Dilamar Nenek-nenek

Dilamar Nenek-nenek

last updateLast Updated : 2026-02-07
By:  pramudining Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
10
11 ratings. 11 reviews
71Chapters
720views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Cakra Yudha Arimbawa sudah berpacaran online selama satu tahun dengan Venya Maheswari. Ketika lelaki itu sudah menyelesikan studi S2-nya, sang kekasih mengajak bertemu di restoran yang cukup terkenal. Namun, perempuan yang ditemui Cakra adalah seorang nenek-nenek. Dia bahkan melamar lelaki muda itu. Benarkah kekasih online Cakra adalah perempuan tua yang ditemuinya? Bagaimana keputusan Cakra setelah pertemuan itu? Simak kisahnya.

View More

Chapter 1

1. Pertemuan yang Ditunggu-tunggu

Happy Reading

*****

Lelaki berperawakan atletis dengan kulit sedikit lebih gelap dari keluarganya, tengah tersenyum bahagia setelah membaca notifikasi chat di ponselnya.

"Sayang, hari jadi, kan, ketemuan?" tulis seseorang di ponsel Cakra.

"Jadi, tunggu sebentar. Aku segera berangkat ke restoran itu," balas sang pemilik benda pintar tersebut.

Prosesi wisuda untuk gelar magister telah rampung, beberapa foto keluarga juga sudah diambil. Mencoba mengajak keluarganya menepi dari keramaian yang ada, Cakra pun menatap kedua orang tuanya bergantian.

"Ma, Pa, kalian pulang sama Kresna saja, ya. Mas, masih ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan," ucap lelaki yang masih menggunakan toga lengkap dengan topi dan ijazah S2 yang baru diperolehnya.

Binar kebahagiaan memancar di wajahnya saat ini. Kedua orang tuanya mengerutkan kening. Tumben putra sulung mereka terburu-buru mengakhiri euforia kebahagiaan yang sudah lama dinanti-nantikan.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Arimbi, perempuan yang telah melahirkan lelaki berusia 31 tahun itu. "Acara makan-makannya belum dijalani, lho."

"Bener kata mamamu, Mas. Kamu belum nraktir kita semua," tambah lelaki yang dipanggil Papa oleh Cakra.

"Lain kali saja, Mas traktir, deh." Cakra mulai sibuk, berusaha melepas atribut prosesi wisuda yang melekat di tubuhnya.

"Mau ke mana, sih, Mas. Buru-buru banget." Sang mama makin penasaran.

"Mau memastikan masa depan, Ma." Pemilik nama Cakra Yudha Arimbawa itu tersenyum manis. Wajahnya tampak sangat bahagia. Di hari dia menerima gelar magister, perempuan yang selama setahun ini sudah menjadi kekasih online-nya mengajaknya bertemu.

"Katanya, Mama sama Papa udah kebelet pengen punya mantu. Kayaknya bakal terwujud," sahut si adik, Kresna Adi Makayasa. Dia memainkan alisnya, menatap si sulung yang tersenyum begitu lebar.

"Benarkah itu, Mas?" tanya Sapta, papanya Cakra. Wajah bahagia juga terlihat jelas di matanya mendengar kabar jika si sulung sudah memiliki calon istri.

"Jangan-jangan, kamu mau ketemuan sama pacar online-mu itu, ya?" tambah Arimbi, mamanya Cakra.

Cakra mengusap tengkuknya dan tersenyum. Lalu, menyerahkan topi dan toga yang sudah dilepas serta dilipat rapi pada Arimbi. "Doakan, ya, Ma. Semoga pertemuannya berhasil."

"Ah, kamu, Mas. Masih saja percaya sama permainan dunia maya. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Kalau nggak sesuai harapan, pasti sakit sekali," cibir Arimbi.

Dari awal, ketika si sulung bercerita jika sudah memiliki kekasih online, perempuan berjilbab itu tidak pernah setuju. Biasalah, jiwa emak-emak yang tidak ingin melihat anak-anaknya terluka.

"Ma," cegah Sapta disertai gelengan kepala. "Ya, sudah. Temui saja dia, Mas. Papa sama Mama pulang sama Kresna saja."

"Ish, Papa, nih. Kalau ternyata cewek itu jelek atau kemungkinan terburuknya sudah bersuami dan cuma mempermainkan Cakra, gimana?" protes Arimbi. Sepertinya, perempuan itu masih kesal dengan keputusan Cakra yang akan menemui kekasih online-nya.

Lelaki yang sebagian rambutnya mulai menunjukkan kilau putih di antara rambut hitamnya itu mendengkus. Lalu, merangkul perempuan yang sudah membersamainya dengan senyum. "Biarkan Mas Cakra menentukan pilihan setelah pertemuan itu," nasihatnya pada sang istri.

"Mama, Sayang. Semua orang punya keputusan sendiri. Kalau Mas Cakra nggak pernah ketemu sama cewek itu, aku bakalan lama nikahnya. Dia kan nggak mau aku langkahi," seloroh Kresna. Lelaki yang berusia lebih muda dua tahun dari Cakra itu ikut-ikutan merangkul mamanya. "Yuk, pulang. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Mas Cakra di rumah."

Cakra sama sekali tak berniat membantah perkataan mamanya. Bagi lelaki itu, Venya adalah perempuan yang paling mendekati kriteria sebagai calon istri idamannya. Hari ini juga, dia akan langsung menanyakan kesediaan sang kekasih untuk menikah. Bukankah hubungan mereka sudah terjalin lama cukup lama.

"Good luck, Mas," ucap Sapta sebelum meninggalkan Cakra.

"Makasih, Pa."

Antusias, Cakra mengendarai motor milik adiknya. Dia sengaja mengganti kendaraan roda empat miliknya karena tidak ingin terlalu menonjolkan diri di hari pertama pertemuan dengan sang pujaan.

"Sudah sampai mana, Baby?" tanya Cakra pada Venya, kekasih online-nya.

Si lelaki sudah berada di parkiran motor, siap meluncur ke restoran tempat janji temu.

"Aku sudah perjalanan ke restoran, Sayang. Nggak sabar, pengen ketemu pangeran pujaan hatiku. Cepetan ke sininya, ya, Sayang," balas Venya sebelum Cakra melajukan kendaraannya.

Sepanjang perjalanan, pikiran Cakra dipenuhi oleh Venya. Tidak biasanya perempuan itu membalas chat-nya dengan begitu mesra apalagi sampai memanggilnya sayang berkali-kali. Biasanya, perempuan itu cuma memanggil Cakra, Mas, sebagai penghormatan. Namun, kali ini sangat berbeda sehingga mampu menerbangkan bunga-bunga di hati si lelaki.

"Makin penasaran sama Venya. Dia pasti menerima lamaranku. Aku yakin itu," gumam Cakra di sepenjang perjalanan.

Sebelum ke restoran, lelaki yang tahun ini berusia 31 tahun itu menyempatkan diri mampir ke toko bunga.

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Mas," sapa pekerja toko tersebut.

"Mbak, saya nyari buket mawar merah. Ada yang ready?" Cakra menampilkan senyum termanisnya. Hati berbunga-bunga karena dipenuhi cinta memancar keluar. Indera penglihatannya menyapu semua buket yang terpajang di sana.

"Masnya mau buket mawar merah kecil apa besar?"

"Kayaknya sedang-sedang saja, Mbak. Nggak terlalu besar atau kecil gitu. Pokoknya yang bisa saya bawa dan nggak rusak karena saya make motor."

Karyawan toko tersebut mangut-mangut, mengerti. Lalu, dia mulai bergerak mencarikan buket mawar yang sesuai dengan keinginan sang pelanggan.

"Apakah seperti ini, Mas?" tanya sang karyawan toko bunga.

"Iya, ini saja, Mbak. Berapa?"

Setelah sang karyawan menyebutkan harga, Cakra segera membayarnya, tak lupa mengucapkan terima kasih. Keluar dari toko bunga, lelaki itu dengan cepat melajukan kendaraannya ke restoran yang sudah ditentukan sang kekasih. Walau jaraknya terbilang jauh karena memakan waktu hampir satu jam perjalanan, tetapi hal tersebut tak menyurutkan niat Cakra untuk bertemu dengan sang kekasih hati.

Berada di parkiran, Cakra kembali menghubungi Venya.

"Baby, aku sudah sampai. Kamu gimana?" tulis Cakra pada sang kekasih.

"Sudah duduk di meja. Lima menit lalu, aku dah sampai."

"Meja berapa? Aku segera masuk."

"16."

Membaca pop up di layar tanpa membuka isi chat sang kekasih lagi, Cakra berjalan menghampiri meja yang disebutkan Venya. Namun, inderanya terbelalak ketika mendapati seorang perempuan yang duduk di sana.

"Nggak mungkin .... ini nggak mungkin. Dia pernah mengatakan jika umurnya selisih satu tahun di bawahku." Cakra segera menyembunyikan buket mawar yang dibawa ketika si perempuan menoleh padanya.

"Oh, Sayang. Akhirnya kita benar-benar bertemu," ucap si perempuan.

"Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Cakra.

"Aku Venya Maheswari. Kamu Mas Cakra, kan?"

Runtuh sudah dunia Cakra ketika mendengar sang perempuan menyebutkan namanya.

"Maaf, sepertinya kita harus mengakhiri semua ini. Kita nggak pantas menjalin hubungan seperti sebelumnya," ucap Cakra yang langsung berbalik arah meninggalkan perempuan sepuh yang lebih pantas menjadi neneknya ketimbang kekasihnya.

"Hei, tunggu. Apa yang salah denganku?" teriak si nenek.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Lusiana
Lusiana
ceritanya seru dan bagus..semngat update banyak tiap hari...
2026-01-20 19:17:07
0
0
pramudining
pramudining
Gimana kesan-kesqn kalian untuk cerita baruku ini?
2026-01-08 17:07:24
0
0
uyara1976
uyara1976
makin seru aja ceritanya, nih
2026-01-07 13:38:04
0
0
Aulia Aulia
Aulia Aulia
suka bnget sama ceritanya. semoga update banyak tiap hari
2025-12-28 16:16:56
0
0
Aulia Aulia
Aulia Aulia
semangat up date, ya
2025-12-28 16:16:30
0
0
71 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status