LOGINCakra Yudha Arimbawa sudah berpacaran online selama satu tahun dengan Venya Maheswari. Ketika lelaki itu sudah menyelesikan studi S2-nya, sang kekasih mengajak bertemu di restoran yang cukup terkenal. Namun, perempuan yang ditemui Cakra adalah seorang nenek-nenek. Dia bahkan melamar lelaki muda itu. Benarkah kekasih online Cakra adalah perempuan tua yang ditemuinya? Bagaimana keputusan Cakra setelah pertemuan itu? Simak kisahnya.
View MoreHappy Reading
***** Lelaki berperawakan atletis dengan kulit sedikit lebih gelap dari keluarganya, tengah tersenyum bahagia setelah membaca notifikasi chat di ponselnya. "Sayang, hari jadi, kan, ketemuan?" tulis seseorang di ponsel Cakra. "Jadi, tunggu sebentar. Aku segera berangkat ke restoran itu," balas sang pemilik benda pintar tersebut. Prosesi wisuda untuk gelar magister telah rampung, beberapa foto keluarga juga sudah diambil. Mencoba mengajak keluarganya menepi dari keramaian yang ada, Cakra pun menatap kedua orang tuanya bergantian. "Ma, Pa, kalian pulang sama Kresna saja, ya. Mas, masih ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan," ucap lelaki yang masih menggunakan toga lengkap dengan topi dan ijazah S2 yang baru diperolehnya. Binar kebahagiaan memancar di wajahnya saat ini. Kedua orang tuanya mengerutkan kening. Tumben putra sulung mereka terburu-buru mengakhiri euforia kebahagiaan yang sudah lama dinanti-nantikan. "Mau ke mana, Mas?" tanya Arimbi, perempuan yang telah melahirkan lelaki berusia 31 tahun itu. "Acara makan-makannya belum dijalani, lho." "Bener kata mamamu, Mas. Kamu belum nraktir kita semua," tambah lelaki yang dipanggil Papa oleh Cakra. "Lain kali saja, Mas traktir, deh." Cakra mulai sibuk, berusaha melepas atribut prosesi wisuda yang melekat di tubuhnya. "Mau ke mana, sih, Mas. Buru-buru banget." Sang mama makin penasaran. "Mau memastikan masa depan, Ma." Pemilik nama Cakra Yudha Arimbawa itu tersenyum manis. Wajahnya tampak sangat bahagia. Di hari dia menerima gelar magister, perempuan yang selama setahun ini sudah menjadi kekasih online-nya mengajaknya bertemu. "Katanya, Mama sama Papa udah kebelet pengen punya mantu. Kayaknya bakal terwujud," sahut si adik, Kresna Adi Makayasa. Dia memainkan alisnya, menatap si sulung yang tersenyum begitu lebar. "Benarkah itu, Mas?" tanya Sapta, papanya Cakra. Wajah bahagia juga terlihat jelas di matanya mendengar kabar jika si sulung sudah memiliki calon istri. "Jangan-jangan, kamu mau ketemuan sama pacar online-mu itu, ya?" tambah Arimbi, mamanya Cakra. Cakra mengusap tengkuknya dan tersenyum. Lalu, menyerahkan topi dan toga yang sudah dilepas serta dilipat rapi pada Arimbi. "Doakan, ya, Ma. Semoga pertemuannya berhasil." "Ah, kamu, Mas. Masih saja percaya sama permainan dunia maya. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Kalau nggak sesuai harapan, pasti sakit sekali," cibir Arimbi. Dari awal, ketika si sulung bercerita jika sudah memiliki kekasih online, perempuan berjilbab itu tidak pernah setuju. Biasalah, jiwa emak-emak yang tidak ingin melihat anak-anaknya terluka. "Ma," cegah Sapta disertai gelengan kepala. "Ya, sudah. Temui saja dia, Mas. Papa sama Mama pulang sama Kresna saja." "Ish, Papa, nih. Kalau ternyata cewek itu jelek atau kemungkinan terburuknya sudah bersuami dan cuma mempermainkan Cakra, gimana?" protes Arimbi. Sepertinya, perempuan itu masih kesal dengan keputusan Cakra yang akan menemui kekasih online-nya. Lelaki yang sebagian rambutnya mulai menunjukkan kilau putih di antara rambut hitamnya itu mendengkus. Lalu, merangkul perempuan yang sudah membersamainya dengan senyum. "Biarkan Mas Cakra menentukan pilihan setelah pertemuan itu," nasihatnya pada sang istri. "Mama, Sayang. Semua orang punya keputusan sendiri. Kalau Mas Cakra nggak pernah ketemu sama cewek itu, aku bakalan lama nikahnya. Dia kan nggak mau aku langkahi," seloroh Kresna. Lelaki yang berusia lebih muda dua tahun dari Cakra itu ikut-ikutan merangkul mamanya. "Yuk, pulang. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Mas Cakra di rumah." Cakra sama sekali tak berniat membantah perkataan mamanya. Bagi lelaki itu, Venya adalah perempuan yang paling mendekati kriteria sebagai calon istri idamannya. Hari ini juga, dia akan langsung menanyakan kesediaan sang kekasih untuk menikah. Bukankah hubungan mereka sudah terjalin lama cukup lama. "Good luck, Mas," ucap Sapta sebelum meninggalkan Cakra. "Makasih, Pa." Antusias, Cakra mengendarai motor milik adiknya. Dia sengaja mengganti kendaraan roda empat miliknya karena tidak ingin terlalu menonjolkan diri di hari pertama pertemuan dengan sang pujaan. "Sudah sampai mana, Baby?" tanya Cakra pada Venya, kekasih online-nya. Si lelaki sudah berada di parkiran motor, siap meluncur ke restoran tempat janji temu. "Aku sudah perjalanan ke restoran, Sayang. Nggak sabar, pengen ketemu pangeran pujaan hatiku. Cepetan ke sininya, ya, Sayang," balas Venya sebelum Cakra melajukan kendaraannya. Sepanjang perjalanan, pikiran Cakra dipenuhi oleh Venya. Tidak biasanya perempuan itu membalas chat-nya dengan begitu mesra apalagi sampai memanggilnya sayang berkali-kali. Biasanya, perempuan itu cuma memanggil Cakra, Mas, sebagai penghormatan. Namun, kali ini sangat berbeda sehingga mampu menerbangkan bunga-bunga di hati si lelaki. "Makin penasaran sama Venya. Dia pasti menerima lamaranku. Aku yakin itu," gumam Cakra di sepenjang perjalanan. Sebelum ke restoran, lelaki yang tahun ini berusia 31 tahun itu menyempatkan diri mampir ke toko bunga. "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Mas," sapa pekerja toko tersebut. "Mbak, saya nyari buket mawar merah. Ada yang ready?" Cakra menampilkan senyum termanisnya. Hati berbunga-bunga karena dipenuhi cinta memancar keluar. Indera penglihatannya menyapu semua buket yang terpajang di sana. "Masnya mau buket mawar merah kecil apa besar?" "Kayaknya sedang-sedang saja, Mbak. Nggak terlalu besar atau kecil gitu. Pokoknya yang bisa saya bawa dan nggak rusak karena saya make motor." Karyawan toko tersebut mangut-mangut, mengerti. Lalu, dia mulai bergerak mencarikan buket mawar yang sesuai dengan keinginan sang pelanggan. "Apakah seperti ini, Mas?" tanya sang karyawan toko bunga. "Iya, ini saja, Mbak. Berapa?" Setelah sang karyawan menyebutkan harga, Cakra segera membayarnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. Keluar dari toko bunga, lelaki itu dengan cepat melajukan kendaraannya ke restoran yang sudah ditentukan sang kekasih. Walau jaraknya terbilang jauh karena memakan waktu hampir satu jam perjalanan, tetapi hal tersebut tak menyurutkan niat Cakra untuk bertemu dengan sang kekasih hati. Berada di parkiran, Cakra kembali menghubungi Venya. "Baby, aku sudah sampai. Kamu gimana?" tulis Cakra pada sang kekasih. "Sudah duduk di meja. Lima menit lalu, aku dah sampai." "Meja berapa? Aku segera masuk." "16." Membaca pop up di layar tanpa membuka isi chat sang kekasih lagi, Cakra berjalan menghampiri meja yang disebutkan Venya. Namun, inderanya terbelalak ketika mendapati seorang perempuan yang duduk di sana. "Nggak mungkin .... ini nggak mungkin. Dia pernah mengatakan jika umurnya selisih satu tahun di bawahku." Cakra segera menyembunyikan buket mawar yang dibawa ketika si perempuan menoleh padanya. "Oh, Sayang. Akhirnya kita benar-benar bertemu," ucap si perempuan. "Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Cakra. "Aku Venya Maheswari. Kamu Mas Cakra, kan?" Runtuh sudah dunia Cakra ketika mendengar sang perempuan menyebutkan namanya. "Maaf, sepertinya kita harus mengakhiri semua ini. Kita nggak pantas menjalin hubungan seperti sebelumnya," ucap Cakra yang langsung berbalik arah meninggalkan perempuan sepuh yang lebih pantas menjadi neneknya ketimbang kekasihnya. "Hei, tunggu. Apa yang salah denganku?" teriak si nenek.Happy Reading*****Satu masalah sudah terselesaikan. Ari bisa tenang setelah mengetahui hasil tes DNA bocah kecil yang diakui