kevin. Kevin menarik tangannya sambil tersenyum. Walaupun sedikit k

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 86

    Pagi itu Alana dan ketiga putrinya sudah berada di bandara, termasuk Burhan. Mereka mengantar Rey yang hendak pergi ke negara bagian timur untuk melakukan perjalanan bisnis. Mereka menyaksikan kepergian Rey sampai pesawat lepas landas. "Yahh ... sepi, deh, gak ada Om Papa," ujar Alina. "Kan, ada Papi!" ucap Kevin yang sedari tadi berdiri di belakang dan berhasil membuat mereka menoleh. "Papi!" Ilana berseru dengan mimik bahagia. Ia berlari menghampiri dan menghambur memeluk Kevin. Kevin yang mendapat respon baik dari putri keduanya itu langsung mengangkat tubuh Ilana dan membalas pelukannya. "Kalian mau berangkat sekolah, kan? Papi antar, yuk!""Hore!" Ilana kembali bersorak. "Kakak sama Alina, yuk, Papi antar!" Kevin membujuk putrinya yang lain. "Tidak usah repot-repot. Aku bisa mengantarnya!" sambar Alana ketus. "Aku Papinya. Aku memiliki hak yang sama denganmu!"Alana tersenyum miring. "Hak asuh jatuh ke tanganku. Jadi, tanpa izinku mereka tidak bisa pergi denganmu!"Kevin m

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 85

    Alana hanya diam berdiri sambil mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Yuni, bahkan ia tidak peduli dengan posisi Yuni yang tengah bertekuk lutut sambil memeluk kakinya. Tak hanya Yuni, tetapi Yunia juga. Namun, ia tak menampik jika hatinya berdesir mendengar pengakuan Yuni. Ya, Yuni mengatakan jika Melani sudah menipunya. Tak hanya perkara anak saja, Melani yang mandul sudah mengambil alih rumah dan perusahaan milik Kevin. Walaupun Kevin berhasil menjebloskan Melani ke dalam penjara, perusahaan dan harta lainnya tak bisa lagi didapat karena Melani sudah menjualnya kepada seorang mafia yang membuat Kevin dan keluarga tak mungkin bisa menebusnya."Maafin Ibu, Nak, maafin Ibu ...." Yuni berucap lirih, lalu terisak. Alana menarik napasnya dalam-dalam, lalu berkata, "Bangunlah!""Tidak! Ibu tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan Ibu, Nak!" Yuni semakin mengeratkan pelukannya. Alana mengembuskan napas kasar, "Saya ada rapat penting sekarang. Jadi, lebih baik Ibu perg

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 84

    Jam sepuluh pagi Alana beserta keluarga sudah berada di kantor polisi. Alana dan ketiga putrinya sedang menunggu di ruang besuk. Tidak berselang lama Kevin datang. Alangkah terkejutnya Ilana saat melihat wajah Kevin yang penuh dengan luka memar. "Muka Papi kenapa?" Ilana setengah histeris. Kevin tersenyum. Sekilas ia melihat ke arah Alana, lalu menjawab, "Papi jatoh, Nak. Jangan khawatir, sebentar lagi juga sembuh. Apalagi kalian datang jenguk Papi sekarang."Kevin duduk di hadapan ketiga putrinya. "Apa kabar kalian? Gimana sekolahnya?""Kalo kabar kita gak baik, gak mungkin kita ke sini kali!" ketus Liana yang dibalas senyum oleh Kevin. Ia tahu betul mengapa putri pertamanya itu bersikap demikian. Kevin menatap ketiga putrinya bergantian. "Papi minta maaf. Maaf atas semua sikap Papi selama ini. Dan mulai sekarang ... izinkan Papi menebus semua kesalahan itu sama kalian.""Sama Mami juga." Kevin beralih menatap Alana. Alana yang sedang asyik bermain dengan ponselnya sejenak terdi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status