Share

164. Topeng

Author: Henny Djayadi
last update Huling Na-update: 2025-10-18 18:35:15

Alex mengelus dada, antara lega dan kaget saat melihat salah satu orang kepercayaannya berdiri di depan pintu. Revan coba melongok ke dalam, tapi Alex langsung menariknya, seolah tidak rela ada laki-laki lain yang melihat Naira.

“Jangan macam-macam!”

Revan menyembunyikan senyumnya, seolah puas menggoda bos besarnya. Lalu tatap matanya menelisik dari ujung kepala Alex hingga ke ujung kaki, tanpa sepatah kata.

Alex mengangkat alis. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Alex yang terlihat risih dengan tatapan Revan.

Revan tidak langsung menjawab. Tatapannya turun, berhenti sebentar di bagian tengah tubuh Alex, lalu sebuah senyum jahil muncul di wajahnya.

“Saya hanya takut kalau Bos sampai lupa menaikkan resleting,” ucap Alex ringan, separuh berbisik, separuh menggoda.

Alex otomatis menunduk, lalu mendecak pelan begitu sadar Revan hanya bercanda. Dengan senyum lebar, ia memukul bahu Revan pelan.

“Dasar brengsek,” sahut Alex sambil menggeleng. “Aku tidak sejauh itu, Revan.”

Revan terta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Luly Chan
adit ud malas pura2 lg. naira ga usa tgg lama2 lgsg gugat aja
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
menunggu langkah Naira selanjutnya.....haruskah nunggu semakin dihina atau mempertahankan kehormatannya....tapi bagaimana caranya.....duhhh penasaran....
goodnovel comment avatar
Yesi Eka Putri
memang naira ni lebih banyak ke paoknya dripda pintaŕnya... tnggu anak lahir makin nampaklah krsalahanya nti.. mebding pas awal2 hamil kmrn.. plinplan naira oh naira. udh di hina sedemikian rupa msh aja sok2 pra2 brtahan dmi harga diri yg udh jelas2 g ada. klo dri awal cerai kan enak...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   358. Buang Saja

    Dari balik pepohonan yang gelap, Revan menyaksikan semuanya. Tubuh Regina dibopong dua orang, lemas tak berdaya. Kepalanya terkulai. Rambutnya menutupi wajah cantik yang selama ini berhasil merayu banyak pria. Pintu mobil terbuka. Tubuh itu dimasukkan dengan tergesa. Mesin menyala. Lampu menembus kabut Puncak. Revan refleks melangkah maju. “Aku harus menyusul sekarang juga,” gumamnya, tangan sudah meraih gagang senjata di pinggang. Selo Ardi langsung menahan lengannya. Genggamannya kuat. Tegas. “Jangan bodoh,” katanya pelan tapi menekan. “Kau mau mati sebelum tahu dia dibawa ke mana.” Revan menoleh. Rahangnya mengeras. Napasnya berat. “Dia pingsan, Bang.” “Justru itu,” jawab Selo Ardi. “Kalau kita gegabah, mereka sadar kita ada. Regina hilang, kita habis.” Mobil hitam itu mulai bergerak menuruni jalan berkelok. Lampu belakangnya seperti mata merah yang menjauh perlahan. Selo Ardi memberi isyarat. Salah satu mobil mereka menyala, tapi tidak langsung mengejar. Jarak dijaga.

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   357. Terror untuk Peter

    Peter berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya.Lampu kuning jatuh tepat di wajahnya. Bayangan itu menatap balik tanpa berkedip. Garis usia di sekitar mata semakin jelas. Rahang yang dulu tegas kini terlihat kaku. Untuk pertama kalinya sejak lama, Peter tidak menyukai apa yang dia lihat.“Ada yang tidak beres,” gumamnya.Suara itu keluar pelan, tapi berat. Seperti pengakuan yang terlalu lama ditahan. Ia memiringkan kepala, menatap bayangannya dari sudut lain, seolah jawaban bisa muncul dari pantulan kaca.“Aku harus segera menemukan jawabannya.”Peter meraih ponsel. Jarinya bergerak cepat, tanpa ragu. Satu nama. Satu sambungan.“Lakukan tes darah pada Regina,” perintahnya tanpa salam pembuka begitu sambungan terhubung. “Lengkap. Kimia darah, toksikologi, semuanya. Sekarang.”“Siap, Tuan,” sahut suara di seberang, dingin dan patuh.Peter memutus sambungan. Ia menyadari tangannya sedikit gemetar, sebuah pengkhianatan dari syarafnya sendiri. Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya mem

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   356. Harapan Regina

    Peter merenggut kerah jubah tidur Regina dengan satu sentakan kasar. Kain sutra itu berderit, memutus keheningan kamar yang pengap oleh ketegangan."Ah…!"Regina tersentak. Matanya terbuka setengah, sayu dan sarat akan kelelahan yang dalam. Secara refleks, tubuhnya meringkuk, mencoba melindungi sisa harga diri yang masih melekat di kulitnya. Rasa nyeri menjalar dari pinggang, naik mencekik dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya pecah menjadi desis perih."Besok lagi, Om," bisik Regina parau, matanya kembali terpejam rapat. "Aku... aku capek sekali."Hening. Tapi itu bukan keheningan yang menenangkan. Itu adalah kesunyian yang salah, jenis sunyi yang biasanya mendahului badai."Apa yang kau sembunyikan dariku, Regina?"Suara Peter rendah, nyaris datar, namun mengandung getaran yang berbahaya. Dingin. Tajam. Seperti ujung belati yang sedang mencari titik paling lunak di nadi korbannya untuk disayat.Regina membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya yang pucat meleng

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   355. Di Tangan Peter

    Getar ponsel di telapak tangan Alex terasa seperti sengatan listrik yang mengganggu ritme jantungnya. Ia mengangkat perangkat itu dengan gerakan seminimal mungkin.Alex tak ingin mengusik posisi Naira, istrinya yang tengah bersandar manja di dadanya, mencari perlindungan di balik kehangatan tubuhnya yang sebenarnya sedang tegang.“Tuan,” suara Revan menyusup rendah, sarat dengan nada waspada yang tertahan. “Kami sudah di Puncak.”Alex mengalihkan tatapan pada langit-langit kamar hotel yang remang. Cahaya lampu kota yang tipis masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji.“Lanjut,” perintah Alex singkat, suaranya sedingin es.“Orang-orang Selo Ardi sudah mengepung vila yang diduga tempat Peter bersembunyi,” lapor Revan. “Penjagaan di sana terlalu ketat untuk sekadar persembunyian sementara. Ini markas, Tuan. Peter sudah membangun bentengnya.”Rahang Alex mengatup rapat. Otot-otot lengannya mengeras, reaksi naluriah saat predator merasakan kehadira

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   354. Istirahat Sejenak

    "Hati-hati, Alex..." Suara Naira nyaris tercekik, terpecah di antara deru napas yang memburu saat Alex bergerak di atasnya.Mungkin ini adalah euforia. Kabar mengenai hasil pemeriksaan yang negative, sebuah kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan hasrat yang tertahan sejak semalam, membuat Alex seolah kehilangan kendali diri.Ayah satu anak itu sejenak lupa bahwa di dalam rahim istrinya, sebuah kehidupan baru yang rapuh sedang kembali bersemi.Awalnya, sentuhan Alex terasa seperti belaian angin pagi; ragu, lembut, dan penuh pemujaan. Namun, ketika mereka hampir menyentuh ambang puncak, ritme itu berubah.Alex bergerak dengan intensitas yang mendesak, seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya, membuat Naira kewalahan namun sekaligus terhanyut.Hingga akhirnya, mereka jatuh bersama dalam ledakan kenikmatan yang sunyi.Lampu temaram di sudut kamar hotel menyisakan rona jingga yang lembut, menyelimuti sisa-sisa keintiman yang baru saja usai.Udara masih terasa

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   353. Ganti yang Semalam

    Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. ​Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. ​ Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. ​“Hasil pemeriksaan awal Anda... negati

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status