Felicia adalah anaknya Cakra, ternyata sang kekasih dan bocah kecil itu sama sekali tidak memiliki hubungan. Si bos sudah tidak peduli lagi Siapa ayah dari anak yang dilahirkan oleh Felicia. Kini, dia, hanya memikirkan hubungannya dengan Cakra dan segala persiapan pernikahan mereka.Entah bagaimana nasib Felicia dan anaknya, Ari sudah tak ambil pusing. Fokusnya kini, hanya untuk menyiapkan pesta pernikahannya dan Cakra. Dia dan sang kekasih cukup bahagia apalagi seluruh keluarganya mendukung serta berperan aktif membantu menyiapkan segala perlengkapan pernikahan mereka. Besok, hari bahagia itu tiba, Ari makin gugup apalagi ketika perempuan itu tidak bisa menghubungi sang kekasih dengan alasan mengikuti adat pingitan. Rasanya begitu menyiksa, ketika dia tidak bisa bertemu Cakra baik di kantor maupun melalui chat. Ari benar-benar diasingkan oleh neneknya bahka
Happy Reading*****Hendra membulatkan mata. Menatap Sahabat karibnya, Cakra. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu, menatap dirinya sendiri. Detik berikutnya lelaki itu, tersenyum."Kenapa, Cak? Felicia mengatakan punya anak denganmu?' tanya Hendra sambil menepuk lengan Cakra."Iya, benar dan saat ini kami sedang menunggu hasil tes DNA antara anak yang dibawa Felicia dengan Mas Cakra," jelas Ari.Hendra mendengkus. Menatap Ari dengan senyum. "Aku harap, kamu nggak membuang Cakra setelah mendengar tuduhan yang diucapkan Felicia.""Pastinya, nggak, lah. Aku percaya banget sama Mas Cakra.""Bagus. Wanita seperti Felicia, memang seharusnya nggak pantas dipercaya oleh siapa pun." Tergambar jelas kemarahan di wajah Hendra."Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Cakra demikian juga Ari, hanya saja apa yang ada di pikiran perempuan itu sudah diwakilkan oleh sang kekasih.Hendra diam. Namun, detik selanjutnya, dia mulai membuka suara setelah menghela napas panjang. "Felicia juga b
Happy Reading*****"Eh, kok, malah bengong sih?" Mega menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Ari. "Bu, kok, diem aja jawab pertanyaan saya dong."Ari tak sadar dan mulai menatap aneh pada asistennya. "Kamu ini apaan, sih. Hal apa yang harus aku ceritakan terlebih dahulu padamu. Emangnya kamu siapa?""Itu, saya mendengar dari karyawan-karyawan kalau ibu sama Pak Cakra lagi menjalin hubungan serius dan mau nikah. Bener gitu, Bu?" Mega memajukan bibirnya."Kalau iya, kamu mau apa?""Ya, nggak apa-apa, sih, tapi kenapa Bu Ari nggak cerita dulu ke saya. Kemarin, ditanya malah saya nggak boleh ikut campur. Saya sebagai asisten pribadinya Bu Ari merasa tersingkir, loh." Mega mulai merajuk, persis seperti anak kecil yang kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya.Ari terbahak mendengar perkataan asisten pribadinya. "Memangnya, aku nyingkirin kamu? Nggak kan?""Terus kenapa Bu Ari nggak cerita ke saya duluan? Malah konfirmasi langsung di live streaming.""Ada saatnya masalah pribadi
Happy Reading*****"Semena-mena gimana maksudmu? Aku nggak mau, ya, kalau sampai ada orang yang mengatakan Aku sama mas Cakra nggak bertanggung jawab setelah kita menikah nanti. Bukankah anaknya juga anakku? Tapi, semua itu terjadi jika dia benar-benar anaknya Mas Cakra, lho, ya, setelah hasil tes keluar nantinya," kata Ari masih dengan nada sinis.Boleh minta Felicia makin membulat sempurna. Perempuan itu tak percaya Ari bisa mengatakan hal seperti tadi. Padahal rencananya jelas-jelas ingin menggagalkan pernikahan antara Cakra dengan Ari. Namun, entah mengapa, perempuan yang dipilih dan dicintai Cakra itu malah mendukung setiap perbuatan bahkan masa lalu lelaki yang dicintai Felicia. "Kamu sadar dengan perkataanmu? Cakra itu nggak sebaik yang kamu perkirakan," tanya Felicia, masih berharap hubungan Ari dan Cakra akan goyah setelah semua yang dia katakan dan fakta yang dibeberkan tadi. Ari tersenyum mendengar perkataan Felicia. "Sadar. Kenapa? Mas Cakra itu orang baik, kalau dia bu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore